
"Aku, Farel langsung mengajukan diri, "Aku akan menceritakan semuanya. Dari kita kecil sampai kira berumur 20 tahun. Aku tahu banyak hal tentang kamu. Makanan kesukaan kamu, film favorit kamu, hal yang tidak kamu sukai dan kamu sukai. Apa saja, tanyakan padaku."
Jantung Farel berdebar. Debaran kuat sampai membuat dadanya terasa sakit. Sungguh Farel ingin menarik Rachel dalam pelukan. Farel benar-benar gelisah sampai meremas tangannya dan menyalurkan perasaan uang membuncah. Perasaan rindu yang tertahan kini meledak-ledak dalam dadanya. Berdesir, bergemuruh, bergejolak. Semuanya bercampur aduk sampai Farel merasa mual ingin muntah. Ya Tuhan rasanya Farel ingin pingsan lagi.
Rachel menatap khawatir Farel. "Kamu ga papa? kamu kok kelihatan agak pucat?."
"Eh, euhm aku ga papa kok."
Ayuma tak kuasa menahan tawa melihat Farel segugup itu.
"Ma, aku ke kamar dulu ya."
Setelah mendapatkan anggukan dari Ayuma, Rachel berjalan masuk ke dalam rumah. Buru-buru Farel mengekorinya dari belakang.
"Kamu mau kemana?." tanya Rachel heran.
"Ikut kamu."
"Aku mau ke toilet."
"Ikut juga. Eh maksudnya aku menunggu kamu di luar."
Ayuma mengulum senyum, "Farel, di sini saja sama Tante, ngobrol di sini."
Farel menggeleng, terlihat sangat enggan. Tangannya bergerak meraih tangan Rachel dan menggenggam erat. Farel tidak peduli jika sekarang Rachel mengira orang gila, yang penting Farel tidak kehilangan Rachel lagi. Farel tidak mau lengah sedikitpun dan akhirnya Rachel pergi.
"Aku nggak akan kemana-mana. Aku cuma mau ke toilet sebentar. Nanti aku ke sini," Rachel belum tahu sepenuhnya siapa laki-laki ini. Tidak ada kewajiban untuknya menjelaskan pada Farel kemana dia akan pergi. Tapi hatinya tidak tega.
"Sebentar aja. Nggak akan lama kok."
Farel menghela nafas berat dan perlahan melepas genggaman tangannya. Rachel bergegas masuk ke dalam rumah. Sementara Farel masih diam di tempat dengan pandangan mata tertuju pada pintu yang Rachel masuki.
"Farel sini." panggil Ayuma sebelum Farel lari masuk ke dalam rumah mengikuti Rachel.
Farel duduk di kursi samping Farel. Di sini ada empat kursi ini dan sebuah meja bundar yang terbuat dari kayu. Sangat nyaman, cocok untuk tempat mengobrol ringan sambil minum teh.
__ADS_1
"Apa sebegitu rindu nya kamu sampai tidak mau jauh-jauh dari putri saya?."
"Iya Tante. Saya benar-benar merindukan putri Tante."
"Lima tahun ini. Kamu sudah punya pacar belum?."
"Belum, Tante." jawab Farel cepat, "Tapi saya sudah punya calon istri."
"Siapa?."
"Rachel Aqella Tanoepramudya."
Ayuma tertawa, "Saya bahkan belum merestui kamu."
"Saya akan melakukan apapun agar Tante merestui saya. Saya sudah berusia 25 tahun. Saya merasa saya sudah cukup dewasa untuk membangun rumah tangga bersama Rachel. Saya sudah memiliki pekerjaan tetap Saya juga memiliki tabungan yang cukup. Tante sebutkan saja apa yang harus saya lakukan agar saya pantas menjadi suami putri Tante."
Ayuma hanya bercanda mengatakan itu, tapi Farel menanggapi dengan serius. Benar kata Rendy, Rendy berubah. Dulu Farel suka bercanda. Setiap kalimat yang terucap pasti terselip kekonyolan. Tapi sekarang ekspresinya, tutur katanya, tatapan matanya, terlihat sangat serius.
