Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 171


__ADS_3

"Sudah aku bilang. Meskipun kamu hilang ingatan, hati dan perasaan kamu masih sama. Kamu masih Rachel yang baik, pengertian dan selalu mengutamakan orang lain." Farel melempar senyum, tanpa melepas tatapan mata dari mata Rachel, Farel mengusap punggung tangan Rachel dengan jari jempol.


Rachel menganguk dan mendadak gugup.


"A-aku mau ke toilet sebentar ta."


"Mau aku antar?."


"Nggak usah, cuman ke toilet bentar."


Rachel berusaha melepas genggaman tangan Farel, tapi Farel justru mengeratkan genggaman tangannya.


"Mulai deh jailnya."


Farel terkekeh, lalu dengan berat hati melepas genggaman tangannya. Rachel melotot gemas dan bergegas menuju ke toilet.


Rachel sudah tak terlihat lagi tapi senyum masih menghiasi wajah Farel. Apapun itu...momen bersama Rachel tidak pernah gagal membuat Farel senyum-senyum sendiri. Kira-kira baru 10 detik berlalu, tapi Farel sudah merasa rindu.


Mengalihkan perhatian dan menyibukkan diri, Farel pun mengeluarkan ponsel untuk mengecek pesan atau email pekerjaan yang masuk.


"Farel."


Mendengar panggilan itu, Farel pun mendongak. Seketika ekspresinya berubah tegang begitu menyadari siapa pemilik suara itu.


"Brandon." gumam Farel.


Brandon tidak sendiri, di belakangnya ada tiga laki-laki berusia setengah baya yang menepuk pundak Brandon. Mereka pergi duluan meninggalkan restoran. Sepertinya mereka baru saja selesai makan di sini tapi ada di lantai 2. Restoran Padang ini memang memiliki dua lantai. Kebetulan Farel ada di lantai satu sehingga saat tiba di restoran ini Farel tidak melihat Brandon dan rekan-rekan kerjaannya.


Ini bukan pertama kalinya bertemu. Beberapa kali entah di restoran seperti sekarang. Di meeting room hotel, pusat perusahaan, atau pesta pernikahan dan pertunangan rekan bisnis. Apalagi pekerjaan mereka sama-sama pengusaha.


Dulu mereka sempat berselisih paham, tapi seiring berjalannya waktu hubungan mereka semakin membaik. Apalagi saat Rachel hilang, mereka seolah menjadi tim solid untuk mencari Rachel. Namun di balik kerja sama itu, ada persaingan yang sengit untuk mendapatkan Rachel kembali.


"Apa kabar?." Tanya Brandon.


"Baik." jawab Farel.


Brandon menatap kursi sebrang Farel. Ada sling bag dan ponsel dengan cassing warna soft blue. Barang-barang ini seperti milik perempuan. Selama beberapa kali Brandon bertemu dengan Farel, ini pertama kali Brandon melihat Farel pergi dengan seorang perempuan.


"Lo jalan sama siapa?."


Farel berdehem beberapa kali, berusaha tetap tenang meskipun dalam hati merutuk pada Brandon yang kepo sekali urusannya. Rasanya Farel ingin menyuruh Brandon pergi saja, terserah Farel ke sini dengan siapa itu bukan urusannya. Tapi semakin Farel memperingatkan, Brandon pasti semakin penasaran.

__ADS_1


Sekarang Rachel juga masih ada di kamar mandi dan mungkin tak lama lagi akan ke sini lagi. Diam-diam Farel memeras otak mencari alasan.


"Farel," panggil Brandon sekali lagi.


"Rani" jawab Farel cepat, "Gue ke sini sama Rani, Rani kan adik gue."


Sesaat Farel merasa lega setelah mengatakan alasan itu, Brandon juga terlihat percaya dan mengangguk-angguk. Farel berharap Rachel tidak cepat-cepat datang ke sini. Paling tidak setelah Brandon pergi dulu.


Tentang pertemuan Rachel dan Brandon. Farel tidak ingin mereka bertemu, setidaknya tidak sekarang. Mungkin setelah nanti ingatan Rachel kembali. Tapi kalau di pikir-pikir, apa sebaiknya Farel pertemuan Brandon dengan Rachel saja.


Dulu mereka pernah menjalin hubungan meskipun hanya sebentar tapi kalau Rachel pernah merasa nyaman dan bahagia sekali bersama Brandon. Mungkin setelah mereka bertemu dan mengobrol ingatan Rachel Lebih cepat pulih.


