
"Dari pertanyaan lo tadi, secara nggak langsung lo ragu dengan perasaan lo ke Luna. Harusnya sejak awal lo nggak nerima Luna dan memahami perasaan lo dulu. Dan sekarang lo tiba-tiba lo merasa mencintai gue lebih dari seorang sahabat, itu juga dengan keraguan. Misal jika kita jadian pun lo tetap bimbang Farel."
Rachel menarik tangannya di dada Farel.
"Perasaan manusia memang rumit. Kadang gue juga ngga bisa memahami diri gue sendiri . Tapi sekarang lo udah punya Luna, gue harap lo bisa berkomitmen dengan hubungan lo itu. Dan kalau lo merasa ngga mencintai Luna putus aja. Jangan sampai menyakiti anak gadis orang."
"Sudah malam, gue keluar dulu. Good night, jangan bergadang. Langsung tidur biar cepet sembuh."
Rachel melempar senyum tipis, berdiri dan meninggalkan kamar Farel.
Farel masih terpaku di tempat dengan pandangan mata tertuju pada pintu perlahan tertutup dan banyang-banyang Rachel tak terlihat lagi.
Dengan sorot mata sendu, Farel menatap telapak tangan nya yang tadi menggenggam tangan Rachel. Memandang lama dan merasakan sisa-sisa sentuhan Rachel di sana.
***
"Morning, calon ibu Mertua."
Sarah dan Rachel yang sedang memasak di dapur menoleh ke sumber suara itu. Siapa lagi kalau bukan Bastian, calon menantu keluarga Gammaland. Atau lebih tepat nya mengaku-ngaku sebagai calon menantu. Karena Anthony belum memberi restu atau mungkin tidak akan pernah karena perbedaan usia mereka yang jauh.
"Morning, Tian." Sapa Sarah dengan ramah.
"Kok nyahut nya gitu aja sih Tante, harusnya bilang Morning calon mantu, gitu." Tian terkekeh dan langsung mendapatkan lemparan bawang putih dari Rachel.
"Heh Rana masih kecil, lo udah ngebet pengen nikahin."
Bastian mendekat dan berdiri di sebrang kitchen bar memperhatikan Sarah yang sedang melumuri Ayam dengan tepung sedangkan Rachel membuat sambal.
"Siapa bilang yang ngebet? kalau gue ngebet mungkin Rana udah gue culik terus nikahin di luar negeri."
"Bawa aja ke luar negeri tapi nanti kalau Om Anthony nemuin Lo. Ucapkan selamat tinggal pada dunia."
Bastian tertawa begitu juga Sarah yang ikut tertawa.
"Tante, Tante nggak akan nemuin calon menantu sesempuran seperti Tian. Aku ganteng, baik, royal, bertanggung jawab, mandiri, lembut pokoknya calon suami yang ideal untuk Rana. Kalau Tante mengizinkan aku nikah sama Rana, aku janji hidup Rana pasti bahagia."
"Promosi nya kenceng banget, yah Bos." ledek Rachel.
Bastian terkekeh, "Nggak Promosi, cuman menyampaikan sebuah fakta. Gimana Tante mau kan? Oh yah satu lagi fakta terpenting, saya juga setia. Buktinya saya sudah menunggu Rana sejak zaman embrio di perut Tante sampai umur 12 tahun sampai sekarang. Kalau aku di suruh nunggu 8 atau 10 tahun nggak masalah."
"Jangan mau Tante, Tian nggak setia banyak gebetan nya di kampus."
Bastian, Sarah dan Rachel menoleh ke suara itu, Rendy berjalan mendekat sembari nyengir kuda dan di belakang nya ada Dypta.
Mereka berkumpul setelah Farel memberitahu di grup perihal kecelakaan. Kebetulan sekali bertepatan dengan hari wekeend mereka bisa berkumpul.
"Hei kunyuk, nggak usah bohong. Kapan gue pacaran, gue deket sama cewek aja ngga pernah."
Rachel berdehem,
"Ya kecuali Rachel dan Luna." Bastian mengoreksi lalu terkekeh. "Tapi gue nggak menganggap mereka perempuan."
__ADS_1
"Terus lo anggap gue apa ? perempuan jadi-jadian?." Rachel berkacak pinggang dan melotot pada Bastian.
Rendy masuk ke arah dapur sedangkan Dypta berdiri di samping Bastian.
"Tante mau ini." Rendy menunjuk gorengan nugget.
"Iya, ambil aja." Jawab Sarah sambil lanjut memasukkan Ayam yang sudah di lumuri tepung ke dalam wajan.
Rendy mencomot nugget dan membelah menjadi dua, satu untuknya dan satu lagi untuk Rachel.
"Rachel," Rendy mengarahkan potongan nugget itu pada Rachel, Rachel pun langsung melahap nya.
Rachel lanjut mengulek sambel.
"Wih jadi ngga sabar pengen coba nyobain sambel buatan Yayang."
"Ren, bisa diem nggak sih. Atau gue ulek mulut lo sekalian sama cabe ini.
Rendy tertawa begitu juga yang lain nya ikut tertawa mendengar candaan Rachel.
"Yayang."
"Apalagi?." tanya Rachel.
"Gue ngebanyangin kalo kita nikah. Lo ngulek sambel terus gue meluk lo dari belakang gini pasti romantis banget." Rendy bergerak ke belakang Rachel dan hendak memeluknya.
