Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 159


__ADS_3

"Deg-degan." Rachel menoleh pada Farel dan tersenyum.


"Ini baru awal, nanti aku tunjukkan tempat-tempat yang akan membuat jantung kamu berdebar kencang."


"Benarkah?."


"Hm, percaya padaku. kamu tidak akan menyesal datang ke sini."


Farel menggenggam tangan Rachel dan saling melempar senyum hangat.


"BAGUS! BAGUS YA KALIAN! PACARAN TEROS, NGGAK USAH PEDULIIN GUE. PEKA DIKIT KEK. SENENG BANGET LIAT TEMEN MENDERITA."


Farel dan Rachel menoleh kebelakang. Lalu meringis bersamaan saat melihat Rendy mendorong troli koper barang-barang mereka bertiga. Itupun harus di bantu dengan seorang petugas bandar mendorong dua troli lainnya.


"Maaf," Rachel mendekat pada Rendy.


"Maaf, maaf! enak aja. Cium dulu baru babang maafin." Rendy mengembungkan pipi dan mengarahkan pipi pada bibir Rachel.


Cup...


Eh...


Rendy melotot saat benar-benar mendapat ciuman. Tapi bukan dari Rachel melainkan dari...


"Rel woi! kenapa lo cium pipi gue!." Rendy mengusap pipinya sembari memicingkan mata pada Farel.


Farel tersenyum, "Itu tanda terima kasih atas bantuan lo. Berkat lo ngajak gue ke Swiss, gue bisa ketemu Rachel."


"Ya gak usah cium juga kali! kenapa nggak sekalian lo nikahin gue aja " Rendy berdecih. "Ck. pipi gur jadi ternodai. Nggak terima gue. Gue mau cium balik."


Sekarang giliran Farel yang melotot.


"Ren, gue bercanda."


Farel mundur saat Rendg mengambil ancang-ancang ingin mengejarnya sambil memoyong-moyongkan bibir.


"Hei, umur kalian berapa sih? kalian udah 25 tahun, bukan anak TK," heran Rachel melihat Rendy dan Farel kejar-kejaran ke sana kemari. Rendy berusaha memeluk Farel dan mencium pipinya sebagai balas dendam, sementara Farel memanggil-manggil nama Rachel meminta pertolongan.


Rachel tak kuasa menahan tawa. Entahlah lucu saja melihat tingkah mereka.


"Hadeh, kirain pulang dari Swiss udah waras, ternyata makin gila." Gumam Bastian diikuti senyum Dypta.


"Temen lo tuh," ucap Bastian sambil menoleh pada Dypta diikuti kekehan Bastian

__ADS_1


Mengabaikan Farel yang masih bergulat dengan Rendy, mereka mengalihkan pandangan pada Rachel yang sedang menatap ke arah mereka.


Begitu juga Rachel yang sedang menatap ke arah mereka. Rachel menebak mereka adalah Dypta dan Bastian, sesuai dengan foto-foto yang Farel tunjukkan. Tapi ternyata mereka jauh lebih tampan dan keren yang terlihat di foto. Postur tubuh mereka tinggi dan ideal.


Rachel yakin dulu mereka masih SMA atau kuliah, mereka pasti menjadi geng popularitas dan incaran para cewek.


"Ini beneran dulu aku temenan sama mereka?." gumam Rachel sampai meragukan dirinya sendiri.


"Kok bisa sih aku nggak baper? pasti aku dulu suka salah satu dari mereka," lirih Rachrl sambil terus menatap Bastian dan Dypta yang kini berjalan ke arahnya bersamaan dengan Farel dan Rendy yang sudah selesai berhenti berdebat.


"Ya ampun jadi deg-degan," Rachel jadi salah tingkah, apalagi sekarang keempat pemuda itu berjalan sambil menatap intens kearahnya, "Kira-kira aku dulu gimana ya waktu temenan sama mereka? Apa aku pernah merasa gugup ? tapi Farel bilang aku dulu bar-bar. Kok aku sekarang jadi gugup dan salah tingkah gini."


Bastian mempercepat larangan dan langsung mendekap Rachel dalam pelukan. Rachel terkejut dan meremas tali sling bag nya. karena perbedaan tinggi badan mereka, Rachel sampai mendongak agar dagunya bisa menyentuh pundak Bastian.


"Miss you," Lirihnya.


"I-iya," jawab Rachel sebenarnya, karena dia bingung harus menjawab apa.


