Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 40


__ADS_3

RS. Pelita, pukul 19.00


"Dypta, boleh minta tolong ambilkan air."


"Ya."


Dypta mengambilkan segelas air lalu duduk lagi di kursi brankar samping Luna. Siang tadi sekitar pukul 13.00, Dypta sudah menjenguk Luna. Tapi karena ada kuliah siang dan mata kuliah itu penting, Dypta tidak bisa bolos kuliah Dypta berjanji akan datang ke sini malam hari lagi untuk menemani Luna.


Dypta juga membawakan makan malam untuk Luna sekaligus ikut makan juga karena dia sendiri juga belum makan. Namun sejak tadi Luna terlihat ogah-ogahan makan.


"Kenapa? makanannya nggak enak?."


"Eh, enggaknkok makanan ini enak banget."


Luna memperhatikan kotak makan tale awak yang terdiri dari nasi, oseng daging, cacat aneka sayuran di campur udang, lalu ada dessert yang terdiri dari puding dan 2 kue kering. Makanan yang terlihat sangat lezat tapi entah kenapa Luna tidak bersegera.


"Kalau enak kenapa nggak di makan? perut kamu sakit? Mau aku panggilkan dokter? Atau kalau kamu mau makan menu lain?."


"Ngga Dypta," Luna menatap Dypta dan tersenyum. Senang sekali mendapat kan perhatian manis seperti ini. Namun perasaan senangnya tidak sesenang biasanya. Luna merasa hampa padahal laki-laki yang dia cintai ada di sini dan memberikan banyak perhatian.


"Perut ku ngga sakit dan kamu nggak perlu memanggil dokter. Aku juga ngga mau makan makanan yang lain. Ini sudah lebih dari cukup."


"Ya terus kenapa? kamu mau ketemu mama kamu?."


Saat Dypta tiba di sini tadi Dilara pamit pulang, karena takut terjadi sesuatu dengan Luna jika sendirian, Dilara meminta Dypta untuk menjaga Lune sementara sampai Dilara kembali ke rumah sakit.


"Ngga Dypta, aku memang intinya bertemu seseorang tapi bukan mama."


"Terus siapa?."


"Farel."


Dypta mengerutkan dahi dalam, "Bukannya Farel sudah menjenguk kamu?."


"Iya tapi aku merasa kurang dan rasanya ingin terus bersama Farel."


Lalu Luna menunduk sambil mencengkram sisi kotak makanan.


"Farel ada di sini dari jam 2 sampai jam 5 sore. Lalu pulang dan sampai sekarang belum memberiku kabar sama sekali."


Dypta menyimak, mendengarkan baik-baik setiap kata curhat Luna meskipun rasanya ingin menyela dan mengajukan banyak pertanyaan. Terutama tentang perasaannya pada Farel. Sudah menjadi rahasia dalam pertemanan mereka, Farel mencintai Luna, Farel juga sering terang-teranvan menggoda Luna dan menyatakan cinta tapi selama ini Luna selalu cuek.


"Pagi tadi saat aku terluka dan Farel pergi dengan Rachel saat itu juga aku merasa kehilangan. Melihat Farel merangkul pundak Rachel, berjalan terus tanpa menoleh kepadaku, rasanya sakit sekali, aku bahkan sampai menangis. Lalu tadi saat Farel dan Rachel ke sini sambil bergandengan tangan, aku cemburu dan ingin melepaskan genggaman tangan mereka meskipun Farel melakukannya hanya untuk candaan."

__ADS_1


Luna kembali berkaca-kaca mengingat kejadian tadi pagi dan siang hari. Luna merasa kalau Farel sengaja membuatnya cemburu untuk menyadarkan perasaannya. Farel berhasil membuat Luna marah, kesal, cemburu, jengkel dan gelisah sampai makan pun rasanya tak enak.


"Cemburu? kamu cemburu Farel dekat dengan Rachel? cemburu tanda cinta apakah kamu mencintai..."


"Iyah Aku mencintai Farel. Mungkin sejak dulu aku sudah mencintai Farel tapi aku tidak menyadari itu sampai pagi tadi bahwa aku takut kehilangan Farel. Aku cemburu sekali Dypta, dan untuk perasaanku ke kamu, saat aku termenung memikirkannya ternyata aku tidak mencintai kamu tapi hanya sekedar mengagumi kamu."


