Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 160


__ADS_3

"Eh eh eh," tahan mereka bersamaan. Sekarang giliran Rachel yang tertawa.


"RACHEL."


"KAK RACHEL."


"KAKAK RACHEL."


Di tengah-tengah keseruan mereka terdengar suara panggilan beruntun. Rachel menoleh dan melihat rombongan keluarga Gammaland mendekat. Rachel tau mereka, Farel sudah menunjukkan foto mereka


Rachel tak kuasa menahan tawa dan haru melihat Anthony membawa spanduk bertuliskan 'Welcome home My Daughter', Sarah membawa bunga, sementara Rani, Rana dan Reza berlarian riang ke arahnya.


"Rachel," ketiga remaja kembar tak identik itu memghamburkan diri memeluk Rachel.


"Kalian berdua minggir dong, aku duluan yang mau peluk Rachel," Protes Reza pada Rana dan Rani.


"Aku duluan," Rana tak terima dan mendorong Reza.


"Apasih aku duluan," Rani juga mendorong Rana sehingga dia bisa memeluk Rachel sepenuhnya.


Rachel tertawa, lucu dan gemas sekali dengan remaja-remaja yang cantik-cantik dan tampan ini. Rachel tidak bisa mengingat mereka, tapi mereka pasti sangat menyanyangi nya sampai berebutan ingin memeluknya seperti ini. Seandainya saat pulang ingatan nya sudah pulih kembali, Rachel pasti bisa lebih akrab dengan mereka.


"Sudah, sudah kalian bertiga jangan rebutan begini. Nanti kakak Rachel nggak nyaman loh," peringat Sarah pada ketiga anaknya.


"Aku masih mau peluk Rachel, Mah." Reza menatap pada Rachel lagi, "5 tahun nggak ketemu Rahel makin cantik aja.


"Cil Bocil," Farel mendekat ke arah si kembar, "Nggak usah kebanyakan gombalin cewek, awas aja nilai lo dibawah KKM, gue jemur lo di lapangan Monas."


Rachel tertawa pelan melihat interaksi Farel dan Reza.


"Bocil apaan sih bang gue udah besar gue udah mimpi basah!."


"Reza," Sarah menegur putranya sambil menepuk pelan lengannya, "Tidak baik membicarakan hal privasi begitu di depan umum seperti ini."


Reza meringis, "Hehe kebawa suasana, Mah. Habisnya Bang Farel ngatain aku bocil mulu."


"Bener, Reza emang bocil nyebelin," Rani ikut meledek saudara kembalinya karena selama ini Reza juga suka menjahilinya.

__ADS_1


Bastian terkekeh, "Rani sini sama Abang," Bastian menarik Rani ke arahnya, menumpukkan kedua siku di pundak Rani dan menyentuh dagu di puncak kepala Rani. Sontak saja Bastian mendapat lirikan tajam dari Anthony.


Bastian meringis, "Hehehe, cuma gini doang, Om. Nggak di apa-apain kok ratu kecilnya."


Rani mendongak dan menatap Bastian, Bastian menggigit bibir bawahnya gemas sekali dengan gadis kecilnya ini.


"Udah jangan natap abang kayak gitu," Bastian menyentuh pipi Rani dan mengarahkan ke depan lagi.


"Ayah, Bang Tian sama Rani pacaran terus." adu Rana pada Anthony.


"Rana diem deh," Bastian mencapit bibir Rana dengan jari-jarinya. Sontak saja Rana langsung melotot kesal, sementara Rani tertawa, lucu saja melihat Bastian dan Rana yang sudah seperti anjing dan kucing saat bertemu.


"Rachel," Sarah memberikan buket bunga pada Rachel sembari tersenyum manis dan bersahaja, seperti senyuman seorang Ibu menyambut kepulangan putrinya.


Kemarin malam, Farel sudah mengumumkan di grup dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tentang keberadaan Rachel di Swiss. Tentang Rachel yang hilang ingatan. Dan tentang Ayuma yang sudah menikah dengan Edgar.


Sarah dan Anthony yang sudah mengetahui keberadaan mereka sampai sekarang belum memberitahu Farel. Mungkin nanti saja.


Mereka juga tidak ingin merusak kebahagiaan Farel yang telah berhasil menemukan kekasih hatinya. Farel yang biasanya lebih banyak diam di grup malam itu jadi yang paling ramai. Dia mengetik panjang lebar dan begitu excited menceritakan pertemuannya dengan Rachel. Pertemuan yang tak disangka-sangka. Mungkin inilah yang namanya jodoh. Sejauh apapun berpisah Pasti Bertemu juga. Hati tidak pernah salah memilih tempatnya untuk pulang.


