Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 100


__ADS_3

"Rachel."


Rachel menoleh pada Paman Sam yang mendekat, namun pandangannya tertuju pada sosok Farel yang memasuki lift.


"Farel tadi datang ke sini dan membawakan ini," Samuel menyodorkan plastik pada Rachel, "Tadi Paman ketemu Farel di dekat lift. Tapi dia pergi, katanya ada urusan penting. Setelah urusannya selesai dia akan datang ke sini lagi."


"Iya, Paman."


"Ayo masuk, Dokter sudah mengizinkan kita masuk."


Rachel dan Brandon pun mengikuti Paman Samuel masuk ke dalam ruang rawat Ayums. Sebelum masuk Rachel menarik nafas dan mengeluarkan perlahan untuk menenangkan diri. Tidak boleh terlihat sedih apalagi menangis. Rachel harus kuat agar mama nya juga kuat.


***


Pukul 21.00


"Luna nggak pulang lagi?."


"Nggak Mas, kan hari ini dia ada shotting di luar kota. Dan mungkin juga kalau sudah pulang dia menginap di Apartement lagi."


"Ck. Pasti gara-gara menghindari si Farel itu kan."


"Ya begitulah, Mas. Namanya juga anak muda. Perasaan mereka masih labil dan bimbang. Contohnya seperti Farel sekarang, mungkin Farel juga mencinrai Luna tapi karena persahabatan mereka sudah lama, rasa canggung dan aneh itu pasti ada. Farel pasti sedang dilema antara perasaan sahabat dan cinta. Tapi aku yakin Farel juga sebenarnya mencintai Luna tinggal menunggu waktu saja untuk Farel menyadari perasaannya."


"Tapi Mas Hendrawan. Perasaan anak muda memang labil, tapi perasaan orang dewasa seperti kita tidak akan berubah lagi. Perasaanku, hatiku sudah menetapkan hanya kamu laki-laki yang akan aku cintai selama sisa umurnya.


Hendrawan tersenyum, "Aku juga."


Mengalihkan pandangan dari berkas-berkas di tangan, Hendrawan menatap sepenuhnya pada Dilara. Dalam balutan kain satin tipis yang sangat seksi itu Dilara mendekat.


"Apa aku cantik?." Dilara berputar


"Hm, sangat cantik."


"Apa aku seksi?."


"Tentu saja. Tidak ada yang menyangkal itu."


Dengan gerakan lenggak-lenggok dan senyum malu-malu Dilara meletakkan secangkir teh di meja calon suaminya. Seperti inilah yang Hendrawan lakukan hampir setiap malam. Sebelum tidur Hendrawan pasti menyibukkan diri di ruang kerjanya dulu. Serang Hendrawan benar-benar workaholic.


Dilara juga baru tahu Hendrawan bisa sesibuk ini.


Meskipun sudah mengenal dari lama, tapi saat tinggal bersama seperti ini masih ada hal-hal baru yang mengejutkan Dilara.


Selama tinggal 7 hari ini Dilarq terus menemani Hendrawan bekerja. Awalnya mengobrol ringan, lalu saling menatap, saling menggoda dan berakhir bercinta sampai pagi.


"Kamu nggak capek kerja terus ?." Dilara mengambil berkas-berkas di tangan Hendrawan, meletakkan di meja lalu duduk di pangkuannya dengan gerakan manja.


Dilara masih ingat, dulu Hendrawan pernah bilang dia menyukai tipe perempuan yang manja, lemah lembut, dan penurut.


"Aku bekerja juga untuk kamu dan Luna."


"Iya aku tahu dan aku sangat berterima kasih untuk itu. Tapi Malam ini kamu masih ingin bekerja sampai pagi?."


Hendrawan menyaringai, "Aku pikir aku yang paling gila soal ****, tapi ternyata kamu lebih gila."


"Aku hanya berusaha menjadi yang terbaik untuk kamu Mas. Aku sudah memutuskan akan mengabdikan hidupku untuk kamu. Aku akan menjadi seperti apa yang kamu mau."


"Aku suka mendengar itu tapi aku lebih suka kamu jadi diri kamu sendiri tanpa mengikuti keinginan orang lain. Jadilah perempuan yang berprinsip dan tahu Apa tujuan hidup kamu."


Dilara menggerakkan tangan dan mengusapkan jari-jari lentiknya di pipi Hendrawan.

__ADS_1


"Aku juga punya prinsip dan tahu apa tujuanku. Kamu, kamu adalah tujuan hidupku. Aku tidak menginginkan apapun selama kamu bersamaku."


Hendrawan mengangguk-ngangguk.


Tanpa bisa Hendrawan cegah ingatannya melayang pada momen saat dia dan Ayuma mengobrol soal bisnis. Hendrawan selalu menghindari pembicaraan dengan Ayuma karena Hendrawan menjaga hati Dilara, wanita dari masa lalu nya yang menjadi incarannya yang dan berusaha untuk dia taklukan hatinya.


Tapi sejauh apapun Hendrawan menghindar, karena mereka tinggal satu rumah, pasti ada satu dua momen mereka bertemu dan berbicara. Tapi sekali mereka duduk bersama, mengobrol soal bisnis dan perkembangan dunia luar. Mereka bisa larut dalam obrolan berjam-jam. Bahkan Hendrawan sampai lupa waktu dan terlambat datang ke kantor.


Meskipun Hendrawan tidak menyukai Ayuma Hendrawan tidak bisa bohong kalau Ayuma memang wanita yang sangat cerdas dan pembisnis yang hebat.


"Mas Hendrawan."


Hendrawan mengerjab, "Iya."


"Kamu juga kan jadikan aku tujuan hidup kamu kan?."