Luna mendongak dan menatap mata Dypta.


"Maaf Dypta. Aku nggak bermaksud mempermainkan perasaan kamu. Aku menyatakan cinta dan kamu meminta ku berjuang namun di tengah-tengah perjuanganku ini aku malah bilang mencintai laki-laki lain. Lebih baik aku mengatakan ini dari awal daripada setelah waktu 30 hari nanti kamu mencintai ku dan semuanya menjadi rumit. Aku benar-benar tidak ada niat menyakiti perasaan kamu Dypta, tolong jangan marah!."


Luna menatap memelas Dypta.


Dypta menggeleng.


"Aku tidak maraha karena aku sudah menebak sejak awal kamu memang mencintai Farel, tapi kamu tidak menyadari perasaan kamu. Syukurlah sekarang kamu menyadarinya."


"Benarkah? kamu sungguh tidak marah kepadaku?."


Dypta tersenyum dan menganguk.


"Hm aku tidak marah, aku justru senang. Lagipula aku tidak akan pernah bisa mencintai kamu. Mau bagaimanapun aku mencoba aku tidak pernah bisa mencintai kamu Luna. Aku hanya menganggap kami sebagai teman. Justru aku akan merasa bersalah jika dalam 30 hari ini kemu berjuang sedangkan aku tidak bisa menerima mu."


"Ishhh jahatnya." Luna menonjok pelan lengan Dypta, lalu tersenyum.


"Hm. Ayo lanjut makan."


***


Pagi hari pukul 05.30.


Bangun tidur Rachel langsung di sambut chat Farel.


Farel : Morning, Babe.


Rachel : Babe apaan sih?.


Farel : Bastian, Rendy juga sering manggil lo gitu, masa gue ngga boleh.


Rachel berdexih, dia mengetik balasan tapi tiba-tiba Farel vidio call.


"Ya ampun orang ini."


Rachel langsung memposisikan diri duduk dan merapihkan rambut. Tak lupa membersihkan mata yang meungkin belekan dan membersihkan sekitar mulut yang mungkin saja ada bekas iler.

__ADS_1


Lalu tiduran lagi, menarik selimut hingga menutupi sebatas mulut. Berdehem beberapa kali. Baru saja ingin menekan tombol hijau, tapi tiba-tiba...


"Yah kok mati."


Rachel mengerucutjan bibur dan merutuk pada dirinya sendiri karena terlalu lama mengangkat vidio call sampai akhir mati.


"Farel kok ngga vidcall lagi?."


Rachel jadi uring-uringan sendiri sambil terus menyalahkan diri sendiri. Harusnya tadi dia tidak perlu merapihkan rambut dan mengelap iler. Toh Farel juga sering melihatnya tidur. Dulu saat masih tinggal segedung Apartement, Farel tahu sandi apart-nya dan beberapa kali membangunkannya untuk kuliah saat malamnya Rachel begadang dan paginya sulit bangun.


"Vidcall balik ngga yah?."


Saat Rachel sedang menimang-nimang tiba-tiba vidzall lagi dari Farel. Rachel nyaris menjerit saking senengnya.


Rachel berdehem beberapa kali dan langsung menggeser tombol hijau.


"Rachel..."


Rachel langsung merinding mendengar suara Farel yang berat dan serak-serak khas cowok baru bangun tidur.


Rachel memperhatikan wajah Farel yang muncul ke layar ponsel. Farel tiduran tengkurap dengan kepala menoleh ke arah ponsel sehingga hanya sebagian wajahnya yang terlihat. Dan anehnya, justru terlihat sangat tampan, padahal baru bangun tidur dan rambutnya masih acak-acakan.


"Kenapa vidcall?." tanya Rachel jutek padahal jantungnya sedang berdisko sekarang.


"Kangen."


Rachel berdecih. "Masaaaa?."


"Iyah emang lo ngga kangen sama gue? kan kita udah lama ngga ketemu."


"Astaga Farel baru tadi siang kita bertemu."


"Jawab dong lo ngga kangen sama gue?."


"Nggaklah ngapain juga gue kangen sama lo."


Bohong, fakta nya Rachel selalu merindukan laki-laki ini 24 jam, bertemu, mengobrol, dan melakukan hal-hal random lainnya, itulah yang Rachel inginkan selalu bersama Farel.


"Rachel, Sayang!."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2