
Farel mengumpat kesal dan jijik. Umpatannya bersahutan dengan umpatan Brandon saat merasakan punggungnya sakit.
"Ngapain lo peluk gue?."
"Peluk apa sih, setan!."
Brandon mengunpat untuk yang kedua kali sambil berdiri dan memegang punggungnya. Brandon menatap tajam Farel begitu juga Farel yang menatap tajam padanya.
Kini keduanya saling bertatapan dengan sorot mata tajam dan wajah tampak kebingungan. Lalu bersamaan sama-sama memalingkan wajah dan mengumpat lagi.
"Lo..." Farel kembali menatap Brandon dengan ekspresi penuh kecurigaan, "Lo normal kan?."
"YA NORMAL LAH BEGO!."
"YA BIASA AJA NGGAK USAH NGEGAS. GUE TANYA BAIK-BAIK."
"YA LO NANYA NYA NGGAK JELAS GITU. EMOSI GUE!."
Farel berdecih, "Terus kenapa lo peluk gue!."
"Ya mana gue tau! sekarang gue tanya balik. Kenapa gue ada di kamar ini dan tidur seranjang sama lo. Lo culik gue?."
"Najis!." Farel membuat gerakan orang muntah-muntah. Begitu juga Brandon yang memutar bola mata malas.
Farel turun dari ranjang dan mengambil jaketnya yang tergeletak di lantai. Terdiam sesaat untuk mengingat apa yang terjadi semalam. Tapi Farel benar-benar tidak ingat. Semalam entah berapa botol yang dia minum sampai hilang kesadaran. Dan entah bagaimana dia bisa tidur seranjang dengan si sialan ini.
"Anggap saja semalam nggak pernah terjadi apa-apa." ucap Farel.
"Dih siapa juga yang menganggap ada apa-apa. Awas aja lo nyebar aneh-aneh dan bilang gue gay!." Brandon menatap Farel penuh peringatan.
Farel tak peduli banyak, memakai sepatu nya yang terpencar di dekat meja dan di dekat pintu kamar mandi, lalu keluar dari kamar tanpa mengatakan apapun pada Brandon.
Sesampainya di depan pintu, Farel berhenti sejenak karena rasa pusing kembali menyerang. Menggelengkan kepala lalu mengacak rambutnya dengan kasar dan bergegas pergi. Bodo amat dengan pusing, intinya sekarang Farel harus pergi dari sini.
Sebelum pergi Farel membayar tagihan.
"Semalam Pak Rendy menghubungi kami dan menyiapkan kamar untuk anda. Dia sudah membayar semuanya."
"Rendy?."
"Iya."
__ADS_1
Farel menganguk, kemudian berlalu.
Meskipun kadang menyebalkan dan mulutnya tidak bisa di kontrol, Rendy sangat bisa di andalkan dan bertanggung jawab. Dia tahu temannya ini sangat ceroboh karena itu membackup segalanya yang Farel perlukan.
Sesampainya di mobil, Farel membuka ponsel. Notifikasi nya di banjiri dengan telepon dari chat dari Mama dan Ayah. Sudah beberapa hati ini tepatnya setelah kecelakaan, Farel tidur di rumah. Pantas saja mereka sangat khawatir. Karena biasanya Farel tinggal di apartemen dan kedua orang tuanya tidak tau, entah dia pulang ke apart atau menginap di rumah teman.
[Farel : aku baik-baik saja, Mah. Semalam aku menginap di apartement. Aku ada kegiatan kampus sampai malam.]
[Sarah : Nggak usah bohong kamu. Jujur saja, dimana semalam?.]
Farel terkekeh.
[Farel : Mampir ke club bentar, heheh. Sama Rendy juga kok. Udah ya, Mah. Aku mau ke apart siap-siap ke kampus. Bye, bye love you mama.
"Eh kok udah jam 9 aja. Ck, mana kuliah jam 10 lagi."
Farel langsung menonaktifkan ponsel dan bergegas melajukan mobil meninggalkan parkiran. Sepanjang perjalanan Farel mencoba mengingat lagi apa yang terjadi semalam. Seingatnya dia berbicara dengan Brandon tentang obsesi, lalu tiba-tiba dia melihat bintang-bintang warna hijau dan ... Tidak ingat apa-apa lagi.