"Tujuan hidupku aku ingin mengembangkan perusahaanku sampai menjadi top one Asia. Aku sangat suka bekerja, aku bisa menghabiskan waktu berhari-hari mengurung diri di ruangan ini saat sedang mengerjakan proyek besar."


"Aku selalu mendukung kamu tapi aku akan tetap menjadi prioritas kamu kan?."


"Tentu saja aku mencintai kamu dan aku pasti akan memprioritaskan kamu."


Dilara tersenyum sumringah mendengar itu.


"Aku Mencintai mu Mas Hendrawan."


"Aku juga mencintaimu."


Dilara mendekat dan menyatukan bibirnta dengan bibir Hendrawan.


"Malam ini aku ingin lembur," gumam Hendrawan di tengah-tengah ciuman mereka.


"Yakin mau lembur? Yakin ngga mau pindah kamar?."


"Yakin cepat?."


Hendrawan tertawa, "Kamu tau saja apa kesenanganku."


Akhirnya seperti mingu-minggu yang lalu obrolan mereka berubah menjadi *******. Kini tanpa sehelai benang pun di sofa besar ruang kerja Hendrawan, mereka saling menyatukan tubuh. Dalam selubung nafsu, mereka tak peduli lagi belum ada ikatan sah, yang terpenting gairah yang menggebu-gebu tersalurkan.


Setelah bergulat hampir 1 jam pelepasan yang mereka cari tercapai juga. Dengan nafas terengah Hendrawan ambruk dan menindih tubuh Dilara.


"Kamu hebat sekali." gumam Hendrawan sembari melayangkan kecupan di pipi Dilara.


"Terima kasih, kamu juga hebat stamina kamu seolah tidak ada habisnya." ucap Dilara tersenyum.


Beberapa saat mereka terdiam di sofa saling berpelukan masih belum berpakaian. Hendrawan tiduran terlentang sementara dilara tiduran miring memeluknya.Dilara mengusap pada dada bidang Hendrawan, sesekali mengusap merasa perut sixpack nya. Berkat makan makanan sehat dan sering olahraga, Hendrawan bisa mempertahankan porsi tubuhnya tetap gagah.


"Kapan kamu akan bercerai dengan Ayuma?."


"Setelah Ayuma menyelesaikan berkas-berkasnya."


"Coba saja dulu kamu tidak bakar berkas-berkas Ayuma. Kalian pasti cepat bercerain, terus kenapa kamu nggak menggugat Ayuma dulu."


"Sama saja mau aku atau Ayuma yang menggugat pada akhirnya sama saja kan sama-sama bercerai."


"Iya Mas, tapi semakin cepat kalian bercerai semakin cepat juga kita menikah. Masa iya Aku terus-terusan tinggal di sini tanpa status yang jelas."


"Status kamu kekasihku."


"Maksudku status yang resmi di mata hukum biar kalau orang-orang bertanya kenapa aku tinggal di sini aku bisa menjawab dengan tegas."

__ADS_1


"Tidak perlu mendengarkan apa kata orang yang penting kita bahagia. Tenang saja Sayang aku pasti akan menikahi kamu."


"Janji ya!." Dilara mendongak dan menatap penuh harap Hendrawan.


"Janji."


Hendrawan ingin bangun, tapi Dilara menahan dada nya agar tetap berbaring di sampingnya.


"Mau kemana sih?. Aku masih mau pelukan begini."


"Aku ingin melanjutkan pekerjaan ku yang tadi."


"Besok kan bisa, kamu bilang kamu sibuk kalau ada proyek besar. Memang nya sekarang ada proyek besar yah?."


"Belum ada tapi dalam waktu dekat. Kamu masuk ke kamar dulu."


Hendrawan tetap bangun, memakai baju lagi dan lanjut duduk di kursi kerja. Sementara Dilara mendengkus kesal. Padahal Dilara masih ingin berduaan, tiduran sambil pelukan dan mengenang masa pacaran dulu.


Namun mau bagaimana lagi, seperti nya Hendrawan benar-benar sibuk, merayu, menggoda nya seperti ini tak ada gunanya lagi.


"Ya udah kalau gitu aku ke kamar dulu yah!."


"Hm." gumam Hendrawan tak melepaskan tatapan nya pada berkas-berkas di tangan.


Dilara menghela nafas lesu lalu meninggalkan ruangan setelah memakai baju. Namun Dilara membuka pintu lagi.


"Mas yakin nggak mau ke kamar?."


Hendrawan mendongak dan menatap ke arah pintu.


"Kamu tidur duluan, aku masih ada kerjaan nanti aku nyusul."


Pintu tertutup tak lama terbuka lagi,


"Mas."


"Cukup Ayuma, aku sedang sibuk."


Seketika Dilara membeku di tempat mendengar Hendrawan memanggil nya dengan nama Ayuma, begitu juga Hendrawan yang terhenyak begitu tanpa sadar telah menyebut nama Ayuma.


"AKU DILARA BUKAN AYUMA!."


"Aku nggak sengaja."


Hendrawan berdiri dan menghampiri Dilara.


"Kenapa? kenapa tiba-tiba kamu memanggil nama Ayuma? kamu merindukannya?."


"Aku nggak merindukannya tapi refleks. Meskipun aku tidak mencintai Ayuma bagaimana juga kami tinggal serumah selama 20 tahun, Ayuma sering memanggilku dengan sebutan Mas dan refleks aku memanggilnya Ayuma."


"Kalau gitu aku mau pindah rumah."


"Sayang..."


"NGGAK MAU TAHU, AKU MAU PINDAH RUMAH."


Dilara tak kuasa menahan air mata dan langsung berlari meninggalkan Hendrawan. Hendrawan mengacak rambutnya dengan kasar dan mengejar kekasihnya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2