
Pemuda tinggi dan berwajah tampan ini sembari tersenyum. Kehadiran si kapten Basket kampus sebelah ini sontak menarik perhatian beberapa mahasiswa yang ada di halaman kampus Rachel. Mencuri-curi pandang dan bertanya- tanya apa yang sedang dilakukan di sini. Begitu juga Rachel yang penasaran kenapa Brandon di sini ada di sini.
"Hai apa kabar? lama tidak bertemu." Sapa Rachel.
"Gue baik, Lo sendiri?."
"Gue juga baik, btw lo ke kampus ini ada keperluan apa?."
"Keperluan menjemput salah satu mahasiswa nya."
"Oh yah siapa?."
"Lo."
"Gue?." Rachel mengenyit alis bingung. "Kenapa lo mau jemput gue?."
"Papa lo belum bilang?."
"Bilang apa?."
Brandon tiba-tiba terlihat kikuk dan mengusap belakang kepalanya. "Sepertinya Papa lo belum bilang dan gue yang terlalu excited langsung nyamperin lo ke kampus."
"Bentar-bentar, gue nggak paham dengan apa yang lo omongin. Emang Papa gue bilang apa?."
"Kalau gue bilang, lo pasti kaget dan merasa konyol tapi gue suka."
"Brandon, bisa langsung to the pintu!." gemas Rachel.
Pemuda berlesung pipi itu tersenyum, "Kita di jodohkan, Rachel."
Rachel terkejut, tapi tidak benar- benar terkejut. Karena semalam Papa nya sudah memberitahu nya tentang perjodohan. Tapi siapa sangka Papa menjodohkan nya dengan Brandon.
"Terkejut?." tanya Brandon.
Rachel menggeleng, "Semalam Papa sudah bilang tapi ngga bilang dengan siapa. Ngga nyangka aja sama Lo."
"Gue harap pilihan Papa lo tidak mengecewakan."
Rachel tersenyum, " Sedikit mengecewakan karena dalam bayangan gue, gue di jodohkan dengan Gavi, pesepak bola terkenal dari Tim nas Spanyol."
Brandon tertawa. "Ya saingan gue sama Gavi, berat juga tapi meskipun gue ngga jago main bola. Gue cukup jago di basket. Lo tertarik dengan pembasket?."
"Cukup tertarik "
__ADS_1
Kedua mata mereka saling bertemu dan menguras senyum bersamaan.
"Lo udah selesai kuliah kan?."
"Hmm, ini baru aja selesai."
"Langsung pulang atau kemana dulu?."
"Pulang, soalnya gue ngantuk banget."
"Ya udah gue anter."
Mereka berjalan berisikan menuju ke parkiran. Baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba seseorang memanggil.
"RACHEL!."
Rachel dan Brandon menoleh bersamaan. Di sana Luna tersenyum ceria dan melambaikan tangan berjalan ke arahnya, Luna tidak sendiri di sampingnya ada Farel.
Secara Refleks, mata Rachel bertemu dengan mata Farel yang menyorot teduh. Pandangan mata mereka tertarik cukup lama, seolah enggan memutus kontak mata satu sama lain. Namun menyadari semua harus ada jarak, Rachel memalingkan pandangan lebih dulu.
"Rachel akhirnya aku bisa ketemu kamu," Luna langsung memeluk Rachel, begitu juga Rachel yang membalas pelukannya dengan erat.
Kemarin Rachel pulang begitu saja tanpa berpamitan dengan Luna dan Dilara. Sesampainya di kampus, Rachel mengirim pesan pada Luna, ada kuliah mendadak dan tidak bisa di tinggalkan karena itu dia buru-buru pergi.
"Maaf yah kemarin aku pergi mendadak."
"Iya ga papa, kamu udah bilang kan ada kuliah. Santai aja."
Luna mengalihkan pandangan pada Brandon.
"Eh Brandon kan? kapten Basket itu?."
Brandon mwnganguk.
"Setahu aku ini bukan kampus kamu, kok kamu bisa ada di sini?." Terus kenapa bisa sama Rachel? kebetulan aja atau kalian memang janjian?."