Belum sempat Rachel bernafas lega mendapat pelukan dari Bastian. Rachel kembali di kejutkan dengan usapan lembut di rambutnya. Begitu melirik ke samping ternyata Dypta yang tengah mengusap rambutnya. Pandangan mereka bertemu dan Rachel bisa merasakan kerinduan dari sorot mata dan usapan lembutnya.


"Jangan lama-lama," Farel menarik Bastian sampai pelukannya pada Rachel terlepas.


"Ck. ini adek gue," Bastian menatap kesal Farel.


Bastian langsung merapatkan bibir, tak membantah lagi, karena kenyataan memang begitu. Iya tau kok, Farel kakak kandung Rani, tapi tetap saja saat melihat Farel memeluk Rani, perasaannya jadi kesal.


"Maaf, aku izin peluk," giliran Dypta yang menarik Rachel dalam pelukan nya.


Ini nih yang paling sopan di antara mereka semua, batin Rachel. Karena senang dan bahagia, Rachel membalas pelukan Dypta. Dypta tersenyum lebar, sementara Rendy dan Bastian menipiskan bibir merasa sangat iri, sedangkan Farel sudah melotot tak terima.


"Aku merindukan mu," Dypta mengusap lembut rambut Rachel.


Rachel tersenyum, merasa hangat dalam delapan Dypta seperti seorang adik memeluk abangnya.


"Udah cukup dong, hati gue teriris melihat kalian peluk-peluk calon istri gue," Farel berusaha memisahkan Dypta dan Rachel, tapi Dypta justru mengeratkan pelukan.


"Jadi melow," Rendy ikut memeluk Rachel dan Dypta dari sisi kiri.


"Ya ampun, apaan sih kayak anak kecil aja pelukan barengan," sinus Bastian. "Tapi mau juga," Bastian pindah ke sisi kanan Rachel dan memeluknya.


"Ck, kalian ini benar-benar!." Farel kesal, tapi terharu juga dengan momen manis ini, akhirnya meredam rasa cemburu yang membara Farel ikut memeluk mereka.


Rachel termasuk tinggi, tapi karena keempat cowok ini lebih tinggi, tubuh Rachel seolah tenggelam. Orang-orang yang menatap ke arah mereka akan mengira ada sosok gadis kecil di tengah-tengah empat pemuda tampan itu.

__ADS_1


Awal-awal momen ini romantis dan sweet, tapi lama-lama Rachel pengap juga.


"Tolong, aku terhimpit," Rachel sudah merasa sesak.


"Nggak mau, nggak mau lepas." Ucap Rendy dengan jailnya.


"Kita mau peluk lo sampai pingsan," sahut Bastian.


"Rendy, Tian," Rachel merengek. Sementara mereka terkekeh. Bastian senang sekali sampai berkaca-kaca, setelah sekian lama akhirnya dia bisa mendengar teriakan Rachel bercampur dengan rengekan seperti ini. Rindu, Bastian rindu sekali pada adiknya yang barbar ini. Bastian mencuri kecupan di puncak rambut Rachel


"UDAH DONG IH JAHIL BANGET. MINGGIR!."


Akhirnya setelah mengerahkan usaha, berteriak dan merengek, akhirnya keempat pemuda jail itu mau melepas pelukan mereka.


"Kok tambah cantik sih," Bastian menangkup pipi Rachel dan menekan-nekan pipinya.


"Tiaaaann!." Rachel mendorong Bastian menjauh. Bukannya menjauh, Bastian justru tertawa.


"Iya, cantik banget," sahut Dypta sambil mengacak rambut Rachel.


"Apa sih jangan acak-acak rambutku terus," Rachel melotot pada Dypta.


"Tapi makin pendek gak sih," ucap Rendy.


"Enak aja, aku tinggi."


Mereka berempat tertawa, seolah menjahilinya adalah kesenangan untuk mereka. Mendadak Rachel menyesal sudah menganggumi mereka beberapa menit yang lalu. Sekarang Rachel mengerti kenapa Farel mengatakan dulu dia bar-bar, karena kelakuan mereka bertempat memang menyebalkan.


"Aku mau balik ke Swiss aja deh."


"Eh eh eh," tahan mereka bersamaan. Sekarang giliran Rachel yang tertawa.


"RACHEL."


"KAK RACHEL."


"KAKAK RACHEL."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2