
Setelah Rachel dan Hendrawan pergi, Ayuma lanjut berganti baju dan berdandan. Hari ini ada janji bersama teman-temannya. Seminggu sekali atau sebulan tiga kali mereka hangout bersama.
Selesai berdandan mereka melajukan mobil nya ke sebuah mall tempat mereka janjian.
Sesampainya di mall, Ayuma langsung menuju restaurant Can You All Eat.
"Dilara, Sarah."
Ayuma melambaikan tangan sambil tersenyun ke arah dua sahabat dekat nya itu.
"Kalian sudah menunggu lama?." tanya Ayuma begitu sampai di meja Dilara dan Sarah.
"Enggak kok kita juga baru sampai di sini." ucap Sarah dan di balas anggukan oleh Dilara.
Mereka pun saling berpelukan cipika-cipiki seperti biasanya saat bertemu. Kedekatan mereka bermula karena kedekatan anak-anak mereka. Saat anak-anak masih kecil saat wekeend atau liburan sekolah anak-anak suka liburan bersama.
Sering bertemu membuat para orang tua khusus nya ibu-ibu merasa cocok satu sama lain bahkan mereka membuat grup arisan untuk mempererat silaturahmi.
Hari ini bukan hari arisan tapi Ayuma sengaja mengajak Sarah dan juga Dilara bertemu untuk hangout bersama. Sebelum pergi hari ini, Ayuma juga mengumumkan di grup arisan, tapi hanya Sarah dan Dilara yang memiliki waktu luang.
Sambil makan, mereka mengobrol banyak hal.
"Hangout kayak gini membantu banget mengurangi stress" ucap Ayuma setelah menelan makanannya.
"Setuju apalagi mengurus tiga anak kembar yang sedang aktif-aktif nya rasanya capek banget dan butuh healing. Makan di luar seperti ini, melihat suasana baru, mengobrol, saling curhat, dan membicarakan banyak hal, lebih dari cukup menjadi healing bagi aku." ucap Sarah.
Dilara menganguk, "Kalau aku sih nggak ada kesibukkan apapun selain mengurus toko roti. Tapi karena sudah ada pegawai jadi aku nggak perlu turun tangan, cukup mengawasi dari jauh. Makannya kalau ada yang ngajak pergi, aku yang paling stand by, hahahaa."
Sarah dan Ayuma sama-sama tertawa.
"Apa kamu nggak ada rencana menikah lagi?." tanya Ayuma.
Dilara menggeleng, "Entahlah untuk sekarang belum. Sekarang aku ingin fokus membahagiakan Luna."
"Fokus membahagiakan anak itu penting, tapi fokus membahagiakan diri sendiri juga penting. Tidak ada salahnya kamu mencoba menjalin hubungan baru, kamu masih muda, cantik, pintar, body goals bahkan orang-orang yang tidak mengenal kamu mengira kamu berusia 20-an."
__ADS_1
Dilara tertawa mendengar pujian dari Sarah.
"Kamu berlebihan Sarah justru kamu yang masih terlihat muda. Wajah kamu itu Baby Face."
"Kayaknya itu keturunan, rata-rata keluarga Mamah semua wajahnya baby face semua hahaaa." ucap Sarah.
"Aku setuju yang Sarah bilang. Kenapa kamu ngga mencoba membuka hati lagi?. Apa pernikahan dengan mantan suami kamu membuat kamu trauma?." tanya Ayuma.
Dilara terdiam sesaat. Tentang cerita hidupnya dan putrinya. Dilara berbohong bahwa Dilara menikah di kampung tapi suaminya meninggalkannya. Lalu dia bersama Luna merantau ke kota karena saat itu Dilara tidak memiliki siapa-siapa. Dilara menitipkan Luna di Panti Asuhan sedangkan Dilara bekerja bersama Matthew.
Dilara terpaksa berbohong, DiLara tidak mungkin bahwa Luna adalah adalah anak kandung Hendrawan. Semua akan menjadi kacau dan menghancurkan persahabatannya dengan Ayuma.
"Atau bisa juga Dilara masih mencintai mantan suaminya?" ucap Sarah menatap Ayuma lalu mengalihkan pandangan nya ke arah Dilara. "Bukan begitu, Dilara?."
Dilara tersenyum dan menganguk malu-malu.
"Dari dulu sampai sekarang cinta ku padanya tidak pernah berubah. Kami berpisah bukan karena kami tidak saling mencintai. Sampai detik ini kami yakin perasaannya masih sama. Tapi keadaan yang begitu rumit yang memisahkan kami. Namun meski begitu aku selalu berharap untuk kebahagiaannya dan keluarganya sekarang."
