Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 122


__ADS_3

Beberapa hari ini, hidup Luna merasa semakin hancur, karirnya, keluarganya, teman-temannya, semuanya menjauh. Tapi ternyata kehancuran itu baru awal saja.


Pagi ini saat membuka mata, tanpa sehelai benang pun tidur di ranjang kamar asing di sebuah club. Dan ************ yang terasa perih, tertatih-tatih Luna pulang ke apartemen Luna, tidak berani pulang dengan kondisi seperti ini.


Luna tau hidupnya sudah hancur sehancur - hancurnya. Tidak ada yang tersisa dari jiwanya hanya ada kehampaan dan kekosongan.


"Dingin, aku kedinginan Tuhan."


Pandangan ya mulai mwngabur sebab air mata yang mulai mengenang lalu perlahan tumpah dari sudut mata.


"Aku tidak akan bertanya kenapa aku harus melewati ini, Tuhan. Mungkin kesalahan yang terlalu besar atau mungkin memang takdirku harus merasakan ini. Aku tidak tau, tapi aku menerima nya. aku menerima sakit ini."


Di sela-sela kalimatnya, terdengar isakan sesak.


"Kata orang Tuhan tidak akan menguji hambanya melewati batas kemampuan. Tapi aku merasa tidak sanggup Tuhan."


Bagaimana bisa Luna melanjutkan hidup setelah kehancuran ini. Bahkan untuk menegakkan kepala Luna tidak mampu dan ketakutan.


Luna takut melihat mata orang lain yang memandangnyw benci. Luna takut membaca komentar orang-orang tentang hidupnya Bahkan di saat seperti ini Luna menebak orang-orang masih menghujatnya dan mencari-cari kesalahannya.


"Tuhan, aku ingin pulang. Maaf, aku pulang sendiri tanpa menunggu jemputan malaikatmu."


"Aku takut mati tapi aku tidak sanggup lagi untuk hidup."


Luna memejamkan mata dengan setetes air mata jatuh dari sudut mata.


"Papa, Mamah. Maaf aku belum bisa menjadi anak yang baik untuk kalian."


"Rachel, maaf. Aku belum bisa menjadi saudara dan teman yang baik untuk kamu."


"Untuk diriku sendiri, maaf aku harus melukaimu. "


"Ini akan sakit, tapi hanya sebentar kok. Setelah ini kamu tidak perlu bertatapan dengan mata pembenci, tidak perlumendengar kata cacian dan tidak perlu membacakan ketikan jahat. Maaf untuk diriku sendiri."


Sreeett..


Luna memejamkan mata dengan kedua tangan lemas di sisi kanan kiri tubuhnya.


Dalam pejam mata dan sisa kesadaran Luna mengerti. Mengerti kenapa banyak artis yang mengakhiri hidup. Luna seperti merasakan apa yang Go-hara dan Sulli rasakan.


"LUNA."


Samar-samar suara itu memanggil, suara itu...

__ADS_1


Mama.


"LUNA, YA TUHAN."


Papa.


Luna mendengar nya tapi sulit untuk membuka mata. Tubuhnya terlanjur lemas.


"NAK BERTAHAN LAH!."


Terakhir yang Luna ingat, tubuhnya melayang dalam gendongan Papa nya, berusaha mendekatkan kepala pada dada pap nya untuk mencari kehangatan. Jika ini yang terakhir kalinya ia hidup, Luna ingin mati dalam pelukan Papa nya.


***


Dilara dan Hendrawan menunggu. Dalam setiap detik dalam kegelisahan dan kekhawatiran. Dilara di bangku tunggu sembari terus mengusap air mata. Sementara Hendrawan mondar mandir di depan ruang UGD.


"Aku sudah bilang Mas, Luna tidak mau pergi, dia takut, dia takut sendiri."


Hendrawan mengacak rambutnya dengan frustasi.


"Aku nggak tahu akan berakhir seperti ini, aku hanya tidak ingin Luna tetap di sini dan..."


"Dan apa? dan membuat kamu malu begitu?."


Hendrawan tidak bisa memungkiri salah satu alasan mengirim Luna ke luar negeri agar bisa mengurangi rasa malunya. Hendrawan benar-benar malu setelah kejadian itu, bahkan saat rekan-rekan kerjanya bertanya apakah Luna benar anak kandungnya, Hendrawan selalu mengelak.


Padahal dulu Hendrawan bersikeras ingin mengatakan pada dunia kalau Luna adalah anak kandungnya, tapi sekarang Hendrawan justru malu. Bahkan berharap Luna bukan putri kandungnya.


