Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 71


__ADS_3

Air mata Dilara menetes lagi. Entah tetesan yang keberapa sampai pipi nya basah karena air mata. Namun karena tangannya sedang memegang nampan berisi seiring nasi goreng, semangkuk bubur kacang ijo dan segelas air putih hangat Dilara tidak bisa menghapus air mata nya.


Bahkan kedua tangan nya terasa pegal, begitu juga kedua kaki nya lemas sekali, rasanya ia tidak sanggup berdiri lagi. Namun Dilara masih menguatkan tubuhnya.


"Luna, apa yang ingin kamu inginkan? katakanlah dan Mama akan menuruti permintaan mu, asalkan kamu mau memaafkan Mama."


Hening, masih belum ada tanda-tanda Luna membuka pintu.


"Nak, Luna Sayang arg..." Dilara memgerang saat kepala nya berdenyut sakit, tubuhnya semakn lemas dan mata nya berkunang-kunang.


"Luna, Nak."


Bruak.


Kedua tangan Dilara tak sanggup lagu menahan nampan piring, mangkok, gelas, semuanya pecah berhamburan di dekat kaki Dilara. Tubuhnya terhuyung ke belakang hampir terjengkang tapi untung saja salah satu tangannya berhasil berpegangan pada tembok.


"Mama."


Luna yang mendengar suara benda pecah, segera keluar dan betapa terkejutnya dia melihat Mama nya tampak pucat dan lemas.


"Mama, kenapa?" Luna langsung meraih lengan Dilara melingkarkan di leher lalu membawanya masuk ke dalam kamar.


Dengan hati-hati Luna membaringkan Dilara di atas kasur.


"Sayang," Dilara menguatkan diri dan mencoba duduk namun agak kesulitan karena kepalanya begitu sakit dan tubuhnya sangat lemas. Luna pun segera membantu Mama nya duduk.


"Luna, putriku." begitu berhasil duduk Dilara langsung menarik Luna dalam pelukan, "Maafin Mama, Nak. Maaf."


Luna berkaca-kaca dan membalas pelukan Mama nya.


Di dunia ini Luna tidak punya siapa-siapa lagi selain Mama nya. Seharusnya Luna tidak sekelas kepala itu sampai Mama nya kelelahan karena membujuk nya.


Dilara melepas pelukan dan menangkup putrinya dengan tangan gemetar.


"Mama salah, Mama minta maaf. Mama janji tidak akan mengulanginya lagi. Kalau perlu Mama akan menjauhi Om Hendrawan. Mama..."


"Sst," Luna menggelengkan kepala dan menyuruh Dilara berhenti bicara.


"Bicara nya nanti saja ya, Ma. Sekarang kita makan dulu. Mama kelihatan pucat, Mama pasti belum makan dari siang juga kan?."


Dilara menganguk, "Mama hanya akan makan, kalau kamu mau makan."

__ADS_1


"Iya, Ma. Aku juga akan makan. Tunggu sebentar aku ambilin makanan di dapur."


Luna mengusap punggung tangan Mama nya sekilas lalu bergegas meninggalkan kamar menuju ke dapur. Masih ada sisa nasi goreng buatan mama nya tadi. Cukup untuk mereka berdua, karena porsi makan mereka yang juga tidak banyak Luna mau meletakkan nasi goreng itu di satu piring saja dengan dua sendok.


Luna juga menggoreng sosis dan nugget untuk pelengkap. Tak lupa Luna juga mengambil kacang ijo dan membuat dua gelas susu untuk dirinya dan Mama nya.


Setelah itu Luna segera kembali ke kamar.


"Makanan datang," Luna duduk di tepi kasur."


"Aku suapi ya, Ma."


Dilara menganguk.


Selama makan mereka tidak berbicara apapun. Sebenarnya ada satu dua kalimat yang ingin Dilara katakan tapi Luna melarangnya berbicara. Luna ingin menikmati makan. Kejadian tadi hanya membuat Luna bad mood.


Selesai makan Luna membantu Mama nya berbaring.


"Sini, Nak. Tidur di samping Mama! Mama ingin sekali memeluk putri tersayang Mama."


"Iya Ma. Aku juga ingin memeluk mama."


