
"Pak Hendrawan, tenang," Johny berusaha menenangkan Hendrawan. Lalu mengalihkan pandangan pada Luna yang tampak sedih dan terluka. Rasanya Johny ingin jujur saja pada Hendrawan bahwa selama ini Luna yang merawatnya. Tidak seharusnya Hendrawan bersikap sekadar ini terlepas apa yang pernah Luna lakukan di masa lalu."
"Saya tidak bisa tenang. Baru melihat muka nya saja saya sudah emosi!."
"Maaf, Om. Saya benar-benar tidak sengaja."
Hendrawan berdecih, "Lain kali kalau bertemu dengan saya, lebih baik kamu menghindar saja. Saya benci melihat kamu Luna."
Luna meremas bajunya untuk menyalurkan kesedihan hatinya. Sekarang Luna sudah menebak Hendrawan pasti membencinya tapi Luna tidak menyangka rasanya sesakit ini mendengar kata-kata benci langsung dari mulut laki-laki yang begitu Luna sayangi layaknya seorang ayah kandung.
"Pak Hendrawan, Anda sangat keterlaluan. Anda tau selama ini..."
"Paman Johny," Luna menyela sebelum Johny berkata jujur. Luna tidak ingin Hendrawan tau bahwa selama ini perawat Nana yang merawat Hendrawan adalah Luna. Hendrawan pasti tidak mau bertemu dengannya lagi. Meskipun sakit, Luna tetap ingin membalas budi atas kebaikan Hendrawan dulu.
"Selama ini apa?." tanya Hendrawan.
Johny menghelan nafas panjang, "Tidak apa-apa, Pak. Mari silakan masuk dokter pasti sudah menunggu Pak Hendrawan di ruangannya untuk kontrol."
Hendrawan melayangkan tatapan sinis pada Luna, lalu berjalan di bantu Johny masuk ke dalam rumah sakit.
"Ga papa, Luna, gapapa," Luna berusaha menyemangati dirinya sendiri sambil terus mengusap air mata.
"Kenapa nggak mau berhenti nangis sih. Jangan cengeng dong, Luna." Luna terus mengusap air mata sambil merutuk dirinya sendiri.
Tak ingin larut dalam kesedihan Luna segera bergegas menuju ke mobilnya dan mengambil masker. Baru selangkah berjalan, tiba-tiba ada 2 orang perempuan yang mendekatinya.
"Eh kamu Luna artis yang lama hiatus itu kan?."
Luna terhenyak, membeku beberapa detik saat tangannya di cengkram dan tubuhnya di balik paksa menghadap perempuan itu.
"Ya ampun, Luna beneran OMG," perempuan itu langsung heboh. Sedangkan temannya langsung mengeluarkan ponsel dan ingin merekam Luna.
"Tolong, jangan rekam saya."
"Pasti viral nih beritanya."
Luna menggeleng, tapi perempuan itu terus merekam wajahnya.
__ADS_1
"Luna, aku fans kamu tau. masa kamu nggak mau foto sama fans kamu sendiri. Sombong banget, ayo dong foto sama aku."
"Tidak, tolong hargai privasi saya. Saya tidak ingin di publikasi," Luna terus memperingatkan dua perempuan itu sambil menutupi wajahnya.
"Yaelah sombong banget, dulu juga lo terkenal gara-gara kita. Atau sekarang lo udah nggak laku ya, sekarang ngapain nggak jual diri kan hahaha!."
Luna tidak punya pilihan lain percuma juga meladeni dua orang ini mereka tidak mau mendengar penjelasannya. Mereka cuma ingin mengambil keuntungan darinya lebih baik Luna segera pergi dari sini, jangan sampai mereka tahu Luna ke sini bersama Brandon dan Kevin.
"Maaf, permisi," Luna menangkis tangan orang itu yang mencengkram tangannya dan berlari meninggalkan rumah sakit.
"Eh-eh tunggu."
Tak ingin kehilangan jejak Luna, 2 perempuan itu yang diam-diam bekerja sebagai admin akun gosip segera mengejar Luna.
Luna terus berlari hingga sampai ke pinggir jalan raya depan rumah sakit. Saat itu juga Luna menyesal memilih melarikan diri ke sini. Di sini lebih ramai bahkan ada beberapa orang juga menatap ke arahnya dengan wajah penasaran.
"Tolong! jangan ada yang mengenaliku."
Tiba-tiba Luna merasa sesak nafas, pusing dan gemetar. Sejak kejadian masa lalu itu, Luna benar-benar kehilangan rasa percaya diri. Setiap bertemu orang Luna merasa ketakutan. Takut di judge, takut di tatap rendah, takut di maki, takut di hina. Luna mengalami panic attack yang membuatnya merasa blank jantungnya berdebar kencang, was-was.