Keegoisannya telah menyakiti putrinya sedalam ini.


"Luna sudah minta maaf, dia mengakui kesalahannya. Luna mengirim surat permintaan maaf nya pada Rachel. Aku bahkan tidak tahu Luna menulis surat itu, dan dia menyesal. Tapi kenapa kamu tidak mau mendengarkan penyesalannya, Mas?. Kenapa?."


Dilara menunduk dan menutup wajahnya dengan telapak tangan nya.


"Tadi pagi Luna bilang kenapa hidupnya lebih menyakitkan setelah bertemu kamu. Dia bahkan berharap tidak pernah bertemu dengan kamu atau menganggap kamu sudah mati."


Hendrawan mengangkat kepala dengan mata berair.


Dilara menggeleng, "Aku yang salah, harusnya aku tidak melangkah sejauh ini. Harusnya aku berada di garis batasku. Harusnya aku tidak melewati garis itu untuk menggapai kamu. Pada akhirnya putriku yang terluka, Gadis kecilku yang selalu aku lindungi, yang aku besaran dan aku harapkan bisa panjang umur, justru mengakhiri hidupnya."


Hendrawan diam seribu bahasa.


"Jika kamu tidak menginginkan kami, katakan sejak awal, Mas. Aku datang kepadamu karena kamu bilang kamu tidak bahagia bersama Ayuma. Kamu bilang Ayu mah selingkuh. Kamu kesepian dan membutuhkan aku. Kamu tersiksa tinggal serumah dengan Ayuma. Ayuma, Ayuma, Ayuma. Kamu selalu bilang kamu membencinya. Lalu begitu kalian berpisah, aku dan Luna pindah ke rumah kamu, kamu justru mengabaikan kami."

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan, Mas?."


Dilara menekan dadanya sesak, teramat sesak.


Hendrawan memusat wajahnya dengan kasar. Benar, semua yang Dilara katakan benar. Hendrawan membenci Ayuma, benci segala hal tentangnya. Tapi... Dalam waktu bersamaan Hendrawan juga merindukannya.


Hendrawan rindu Ayuma. Rindu pada Rachel juga.


"Aku merasa cinta kamu sekarang tidak sebesar dulu. Dulu sebelum aku menerima cinta kamu, kamu terus mengerjarku dan mengatakan kamu ingin hidup bersamaku. Tapi setelah kita tinggal bersama dan aku mengabdikan hidupku untuk kamu, sikap kamu berubah. Entah kamu sadar atau tidak perhatian kamu jadi berkurang."


"Kenapa, Mas? Apa cinta kamu sudah pudar? Atau kamu mulai mencintai Ayuma? Atau kamu mulai terpengaruh dengan ucapan papa kamu yang mengatakan kamu akan menderita bersamaku?."


"Mas aku juga sakit. Jika pada akhirnya kamu memperlakukan ku dan Luna seperti ini, seharusnya dulu saat pertama kali kita bertemu, kamu pura-pura saja tidak mengenalku. Harusnya aku langsung pindah kota membawa putriku bersamaku."


"Dilara..."


"Kamu..." Dilara memotong ucapan Hendrawan, "Kamu bahkan berusaha menyingkirkan Luna dari hidup kamu. Luna putri kandung kamu, Mas. Aku berani bersumpah dan aku juga berani bersumpah aku tidak pernah menerima uang dari papa kamu "


"Hari itu sekretaris papa kamu mendatangiku dan menyuruh ku pergi atau akan membunuhku dan putri kita. Dia menyampaikan pesan itu dari papa Wisnu, tapi dia tidak membawa uang seperti yang papa kami katakan. Aku tidak bohong."


Hendrawan lagi-lagi tidak merespon apa-apa. Hanya diam berdiri di dekat tembok tepat di hadapan Dilara.


Di tengah obrolan mereka, pintu ruang UGD terbuka.


Dilara segera menghapus air mata dan mendekat pada dokter, begitu juga Hendrawan yang berdiri di sampingnya.


"Bagaimana keadaan putri saya, Dokter?." tanya Hendrawan.


"Kami berhasil menyelamatkan nya tapi kondisi nya masih kritis. Selain karena luka pergelangan tangan, ada luka lain."


"Luka apa, Dokter?." tanya Dilara khawatir.


Dokter Andin terlihat menghela nafas berat, wajahnya berubah muram.


"**** ***** pasien robek dan kami harus menjahitnya."


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


.


__ADS_2