"Terima kasih, Tante," Rachel tersenyum dan menerima buket bunga dari Sarah.


"Tante senang sekali akhirnya kamu pulang. Kami semua menunggu kepulangan kamu." Sarah mengulurkan tangan dan mengusap pipi Rachel.


Rachel tidak bisa berkata apa-apa lagi saking bahagianya sekarang. Dia sama sekali tidak menyangka akan mendapat sambutan sehangat ini.


"Saya juga sangat menunggu kepulangan kamu, putriku."


Rachel mengalihkan pandangan pada sumber suara itu, pada sosok pria yang sudah tidak muda lagi, tapi masih terlihat gagah, berwibawa dan sangat tampan. Dia Anthony, papa Farel. Sekilas melihat wajahnya, rahangnya yang tegas, alisnya yang tebal dan matanya yang tajam. Membuat Rachel sempat berpikir Anthony galak.


Tapi sepertinya beliau orang yang baik dan penyanyang. Buktinya Anthony tidak malu membawa spanduk dan membentangkan lebar-lebar, padahal di Bandara ini cukup ramai.


"Iya, om terima kasih."


Anthony mengulurkan tangan dan menepuk-nepuk lembut puncak kepala Rachel. Baru saja Anthony ancang-ancang ingin memeluk Rachel, Farel langsung protes.


"Udah ya Yah, usap rambut aja. Nggak usah pake acara pelukan segala."

__ADS_1


"Kamu ini," Anthony tidak mempedulikan Farel dan tetap memeluk Rachel. Rachel tersenyum dan membalas pelukan hangat itu.


Rachel tidak tahu pelukan ayah kandung seperti apa, mungkin sama hangat dan senyaman pelukan Anthony sekarang. Dengan Edgar Papa tirinya, meskipun mereka sudah 3 tahun tinggal serumah, bisa di hitung jari kapan mereka berpelukan. Dan itu pun ter kadang Rachel tetap merasa canggung. Rasanya aneh minta di peluk tanpa alasan yang jelas. Biasanya Edgar memeluknya saat acara-acara tertentu, misalnya acara ulang tahun Rachel, kelulusan kuliah atau saat Rachel di terima bekerja.


"Ayah udah tuh Mama cemburu." goda Farel agar Anthony melepas pelukannya.


"Enggak, Mama enggak cemburu, Mama sama Ayah sudah menganggap Rachel anak kandung kami. Bilang saja kamu yang cemburu." Sarah menoel lengan Farel.


Perlahan Anthoni melepas pelukan dari Rachel dan menatap putranya.


"Dari dulu kamu tuh suka cemburu sama Ayah. Dulu waktu kamu masih 7 tahun setiap Ayah pelukan sama Mama, kamu marah-marah."


"Nggak, mana ada?." Farel protes tak terima di goda seperti itu.


Semua orang tertawa melihat Farel salah tingkah.


"Oh yah... Ayuma, mama kamu dan papa kamu tidak ikut?." tanya Sarah begitu mengendarkan pandangan tidak menemukan Ayuma.


"Mama dan papa bilang masih ada urusan di sana. Aku nggak tahu pasti apa urusan Mama, tapi Mama bilang akan pulang juga. Untuk waktunya, saya sendiri juga belum tahu kapan pastinya, Tante," jelas Rachel.


Sarah dan yang lainnya menganguk-angguk. Kemudian Rendy berdehem.


"Rel, gue nunggu bugati lo," Rendy melingkarkan tangan di pundak Farel dan menaik turunkan alis. "Berkat gue, lo bisa ketemu sama Rachel. Gue inget banget perjuangan gue ngajak lo ke Swiss. Dengan sabar dan penuh perhatian gue udah terus bujuk lo, berasa lagi bujuk pacar sendiri. Gue juga udah beliin tiket, pesanin kamar, cariin listrik destinasi yang menarik, apapun gue lakuin buat lo. Masa nggak ada sesuatu lo kasih buat gue. Nggak usah mahal-mahal, bugati atau Ferrari lo deh."


"Tadi kan udah gue cium lo, masa masih kurang?." Farel terkekeh. "Ya udah gue cium lagi. Sini Ren, Farel cium lagi, dimana?."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2