
Rachel masih belum mengingat apa yang terjadi tapi mendengar sepotong demi sepotong cerita orang-orang di sekitarnya, dan dari mulut Hendrawan sendiri Rachel mengerti alasan Mamanya pergi ke Swiss.
Mungkin di masa lalu Papanya pernah melakukan kesalahan fatal tentang mama muda yang bernama Dilara dan putrinya yang bernama Luna, tentang mereka yang berselingkuh, tentang Hendrawan yang lebih perhatian pada Luna, tentang Hendrawan yang menceraikan Ayuma dan memilih Dilara.
"Rachel, tolong katakan sesuatu," Hendrawan mengeratkan genggaman tangannya dan menatap lekat Rachel.
"Rachel hilang ingatan," jelas Ayuma.
"Hilang ingatan? bagaimana bisa karena kecelakaan 5 tahun yang lalu?."
Ayuma menganguk, "Rachel tidak mengenali siapapun dan sekarang dia sedang berusaha mengembalikan ingatan."
Hendrawan mencelos. Sungguh tidak menyangka kemalangan ini akan menjadi menimpa putrinya. Sekarang dia mengerti kenapa Rachel mengabaikannya. Bukan karena Rachel sudah tidak menyanyanginya lagi. Tapi karena Rachel tidak mengingatnya.
Di satu sisi Hendrawan sedih, di satu sisi Hendrawan juga senang. Setidaknya Rachel hilang ingatan, Rachel tidak ingat lagi kesalahan di masa lalu. Hendrawan hanya perlu menceritakan momen manis mereka sehingga Rachel tidak akan membencinya.
"Papa sangat merindukan kamu," Hendrawan ingin memeluk Rachel, tapi tiba-tiba Rachel mendorongnya. Rachel bergeser ke samping sehingga merapat pada Edgar. Edgar langsung mengerti.
"Tolong beri Rachel waktu," Edgar akhirnya berbicara setelah diam dan mendengarkan pembicaraan mereka.
"Diam kamu! kamu tidak usah ikut campur. Ini urusan saya dengan Rachel. Urusan Ayah kandung dan putrinya." tegur Hendrawan sambil menajamkan mata pada Edgar.
"Om?." Rachel mengerutkan dahi. "Kenapa Om bicara begitu? Papa Edgar juga Papa ku. Saya tidak suka Om bicara begitu kasar dengan Papa Edgar."
"Rachel," Hendrawan menatap sendu putrinya. "Kamu panggil saya apa tadi? Om? Saya Papa kamu, Rachel. Panggil saya Papa."
__ADS_1
"Hendrawan cukup, jangan terus memaksa Rachel begitu." Wisnu menegur, Wisnu khawatir Ayuma dan Rachel tidak nyaman datang ke rumah ini karena kerusuhan Hendrawan.
Farel yang terlihat gelisah di tempat duduknga. Sejak tadi dia menahan diri untuk mati-matian untuk tidak menegur Hendrawan. Farel tidak suka bagaimana cara Hendrawan memaksakan Rachel untuk menerima nya. Padahal dulu Hendrawan sebegitu jahatnya pada Rachel.
"Tapi, Pa. Aku... Aku sudah menunggu Rachel 5 tahun. Aku berharap bisa memeluk Rachel lagi. Aku juga berharap Rachel mau memanggilku Papa."
"Iya, Papa tau, tapi tidak sekarang. Tolong beri Rachel waktu!." Wisnu tak tahan lagu.
"Pa," Ayuma menyela. Takut jika Wisnu terlalu emosi akan berpengaruh buruk pada kesehatannya. "Tenang, Pa."
Wisnu menghela nafas panjang.
"Hiks, mamaaa," Rafa menangis. Sejak tadi bocah kecil itu tampak kebingungan, heran semua orang yang tiba-tiba menjadi berisik. Sejak tadi pun ingin menangis tapi karena mamanya diam, Rafa juga diam. Begitu mama nya membuka suara, Rafa langsung menangis.
"Ssst iya, Sayang." Ayuma menganyun-ayunkan lembut Rafa dalam gendongannya.
Anggun mendengkus dan menatap sinis Hendrawan. Padahal Anggun masih ingin bicara dengan Ayuma. Anggun bahkan baru saja ingin mengulik lebih dalam pertemuan Edgar dan Ayuma di masa lalu. Tapi gara-gara kerusuhan Hendrawan, misi Anggun jadi gagal.
