Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 190


__ADS_3

"Apa kamu pernah memikirkan bagaimana perasaan Kevin jika orang tua nya bercerai? Aku tahu bagaimana rasanya hidup tanpa Ayah. Bagaimana teman-teman di sekolah selalu meledekku dan saat pulang sekolah, aku diam-diam menangis."


Brandon mendekat, kakinya seolah bergerak sendiri, hingga posisinya sudah di depan Luna.


Luna menolak dengan mata sembab, terlihat jelas kesedihan bercampur kemarahan disorot matanya.


Aku tahu aku sangat jauh dari kata sempurna tapi aku selalu berusaha jadi istri yang baik untuk kamu. Aku juga selalu berusaha Jadi ibu yang baik untuk Kevin. Tapi jika berpisah sudah menjadi keputusan kamu tidak ada yang bisa aku lakukan. Aku juga tidak akan menahan kamu untuk kembali pada Rachel.


Kamu sudah menunggu Rachel selama 5 tahun ini. Kamu juga pasti tersiksa dengan perasaan rindu kamu. Tapi tolong, tolong sekali, aku mohon jangan bawa Kevin. Biarkan Kevjn bersamaku. Aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaan Kevin. A-aku."


Kalimat Luna tertahan saat tiba-tiba Brandon menangkup pipinya. Kedua mata mereka saling menatap lekat. Luna belum menyelesaikan kalimatnya. Masih ada banyak hal yang ingin Luna katakan. Masih banyak unek-unek isi hatinya. Tapi sorot mata Brandon seolah menghipnotis Luna untuk terdiam. Membawa Luna hanyut bersamanya masuk ke dalam ruang dimensi lain. Hanya ada mereka.


"Kevin sedang tidur."


"Terus kenapa?."


Bukannya menjawab Brandon tiba-tiba menggendong Luna seperti koala. Tas di tangan Luna terjatuh di lantai, kemudian melingkarkan kedua tangannya di pundak Brandon. Brandin berjalan menuju ke ruang tamu, kamar yang paling dekat dengan mereka sekarang. Setelah masuk ke dalam, tak lupa Brandon menutup pintu.


Membalik posisi sehingga punggung Luna menempel tembok dengan posisi Luna masih berada dalam gendongan Brandon.


"Kamu..."


Brandon membungkam mulut Luna dengan ciuman sebelum Luna sempat mengatakan sesuatu. Ini bukan pertama kalinya, setiap mereka bertengkar gairah Brandon seolah bertambah besar. Saat Luna marah dia terlihat lebih cantik dan menawan. Brandon tidak tahu apakah ini normal atau tidak. Tapi yang jelas itulah yang doa rasakan.


Luna tersentak begitu tubuhnya di banting di tempat tidur.


"Kita bicara dulu Kita belum selesai bicara," Luna mencoba bangkit dari kasur sambil menurunkan roknya yang tersangka sampai perut. Brandon terlihat tidak peduli dan sibuk melepaskan kancing kemejanya.


"Tolong, jangan seperti ini."


"Setiap kita bertengkar, aku tidak bisa menahan diri,"


Luna ingin bangkit, tiba-tiba tubuhnya di dorong lagi ke ranjang, di tindih dan mulutnya di bungkam dengan ciuman. Melihat bagaimana tatapan Brandon dan suhu tubuhnya, seperti nya hasrat Brandon tak terbendung lagi. Menolak juga percuma, Brandon tidak akan berhenti.


Tentang kalimat Brandon tadi yang mengatakan Brandon berkali-kali lipat lebih berhasrat saat melihat Luna marah.

__ADS_1


Kalau Luna flashback ke belakang, memang benar jika mereka bertengkar pasti akan berakhir di ranjang. Seolah mereka melampiaskan kemarahan dalam penyatuan mereka. Keesokan harinya saat bangun mendadak semua baik-baik saja. Pertengkaran semalam seolah tidak pernah ada artinya.


Sisi positifnya, mereka tidak akan bertengkar lagi. Tapi sisi negatifnya masalah-masalah kecil di antara mereka tidak akan terselesaikan dengan baik. Pembicaraan mereka tertunda. Luna khawatir jika di biarkan menjadi bumerang untuk mereka.


***


Pukul 17.00 Hendrawan house.


"Gimana? kamu mulai ingat sesuatu?."


