
"Luna teman dekat saya, kami sudah berteman sejak kecil. Dia sahabat perempuan pertama saya. Dan ternyata menjadi sahabat perempuan satu-satunya yang saya miliki sampai sekarang usia saya 25 tahun." Rachel tersenyum. "Tapi...."
Tangan Dilara yang sempat mengendur kini mencengkram kuat lagi gagang pisau di balik saku. Siap menusuk pisau itu pada Rachel jika Rachel berani menjelekkan Luna. Rachel menjadi salah seorang yang membuat Luna menderita.
"Kami sempat salah paham, hubungan kami meregang. Banyak faktor yang membuat kami tidak sedekat dulu. Terlalu panjang jika saya ceritakan. Intinya saya pergi je Swiss dan amnesia lalu kembali ke Jakarta dan baru bertemu Luna akhir-akhir ini. Aku pikir Luna hidup bahagia dengan Papa Hendrawan dan Tante Dilara, tapi justru sebaliknya Luna terpisah dari mereka dan justru menikah dengan Brandon. Bersama Brandon pun hidup Luna tidak bahagia."
Rachel diam sesaat, "Aku kasihan dengan Luna. Tapi juga bingung harus melakukan apa. Aku berharap Brandon bisa mencintai Luna dan Kevin. Dengan dukungan dari orang yang kita cintai dan mencintai kita, semua masalah terasa lebih ringan."
Lift sudah tiba di lantai dasar.
Dilara melipat lagi pisau lipatnya dan berjalan duluan. Namun tiba-tiba dia menghentikan langkah, Rachel juga berhenti menatap punggung perawat itu.
"Ada apa?." tanya Rachel bingung.
"Terima kasih. Tetaplah menjadi teman dari sahabatmu yang bernama Luna itu."
Rachel baru saja menjawab, tapi perawat itu sudah buru-buru pergi.
Rachel tidak ambil pusing, lalu seger ke lobi rumah sakit untuk mengambil makanan yang dia pesan. Setelah itu kembali lagi ke ruang rawat Luna dan makan bersama teman-temannya sambil terus mengawasi Luna. Rachel juga menyuapi Kevin.
***
"Pa,"Brandon menatap sendu pusara papa nya. Proses pemakaman sudah selesai dilakukan, beberapa teman san saudara menghadiri pemakaman. Namun mereka sudah pulang. Sekarang hanya ada Brandon dan keheningan dimakam sore hari.
"Papa bilang papa ingin mengembangkan perusahaan menjadi perusahaan nomer satu di Asia. Papa belum mewujudkan itu, tapi kenapa papa pergi?. Aku juga belum sempat minta maaf karena membentak papa beberapa hari yang lalu. Maaf Pa. Maaf."
Brandon menunduk dengan seterusnya air mata mengalir membasahi pipinya. Meskipun mereka sering berselisih paham, papa nya adalah orang yang tidak akan pernah meninggalkannya. Meskipun sering berdebat, tapi papa nya selalu jadi orang yang pertama yang datang menemaninya saat Brandon sedang dalam masalah. Brandon membenci sifat tamak dan egois papa nya, tapi Brandon tetap menyanyanginya.
"Papa bilang papa ingin memiliki seorang menantu yang hebat, yang cerdas, baik dan dari keluarga kaya. Papa kecewa karena aku memilih Luna. Tapi aku mulai nyaman di dekat Luna, Pa. Aku takut dia meninggalkanku. Papa tenang saja aku akan wujudkan keinginan papa memiliki menantu yang hebat. Aku akan membuat Luna menjadi perempuan yang hebat, cerdas, berpendidikan tinggi dan kaya raya. Papa bisa memegang janjiku."
Brandon mengusap air matanya, "Aku pulang dulu yah pa. Aku harus menjaga menantu papa. Sampai sekarang Luna masih belum sadar. Dan untuk Tante Amora, polisi berhasil menemukan Tante Amora di luar kota. Aku tak menyangka Tante Amora tega melakukan hal ini. Tapi aku juga tak bisa menghakimi beliau begitu saja. Aku hanya ingin mendengar alasan Tante Amora. Tapi apapun alasan nya, Tante Amora akan di hukum dengan pasal yang berlaku."