Dalam ketakutan dan kekalutannya, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di sampingnya.
Dypta."
Luna lebih terkejut lagi melihat Dypta.
"Ayo masuk," ajak Dypta sekali lagi karena Luna hanya diam.
Luna ragu takut dan bimbang selama ini dia sudah menyembunyikan keberadaannya dari semua orang termasuk dari teman-temannya. Tapi sekarang semua menjadi kosong, orang-orang yang mulai mengetahui keberadaannya dan sekarang salah satu temannya juga ada didepannya.
Luna tahu mereka pasti masih membencinya. Luna tidak ingin kejadian seperti Hendrawan tadi yang menyalahkan Luna atas kemalangan yang terjadi dalam hidup mereka, Luna benar-benar ingin melepas masa lalunya beserta mimpi buruknya. Luna ingin hidup tenang tanpa ada orang yang mengenalinya dan bertanya tentang bagaimana masa lalunya.
"LUNA TUNGGU. AKU MAU MINTA FOTO."
Luna tersentak mendengar teriakan dua orang tadi. Sekarang mereka semakin mendekat. Luna semakin was was. Tapi juga dilema masuk ke dalam mobil Dypta atau tidak. Tapi jika tidak ikut Dypta ke mana lagu Luna bisa kabur? apalagi sekarang dia tidak memakai masker. Orang-orang pasti akan semakin banyak mengenalinya.
Padahal Luna tidak muncul selama 5 tahun tapi kenapa masih ada orang yang mengingat wajahnya mungkin karena kontroversi yang dia lakukan saat itu benar-benar heboh.
__ADS_1
"Lama," Dypta mencodongkan tubuh ke kursi samping, tangan kirinya bertumpu pada kursi, sementara tangan kanannya menarik tangan Luna masuk ke dalam mobil
Setelah Luna duduk di kursi Dypta langsung menutup pintu bertepatan dengan 2 perempuan itu yang datang tepat di samping mobilnya.
"Luna! buka pintunya Luna!." Namun mereka masih belum menyerah dan terus menggedor-gedor pintu mobil. Luna menunduk dan menutup sisi wajah kirinya agar mereka tidak bisa melihatnya.
Dypta menyipitkan mata pada dua orang perempuan itu. Benar-benar mengganggu dan tidak tahu malu dan berisik rasanya kita ingin menabrak mereka dengan mobil sampai badannya hancur.
"Mereka tidak akan bisa melihat kita di sini." Dypta mengalihkan perhatian pada Luna masih dengan posisinya menumpukkan tubuh di kursi Luna dengan tangan kirinya sehingga sekarang posisi Dypta dan Luna cukup dekat.
Luna menatap sekilas, Dypta mengangguk dan menunduk lagi. Seperti yang Dypta katakan mobil ini dilapisi dengan car glass. Sehingga orang-orang tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam mobil kaca, mobil menjadi gelap tapi tetap saja Luna masih merasa takut.
"Tenang," ucap Dypta sekilas lalu duduk lagi di posisinya. Tanpa menunggu lama kita langsung melajukan mobil meninggalkan area rumah sakit.
Seiring mobil berjalan semakin jauh perasaan Luna merasa lebih lega tapi tidak benar-benar lega sekarang pikirannya semakin rumit dan khawatir memikirkan Kevin. Harusnya sekarang Luna berada di rumah sakit dan menemani Kevin. Brandon juga pasti akan bertanya-tanya di mana keberadaannya.
"Dypta." Luna menoleh pada Dypta. Dia tampak fokus menyetir. Sesaat Luna terdiam, mengamati Dypta dari samping.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Luna bertemu Dypta. Beberapa kali saat Kevin mengajak jalan misal ke mall Luna tidak pernah menegurnya untuk apa juga?.
Tak banyak yang berubah dari Dypta, wajahnya masih tampan seperti dulu, ekspresi nya pun kalem, tapi bisa berubah dingin dan mengintimidasi juga.
"Terima kasih sudah menolongku, tapi bisa kamu turunkan aku di sini? aku harus kembali ke rumah sakit lagi."
"Mau ngapain?."
"Ada sesuatu yang harus aku lakukan."
"Kalau aku tidak mau gimana? ini mobilku, terserah aku ingin melajukan kemana."
Luna membulatkan mata, "Dypta,."
Dypta tersenyum samar, "Lama tidak bertemu Luna. Apa kamu tidak ingin bertanya dulu bagaimana kabar teman lamamu ini?."
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...