Rachel menggeleng, Sempat tadi, Rachel merasa pusing. Potongan-potongan ingatan mulai muncul di kepalanya saat Rachel berada di ruang tengah lantai 1 dan kamarnya lantai 2. Kepalanya terasa pusing sekali, sama seperti yang dia rasakan saat di ruang gym rumah Farel waktu itu.


"Tadi saat aku mencoba menyusun potongan-potongan adegan di kepalaku, kepalaku jadi pusing. Saat aku menenangkan diri, rekam adegan di kepalaku justru hilang. Seberapa pun aku mencoba mengembalikan ingatan itu tetap saja aku tidak bisa mengingat."


Farel mengusap rambut Rachel, "Ga papa belum ingat. Yang penting kamu sudah berusaha. Ini juga sudah menunjukkan perkembangan yang baik. Pelan-pelan yang penting kamu bisa mengendalikan diri dan tidak menyakiti diri sendiri."


Rachel menganguk.


"Sayang, Papa buatkan susu dan cemilan."


Rachel dan Farel sama-sama menoleh ke sumber suara itu. Hendrawan tersenyum sambil membawakan segelas susu. sementara di belakang Hendrawan ada seorang pembantu yang membawakan nampak berisi cemilan."


"Terima kasih Pa."


"Sama-sama Sayang." Hendrawan tersenyum melihat Rachel menerima segelas susu buatannya.


"Saya nggak di buatin Om?." tanya Farel.


"Kenapa juga saya buatkan untuk kamu. Kamu saja bukan putraku," sinis Hendrawan.


"Saya ini calon menantu Om. Berarti saya juga akan jadi putra Om. Sudah seharusnya dong Om baik sama saya."


"Saya belum merestui kamu sama Rachel. Jangan kepedean kamu."


Farel menahan diri untuk tidak berdecih, Farel yakin jika Rachel tidak hilang ingatan, Rachel tidak akan mau datang ke rumah ini apalagi berbicara dengan Hendrawan. Rachel tidak akan peduli lagi pada Hendrawan. Termasuk meminta restu Hendrawan untuk pernikahannya.

__ADS_1


Meskipun begitu bagaimanapun juga Hendrawan adalah Ayah kandung Rachel. Memang sudah seharusnya Farel meminta restu pada Hendrawan. Dan Farel akan berusaha mendapatkan restu itu dari Hendrawan.


"Enak?."


"Enak Pa."


Saat Rachel meminum susu, Hendrawan memanfaatkan kesempatan itu untuk mengusap rambut Rachel. Momen seperti ini, seharusnya Hendrawan berikan pada Rachel saat Rachel berusia 7 tahun. Tapi saat itu Hendrawan sibuk dengan dunia nya sendiri. Sama sekali tidak mempedulikan putri kandungnya. Penyesalan selalu saja menyelubungi hatinya saat mengingat masa lalu. Membuat Hendrawan sedih dan tersiksa sekali.


Memang benar, sakit yang paling menyakitkan adalah penyesalan.


"Coba cemilan ini," Hendrawan mengambil satu kue kering yang ada di kotak kue di nampan. "Papa membuatkan ini saat kamu sedang jalan-jalan mengelilingi rumah tadi."


"Oh ya?."


"Iya selama 5 tahun ini, saat papa merindukan kamu dan mama kamu. Papa melakukan hal-hal yang biasanya kalian lakukan. Di rumah, mama kamu suka sekali membuat kue kering. Kue nya enak sekali. Papa menanyakan resep ini dari salah satu pembantu yang pernah bekerja di sini. Mungkin rasanya tidak seenaknya buatan mama kamu, tapi papa sudah berusaha."


"Euhmm enak," ucap Rachel setelah mencoba kue kering buatan papa nya. "Lumayan mirip buatan mama."


Seketika senyum Hendrawan mengembang.


"Aku mau coba dong, tega banget biarin calon suami ngang-ngong dari tadi," ucap Farel yang mendapat kemenangan dari Rachel.


Rachel menyuapkan kue kering pada Farel.


"B aja sih rasanya," Ucap Farel yang langsung mendapatkan pelototan dari Hendrawan.


"Farel, Pa. Aku mau coba sekali lagi ke lantai tiga. Tapi sendirian. Mungkin jika aku bisa lebih konsentrasi mengingat kembali."


"Yakin sendirian?." tanya Farel khawatir.


"Iya."


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2