Kepergian Rachel sepertinya mengubah banyak hal dalam diri Farel. Sisi positifnya Farel semakin dewasa, sisi negatifnya Farel seperti kehilangan dirinya sendiri.
Farel tersenyum kikuk, "Banyak Tante, bahkan saya juga pernah mendatangi negara konflik. Waktu itu saya kecewa dan marah Tante membawa Rachel tanpa memberitahu saya dan keluarga saya. Tapi semakin ke sini .... Setelah di pikir-pikir lagi, mungkin jika saya ada di posisi Tante, saya juga akan melakukan hal yang sama. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih, terima kasih sudah bertahan, terima kasih sudah menjaga Rachel dengan baik."
Ayuma menganguk, "Terus sekarang bagaimana keadaan Luna, terakhir kali saya tahu Luna mengalami pelecehan, dia bunuh diri sampai kritis. Edgar sudah memberitahu saya kalau pelakunya adalah Brandon. Apa Brandon menikahi Luna?."
"Saya juga tidak tahu Tante. Saat itu Ayah membantu saya. Ayah berhasil menemukan pelaku sebenarnya. Informasi terakhir yang saya dapat, Brandon pelakunya. Mereka sama-sama mabuk. Tapi setelah itu saya tidak tahu apa yang terjadi. Sekarang saya bahkan tidak tahu dimana keberadaan Luna. Sedangkan Brandon, dia sudah lulus S1 dan melanjutkan perusahaan papa nya."
Ayuma menganguk-angguk. Ayuma sangat bahagia sekarang. Saking bahagia nya sekarang, Ayuma tidak sempat memikirkan cara untuk membalas dendam pada Hendrawan, Dilara dan Luna agar mereka menderita.
Ternyata obat yang paling manjur pengkhianatan adalah kebahagiaan. Ayuma benar-benar sudah berdamai dengan masa lalu dan tidak peduli pada mereka lagi.
Untuk Luna... Entah bagaimana keadaan gadis malang itu, semoga kondisi nya baik-baik saja.
***
Jakarta, Ardito House, pukul 10.00
__ADS_1
"Luna, ambilkan ayam lagi."
"Iya, Ma." Luna beranjak dari kursi, menuju ke dapur dam mengambil Lima potong ayam. Setelah meletakkan ke piring di tengah-tengah meja, Luna duduk lagi di samping kiri Kevin. Sementara di kanan Kevin ada Brandin yang menyuapi Kevin.
Luna senang sekali Ibu dan Ayah mertuanya mengundangnya makan siang. Luna juga senang Brandon menyuapi Kevin. Kevin terlihat sangat bahagia.
"Eh, ta ampun sendok," Agnes entah sengaja atau tidak menjatuhkan sendok nya.
"Luna, ambilkan sendok," perintah Ardito, Papa Brandon.
"Iya, Pa." Luna berdiri lagi untuk yang ke sekian kali dan mengambilkan sendok baru untuk Agnes.
Setiap dia di undang makan bersama keluarga Brandon. Luna sudah terbiasa melakukan ini. Mungkin dia hanya makan beberapa sendok, sisanya dia di sibukkan bolak balik ke dapur mengambil sesuatu untuk Amora dan Ardito. Sekarang di tambah lagi dengan Agnes. Sudah sekitar 3 minggu ini Agnes selalu ikut makan bersama keluarga. Papa mengatakan Agnes adalah anak teman dekat beliau.
"Agnes ini," Luna memberikan Agnes sendok.
"Terima kasih." ucap Agnes.
"Sama-sama."
Luna duduk di samping Kevin, baru saja menyendok nasi dan mengarahkan ke mulut tapi tiba-tiba...
"Luna saya ingin jus jambu, buatkan sekarang!."
"I-iya Pa." Luna ingin berdiri tapi tangan Kevin menahan lengannya.
"Kenapa setiap makan bersama, Oma dan Opa selalu perintah-perintah mama? Oma Opa kan punya punya pembantu, kenapa nggak nyuruh pembantu saja." Kevin menatap heran Ardito dan Amora, Luna menggeleng, menatap tak enak pada mertuanya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1