Luna naik ke atas kasur dan tiduran di lengan Dilara.


Luna hanya diam.


"Kamu mau maafin Mama kan?."


Luna menghela nafas berat. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dan Mama nya juga bilang ini kesalahan pertama nya. Luna juga sering melakukan kesalahan dan Mama nya selalu memaafkan. Rasanya sangat jahat jika Luna tidak mau memaafkan Mama nya dan memberikan kesempatan lagi.


"Iya, Ma. Aku memaafkan Mama."


Saat itu juga mata Dilara berbinar.


"Terima kasih, Sayang."


Luna menganguk, "Jadi benar Om Hendrawan Ayah kandungku?."


"Iya, Sayang. Om Hendrawan Papa kandung kamu."


"Jadi bener juga aku anak hasil zina?."

__ADS_1


Dengan berat hati Dilara menganguk.


"Tapi kamu anak hasil cinta kami, Sayang. Mama dan Papa kamu saat melakukan itu dengan perasaan cinta yang tulus dan suci. Berbeda dengan Papa kamu dan Ayuma saat melakukan itu karena obat perangsang."


"Jadi Rachel anak hasil zina juga, Ma? Rachel anak di luar nikah sama sepertiku? Kemarin Om Hendrawan bilang Tante Ayuma menjebak Om Hendrawan dengan obat perangsang sampai akhirnya Tante Ayuma hamil dan keluarga Hendrawan memaksa nya menikah dengan Tante Ayuma. Berarti Rachel juga anak haram sama sepertiku?."


Dilara menelan ludah, sebenarnya bukan begitu cerita aslinya. Tapi jika itu membuat Luna tidak membencinya lagi, maka Dilara mengiyakan saja.


"Iya, Sayang."


"Serius, Ma?." tanya Luna dengan mata berbinar penuh harap.


"Iya, serius. Rachel juga anak hasil zina."


Luna tersenyum lebar, "Sekarang aku nggak perlu insecure lagi dan merasa malu bertemu dengan Rachel karena kami sama. Rachel juga anak di luar nikah sepertiku. Aku seneng banget bisa saudaraan sama Rachel. Selama ini aku berharap menjadi adik Rachel, ternyata benar kami bersaudara. Tapi..."


"Tapi apa, Sayang?."


"Meskipun aku dan Rachel sama-sama anak di luar nikah. Tapi tetap saja orang-orang akan mengataiku anak pelakor karena Mama berhubungan intim dengan Om Hendrawan sementara Om Hendrawan masih menikah dengan Tante Ayuma. Orang-orang tidak tahu kisah Mama dan Om Hendrawan pasti mereka mengataiku anak pelakor. Haters-haters ku di luar sana pasti semakin menjadi-jadi."


"Nggak, Sayang. Jangan bicara begitu. Papa kan sudah bilang kamu bukan anak pelakor. Mama juga bukan pelakor. Hubungan Mama dan Papa sangat rumit. Sulit di jelaskan dengan kata-kata. Tapi cinta kami begitu tulus dan tak lengkap oleh waktu."


Luna masih diam.


"Percaya sama Mama. Semua yang Mama katakan benar. Katakanlah jika Mama dan Papa kamu berselingkuh tapi itu juga bukan tanpa sebab. Papa kamu hanya membalas perselingkuhan Ayuma."


"Tante Ayuma selingkuh?."


"Iya, Sayang. Papa kamu sendiri yang bilang sama Mama. Selama ini Ayuma dan Samuel berselingkuh. Karena itu Papa melepas Ayuma dan kembali sama Mama. Sebelum Papa mengetahui perselingkuhan Ayuma dan Samuel pun. Papa sangat setia pada Ayuma."


Dilara tersenyum, "Papa kamu itu sosok laki-lqku berjiwa besar, baik hati dan penyanyang, bahkan rela melepas Ayuma agar Ayuma bisa bersama laki-laki yang dia cintai."


"Tapi kenapa Om Hendrawan tidak bercerai saja dengan Tante Ayuma?."


"Karena ancaman Kakek kamu, kakek Wisnu. Kalau sampai Papa menceraikan Ayuma, Kakek Wisnu akan membunuh kita."


Luna melotot, "Kakek Wisnu sejahat itu?."


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2