Tapi bagaimana kalau Rachel lebih tertarik dengan Brandon. Bagaimana kalau Rachel justru jatuh hati pada Brandon.


Dilema sekali, Farel mendadak jadi overthinking sendiri.


"Ya udah tunggu apalagi Kenapa lo nggak langsung pergi?." tanya Farel.


"Ini juga sudah mau pergi " Brandon Brandon mengangkat tangan dan melihat jam tangan yang melingkarkan di pergelangan tangannya, "Gue juga masih ada agenda meeting sama sekretaris gue. Tapi gue mau ngobrol sebentar sama lo...soal Rachel."


'Ah elah ngobrol apalagi sih, bisa nggak sih lo pergi sekarang,' batin Farel jengkel sambil menggerakkan kaki naik turun. Sesekali Farel melirik ke arah toilet.


"Lo udah ada kabar dimana keberadaan Rachel dan Tante Ayuma?.'


Farel juga ingin memberitahu Brandon, apalagi mereka sudah pernah bekerja sama dan saling terbuka satu sama lain. Tapi sisi protektif dan posesifnya menahan Farel untuk bekerja jujur.


Namun mengingat Rachel sudah ada di sini, mereka juga tinggal satu kota, cepat atau lambat mereka pasti bertemu. Tidak ada gunanya juga Farel menyembunyikan keberadaan Rachel lebih lama dari Brandon.


Mungkin jujur lebih baik dengan begitu dia dan Brandon bisa bekerja sama untuk memulihkan ingatan Rachel.


Farel juga tidak ingin egois dengan memikirkan perasaannya sendiri tanpa memperdulikan Rachel yang ingin segera mengingat kembali. Pertemuan Rachel dengan Brandon mungkin akan membuka lagi memori memori lama Rachel dan mempercepat pemulihan ingatannya.


"Soal itu," Farel berdehem, "Rachel...."


Belum sempat Farel menjawab tiba-tiba ponsel Brandon berdering. Brandon mengangkat panggilan itu ternyata dari sekretarisnya.


"Iya, ini saya sedang perjalanan ke sana. Oke."


Mengakhiri panggilan, Brandon menatap Farel.


"Nanti kita ngobrol lagi. Gue buru-buru sekarang. Tapi gue mohon banget kalau lo ada kabar tentang keberadaan Rachel dan Tante Ayuma tolong beritahu gue."

__ADS_1


Farel mengangguk, Brandon pun meninggalkan restoran dengan langkah tergesa sepertinya ada yang darurat.


Tak lama setelah Brandon keluar dari pintu masuk Rachel tiba. Seketika Farel bernafas lega karena Rachel yang tidak bertemu dengan Brandon.


"Aduh maaf ya, tadi mules jadi agak lama."


"Ga papa kok santai aja."


Rachel baru saja duduk, bersamaan dengan pelayanan yang datang membawakan menu pesanan mereka.


"Yeahhh akhirnya datang juga," sorak Rachel riang sambil bertepuk tangan kecil.


Farel mengulum senyum melihat reaksi Rachel. Benar-benar tidak berubah, sejak dulu Rachel melihat makanan, pasti sehappy dan excited itu.


"Rachel kamu tau, kamu punya slogan lucu."


"Apa?."


"Apapun masalahnya, makanan solusi nya."


Rachel tertawa, "Oh ya? Berarti aku doyan makan banget ya, apa dulu aku gemuk?."


"Enggak, kamu ideal. Dan kamu harus bersyukur karena aku yang ngajak kamu ngegym."


Sambil meletakkan lauk ke piringnya, Rachel menatap Farel.


"Tapi firasatku mengatakan dulu aku pasti jengkel sama kamu karena kamu sering memaksa ku nge gym."


Farel mengangguk sambil memasukkan nasi daun singkong campur kaldu ayam ke mulutnya. Sementara Rachel sedang mencicipi rendangnya, mereka sama-sama makan dengan menggunakan tangan.


"Iya kamu selalu marah-marah tapi pada akhirnya nurut juga. Besok kita ke tempat gym di apartemen kita yang dulu di sana banyak kenangan kita sekalian kita workout berdua."


Rachel mengerucutkan bibir setelah menelan nasi padangnya.


"Dari sekian banyak hal yang bisa kita lakukan kenapa harus olahraga Farel? please ke tempat lain."


Farel tertawa, "Meskipun kamu hilang ingatan, kepribadian, sifat, kebiasaan bahkan rengekan dan candaan kamu tidak banyak berubah. Kamu masih tetap Rachelku yang lucu, periang dan pemalas."


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2