Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 67


__ADS_3

Rachel menunggu dengan gelisah di depan ruang UGD. Duduk di bangku tunggu sambil menggerak-gerakkan kaki naik turun penuh kekhawatiran. Rachel menggigit kuku-kuku tangannya yang gemetar. Takut, Rachel benar-benar takut terjadi sesuatu pada Farel.


"Rachel."


"Tante."


Rachel berdiri begitu melihat Sarah dan Anthony berjalan ke arahnya.


"Apa yang terjadi? Farel kecelakaan?."


"Aku ngga tahu, Tante. Saat Farel datang ke apartement ku sudah dalam keadaan luka parah dan terus pingsan. Aku membawa nya ke rumah sakit, sekarang Dokter sedang memeriksa Farel.


"Tenang, sini duduk duku," Anthony merangkul pundak Sarah dan mengarahkan agar Sarah duduk di kursi tunggu.


Rachel juga ikut duduk di samping Sarah.


"Kamu juga pasti terkejut dengan kejadian ini. Kamu ga papa?." Sarah meraih tangan Rachel dan menggenggam erat.


"Aku ngga papa kok, Tante. Tadi juga sempet terkejut dan khawatir tapi sekarang sudah berkurang, Farel juga sudah mendapat pertolongan dari dokter."


Sarah menganguk lalu menoleh pada suaminya.


"Mas, tas aku."


Anthony mengulurkan tas yang tercangklong di lengannya pada Sarah. Saat sampai di rumah sakit tadi Anthony tak tega melihat Sarah membawa tas sambil berlari, akhirnya Anthony yang membawakan.


Sarah mengambil air mineral berukuran kecil dan memberikan pada Rachel.


"Minum dulu biar lebih tenang." Sarah mengulurkan air itu pada Rachel.


"Sini Om bukakan," Sebelum Rachel menerima air mineral itu Anthony membuka dulu tutup botolnya.


"Terima kasih." Rachel tersenyum dan meneguk air itu. Perhatian-perhatian kecil dari Sarah dan Anthony seperti ini membuat Rachel terharu dan merasa di sayangi.


Selesai Rachel minum, Sarah mengambil botol itu dan meneguk dua tegukan. Rachel tersenyum senang minum sebotol dengan Sarah.


Di tengah kekhawatiran mereka, ruang UGD terbuka, dengan segera Anthony, Sarah dan Rachel berdiri, mendekat pada Dokter dan seorang perawat.


"Bagaimana keadaan putra saya, Dokter?." tanya Anthony.

__ADS_1


Dokter pun menjelaskan keadaan Farel yang mendapatkan banyak jahitan terutama di lengan dan kaki bagian lengan. Tidak ada tulang yang patah tapi goresan cukup parah. Dokter menyarankan untuk rawat inap semalam sampai kondisi nya membaik.


Setelah mendapatkan penjelasan dari Dokter, Anthony segera mengurus administrasi dan memindahkan Farel ke ruang rawat VIP agar memudahkan mereka untuk menemui Farel tanpa mengganggu pasien lain.


"Rachel, sekali lagi Tante mengucapkan terima kasih sudah mengantar Farel ke rumah sakit. Kalau kamu ada kegiatan silahkan lanjutkan, setelah itu kalau kamu mau jenguk Farel datang saja ke sini. Bukan maksud apa-apa, Tante hanya tidak ingin mengganggu kegiatan kamu." Sarah yang duduk di samping kanan Farel tersenyum pada Rachel yang duduk di samping kiri Farel.


"Nggak kok Tante, Rachel tak ada kegiatan sampai nanti malam kok, Tante. Jadi aku bisa menemani Farel di sini." Jawab Rachel.


"Syukurlah kalau begitu."


Rachel mengalihkan pandangan pada Farel, menatap wajahnya yang sudah tidak sepucat tadi. Tapi masih terlihat layu juga. Rachel ingin tahu cerita lengkap Farel sampai kecelakaan. Seharusnya Farel langsung ke rumah sakit atau ke klinik terdekat dari lokasi kecelakaan tapi Farel justru datang ke Apartement nya.


Rachel meraih tangan Farel dan menggenggam nya. Kata-kata Farel sebelum pingsan tadi masih terngiang di benak nya.


