
Setelah melepas dengan putri kandung nya. Dilara berlari ke luar rumah sakit dengan berurai air mata. Ia tak sanggup menunjukkan dirinya kepada putrinya setelah sekian lama tidak bertemu. Entah apa yang akan di pikirkan Luna tentang nya.
Saat berada di parkiran rumah sakit.
Prok...prok...prok....
Dilara menoleh melihat siapa yang bertepuk tangan. Tubuhnya menegang, sorot mata nya terlihat syok walaupun dia memakai masker.
"Tante Dilara apa kabar?." Sapa Bastian. Mendengar sapaan Bastian, Dilara bersiap untuk melarikan diri namun saat menoleh ia dikejutkan dengan kehadiran Dypta dan Rendy yang menghadang jalan nya.
"Tante mau kemana?." tanya Rendy. "Bukankah Tante harus mempertanggung jawab kan perbuatan Tante kepada Om Hendrawan hhhmmm?." lanjut Rendy lagi.
"Saya tidak salah!." teriak Dilara berusaha membebaskan cekalan tangan dari Rendy dan Dypta.
"Oh yah tapi bukti menunjukkan jika mobil Om Hendrawan di sabotase seseorang dan orang itu adalah Tante. Tante tolong mengaku dan bertaubat lah!." ujar Bastian penuh penekanan.
"Ini semua salah Ayah mu, Sebastian!." teriak Dilara. Mengepalkan tangan kuat mengingat adegan-adegan yang menyiksa saat ia berada di negeri orang.
"Giliran papa kamu yang akan mati, sebentar lagi ia akan menyusul papa dan adiknya ke neraka." ucap Dilara.
"Kenapa Tante melakukan itu?." tanya Bastian berusaha untuk menahan amarah nya karena nyawa keluarga nya ada di tangannya. Dia ingin mengetahui alasan apa Dilara membunuh Hendrawan dan papa nya akan menjadi target selanjutnya Dilara. Untuk itu ia harus bersikap tenang dan perlahan merencanakan sesuatu untuk melumpuhkan Dilara.
"Mereka pantas mati. Mereka yang memberiku luka ini!." Dilara membuka masker nya, tampak sebagian wajah nya rusak penuh cacat.
"Mamah!." lirih Luna. "Apa benar ini mama?." Dilara mematung mendengar suara putrinya di belakang tubuhnya.
__ADS_1
Saat akan pulang, Luna di kejutkan dengan penampakan Bastian, Rendy dan Dypta yang berada di parkiran. Luna meminta Brandon untuk mendorong nya lebih dekat, saat ini Luna duduk di kursi roda. Ia penasaran apa yang terjadi, karena Luna juga melihat sosok perawat yang merawat nya yang bernama suster Lira.
Kevin berjalan di samping papa nya menatap bingung orang-orang dewasa yang tampak sedang bertengkar. Seharusnya anak si kecil Kevin tidak pantas melihat adegan seperti itu, namun mau bagaimana lagi.
Dilara berbalik badan, Rendy dan Dypta sudah melepaskan cekalan tangan nya pada Dilara.
"Dimana mama selama ini? Apa yang mama lakukan? Bagaimana hari-hari yang mama lewati? Apa Mama baik-baik saja. Itulah yang selalu aku tanyakan setiap hari. Sebelum akhirnya aku mengetahui fakta mama kembali ke Indonesia dan menjadi seorang penjahat. Mama membunuh Om Hendrawan?."
"Dia memang pantas mati, dan selanjutnya Sebastian, dia akan dapat giliran nya. Mereka sudah menyakiti mama. Mereka juga menyakiti kamu, Luna."
"Tapi kita juga pernah menyakiti mereka, Ma. Kita pernah menghancurkan hidup mereka."
"Tapi tidak sepadan dengan luka yang mereka berikan pada kita. Kamu lihat luka di wajah mama. Ini gara-gara Hendrawan dan Sebastian yang mengirim mama pada seorang tua bangka. Wajah mama rusak gara-gara mereka mama di siksa siang dan malam. Mama bahkan harus melayani puluhan laki-laki setiap hari. Luka di wajah dan tubuh mama menjadi saksi penderitaan mama selama di pengasingan. Semua itu gara-gara Hendrawan dan Sebastian. Dan yang paling utama adalah salah Wisnu. Wisnu yang paling pantas mati."
