
"Di kamar sepi ngga ada kamu."
Hendrawan mendekat berdiri di belakang Dilara dan memeluknya dengan manja dan mesra. Hendrawanemyatkan kecupan di belakang leher dan pundak Dilara.
Dilara tersenyum, menyandarkan kepala di pundak Hendrawan dan mengusap punggung tangan yang melingkar di perutnya.
"Kamu belum masak dari tadi?."
"Aku baru saja mau masak tapi tiba-tiba Luna telpon dan nangis-nangis. Aku jadi nggak fokus dan sibuk menenangkan Luna."
Seketika Hendrawan melepas pelukan, membalik tubuh Dilara hingga menghadap kepadanya.
"Luna nangis kenapa?."
"Rachel menamparnya."
"Rachel nampar Luna kok bisa?." alis Hendrawan menukik tajam tanda marah.
"Aku belum tahu pasti cerita lengkapnya, tapi intinya Luna hanya menyampaikan kebenaran tapi Rachel tidak menerima lalu menampar Luna di depan semua orang, di depan Bastian, Rendy, Dypta, Farel di sana juga ada Anthony dan Sarah. Luna menangis gara-gara pipi nya di tampar dan merasa di permalukan oleh Rachel depan semua orang."
Hendrawan mengepalkan tangan kuat dan menggeretakkan gigi marah. Benar-benar sampai urat leher nya menonjol.
"Semalam Ayuma menamparku gara-gara aku menuduhnya selingkuh dengan Samuel. Lalu sekarang Rachel yang menampar Luna, kurang ajar. Berani sekali mereka melakukan itu padaku dan putriku. Mereka pasti ingin balas dendam padaku. Lihat saja aku akan membalas mereka.
Hendrawan meninggalkan dapur dan menuju ke ruang tengah.
"Mas Hendrawan? Mau apa, Mas?." Dilara mengikuti Hendrawan.
"KEMARI KALIAN SEMUA!." Hendrawan berteriak meminta seluruh pembantunya berkumpul di ruang tengah.
Tiga orang pembantu, dua tukang kebun dan satu satpam berkumpul di ruang. Mereka bertanya-tanya apa yang terjadi.
__ADS_1
***
Selesai makan Ayuma melajukan mobil menuju ke rumah. Sepanjang perjalanan mereka bercerita dan bernyanyi untuk mengalihkan kesedihan.
Ibu dan anak itu sengaja menghindari pembicaraan tentang Hendrawan, Luna dan Dilara agar mood mereka tetap baik. Lagi pula ketiga orang itu juga tidak penting, jadi tidak perlu menjadi topik pembicaraan.
"Meskipun sekarang mama tidak lagi menyandang nama belakang Tanoepramudya, Mama pastikan kamu tidak akan kekurangan materi.
Rachel menganguk, "Iya, Ma. Aku akan selalu mempercanyai Mama. Dan satu lagi Ma, jangan sampai Mama terbebani harus membuatku bahagia dengan melakukan ini itu akhirnya membuat Mama stress, bagiku bahagia itu sederhana, cukup Mama selalu ada di sampingku. Aku bahagia."
Ayuma tersenyum, "Manis sekali anak Mama."
Ayuma fokus menyetir lagi dan mempercepat laju mobil ke rumah. Ayuma tak sabar ingin segera mengemas barang-barangnya, meninggalkan rumah itu pindah ke rumah baru dan membuka lembaran baru bersama putrinya.
Begitu sampai ke pertigaan, Ayuma membelokkan mobilnya ke alamat rumahnya. Ternyata bersamaan dengan mobil Sam dan truk box yang akan di gunakan untuk mengangkut barang-barang mereka.
"Itu Paman Sam kan, Ma?."
"Iya Paman Sam yang akan membantu kita pindahan. Oh yah kalau Papa bilang Mama selingkuh dengan Paman Samuel tolong jangan percaya itu, itu hanya alibi agar dia tidak terlihat salah sendiri. Papa kamu ingin Mama bersalah juga."
Sesampainya di rumah ternyata gerbang sudah di buka, Ayuma pun langsung melajukan mobil ke halaman rumah.
Namun pemandangan di halaman rumah membuat Ayuma dan Rachel beberapa detik menahan nafas.
Disana di atas rumput hijau halaman rumah, semua barang-barang Ayuma dan Rachel meliputi baju, tas, perhiasan, ktp, pasport dan semuanya bertumpukan di halaman rumah.
"Apa yang terjadi?." Ayuma keluar dari mobil diikuti Rachel dan indera penciuman mereka langsung di penuhi dengan aroma bensin.
Tak lama setelah mobil Rachel dan Ayuma, Go-car Luna juga sampai.
Luna turun dari mobil bergegas menghampiri Dilara dan Hendrawan yang berdiri di sisi kanan halaman. Sementara Ayuma, Rachel dan Samuel berada di sisi kiri.
__ADS_1
"Ada apa, Ma?." tanya Luna bingung.
Dilara menggeleng dan menggenggam tangannya.
Sementara Hendrawan menajamkan mata pada Ayuma.
"Apa apaan kamu? apa yang kamu lakukan pada barang-barangku dan juga Rachel?." teriak Ayuma tak habis pikir, nyaris kehilangan kata-kata saat melihat betapa kejamnya suaminya. Bagaimana Hemdrawan berpikir mengumpulkan barang-barang ini di halaman rumah dan menyiramnya dengan bensin.
"Apa yang aku lakukan?." Hendrawan tertawa dan mengeluarkan korek api. "Aku hanya membalas apa yang kamu dan putrimu lakukan. Ini pembahasan ku karena semalam kamu menamparku dan Rachel menampar Luna."
Hendrawan melempar batang korek api yang sudah menyala ke atas barang-barang itu.
"PAPA JANGAN!."teriak Rachel, hendak mendekat pada tumpukan barang-barang yang sudah di lahap si jago merah.
"Nak jangan mendekat!." Ayuma menahan tangan putrinya dan menarik nya dalam pelukan.
"MA, ITU ALBUM FOTO PEMBERIAN OMA, AKU INGIN MENGAMBIL NYA, MA." Rachel menunjuk Album foto pemberian Oma nya sebelum meninggal, Rachel memberontak dan menangis dalam pelukan Ayuma.
"Mama hiks.." tangis Rachel semakin kencang dan sesegukan. "Album foto itu kenangan terakhir Oma yang diberikan kepadaku. Oma memintaku untuk menjaga nya dengan baik agar aku bisa menunjukkan kepada anak-anak ku kelak. Kenapa Papa setega ini?, kenapa?."
Ayuma tak kuasa menahan tangis begitu juga para Art yang ikut menangis menyaksikan itu.
Dalam banyang-banyang kobaran api, Ayuma dan Hendrawan saling menatap dari kejauhan. Dari semua rasa sakit yang Hendrawan berikan, rasa sakit ini yang paling pedih.
Ayuma benar-benar sakit hati. Semesta menjadi saksi tangisan nya dan putrinya sekarang.
Sementara Hendrawan di sana terlihat sangat puas dan tersenyum jumawa sambil menggenggam tangan Luna dan Dilara.
Ayuma memejamkan mata rapat-rapat sambil mengeratkan pelukan pada putrinya.
Lalu... perlahan tetes demi tetes air hujan membasahi bumi.
__ADS_1
Ayuma mendongak, mata nya berkaca-kaca menatap langit yang mendung. Bahkan langitpun ikut menangis melihat kepedihannya dan putrinya.
Suara mobil yang masuk halaman mobil mereka mengalihkan perhatian mereka semua.