Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 146


__ADS_3

Rendy berdehem, "Oh begitu ya, aku tidak menyangka aku yang biasa saja ini ternyata ada perempuan cantik yang diam-diam memperhatikanku. Aku jadi merasa malu."


Ariana tersenyum kikuk, "Enggak kok kamu nggak biasa aja, kamu keren."


'Waduh kayaknya doi suka nih sama gue, nggak di Indo nggak di luar pesona gue selalu cetar membahana heheh.'


"Kayaknya cuma kamu yang bilang aku keren, bisa kita cari tempat duduk dan mengobrol lebih lanjut, soalnya aku penasaran kenapa kamu bilang aku keren. Padahal selama ini orang-orang mengatakan aku ini jelek."


"Oh yah? ada yang pernah bilang kamu jelek?."


"Ada, ayo kita ngobrol di sana!." Rendy menyentuh punggung Ariana dan mengarahkannya ke kursi yang ada di area lobby dua kursi yang di tengah-tengahnya ada meja bulat menjadi pilihan Rendy. Posisinya ada di dekat dinding kaca hotel yang menjulang tinggi. Dari sini juga mereka bisa melihat pemandangan orang yang berlalu lalang di luar.


"Sebelum kita lanjut mau ngobrol sebaiknya kita saling mengenal dulun, aku Rendy Ashraf Atmaja biasa dipanggil Rendy kadang orang-orang juga memanggilku Ashraf tapi khusus kamu, kamu boleh memanggilku baby atau sayang."


Rendy mengulurkan tangan pada Ariana dan Ariana menjabat tangannya.


"Aku Ariana."


"Lihat tangan kita yang bergeganggaman ini."


Ariana mengenyitkan alis dan memfokuskan pandangan pada tangan yang di genggam Rendy.


"Rasanya seperti Tuhan menciptakan tangan kita untuk saling menggenggam, pas, nyaman, cocok sekali. Apa kamu merasakan seperti yang aku rasakan?."


Ariana tersenyum tidak menyangka ternyata laki-laki ini sangat ramah dan baik padanya.


'Nih cewek polos banget, dah!' Batin Rendy.


Di tengah obrolan mereka Farel datang sudah rapih dengan style kaos rajut abu-abu lengan panjang dan celana jeans hitam dipadukan dengan sepatu putih. Penampilan Farel tampak menawan. Ditambah lagi dengan postur tubuhnya yang tinggi dan atlentis.


Sambil menunggu kepulangan Rachel seperti yang Ayah nya katakan Farel terus memperbaiki diri, menjaga pola makan dan olahraga teratur karena itu badannya tetap atletis. Farel juga mengasah kemampuan di bidang bisnis dengan bekerja di bawah bimbingan Anthony. Farel juga udah mau nabung untuk masa depannya bersama Rachel nanti.


"Nah gini kan enak dilihat, nggak kayak penampilan lo tadi yang kayak ayam baru keluar dari kandang."


Rendy mengalihkan pandangan dari Farel pada Ariana.


"Ariana, kenalin ini temenku namanya Farel."


Ariana tersenyum dan mengulurkan tangan, "Aku Ariana." Tapi Farel tidak mau menjabat tangannya justru menatapnya dengan tatapan dingin.


"Dia panuan akut, makannya dia nggak mah pegang tangan kamu."

__ADS_1


"Oh gitu ya, ya ampun semoga cepat sembuh." Ariana menatap Farel iba.


Ariana tiba-tiba mengingat sesuatu.


"Kemarin saat aku pergi ke danau thun aku bersama dengan temen ku. Dan sepertinya dia tertarik sama kamu. Apa kamu mau berkenalan dengan temenku?." tanya Ariana pada Farel.


"Maaf saya sudah punya calon istri." ucap Farel dingin.


Tanpa mengatakan apapun lagi Farel langsung pergi.


Rendy berdecak, "Emang rada gila anaknya, gak usah di ambil hati."


Ariana menganguk,


"Oh yah temen kamu siapa namanya? kalau nggak ada urusan mendadak, aku masih ada 2 hari lagi di sini. Kita bisa mengobrol sambil minum-minum bertiga. Aku suka bertiga, lebih memacu adrenalin."


"Qila, temanku bernama Aqila."


