
Saya Edgar.
Saat Kalian membaca surat ini artinya saya sudah tidak ada lagi di negeri ini. Saya pergi bersama Ayuma dan Rachel, di suatu tempat di mana tidak ada orang yang tahu keberadaan kami.
Melalui Saya Ayuma ingin mengucapkan terima kasih dan permintaan maaf. Terima kasih untuk dukungan dan permintaan maaf karena pergi tanpa berpamitan. Ayuma tidak bisa tinggal di sini dan mengambil resiko akan terjadi sesuatu lagi dengan Rachel.
Sekarang Ayuma dan Rachel sudah menjadi tanggung jawab saya. Kalian tidak perlu merasa khawatir. Saya akan memastikan mereka aman dalam perlindungan saya.
Salam,
Edgar.
...----------------...
Hening.
Semua orang larut dalam kesedihan. Begitu juga Farel yang kini membeku di tempat dengan pandangan mata tertuju pada kertas itu, lalu perlahan kertas itu mulai basah oleh tetesan air matanya.
Hal yang Farel takutkan kini benar-benar terjadi. Rachel pergi ke tempat yang jauh, entah di mana jauh dari jangkauannya.
Sarah tak kuasa menahan air mata. Sementara Anthony juga memalingkan wajah untuk menutupi matanya yang berkaca-kaca. Dia bahkan belum melihat bagaimana kondisi Rachel sekarang, tapi Rachel sudah pergi.
"Mah."
"Iya, Nak?." Sarah mengusap lengan putranya.
"Ini bohong kan? ini cuma prank kan, Mah?." Farel menoleh pada Mama nya dengan mata yang basah. "Tolong katakan inu hanya bercanda. Besok Rachel ada di rumahnya dan dia baik-baik saja kan Mama? please bilang iya."
Sarah menggeleng, ingin mengucapkan sesuatu tapi bibirnya gemetar. Sarah hanya memeluk putranya dan berharap bisa memberinya sedikit kekuatan.
Sementara Anthony duduk di samping Farel dan mengusap pundaknya.
"Yah, tolong bilang surat ini bohong. Paman Edgar berbohong kan?."
Air mata Farel semakin banyak membasahi pipi, "Ayah, bilang sama Rachel nggak kemana-mana. Rachel tetap di sini kan? Rachel..." Suara Farel tercekat.
Anthony menarik Farel dalam pelukan.
"Ayah tahu ini sangat berat tapi kenyataannya mereka benar-benar pergi dan entah kapan akan kembali."
Hening cukup lama, hanya terdengar tangisan Farel dan isakan samar Sarah. Sementara Anthony terus mendongak agar air matanya tak menetes, kepergian Rachel seperti dia berpisah dengan Putri kandungnya.
__ADS_1
Sekitar 15 menit berlalu dan Farel mulai merasa tenang, Anthony melepas pelukannya.
"Kamu berdoa aja semoga hati mereka tergerak untuk pulang, sekarang yang harus kamu lakukan, jangan patah semangat apalagi sampai frustasi dan depresi jadikan ini semangat untuk memperbaiki diri, jadilah versi terbaik kamu lalu saat Rachel pulang. Ayah nggak malu-malu banget melamarkan kamu untuk Rachel."
"Tapi bagaimana kalau Rachel udah punya pacar atau suami."
"Tenang aja nanti Ayah bantu nikung."
Farel tersenyum dalam tangisnya. Farel tidak tahu keberadaan Rachel sekarang tapi Farel akan selalu berdoa semoga dia baik-baik saja di manapun dia berada.
Tentang perasaannya tentang cintanya, Farel tidak masalah jika harus menunggu satu, dua atau bahkan 10 tahun lagi Farel akan terus menunggu Rachel.
'Pulanglah, aku menunggumu My Bar Bar Girl. Aku selalu menunggumu'.
***
Dengan langkah gontai Hendrawan memasuki halaman rumah. Kondisinya benar-benar kacau sekarang. Rambutnya acak-acakan, kemejanya kusut, wajahnya tampak pucat dan lelah.
Istirahat. Hanya itu yang Indrawan inginkan sekarang di rumah ini bersama Ayuma dan Rachel seandainya mereka masih di sini. Tapi sekarang mereka sudah pergi, entah di mana keberadaan mereka.
Hendrawan duduk di sofa, menyandarkan punggung lalu mendongakkan kepala. Menatap langit-langit rumahnya yang begitu mewah tapi terasa sepi.
