Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 60


__ADS_3

Masuk.


Pritt.


Peluit di tiap tanda pertandingan berakhir dan pemenangnya adalah tim Brandon.


Anggota tim Brandin beraorak mengangkat Brandon ke udara. Sementara tim Farel tampak kecewa dan menatap sinus Farel yang sejak tadi tidak konsentrasi.


"Semua ini gara-gara lo, Rel. Coba aja lo konsentrasi meskipun kita kalah paling enggak skor kurang ngga kalah jauh. Kalau lo nggak niat main, harusnya lo ngga usah turun ke lapangan. Mending sana masuk ke kamar dan pacaran sama pacar lo."


"Tutup mulut lo."


Farel mendekat dan mencengkram kerah baju teman anggota nya itu. Sontak saja anggota tim yang lain mendekat dan melerai mereka.


"Farel." panggil Luna sambil berjalan mendekat pada Farel.


Farel menoleh, kecewa begitu menyadari Luna tidak bersama dengan Rachel. Ternyata Rachel mendekat pada tim Brandon.


"Cabut ajalah." Ajak teman-teman Farel. Mereka pun pergi, sementara Farel memilih duduk di bangku tunggu tim.


Luna merasa sedih melihat Farel terpuruk karena kekalahannya itu. Luna juga sedih teman-teman Farel tidak menyambutnya dengan antusias sama seperti dengan pertandingan waktu itu. Namun Luna mencoba mengerti mereka pasti merasa kesal dengan kekalahan mereka ini karena itu mereka langsung pergi.


"Farel." Luna duduk di samping Farel dan mengusap bahu nya, "Setiap pertandingan pasti ada menang dan kalah. Kali ini kamu boleh kalah tapi aku yakin pertandingan-pertandingan selanjutnya kamu pasti menang."


Luna mencoba menenangkan Farel, sementara Farel hanya diam saja, menunduk dan mencengkram rambutnya dengan siku bertumpu di lutut.


Di sisi lain, Rachel menghampiri Brandon tapi tetap menjaga jarak dan membiarkan Brandon bereuforia bersama teman-temannya.


"Eh eh ada itu."


Hingga salah satu teman Brandon menyadari kedatangan Rachel.


"HALO, BU KAPTEN." Sapa teman-teman Brandon dengan kompak dan ramah.


"Halo semuanya," Sapa balik Rachel sambil tersenyum kikuk.


Sebelum teman-temannya meledek dan membuat Rachek tidak nyaman. Brandon menyuruh mereka pergi ke parkiran dulu sementara Brandon berbicara dengan Rachel.


Brandon mendekati Rachel sambil mengusap belakang kepalanya gugup.


"Maaf kalau teman-temanku membuat kamu nggak nyaman."

__ADS_1


"Eh enggak kok. Mereka ramah dan baik."


Brandon menganguk-angguk. Mendadak blank. Padahal tadi sudah menyiapkan banyak rangkaian kalimat untuk Rachel, salah satu ucapannya terima kasih karena Rachel bersedia datang ke pertandingan dan menyemangatinya.


Brandon juga berencana ingin memeluk Rachel dan menggendongnya berputar-putar. Tapi rasanya tidak sopan apalagi dia dan Rachel baru dekat. Brandon tidak ingin Rachel menimpanya sebagai pria kurang ajar karena memeluknya sembarangan.


Beberapa kali berdehem untuk menetralkan detak jantung Brandon menatap Rachel lagi.


"Terima kasih sudah datang dan menyemangatiku. Berkat sarapan kamu tadi, aku lebih semangat dan akhirnya menang. Mungkin kamu menganggap ini gombalan tapi itu yang aku rasakan."


Rachel tersenyum, "Aku ikut senang kamu bisa menang."


"Oh iya, teriakan sekencang tapi pasti membuat tenggorokan kamu sakit dan perut kamu lapar. Kalau kamu tidak ada acara lain setelah ini. Aku ingin mentraktir kamu makan sekaligus membeli minuman penyegar tenggorokan."


Rachel terdiam dengan pandangan mata menatap lekat mata Brandon. Di perhatikan seperti ini membuat Rachel terharu. Selama ini Rachel terbiasa memperhatikan orang lain, sampai kadang melupakan dirinya sendiri.


"Kenapa diam saja? Kalau ada acara lain bilang saja. Ngga perlu merasa nggak enak. Santai saja."


"Enggak kok. Aku nggak ada acara lain. Tapi biasanya kalau menang pertandingan begini, ada perayaan tim. Kamu ngga ada merayakan dengan tim kamu?."