"Kamu baik sekali Dilara." Puji Ayuma.
"Aku setuju memang Dilara memang baik sekali. Dari dulu sampai sekarang dia tidak pernah berubah. Dan aku harap kamu selalu baik hati Dilara." Sarah mengusap lengan Dilara.
"Kamu tahu Sarah, saat aku menjadi Bodyguard kamu dan melihat kamu menyikapi segala masalah dalam hidup kamu, aku belajar banyak. Aku belajar sabar, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Selalu berbuat baik meskipun dalam keadaan tersulit dan pada akhirnya hasil yang akan membahagiakan."
"Ya ampun keasikkan ngobrol sampai gosong gini!." ucap Ayuma begitu menyadari beef nya gosong.
Mereka pun lanjut makan sambil mengobrol banyak hal.
***
Sekarang Rachel dan Hendrawan ada di salah toko baju di mall. Sempat tadi Rachel merasa bingung harus melakukan apa untuk menghabiskan waktu bersama Papahnya. Dan Papahnya mengusulkan untuk shopping saja.
Rachel tidak terlalu suka shopping tapi berhubung kali ini di temani Papahnya, mendadak Rachel jadi menyukai Shopping. Apapun jika bersama Papahnya pasti menjadi hal yang paling menyenangkan.
"Papah bagus nggak." tanya Rachel sambil menempelkan kaos abu-abu ke tubuhnya.
__ADS_1
"Bagus tapi bukannya kamu sudah punya banyak kaos. Kadang-kadang Papa mendengar Mamah kamu stok pakaian kamu lebih banyak kaos dan celana daripada baju-baju feminim semacam dress."
Rachel tertawa, "Aku juga punya dress kok hanya jumlah nya nggak banyak. Aku lebih suka memakai kaos seperti ini. Sebenarnya kaos juga nggak banyak lebih banyak jaket, hoodie, cardigan dan semacam outer gitu."
Hendrawan menganguk, "Ya udah beli kaos, terus nanti beli dress, sepatu, tas juga sekalian. Beli apapun yang kamu mau."
"Oke papa, tapi nggak papa kan aku ngabisin uang Papa?."
Hendrawan tersenyum dan menyentil dahi Rachel.
"Emangnya mau beli apa sih? dan seberapa banyak sampai menghabiskan uang Papa. Kamu mau beli mall ini aja, uang Papa nggak akan habis."
Rachel tertawa. "Ya udah aku beli 3 kaos."
"Iyah terserah kamu," Hendrawan mengacak rambut putrinya setelah itu Rachel memilih-milih baju lagi.
Hendrawan memang tidak menginginkan kehadiran Rachel di dunia ini. Tapi adakalanya saat berdua seperti ini melihat betapa ceria nya Rachel, hati Hendrawan terenyuh. Mungkin karena ikatan darah keduanya, ikatan antara Ayah dan Anak secara narulilah Hendrawan bahagia melihat Rachel bahagia.
Hendrawan duduk di kursi tunggu dengan pandangan mata tak lepas menatap putrinya yang ke sana ke mari memilih kaos. Sambil menunggu Hendrawan merogoh ponsel nya mengecek email dari sekretaris nya mungkin ada email penting. Saat di rumah tadi Hendrawan sudah menginformasikan hari ini dia tidak bisa datang ke kantor. Jika ada file penting cukup kirim ke email saja.
"Papa aku pilih ini!." Rachel menghampiri Papanya sambil membawa 3 kaos berwarna abu-abu, hijau dan merah.
Namun Hendrawan masih sibuk dengan ponselnya. Mungkin ada hal penting, Rachel memutuskan untuk menunggu. Tapi sudah 10 menit berlalu tetapi tak ada ada tanda-tanda Hendrawan selesai dengan ponselnya.
Padahal Hendrawan Ayah kandung nya, tidak masalah jika dia menegur sambil merengek manja seperti anak-anak yang lain saat sedang di cuekin. Tapi entah kenapa rasa canggung, Rachel berdiri di depan orang asing dan takut mengganggu orang itu.
"Lucu banget sih!."
"Apa yang lucu , Pa?." tanya Rachel.
Mendengar pertanyaan itu, Hendrawan pun mendongak, seketika terkejut melihat putrinya ada di depannya. Hendrawan pun buru-buru memasukkan ponsel nya ke dalam saku celanannya dan tersenyum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1