"AYUMA, AKU PULANG."
Dalam imajinasi Hendrawan seperti melihat Ayuma berjalan ke arahnya membawa nampan berisi secangkir minuman segar dan cemilan buatannya.
Meskipun sibuk mengurus perusahaannya entah bagaimana Ayuma selalu punya waktu untuk melayaninya. Ayuma sering membuatkannya cemilan, entah itu roti kering, cake atau menyiapkan potongan buah-buahan namun si bodoh Hendrawan ini tak pernah menghargai ketulusan istrinya. Di matanya, Ayuma selalu kurang.
"Ini aku buatkan roti kering sama potongan kini. Enak, Mas?."
"Nggak enak, rotinya keras dan potongan kiwinya terlalu besar. Bikin gini aja nggak bisa!."
Dalam bayang-bayangnya, Hendrawan melihat Ayuma mengerucutkan bibir sedih. Tidak, saat itu Hendrawan berbohong. Semua yang ada dalam diri Ayuma sempurna. Bahkan untuk masakan dan cemilan yang dibuatnya sangat enak. Hendrawan saja yang gengsi mengakuinya otak dan hatinya sudah terlanjur dia doktrin untuk membenci Ayuma sehingga apapun yang Ayuma lakukan, sesempurna apapun itu, pasti selalu kurang dimata Hendrawan.
"Apa terjadi sesuatu di kantor, wajah kamu kelihatan lesu?."
"Kepo!."
"Ada masalah sama investor? atau ada masalah dengan perusahaan?." dengan sabar Ayuma terus bertanya.
"Masalah cabang. Aku merasa perusahaanku belum siap membuka cabang lagi. Aku kewalahan mengaturnya."
__ADS_1
Saat itu, Ayuma menyentuh lengannya dan tersenyum lembut.
"Kamu pasti bisa. Sebelum kamu memutuskan ingin membangun cabang perusahaan kamu sudah menyusun rencana. Aku sendiri yang menjadi saksi setiap malam kamu menghabiskan waktu di ruang kerja menyusun proyek ini. Aku yakin kamu pasti bisa. Belajar dari kegagalan-kegagalan yang lalu dan terapkan di proyek ini . Nanti kalau kamu berhasil aku akan memberikan kamu hadiah."
"Hadiah apa?."
"Anything you want."
Saat itu Hendrawan berhasil membangun perusahaan cabang dan sukses. Hendrawan ingat Ayuma menyambutnya dengan sebuah pelukan dan ciuman saat pulang dari kantor, lalu percintaan panas mereka terjadi sebagai permintaan Hendrawan.
Bohong Jika dia tidak menikmatinya. Bohong dia tidak menikmati bercinta dengan Ayuma. Hendrawan selalu menyukai tubuh Ayuma.
Hendrawan suka cara Ayuma menatapnya, penuh cinta dan kasih sayang. Dia juga suka cara Ayuma mendesah menyebut namanya yang begitu tulus. Hendrawan paling suka momen setelah mereka bercinta.
"Di sini sebentar. Aku ingin pelukan."
Dan saat itu Hendrawan benar-benar memeluknya.
Hendrawan tersenyum membayangkan itu. Namun perlahan senyumnya memudar, berganti dengan mata berkaca-kaca saat mengingat semua momen itu tidak akan pernah terulang kembali.
Bahkan sekarang Hendrawan tidak tahu dimana keberadaan Ayuma dan Rachel.
Tok...tok...
Hendrawan mengerjab, menghapus air matanya lalu menoleh ke arah pintu, ternyata Johnny yang datang.
"Permisi Pak."
Hendrawan menegakkan badan. "Bagaimana? kamu sudah menemukan istri dan putriku?."
Setelah mendapatkan keanehan tentang golongan darah Luna, Hendrawan memutuskan untuk tidak berhubungan dengan Luna dan Dilara untuk sementara, setidaknya sampai semua jelas. Jelas bahwa Luna benar-benar Putri kandungnya.
Hasil tes DNA akan keluar siang ini.
Sebagai gantinya Hendrawan menyuruh Johny untuk menyelidiki keberadaan Ayuma dan Rachel.
"Saya sudah mencari keberadaan mereka dengan mengerahkan seluruh bodyguard saya untuk mencari mereka di rumah sakit di Jakarta. Tapi sampai sekarang bodyguard saya belum menemukan mereka. Sekarang masih proses pencarian. Nanti jika ada informasi baru, saya akan langsung sampaikan pada Pak Hendrawan."
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...