Rendy mengerutkan dahi, wajahnya berubah jadi muram.


"Kenapa?." Ariana menyadari perubahan ekspresi Rendy.


"Oh ya?."


Rendy menganguk, "Mungkin hanya kebetulan."


Bukan tanpa alasan Rendy berpikir begitu, setelah 5 tahun ini setiap Rendy mendengar nama Rachel, atau Aqila di berbagai kota atau negara Rendy langsung mencari orang itu tapi nihil. Rendy akhirnya menyerah dan tidak mau terlalu banyak berharap dan ujung-ujungnya dia akan kecewa dan gagal bertemu dengan gadis kesayangan ya itu.


Rendy hanya berdoa semoga Rachel cepat pulang atas kemauannya sendiri.


"Oh yah minta kontak kamu dong biar aku lebih gampang hubungi kamu. Nanti malam atau besok kita ajeb-ajeb."


Ariana tersenyum, "Nanti aku ajak temenku."


Mereka pun bertukar nomer.


"Ya udah aku pergi dulu yah, temenku yang tadi pasti menungguku. Jangan sampai dia mengamuk dan membakar hotel ini.


Ariana tersenyum dan menganguk, ternyata Rendy orang yang sangat menyenangkan dan lucu.


"Mau pelukan perpisahan nggak?." goda Rendy sambil mengedipkan mata.

__ADS_1


"Eh eum itu..."


"Kelamaan mikir Neng, sini abang peluk." Rendy memeluk Ariana membuat jantung gadis itu berdebar kencang. Sementara Rendy yang sudah memeluk ratusan perempuan tidak merasakan apa-apa. Selama 25 tahun ini Rendy belum pernah bertemu dengan perempuan yang membuat jantungnya berdebar kencang.


"Bye." Rendy melambaikan tangan dan melempar flying kiss pada Ariana sebelum benar-benar meninggalkan hotel. Di halaman hotel Farel sudah menunggu di mobil yang mereka sewa.


"Cewek mana lagi yang lo kadalin?." sinis Farel.


Rendy terkekeh lalu masuk ke dalam mobil bersama Farel. Kemudian sopir yang sudah mereka sewa melajukan mobil menuju ke pegunungan Jungfrau.


"Kadang gue bingung."


Farel yang tadinya menatap jendela menoleh ke arah Rendy.


"Kok bisa sih lo bertahan dengan satu perempuan selama 5 tahun. Apalagi perempuan itu nggak pernah muncul di depan lo, apa lo nggak merasa bosan, muak, jengkel, kesal dan lelah menunggu 5 tahun. Gue bertemu banyak perempuan, gue lebih dari 100 kali pacaran, gue sering berciuman dan pelukan tapi kenapa gue selalu merasa bosan?."


"Karena lo belum menemukan seseorang yang lo cintai bahkan lebih dari nyawa lo sendiri."


"Oh jelas tidak. Bagi gue LOVE MY SELF yang paling utama, cewek nomer 2."


Farel menipiskan bibir, "Percaya deh suatu hari lo akan bertemu dengan seorang perempuan yang akan membuat lo bertekuk lutut, akan datang seorang perempuan yang membuat lo nyaris gila, dia seperti oksigen, Lo butuh dia untuk tetap hidup saat lo bersamanya hasrat lo tinggi, tapi daripada **** lebih suka menghabiskan waktu untuk mengobrol. Lo suka melihat dia tersenyum dan tertawa dan akan melakukan apapun agar dia bahagia, mengorbankan segalanya untuknya. Sampai pada puncaknya kalau lo nggak bisa memiliki dia, lo akan merelakan dia untuk orang lain."


Rendy sampai merinding mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Farel, kalimat itu diucapkan dengan penuh keseriusan dan penekanan.


Tapi Rendy lebih merinding mendengar kalimat panjang lebar Farel. Ini pertama kali dia mendengar Farel bicara panjang lebar penuh ekspresif dan penuh emosi seperti ini.


Farel memalingkan wajah dan menatap keluar jendela.


"Itu yang lo rasain sama Rachel?."


Farel menganguk.


Rendy menghela nafas panjang lalu melempar pandangan ke luar jendela sekarang mereka saling memunggungi.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2