"Mungkin gue ketiduran terus bodyguard bar yang Rendy bayar mindahin gue. Oke, anggap saja begitu."
Sesampainya di apartemen padahal langsung menuju ke lift dan menekan lantai 10 . Sepanjang Lift Farel mengurut pelipis dengan ibu jari untuk menghilangkan rasa pusing.
Lift berhenti di lantai 10. Farel berjalan gontai di lorong gedung dengan mata terpejam. Begitu membuka mata, langkah terhenti seketika.
Begitu menolehkan kepala, Farel tersentak melihat sorot mata tajamnya. Ragu-ragu Farel ingin kabur saja, tapi akhirnya Farel mendekat sambil merapalkan doa-doa. Semoga kali ini Rachel tidak berubah jadi singa betina.
"Rachel yang cantik."
Rachel mendongak, lalu berdiri dan menonjok kuat lengannya.
"HABIS BERAPA BOTOL?."
"Eh. Euhm anu lupa. Nggak hitung."
Farel meringis sambil mengusap belakang kepala nya. Farel merasa seperti seorang suami yang di marahi istri karena tidak pulang semalaman.
"Maaf," kata itu terucap begitu saja, seperti dulu-dulu saat Racbel marah-marah gara-gara dia mabuk. Padahal kan Farel jarang mabuk, tapi Rachel menatapnya dengan garang seolah Farel sering melakukan itu.
"Udah di bilangin jangan suka mabuk-mabukan. Lo itu gampang mabuk," Rachel mencubiti lengan Farel dengan gemas.
"Aduh, aduh, Sayang. Udah ya. Mas Farel nggak akan ulang lagi."
__ADS_1
Rachel berdecih mendengar kalimat Farel. Sementara Farel malah senyum-senyum sendiri.
"Kenapa nggak masuk? Eh iya gue lupa, gue udah ganti passport waktu lo pacaran sama Brandon. Soalnya password itu ngingetin gue sama lo terus."
Rachel mendengus, menghentakkan kaki dan langsung pergi gitu aja.
"Tunggu, tunggu!." Farel mencengkram lembut pergelangan tangan Rachel dan memeluk nya dari ke belakang.
"Rendy yang bilang gue ke Club?."
"Iya, Rendy bilang lo mabuk, tepar, sekarat, wajah lo pucat, terus katanya lo gelantungan di dance floor kayak monyet. Semalam dia chat gitu, tapi gue baru baca pagi ini."
Farel mengumpat dalam hati, "Bohong dia, calon suami lo masih baik-baik aja nih. Terus Rendy bilang apa lagi?."
"Nggak bilang apa-apa."
"Dia nggak bilang kalau gue ketemu pacar lo di club?."
"Brandon?. Nggak. Brandon bilang semalam dia mau dinner sama tim dan coach basketnya."
"Kayaknya habis dinner Brandon mampir ke club di ajak seniornya. Dia kelihatan nggak nyaman, tapi dia tetep minum. Semalam gue juga bicara sama Brandon."
"Bicara apa?."
"Gue rasa perasaan Brandon sama lo sama seperti perasaan gue sama Luna. Hanya obsesi. Brandon bilang dia seperti melihat sosok Ibunya dalam diri lo. Brandon bilang dia nggak mau lo pergi seperti mamanya yang pergi untuk uang kedua kalinya."
Rachel terdiam.
"Gue nggak bermaksud buat ngomporin lo buat putusin Brandon. Gue cuman bilang apa yang gue denger langsung dari Brandon. Dia mabuk dan orang mabuk cenderung berkata jujur."
Rachel masih diam, belum menunjukkan reaksi apa-apa. Menyandarkan dagu di pundak sempit Rachel dan menatap wajah cantik nya dari samping, Farel bertanya- tanya apa yang sedang gadis ini pikirkan.
Rachel berdehem, "Gue ada kuliah. Gue harus pergi sekarang. Dan lo juga baik-baik aja. Rendy cuma boongin gue."
Rachel melepas pelukan Farel, baru selangkah berjalan tiba-tiba Farel menahan pergelangan tangannya. Menarik kuat hingga tubuh Rachel berbalik badan menghadap tepat di depannya.
Belum sempat Rachel protes, matanya melotot saat tiba-tiba Farel mendaratkan ciuman di bibirnya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....