Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 192


__ADS_3

Namun ekspresi mereka terlihat biasa saja membuat Dypta mengenyitkan sebelas alis. Dypta pikir ekspresi mereka akan sangat-sangat terkejut.


"Luna siapa?." tanya Bastian.


"Luna Rawnie, sahabat kita dulu."


Baru setelah Dypta menyebutkan nama lengkap Luna, mereka ternganga dengan mata melotot lebar. Dypta terkekeh, kagetnya mereka lola, alias loading lama.


"Kok bisa?." tanya Farel.


"Bentar-bentar," Bastian tampak sedang berpikir keras. "Jangan bilang gara-gara malam itu yang katanya Luna tidur sama Brandon tapi Farel sempat di tuduh itu, Luna hamil? Dan diam-diam Brandon menikahinya?.""


Farel mulai menyambungkan benang merah kisah Luna dan Brandon. Farel menganguk. Benar, semua yang Bastian katakan tadi kemungkinan besar memang benar.


"Kok lo nggak bilang?." tanya Farel pada Dypta.


"Ngga ada yang tanya," jawab singkat Dypta yang seketika membuat mereka bertiga ternganga lagi. Mau kesal, tapi kenyataannya memang begitu.


Setelah kejadian waktu itu, tidak ada yang peduli pada Luna. Mereka sibuk mencari Rachel dan Ayuma yang tiba-tiba menghilang. Sesaat mereka merenungkan masing-masing. Tentang sikap mereka pada Lunaa. Tentang keegoisan mereka yang tidak mempedulikan Luna. Padahal dulu mereka begitu dekat hanya karena Luna pernah melakukan kesalahan, membuat mereka membuang Luna.


"Kasihan Luna, Woi." ucap Rendy setelah di beberapa cukup lama.


"Gue setuju kasihan Luna, tapi bukan itu yang gue pikirkan dari tadi. Gue mikirin Brandon, dia udah nikah tapi masih mau deketin Rachel dan bilang hubungan mereka belum berakhir di masa lalu. Udah menikah otomatis hubungan dia sama Rachel berakhir dong!." kesal Bastian, sekarang Rachel pasti kepikiran dan serba salah. Di satu sisi Rachel pasti ingin dekat dengan Farel tapi dia juga sudah merasa terikat dengan Brandon.


"Gue nggak bisa nunggu lagi, gue harus bilang sama Rachel sekarang!." Farel ingin pergi tapi Dypta menahan tangannya.


"Udah malam Rachel pasti butuh istirahat juga." ucap Dypta.


Farel menghembuskan nafas kasar. Benar juga yang Dypta katakan. Rachel juga butuh waktu istirahat. Besok saja pagi-pagi sekali Farel ke rumahnya.


"BTW, kok lu tahu Brandon nikah sama Luna?." tanya Rendy penasaran, kemudian matanya mennyipit dan menyenggol lengan Dypta. "Apakah lo selama ini diam-diam mencari sesuatu tentang keberadaan Luna? makanya waktu dia pergi lo merasa kehilangan dan mencari tahu keberadaannya?."


"Woi Serius nih, kayaknya dulu kalau nggak salah lu, juga pernah bilang Luna suka sama Lu kan?." tanya Bastian. "Sekarang udah kebalik nih, lo yang suka sama Luna?."


Farel hanya diam karena pertanyaannya sudah di wakili temannya.


"Gue nggak suka istri orang," jawab Dypta santai. "Ayo lanjut. Taruhannya mobil gue."


"Aelah lo! Ngalihin topik aja. Tapi kalau taruhannya beneran mobil lo. Oke deh, gue siap tempur!." Rendy menyisipkan kedua lengan kaosnya dan siap-siap mengambil stick billiardnya.

__ADS_1


***


"Oh sial, aku kesiangan," Farel merutuk pada dirinya sendiri begitu bangun dan melirik ke arah jam dinding, jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi.


Padahal dia berencana bangun pagi-pagi dan hendak ke rumah Rachel. Farel harus menjelaskan pada Rachel tentang Brandon yang sebenarnya sebelum terlambat.


Farel segera bersiap-siap. Menyingkap selimut dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Sebenarnya Farel tidak ingin mandi tapi nanti Rachel ilfeel dekat-dekat dengannya. Selesai mandi dan berganti baju Farel segera keluar dari apartement menuju ke basement parkiran.


Tak menunggu lama Farel langsung melajukan mobil meninggalkan gedung apartemen. Benar semalam setelah dari vila Dypta, Farel tidak pulang ke rumah, melainkan langsung ke apartement. Karena apartemen lebih dekat juga ke arah rumah Rachel.


"Ck, HP gue ketinggalan segala, ya sudahlah."