Bug.
Rendy meringis setelah mendapatkan sikutan dari Rachel.
Rachel benar-benar jangan dan menatap Sarah dengan sorot mata seperti anak kecil yang di ganggu teman nakalnya.
"Tante, Rendy nyebelin."
Sarah tertawa, gemas betapa imut nya dan lucu nya Rachel saat mengerucutkan bibir dan mengembungkan pipi.
"Ini Tante kasih senjata." Sarah mengambil centong dan memberikannya pada Rachel. Seketika mata Rachel berbinar, sementara Rendy melotot panik saat membayangkan centong yang terbuat dari kayu itu mendarat tiga kali ke kepalanya.
"Eh, eh nggak lagi suwer. Gue pindah nih."
Rendy langsung ke luar dari area dapur dan ikut berdiri di samping Dypta dan Bastian.
"Gitu kek dari tadi, jail mulu jadi orang." jengkel Rachel sambil melototkan mata. Namun bukannya takut Rendy justru gemas dan ingin menjahili Rachel lagi. Tapi demi keselamatan kepalanya karena sekarang Rachel masih memegang centong, akhirnya Rendy memilih diam.
"Oh yah Tante, Rana mana? dari tadi aku ngga liat." tanya Bastian.
"Kita ke sini buat jenguk Farel bukan Rana," celetuk Rendy.
"Lah itu kan lo. Gue ke sini mau ketemu Rana."
Rendy berdecih, "Tante jangan mau punya menantu kayak Tian. Lihat nih belum apa-apa, dia udah nggak peduli sama Farel, padahal Farel kakak nya Rana."
__ADS_1
"Mulutmu itu mengandung racun tikus." Bastian mengambil tisue dan menyumpalkan ke mulut Rendy. Rendy menutup rapat mulutnya sembari menahan tawa.
Sedangkan Dypta tak peduli banyak, ya begitulah mereka setiap bertemu pasti ada aja yang mereka perdebatkan. Dari pada melihat pertengkaran mereka, Dypta lebih memilih fokus menatap Rachel yang sedang memasak. Gadis itu berkali-kali lipat lebih cantik dan menawan saat sedang fokus dan berkutat dengan bumbu-bumbu dapur.
"Pagi-pagi udah ngerusuh aja di rumah orang."
Bastian, Rend dan Dypta menoleh ke sumber suara itu. Disana Farel mendekat bersama ketiga adiknya.
Rana, Rani memegang sisi kaos Farel. Sedangkan Reza memegang kaos bagian belakang. Sekali lagi pertolongan ketiga adiknya itu tidak berguna tapi Farel membiarkan saja daripada dia tolak dan akhirnya mereka merengek.
"Astaga ada calon istri." Bastian langsung berhenti memasukkan tisue ke dalam mulut Rendy dan merapihkan kaos. Dia harus terlihat cool di depan Rana.
"Halo Rana."
Bastian berdiri dan mendekat di samping Rana. Reza melengok dari belakang kaos Farel dan menatap sinis Bastian.
"Om, bisa nggak? nggak gangguin Rana." ucap Reza seketika membuat Bastian melotot.
"Om? kamu panggil saya Om? Reza, Reza. Umur saya seperti abang kamu. Harus nya kamu manggil saya Abang juga."
"Ngga mau ah, aku mau manggil Om aja. Om Bastian sudah tua." ejek Reza dengan ekspresi super menyebalkan membuat darah Bastian mendidih. Seandainya Reza bukan saudara Rana, huh sudah Bastian tendang pantat nya sampai ke benua Antartika.
Nih bocah tingkat ngeselin setara bon cabe level 30.
Reza berlari ke arah dapur dan berdiri di samping Rachel. Baru saja ingin menyapa tapi Sarah sudah memanggilnya duluan.
"Reza, Mama mau bicara sebentar."
Sarah agak menunduk hingga wajahnha setara dengan wajah putranya.
"Apa yang Reza tadi lakukan pada Bang Tian itu tidak sopan. Mamah sama Ayah tidak pernah mengajari Reza berlaku tidak sopan kepada orang lain. Apalagi orang itu lebih tua dari kita. Jangan manggil Bang Tian dengan Om lagi yah. Meskipun itu candaan, tapi tetap tidak baik. Nanti minta maaf yah."nasihat Sarah dengan suara pelan.
Meskipun pelan tapi posisi mereka dekat. Rachel bisa mendengar pembicaraan mereka. Rachel tersenyum, semakin kagum dengan Sarah dalam mendidik anak-anaknya. Sarah bisa saja menegur Reza di depan semua orang tapi tidak Sarah lakukan. Karena biasanya jika anak kecil di tegur di depan semua orang dia akan berubah menjadi pendiam.
"Iya Mah, Maaf. Reza nggak akan mengulangi nya lagi."
Sarah tersenyum dan mengacak rambut putranya gemas. "Anak Mamah pintar banget sih."
"Ya udah Reza mau minta maaf sama Bang Tian. Kak Rachel aku pergi dulu yah."
"Iyah Reza."
Rez keluar dari area dapur. Menyusul Farel dan yang lainnya yang berada di ruang tengah. Mereka mengobrol sambil bermain sambil menunggu masakan jadi. Sarah dan Rachel juga di bantu 2 Art agar lebih cepat.
***
"FAREL."
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....