Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 80


__ADS_3

Tidak ada yang bersimpati kepadanya. Padahal di sini Luna paling menderita, tapi semua orang justru menyalahkannya.


Setelah Luna tak terlihat lagi Bastian mengalihkan pandangannya ke Farel.


"Kenapa lo diem aja di sini, Rel. Tuh pacar lo nangis-nangis. Kejar sana!."


"Tian, lo bisa diem nggak? Omongan lo cuman memperkeruh suasana."


"Memperkeruh suasana? Oh maksud lo memperkeruh suasana hati pacar lo itu. Segitu takutnya Luna kenapa-napa"


"Bukan begitu..."


Bastian menajamkan mata pada Farel. "Sekarang status lo pacar Luna, kalau lo masih deket-deket Rachel dan ada berita tentang Rachel pelakor, lo orang yang pertama gue cari." tegas Bastian.


Tanpa mendengar jawaban Farel, Bastian langsung pergi, Dypta mengikutinya. Sementara Rendy masih berdiri di samping Farel.


Farel menghela nafas berat, masih memfokuskan pada punggung Bastian dan Dypta yang sudah menjauh.


Lalu memilih duduk di lantai lapangan, duduk dengan posisi kaki tertengkuk kedua tangan di lutut lali menelungkupkan kepala di antara lengannya. Bingung perasaan Farel campur aduk sekarang.


"Kenapa lo masih di sini? Lo nggak ikut mereka?." tanya Farel saat menyadari Rendy masih berdiri di sampingnya.


"Mager aja mau pulang, gue juga masih mau main sama adik-adik lo."


Rendy duduk di samping Farel, lalu tiduran menatap langit-langit lapangan sepak bola. Lapangan Outdoor ini di desain dengan atap dan dinding yang terbuat dari kawat. Efektif agar bola tidak keluar lapangan.


Farel menghela nafas berat.


"Gue nggak bermaksud membela Luna, tapi menurut gue ada kesalahpahaman di sini. Luna bilang dia hanya menyampaikan apa yang di bilang Om Hendrawan katakan. Seandainya semua yang Luna katakan adalah kebohongan, bukan sepenuhnya salah Luna, Om Hendrawan yang paling bersalah."


"Benar." Rendy memejamkan mata. "Tapi Luna punya kendali penuh untuk mengatakan itu atau tidak. Tapi Luna memilih mengatakan itu semua di depan semua orang. Dengan sadar dia mengatai Ibu dari sahabatnya seorang pelakor. Sangat wajar Rachel menamparnya. Baru kali ini gue melihat Rachel semarah itu. Seandainya gue yang ada di posisi Rachel jika ada yang menghina Ibu gue, gue juga akan melakukan hal yang sama, minimal orang itu masuk rumah sakit."

__ADS_1


Farel terdiam, membenarkan apa yang di katakan Rendy.


"Gue nggak bermaksud ngomporin lo soal hubungan lo sama Luna. Terserah lo mau lanjut atau putus. Tapi tolong jangan libatkan Rachel."


"ABANG...ABANG..."


Belum sempat Farel menyahut ucapan Rendy, di sana Rana, Rani berlari menghampiri mereka. Sementara Reza berjalan santai.


Farel tersenyum dan merentangkan tangan, sontak kedua gadis kecil mempercepat lari dan masuk ke dalam pelukan Abang nya.


"Kok sepi, teman-teman Abang kemana?." tanya Rana.


"Kalau kamu cari Bang Tian dia udah pulang." Jawab Farel sambil mencium pipi adiknya.


Rana melotot, "Eng-enggak kok siapa juga yang cari Bang Tian. Aku tanya yang lainnya Bang Dypta sama Kak Rachel mana?."


"Sudah pulang, mereka ada kegiatan mendadak."


"Ayo main sama Abang." Rendy mengambil bola dan melakukan tendangan bebas dengan kakinya.


Rana dan Rani bertepuk tangan riang. Reza yang baru sampai di lapangan langsung merebut bola dari Rendy dengan lincah.


Farel tersenyum dengan posisi duduk. Pandangan mata tertuju pada Rendy dan ketiga adiknya yang sedang bermain. Tapi hati dan kepalanya tidak berhenti memikirkan Rachel dan Luna. Gara-gara masalah ini hubungan mereka menjadi merenggang bahkan Rachel mengatakan tidak ingin bersahabat lagi dengan Luna.