Karena sudah hampir seperapat Jalan, Farel enggan balik apartemen lagi, akhirnya dia memutuskan untuk lanjut saja. Biasanya juga bertemu dengan Rachel Farel tidak main HP dan fokus mengobrol. Atau nanti setelah bertemu dengan Rachel, Farel bisa mengajaknya ke restoran atau cafe di sekitar apartemennya sekalian Farel bisa mengambil ponselnya. Intinya yang penting sekarang Farel harus bertemu dengan Rachel dulu.


Tak lama setelah sekian menit perjalanan, Farel sampai di rumah Rachel.


"Astaga, kenapa segugup ini sih," heran Farel pada dirinya sendiri. Padahal dia sudah berulang kali datang ke sini, tapibtetap saja setelah bertemu dengan Rachel, dia selalu berdebar.


Tok...tok...


Tak lama salah pintu di ketuk, seorang pembantu membukakan pintu.


"Pagi, Bi. Biasa, Bi. Aku mau ketemu Rachel. Rachel ada di rumah kan?."


"Eh, euhm Nona Rachel pergi, den."


"Pergi? pergi kemana? pergi sama Tante Ayuma dan Om Edgar yah?."


"Bukan Den, tapi sama cowok. Selama bekerja di sini Bibi juga baru lihat wajahnya. Kayaknya ini pertama kalinya cowok itu datang ke rumah ini."


Dahi Farel mengerut dalam, perasaannya semakin tak enak, tapi tetap mencoba untuk tenang meskipun otak tidak bisa berpikir positif


"Oh ya? siapa Bi?."


Bibi baru saja ingin menjawab tiba-tiba Ayuma muncul dari dalam rumah.


"Farel,"


"Pagi, Tante."

__ADS_1


"Sini masuk, duduk sini. Kenapa berdiri aja."


Bibi memutuskan untuk undur diri ke dapur karena Ayuma sudah tiba."


"Nggak usah Tante minta, kalau ada Rachel saya pasti berlama-lama di sini," Farel tetap terlihat santai meskipun hati tak karuan memikirkan keberadaan Rachel.


Farel mendekat pada Ayuma dan mencium tangannya.


"Tapi Sayang sekali Rachel lagi pergi."


"Bibi juga bilang begitu, Rachel pergi sama siapa Tante?."


"Brandon."


Ketakutan Farel terjadi juga, Farel merutuk dirinya sendiri karena bangun kesiangan. Sehingga tidak bisa datang ke sini lebih awal. Tapi kenap Rachel harus pergi berdua dengan Brandon. Padahal mereka sudah sepakat jika Rachel ingin bertemu dengan Brandon, Farel harus ikut.


"Rachel udah bilang sama Tante. Katanya mau ngajak kamu juga. Tapi ponsel kamu nggak aktif. Kamu sendiri juga tahu gimana sifat Rachel kan? Dia nggak enakan. Karena Brandon juga sudah menunggu dari jam 06.00 pagi sampai jam 09.00 tadi akhirnya Rachel ikut Brandon.


"Saya berencana ke sini pagi-pagi Tante. Tapi saya ketiduran. Terus waktu perjalanan ke sini, ponsel saya ketinggalan. Jadi saya nggak tahu kalau Rachel menelpon."


Ayuma menganguk, "Tapi Sayang sekali Rachel sudah pergi sama Brandon. Brandon juga izin baik-baik sama saya. Dia menjelaskan dengan rinci apa saja yang akan dia lakukan bersama Rachel untuk membantu Rachel memulihkan ingatannya. Saya mempercayainya. Dia terlihat tulus dan baik sama seperti 5 tahun yang lalu. Dulu saat mereka pacaran, Brandon memperlakukan Rachel dengan sangat baik."


Farel menghela nafas panjang, "Iya Tante, terus dimana mereka sekarang."


"Brandon bilang di ingin mengajak Rachel ke beberapa tempat yang sering mereka datangi. Rumah, kafe dan lain-lain. Tapi pertama Brandon bilang dia ingin ke rumah dulu sekaligus makan siang bersama kedua orang tuanya. Brandon bilang Rachel dekat sama kedua orang tuanya dulu."


"Ya sudah kalau begitu saya pamit Tante. Saya ingin ke rumah Brandon."


Ayuma menganguk. Bisa di bilang sikap Farel terlalu over protektif. Tapi Ayuma tidak masalah, selama itu tidak menyakiti Rachel. Apalagi sekarang Rachel hilang ingatan. Ayuma justru bersyukur Farel sepeduli itu pada putrinya.


Setelah masuk mobil, Farel langsung melajuka mobil meninggalkan halaman rumah. Farel sengaja tidak memberitahukan Ayuma tentang Brandon yang sudah menikah. Nanti setelah Farel bertemu dengan Rachel saja.


.


.


 .


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2