"Gue di sini. Gue di sini, Rachel. Gue akan selalu ada di sisi lo. Apapun yang terjadi, gue nggak akan pernah ninggalin lo sendiri."


Rasanya aneh tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba Farel mengatakan itu. Bahkan Farel menahan rasa sakit akibat kecelakaan itu untuk datang menemuinya dan memastikan jika dirinya tidak sendiri.


"Rachel."


Rachel mengerjap mendengar panggilan lirih itu. Refleks menoleh ke arah Farel yang ternyata sudah membuka mata, hanya sesaat lalu memejamkan mata lagi.


Farel membuka mata, menatap lamat-lamat Rachel lalu mengalihkan pandangan pada Sarah dan juga Anthony.


"Farel, Syukurlah Nak. Kamu sudah sadar."


Farel menganguk.


"Nggak usah di lemes-lemesin itu muka nya, pengen banget yah di perhatiin sama Rachel." cibir Anthony.


Farel tersenyum samar, "Aku baik-baik saja, Mah. Yah." lalu mengalihkan pandangan pada Rachel. "Gue ngga papa."


Rachel menganguk dan mengeratkan genggaman tangannya. Begitu juga Farel yang menggenggam erat tangan Rachel seolah takut Rachel pergi dan mereka tidak bisa bertemu lagi.


"Rachel bilang, begitu sampai Apartement kamu sudah dalam keadaan luka. Harusnya tadi kamu itu ngga usah datang ke apartement dan langsung ke rumah sakit. Lihatkan, Rachel jadi repot bawa kamu ke rumah sakit." Anthony menggeleng-gelengkan tak habis pikir.


Benar juga, harusnya tadi Farel mampir dulu ke klinik dan mendapatkan pertolongan pertama. Kedatangannya untuk menguatkan Rachel malah sebaliknya membuat Rachel kesusahan dengan membawanya ke rumah sakit.


Tapi saat itu Farel tidak memikirkan apapun selain secepat mungkin sampai di Apartement Rachel. Farel juga tidak menyangka luka nya cukup parah sampai akhirnya pingsan.

__ADS_1


"Mas, udah dong godain mulu," gemas Sarah pada suaminya. Anthony hanya terkekeh melihat wajah judes istrinya. Sejak dulu sampai sekarang bahkan sampai memiliki 3 anak, Farel masih menjadi anak kesanyangan Sarah.


Sarah kembali menatap Farel, ingin bertanya ini itu tentang kronologis kecelakaan tapi sejak tadi Farel tidak mengalihkan pandangan dari Rachel. Hm, sepertinya mereka butuh waktu berdua.


"Mas, kita beli makan yuk."


"Makan? Sebelum ke sini tadi kita makan di restaurant. Kamu masih lapar?."


"Iya, aku masih lapar dan ingin cepat-cepat makan." Sarah mengalihkan pandangan ke Rachel, "Titip anak Tante sebentar, ya. Tante mau beli makan dulu. Kamu juga belum makan kan? Sekalian nanti kita makan bersama. Kamu ada request menu?."


"Ngga ada Tante, samain aja sama Tante."


"Oke." Sarah tersenyum dan melingkarkan tangan di lengan suaminya dan bergegas meninggalkan ruang rawat Farel.


'Mamah memang yang terbaik.' batin Farel senang memiliki Mamah yang peka tidak seperti Ayah. Kebetulan sekali Farel infin berduaan dengan Rachel.


"Gimana keadaan lo? Apa yang sakit?." tanya Rachel.


"Kenapa ? lo mau niupin luka gue seperti waktu kecil dulu. Setiap gue jatuh, lo pasti niup luka gue sambil bilang Bimssalabim luka Farel sembuh."


Rachel tersenyum "Masih inget aja."


Benar saja, sudah terlalu lama namun masih terekam jelas di otak Farel. Sehingga di saat tertentu Farel pasti mengingatkan nya kembali. Hampir setiap moment bersama Rachel, Farel selalu mengingatnya.


"Sekarang tiup aja nih, biar cepet sembuh."


"Farel itu masih kecil dan sekarang gue udah cukup pintar untuk menyimpulkan tiupan nggak akan buat luka kita sembuh.


"Tiupan lo masih berkhasiat sama seperti obat."


"Oke, tapi nanti satu tiupan 1 juta dolar."


Farel tertawa, "Nanti deh gue bobol rekening Ayah."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2