"Kenapa buru-buru sekali? Saya bahkan baru bertemu dengan Putri saya. Saya masih ingin bicara dengan Rachel. Mungkin jika kami mengobrol lebih dalam ingatan Rachel akan lebih cepat pulih. Tolonglah Ayuma, jangan seperti ini." Hendrawan menatap lekat Ayuma.
"Saya tahu kamu membenci saya, tapi bukan berarti setega ini memisahkan Ayah dan putri kandungnya. Saya sudah menunggu Rachel selama 5 tahun. Tolong beri kamu ruang dan waktu untuk bicara."
Hendrawan sungguh tak habis pikir. Cara Hendrawan berbicara dan menatapnya seolah Hendrawan yang merasa paling tersakiti di sini. Hendrawan menatap seolah Ayuma sosok perempuan jahat. Padahal penjahat sesungguhnya di sini adalah Hendrawan ! Ayuma jadi khawatir Hendrawan akan mencuci otak Rachel dengan cerita yang tidak-tidak. Tidak menutup kemungkinan juga Hendrawan akan memutar balikan fakta sehingga Rachel akan membenci Ayuma.
Ayuma baru membuka mulut ingin bicara dengan Hendrawan, tapi Edgar lebih dulu berbicara.
__ADS_1
"Sepertinya sudah cukup sampai di sini. Kapan-kapan kita agendakan pertemuan lagi, istri saya juga sudah lelah. Putra saya terus saja menangis. Begitu juga dengan Rachel, putri saya juga butuh waktu sendiri. Tolong jangan memaksakan kehendak."
"Ck, kamu..."
"Pak Hendrawan," Edgar memotong kalimat Hendrawan dan menatap nya dengan sorot mata tegas, "Jika anda ingin menjadi sosok Ayah yang baik untuk Rachel. Tolong jadilah Ayah mengerti keadaan kondisi putrinya. Masih ada waktu besok, bisa atau kapan-kapan. saya tidak akan menghalangi anda untuk bertemu Rachel selagi itu membawa hal positif untuk Rachel. Tapi jika anda ingin menyampaikan sesuatu yang tidak benar dan mempengaruhi pikiran putri saya, saya juga tidak akan tinggal diam. Tolong mari kita saling mengerti. Tidak ada gunanya berselisih paham. Sebagai orang tua saya hanya ingin yang terbaik untuk putri saya."
Hendrawan terdiam begitu juga dengan semua orang diam dengan pandangannya mata tertuju pada Edgar. Diam-diam Hendrawan merenungkan setiap kata yang Edgar ucapkan. Bagaimana secara Edgar berbicara, ketenangan dan ketegasan membuat Hendrawan sedikit malu. Seharusnya Hendrawan tidak bersikap kebanyakan seperti tadi di depan Rachel dan Ayuma. Sikap nya tadi mungkin membuat mereka ilfeel. Astaga, Hendrawan tak berhenti merutuk diri sendiri.
Ayuma merasa bangga dengan Edgar. Jujur saja tadi dia sempat kehilangan kata-kata untuk menjawab Hendrawan. Ayuma merasa terpojokkan. Padahal di sini dia korban tapi seolah dia yang bersalah. Tapi untung saja ada Edgar yang mewakilinya. Lagi, dan untuk kesekian kali Ayuma kagum dengan suaminya.
Hendrawan menghela nafas berat, lalu mengalihkan pandangan pada Rachel dan tersenyum lembut.
"Rachel, putriku. Besok kita bertemu lagi yah. Besok dan untuk kedepannya kita habiskan waktu lebih banyak."
"Om," Farel menyela pembicaraan, mewakili Rachel yang kini tampak bingung harus menjawab apa. Farel penasaran serumit apa pikiran Rachel sekarang. Dia pasti bertanya-tanya mana yang benar dan tidak. Hilang ingatan ini membuatnya hilang arah jika tidak berpegangan pada pilar yang benar.
"Kita bicarakan besok saja. Sekarang Tante Ayuma, Om Edgar dan Rachel ingin pamit pulang. Tolong hargai pilihan mereka."
Hendrawan benci sekali situasi ini, dimana semua orang menyudutkannya, seolah Hendrawan berniat ingin menyakiti Rachel. Tentu tidak, Hendrawan tidak akan pernah menyakiti putrinya. Satu keinginan Hendrawan... Hendrawan ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama putrinya. Hendrawan ingin di sisa umurnya nanti ada Rachel di sisinya. Hendrawan tidak ingin menghabiskan masa tua nya sendirian.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...