Farel yakin ada kesalahpahaman di sini.


Tapi terlepas dari kesalahpahaman, sikap Luna memang keterlaluan. Luna seolah sengaja mengumbar aib dan menjelek-jelekkan Rachel di depan semua orang untuk mendapatkan simpati. Farel benar-benar kecewa dengan sikap Luna.


Tapi jika Farel memutuskan Luna sekarang, tidak menutup kemungkinan Luna curhat di sosial media dan akan jadi bumerang untuk Rachel.


Ah, entahlah Farel benar-benar bingung sekarang. Tapi yang jelas Farel khawatir dengan kondisi Rachel. Farel ingin menyusul nya, tapi seperti nya Rachel ingin sendiri dan sudah ada Tante Ayuma juga.

__ADS_1


***


"Maaf, Mama tidak memberitahu mu sejak awal sehingga kamu mendengar ini dari orang lain." ucap Ayuma setelah melajukan mobil di jalanan, mengatur kecepatan sedang, agar mereka lebih nyaman untuk mengobrol.


"Kenapa Mamah tidak memberitahu ku sejak awal?." tanya Rachel dengan menatap lurus ke depan. "Mama takut membuatku khawatir? membuatku sedih? atau Kenapa, Ma? Aku sudah dewasa, aku juga berhak tahu hal-hal yang menyangkut masalah keluarga seperti ini. Semenyakitkan apapun aku lebih suka mendengar langsung dari Mama daripada mendengar dari orang lain."


"Maaf Sayang, Mama benar-benar minta maaf." lirih Ayuma sendi di penuhi rasa bersalah. "Mama pikir Mama bisa menyelesaikan masalah ini sendiri. Begitu selesai dengan baik-baik, baru Mama akan memberitahu kamu, tapi ternyata jauh dari pemikiran Mama. Semua nya jadi rumit."


Rachel menolehkan kepala dan menatap Mama nya dari samping, merapatkan tubuh dan memeluk lengannya. Setetes air mata mengalir begitu saja tanpa bisa di cegah. Sejak berdebat dengan Luna, Rachel sudah ingin menangis, namun ia tahan karena dia tidak ingin terlihat lemah di depan Luna, Rachel harus kuat dalam membela mama nya.


"Kita lewatin semua ini sama-sama yah Sayang." Ayuma mencium puncak putrinya sembari berkaca-kaca.


"Iya Ma. Apapun yang terjadi aku akan selalu mendukung dan mempercanyai Mama. Tapi aku juga butuh penjelasan. Tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak mau ada kebohongan."


Sambil tetap fokus menyetir Ayuma menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Kemudian menceritakan setiap detail perjalanan hidupnya mulai dari pertemuan pertamanya dengan keluarga Tanoepramudya, kecelakaan orang tua nya, wasiat Ayah nua sebelum meninggal, perjodohan dengan Hendrawan, obat perangsang, kelahiran Rachel, sampai memergoki perselingkuhan Dilara dan Hendrawan. Tak lupa juga Ayuma menunjukkan vidio perselingkuhan Hendrawan dan Dilara yang sedang bercumbu di sofa.


Sepanjang Mama nya bercerita, Rachel tak berhenti menangis. Ternyata pernikahan Mama dan Papa nya tidak sebahagia yang Rachel pikirkan. Mama nya terlalu pandai menyembunyikan kesedihan sampai-sampai Rachel tidak menyadari itu.


"Maaf kamu harus menyaksikan vidio menyakitkan itu."


Pandangan mata Rachel menatap layar ponsel mulai mengabur saat bulir-bulir air mata menggenang di pelupuk mata. Tak kuasa menonton vidio itu Rachel segera mematikan ponsel.


Air mata Ayuma sejak tadi dia tahan akhirnya tumpah juga.


Tak sanggup menyetir, Ayuma menepikan mobil di pinggir jalan dan memeluk putrinya itu. Ayuma tidak sekuat itu, hati nya begitu rapuh bahkan sekarang rasanya ingin menangis, menjerit dan mengatakan pada dunia betapa sakitnya hati nya sekarang. Tapi demi putrinya dia harus terlihat kuat. Sekarang hanya Rachel yang dia miliki.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2