"Aku busa merayakan kapan-kapan saja. Nanti sore bisa, nanti malam juga bisa. Bisa juga saat waktu latihan bersama tim nanti. Sedangkan bersama kamu, aku ngga mau menunda-nunda lagi. Aku ngga mau melewatkan kesempatan sedikitpun."


"Apa ini gombalan?."


Rachel tersenyum dan meletakkan tangannya di telapak tangan Brandon.


"Kalau sudah begini, aku tidak akan pernah melepaskan genggaman tanganku.


Pandangan mata mereka bertemu seiring genggaman tangan Brandon yang mengerat. Kemudian tak menunggu lama, pemuda tinggi itu menarik Rachel keluar dari stadion dengan penuh kebanggaan.


Cewek-cewek fans Brandon yang melihat itu sontak saja menelan kekecewaan. Mereka bertanya-tanya siapa perempuan itu sampai bisa mentaklukan si Kapten Basket yang dinginnya mengalahkan kulkas 10 pintu.


"Oh yah kamu nggak mau ketemu Farel dan Luna dulu gitu?. Mereka teman dekat kamu kan. Mungkin saja mereka menunggu kamu."


Berjalan keluar dari stadion tadi, dari sudut mata Rachel melihat Farel sedang berbicara dengan Luna. Rachel sengaja tidak menegur mereka. Selain tidak ingin mengganggu, Rachel juga ingin menjaga hati. Daripada cemburu berat melihat kedekatan Luna dan Farel lebih baik Rachel menjauh saja.


Saat ini pun rasanya Rachel ingin mendatangi Farel dan memberi sedikit semangat agar tidak terlalu terpuruk karena kekalahan ini. Tapi untuk apa...Toh Farel juga tidak membutuhkannya. Sudah ada Luna di sisinya, perempuan yang paling dia cintai.


"Mereka nggak menungguku kok. Kita pergi sekarang."


Brandon menganguk, membukakan pintu mobil untuk Rachel lalu melajukan mobil dan meninggalkan parkiran.

__ADS_1


Tanpa Rachel sadari sejak tadi Farek menunggunya. Farel membutuhkannya. Tapi Rachel tidak mau datang. Ah tidak juga, selama ini Rachel selalu ada untuknya dan selalu datang kapanpun dia membutuhkan.


Tapi Farel saja tidak menyadari keberadaan Rachel. Farel baru saja menyadari betapa dia membutuhkan Rachel saat berjauhan seperti ini.


"Farel, ayo pulang!"


Farel menghela nafas berat dan masuk mobil bersama Luna.


"Oh yah, maaf tadi aku tidak bersorak keras. Tenggorokan ku agak sakit. Apalagi nanti malam aku ada job nyanyi."


Farel tidak menyahut hanya menganguk berkosentrasi menyetir tanoa melihat sedikitpun pada Luna.


"Kamu marah?."


"Enggak."


"Bohong, kamu pasti marah. Kalau nggak marah kenapa muka kamu bete gitu. Kamu sedih gara-gara kalah tadi. Aku kan sudah bilang. Setiap pertandingan pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Jangan menyerah dipertandingkan selanjutnya pasti kamu bisa menang," Luna mengusap lengan Farel mencoba menyemangati.


"Iya," Jawab Farel singkat.


Luna tidak mengatakan apapun lagi dan sepanjang perjalanan pulang mereka hanya diam. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Luna sedih karena sebelum dan sesudah jadian Farel terlihat berbeda.


Dulu sebelum jadian meskipun Farel ada masalah, Farel selalu berusaha ceria tapi sekarang Farel tidak menutupi kesedihannya dan seolah melampiaskan kekesalan padanya. Luna bingung dengan sikap Farel yang sekarang.


Luna benar-benar tidak suka di abaikan.


Sementara Farel tak hentinya memikirkan Rachel.


"*Farel, semangat lo pasti bisa."


"Farel, gue akan selalu mendukung lo*."


Sorakan demi sorakan dari Rachel saat Farel bertanding yang dulu-dulu mulai bermunculan dalam kepala Farel. Tidak peduli dalam keadaan apapun, Rachel selalu bersemangat meneriaki namanya meskipun keesokan harinya suara nya habis gara-gara terlalu kencang berteriak, padahal paginya dia ada kuliah dan presentasi dengan dosen killer, alhasil Rachel harus mengulang presentasi.


"Rachel," batin Farel terus memanggil nama Rachel sambil mencengkram kuat setir mobil.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2