"Gue jemput Rachel." Jawab Brandon sembari menoleh pada Rachel. Begitu juga Rachel yang menoleh padanya dan melempar senyum. Senyum yang membuat Brandon gagal mode on. Ah, dia jadi teringat pertemuan pertamanya dengan Rachel di stadion lapangan basket waktu itu.
Sosok gadis ceria, penuh semangat dan selalu tersenyum sambil bersorak riang memanggil nama Farel, berhasil mencuri perhatian Brandon yang sedang bertanding saat itu. Brandon tidak bisa konsentrasi bermain gara-gara melirik ke arah Rachel yang seolah bersinar di antara para penonton.
Saat itu, Brandin pikir Rachel pacar Farel, mengingat betapa semangat dan tulusnya Rachel menyemangati Farel, tapi ternyata mereka hanya sahabat. Peluang Brandon untuk mendekati Rachel semakin terbuka lebar.
Dan seolah takdir mendekatkan mereka, ternyata perempuan yang ingin Papa nya jodohkan dengannya adalah Rachel. awal mula, Brandon juga menolak. Di zaman sekarang sangat konyol masih ada perjodohan. Brandon ingin memilih kekasih nya sendiri.
__ADS_1
Tapi saat Papa nya menunjukkan foto Rachel detik itu juga Brandon berubah pikiran. Bahkan Brandon mengusulkan Papa nya agar langsung menikah saja. Saat itu juga Papa nya tergelak.
"Wah ada apa ini hel?. Kok kamu ngga pernah cerita sih kalau kamu deket sama Brandon, atau jangan-jangan kalian udah jadian yah?." goda Luna sambil mencapit pipi Rachel dengan gemas.
Rachel hanya tersenyum,
"Jadian? yang benar aja. Mereka juga pasti baru kenal." sinis Farel.
"Semua berawal dari perkenalan kan? lalu saling dekat, mengenal lebih jauh dan akhirnya..."
"Akhirnya semua manusia akan mati." Farel memotong ucapan Brandon.
Brandon menyeringai, seringai jumatan yang membuat Farel memutar bola mata. Farel sering melihat seringai itu saat Brandon mencetak poin selama pertandingan Basket.
"Oh jadi cerita nya lagi lagi PDKT. OMG Rachel aku senang banget akhirnya temen aku yang jomblo dari lahir itu ada yang mendekati juga. Rachel adalah sahabat terbaikku. Kamu akan jadi laki-laki yang paling beruntung kalau kamu bisa mendapatkan cinta Rachel."
"Luna apaan sih."
Luna tersenyum lalu melingkarkan tangan di lengan Rachel. Luna benar-benar tidak menyangka Brandon yang terkenal dingin mau mendekati Rachel. Entah dari mana mereka bisa berkenalan, padahal mereka beda kampus dan Rachel juga terlihat jarang bergaul.
Luna menebak Brandon tertarik dengan Rachel pasti karena kecantikan dan bodynya. Meskipun bukan artis, Luna mengakui Rachel sangat cantik, dan senyumanya sangat manis. Luna tidak sabar ingin curhat-curhatan dengan Rachel dan ingin tahu lebih banyak cerita hubungan mereka.
"Oh yah, Luna. Kenapa kamu ada di sini?." tanya Rachel untuk mengalihkan obrolan agar tidak terus menerus menggodanya dengan Brandon.
"Ya ngapain lagi kalau bukan..." Luna melirik pada Farel sambil senyum-senyum sendiri. Tanpa menjelaskan pun Rachel sudah tahu.
Mereka sudah resmi pacaran, wajar saja jika Luna ada di kampus Farel. Mulai sekarang Luna yang akan menemani Farel, Rachel si second choice tidak di butuhkan lagi.
Baguslah, Rachel juga tidak perlu ngabatin sakit hati lagi harus jadi pilihan ke dua. Sekarang Rachel tidak perlu ragu-ragu lagi untuk mundur dan menolak karena Farel sudah menentukan pilihannya.
"Ya sudah kalau gitu lanjut gih pacarannya, gue mau pulang sama Brandon."
"Pulang kemana?."tanya Farel.
"Ke apartement lah yang deket, emang kemana lagi?."
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1