
Setelah pulang dari rumah Rachel dan mengantar Luna. Sekitar jam 2 siang Farel sudah sampai di Apartement.
Tiduran di kasur, berguling ke kanan, dan ke kiri lalu menatap langit-langit kamarnya dengan hati yang galau.
Akhirnya Farel ketiduran dan jam 5 sore Farel bangun. Merasa sepi tidak ada Rachel. Farel pun akhirnya pulang ke rumah bertemu dengan Bunda dan memeluknya. Pelukan bunda nya masih menjadi pelukan terhangat dan ternyaman bagi Farel.
Jam 7 malam, Farel sampai di rumah.
Samar-samar Farel mendengar suara tawa di ruang tengah, begitu sampai di sana, benar saja semua orang sedang berkumpul. Angga dan Sarah duduk di sofa dan adik-adik nya duduk di karpet. Mereka sedang menonton televisi.
Melihat adik-adiknya, Farel jadi rindu masa anak-anak. Masa itu adalah masa terindah dan terbahagia dalam hidup Farel. Tidak perlu memikirkan apapun. Rutinitas sehari-hari, makan, tidur dan bermain bersama Bunda.
"Abang" seru Reza yang menyadari lebih dulu kedatangan Farel.
Semua orang langsung menoleh ke arahnya.
"Abang" seru Rana Dan Rina bersamaan.
Farel tersenyum menghampiri ketiga adiknya dan mengusap rambut mereka satu persatu lalu menatap Sarah.
"Bunda" Farel tiba-tiba duduk diantara Angga dan Sarah mendusel-dusel hingga mau tidak mau Angga bergeser juga.
"Ck. kamu ini!" Angga menepuk keras punggung putranya sedangkan Farel terkekeh.
"Pinjem istrinya sebentar, Yah. Pengen banget peluk Bunda. Farel mengeratkan pelukannya pada Sarah.
Sarah tersenyum menepuk pelan lengan putranya.
"Abang manja" cibir Rina.
"Kenapa? terserah Abang-lah. Bunda Abang sendiri". Ledek Farel kepada adik-adiknya,
"Huush kalian jangan seperti itu pada Abang kalian!" tegur Sarah pada ketiga adek Farel.
"Farel, Ayo ikut Mamah ke dapur, Mamah buatkan sesuatu!" Ajak Sarah yang langsung mendapatkan lirikan dari Angga.
"Apa sih sayang, udah gede ga usah di buatkan susu lagi." Angga menahan tangan Sarah.
"Ya ampun Mas. Kamu ini sama anak sendiri cemburuan."
Angga tersenyum, "Bercanda sayang, Ya udah sana bicara aja sama anak bandel ini mereka aku yang jaga."
"Iya, Mas."
.
__ADS_1
.
.
Di sisi lain, Farel dan Sarah berada di dapur.
Farel duduk di stoll cair sedangkan Sarah membuatkan Farel susu.
"Ada apa? kamu lagi ada masalah yah?, sini cerita sama Mamah." Sarah meletakkan segelas susu hangat pada Farel.
"Aku membuatnya kecewa, Mah."
"Rachel?,"
"Iyah."
Farel pun menceritakan semua kejadian di stadion basket tadi pada Sarah. Kemudian menghela nafas berat dengan wajah yang menekuk sendu.
"Aku merasa bersalah, Mah!" lirih Farel.
Sarah tersenyum, "Sikap kamu ini mengingatkan Mamah pada sikap Papah dulu."
"Jangan samakan aku dengan Papah dong, Mah. Aku dan Papah jelas-jelas berbeda. Papah waktu itu lebih memprioritaskan Mamah Santi yang status nya sudah menjadi mantan. Sedangkan aku begitu mencintai Luna sampai aku lupa dengan Rachel. Meskipun aku lupa tapi aku tidak bermaksud mengabaikannya apalagi meninggalkan Rachel, Mah."
"Iyah Mamah mengerti. Mungkin begini tepatnya. Kamu bukan melupakan Rachel, tapi kamu terlalu yakin Rachel akan terus mengikutimu, kamu berjalan kedepan tanpa menengok ke belakang. Tapi tanpa kamu sadari Rachel bisa saja lelah untuk mengikutimu."