"Kita bukan Tuhan yang bisa menentukan hidup dan mati seseorang."
Sejak berpisah dengan putrinya 5 tahun yang lalu. Dilara sudah hancur. Lalu melewati berbagai siksaan itu semakin membuatnya hancur. Rasanya Dilara nyaris gila. Satu-satunya alasan Dilara bertahan sampai sekarang dan mempertahankan kewarasan nya karena Dilara ingin bertemu dengan Luna. Tapi... putrinya menatap nya dengan raut tidak suka dengan apa yang di lakukan nya.
"Dilara," ucap Sebastian sembari menatap lekat Dilara. Bastian menoleh ke belakang, ternyata papa nya mengikuti nya ke sini. Sebastian cukup curiga dengan tingkah laku putranya sejak berada di rumah lalu memutuskan untuk mengikuti nya.
Dilara mengepalkan tangan kuat saat melihat Sebastian yang datang.
Setelah 5 tahun, ini pertama kalinya Sebastian melihat Dilara dari jarak dekat. Mendengar cerita Dilara pada Luna tadi tentang perjalanan sulitnya sampai mendapatkan luka di wajah itu, sungguh Sebastian benar-benar merasa bersalah.
Sebstian berpikir Yamato adalah laki-laki yang baik. Bahkan Sebastian berharap Yamato bisa mengubah Dilara menjadi perempuan yang lebih baik. Tapi ternyata Yamato memperlakukan Dilara sekejam itu. Menyiksa, menyuruhnya melayani laki-laki bahkan merusak wajahnya.
__ADS_1
Wajar jika Dilara begitu dendam pada Sebastian. Sebastian mengerti dan tidak marah. Meskipun dia merasa kehilangan Wisnu dan Hendrawan, Sebastian pantas mendapatkan ini semua.
Mungkin juga Sebstian pantas mati atas kesalahan yang dia lakukan pada Dilara. Tapi Sebastian belum ingin mati setidaknya bukan di tangan Dilara. Masih ada banyak hal yang ingin Sebastian lakukan, salah satu nya menikahkah Bastian dan Rani.
"Harusnya kamu juga mati sama seperti Wisnu yang syok kita tahu Hendrawan mati."
Rasanya Dilara ingin mengambil pisau dan menghujam dada Sebastian. Dendam Dilara tidak akan hilang sebelum Sebastian mati.
"Memangnya aku pernah salah apa sama kamu? Apa aku pernah menyakiti kamu Sebastian? Aku pernah menyakiti Anggun? Aku pernah menyakiti Bastian? Tidak! lalu Kenapa kamu melakukan ini padaku. Kamu ingin membela Hendrawan dan Ayuma? Kamu bisa memenjarakanku di Jakarta."
"Tapi tidak dengan membuangku ke negeri orang dan membiarkanku disiksa siang malam. Lebih baik aku di penjara di Jakarta dan sesekali Luna masih bisa mengunjungiku. Sedangkan di sana Aku sendirian, aku tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa? Kenapa... kenapa.... kalian harus sekejam itu padaku?."
Dilara tak kuasa menahan tangis. Sebenarnya dia tidak ingin menangis karena air matanya akan menunjukkan kelemahan di depan musuh. Tapi dadanya begitu sesak mengingat-ingat orang yang membuatnya mengalami kejadian yang menyakitkan.
"Dilara!." lirih Sebastia. "Satu tahun setelah kamu berada di Jepang. Saya sudah ingin mencari kamu dan membawa kamu pulang ke sini. Saya merasa hukuman yang saya berikan untuk kamu sudah cukup. Saya juga merasa bersalah karena sudah memisahkan kamu dengan Putri kandung kamu. Namun saat sampai di rumah Yamato, Saya tidak menemukan kamu. Yamato bilang kamu kabur sama laki-laki ."
"Kesalahan saya saat itu saya terlalu mempercayai Yamato. Saya berpikir kamu baik-baik saja seperti Yamato katakan. Saya bahkan berpikir kamu memang kabur dengan laki-laki lain."
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....