"Aku akan sering mengunjungi papa"
__ADS_1
Brandon kembali ke rumah sakit. Rachel dan yang lainnya juga pamit. Mereka mengucapkan turut berduka cita atas kepergian Ardito. Brandon hanya mengangguk lesu dan berterima kasih atas kedatangan mereka.
Kini di ruangan itu hanya ada Brandon dan Kevin. Kevin begitu setia menunggu mama nya.
Kevin sedang tidur.
Setelah memberikan beberapa kecupan di pipi putranya, Brandon mendekati brankar Luna dengan langkah gontai.
"Luna..."
Tiba-tiba Brandon berlutut di sisi brankar Luna dengan mata berkaca-kaca.
"Bangun Luna, bangun. Aku mohon!."
Sejak dulu Brandon selalu takut sendiri dan takut di tinggalkan. Karena itu dia meminta Rachel berjanji dan tidak akan pernah meninggalkan nya. Bahkan meskipun mereka sudah berpisah selama 5 tahun. Brandon masih tetap mengingat janji itu dan berharap Rachel kembali padanya. Tapi pada akhirnya Rachel pergi juga.
Tapi Brandon lupa, di sini ada Luna yang tidak akan pernah meninggalkan nya meskipun selalu ia abaikan. Tanpa Brandon minta Luna dengan setia berada di sisinya.
"Maaf,"
Brandon mengulurkan kedua tangan dan menggenggam tangan Luna dan menundukkan kepalanya.
"Aku sudah tidak punya siapa-siapa sekarang. Aku hanya punya kamu dan Kevin. Tolong bangun lah! Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untuk kamu. Aku akan mewujudkan mimpi-mimpi kamu memiliki rumah tangga yang bahagia. Apapun...apapun yang kamu inginkan aku pasti menuruti nya."
"Tolong, sekali saja beri aku kesempatan. Tolong buka mata kamu Luna."
Setetes air mata Brandon membasahu lantai. Dia juga tidak ingin menangis, tapi dada nya begitu sesak membayangkan Luna tidak akan pernah bangun selamanya. Brandon begitu ketakutan sekarang.
"Papa..." Mendengar suara papa nya, Kevin terbangun.
Kevin turun dari kursi dan menyentuh pundak papa nya.
"Papa kenapa? kenapa menangis? papa sakit juga?."
__ADS_1
Namun Brandon hanya diam. Dia sedang berusaha menenangkan diri agar suara nya tidak gemetar saat berbicara dengan Kevin. Tapi Brandon tidak mampu. Semakin dia tahan, air matanya semakin mengalir.
"Kevin peluk papa ya biar papa nggak sakit. Biasanya kalau Kevin sakit mama suka peluk Kevin. Terus Kevin cepet sembuh."
Kevin mendekat dan memeluk papa nya, lalu menyandarkan pipi bulatnya di lengan papa nya.
"Papa harus sehat. Papa nggak boleh sakit. Nanti Kevin ikut sakit kalau papa dan mama sakit."
Brandon langsung merengkuh dalam pelukan. Kevin tidak tahu apa yang terjadi pada papa nya. Kevin hanya diam sambil membalas erat pelukan papa nya dengan pandangan mata tertuju pada mamanya.
Lalu tiba-tiba Kevin melihat tangan mama nya bergerak.
"Papa lihat papa!."
"Lihat apa Sayang?." Brandon mengusap air mata dan menatap putranya.
Kevin melepas pelukan dan menyentuh lengan papa nya. "Tadi Kevin liat tangan mama gerak-gerak."
"Kevin serius?."
"Iya Papa, Kevin beneran liat."
Brandon ikut menatap jari istrinya. Cukup lama dia menatap namun tidak ada pergerakan. Lalu entah ke detik betapa Brandon melihat jari istrinya bergerak.
"Sayang." Brandon menyentuh pundak Kevin.
"Kevin juga lihat papa." Kevin naik ke atas kursi dan memeluk mama nya. "Mama bangun mama ini Kevin, ayo buka mata mama. Kevin sayang Mama."
.
.
.
__ADS_1
bersambung