"Terlepas apapun alasan kamu, kamu tetap salah. Kamu harus meminta maaf karena mengabaikan teman yang mendukung kamu dari awal tapi melupakan begitu saja. Tapi seandainya Rachel benar menjauhi kamu, kamu tidak perlu setakut ini, toh kamu sendiri tidak mencintai Rachel. Jadi biasa saja." Sarah menoel puncak hidung putranya, Farel.
"Aku ngga mau, Mah. Aku nggak mau Rachel menjauhiku!."
Sarah terdiam dan memandang wajah rupawan putranya.
"Sebenarnya perempuan yang kamu cintai itu Rachel atau Luna sih?,"
"Luna, Mah. Rachel hanya teman."
"Yakin?," tanya Sarah.
"Ya-yakin, Mah."
"Kok ragu-ragu gitu?,"
"Yah karena mamah nanya-nanya terus jadi aku gugup, Aku seperti Papah, Mah. Papah begitu besar mencintai Mamah. Aku juga begitu besar mencintai Luna."jelas Farel.
Sarah menepuk pundak Farel, "Kamu mencintai Luna karena kamu berpikir Luna mirip dengan Mamah?."
__ADS_1
Farel terdiam,
"Setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda. Walaupun Mamah sama Luna sama-sama pernah tinggal di panti asuhan bukan berarti Mamah sama dengan Luna. Bukan maksud Mamah mengatakan Luna buruk, dia baik, baik sekali. Tapi ini tentang sudut pandang kamu. Coba pahami perasaan kamu sendiri. Siapa perempuan yang sebenarnya kamu cintai Rachel atau Luna."
"Luna Mah, Farel sayang Luna."
Sejujurnya Sarah tidak tahu harus melakukan apalagi sekarang. Farel terlalu terobsesi kepadanya sampai-sampai mencari pasangan pun menjadikan dia sebagai patokan.
Farel mengerang frustasi namun dia harus bersikap tenang, di hadapannya ada sang Mamah yang sangat ia sayangi. Tidak ingin membuat Sarah khawatir dengan Keadaannya yang sedang bingung. 'Sebenarnya siapa yang aku cintai itu?.
"Ya sudah Mah aku pamit pulang dulu!" ucap Farel.
"Loh kok Mamah kira kamu nginep di sini."
"Lain kali saja Mah, Farel ada kuliah pagi dan jarak rumah Mamah terlalu jauh ke kampus. Jadi Farel pulang aja supaya tidak kesiangan."
"Ya udah kamu hati-hati yah, ini sudah malam."
Farel tersenyum dan menganguk. Kemudian ia berpamitan kepada Papah dan adik-adiknya.
***
Selama di perjalanan menuju apartement nya, dia memikirkan perkataan sang Mamah. Apakah ia sudah menyakiti hati Rachel tanpa ia sadari, tapi dia tidak bermaksud melakukan itu. Dia menganggap Rachel seperti saudara nya sendiri.
Tidak ingin Farel mengalami kecelakaan karena ia sedikit melamun saat menyetir, ia mulai menfokuskan dirinya selama perjalanan.
Dua puluh menit kemudian, Farel tiba di gedung Apartement. Memakirkan mobil nya di basment Apartment kemudian berjalan menuju lift. Menekan tombol angka lima tempat di mana Apartment Rachel berada.
Berjalan ke luar lift lalu menuju pintu apartement Rachel. Di pandangi pintu tersebut tanpa berniat untuk masuk. Karena tahu sang empunya juga tidak ada di apartement. Farel sudah biasa masuk ke sana walau tidak ada Rachel di sana. Tapi saat ini beda, karena ia masih merasa bersalah karena sikap nya di studion tadi.
Karena sudah larut malam, Farel kembali ke apartementnya.
.
.
.
Keesokan hari nya Farel bangun pagi, dia bergegas ke rumah Rachel. Namun Tante Ayuma bilang Rachel sudah pulang ke Apartement nya.
Tanpa membuang waktu Farel bergegas kembali ke apartement untuk menemui Rachel. Dari rumah Rachel menuju kampus lumayan jauh, sekitar satu setengah jam.
Sesampainya di apartement, Farel memakirkan mobilnya langsung menuju lift dan menekan tombol lima, Farel langsung ke apartement Rachel yang pintu nya sedikit terbuka.
"Eh" Farel hampir tertarik oleh seseorang yang keluar dari dalam apartement dengan membawa kardus besar.
__ADS_1
...*** MOHON BANTU LIKE DAN KOMENT YAH ***...