Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 111


__ADS_3

"Maaf, Pa


Luna tak kuasa menahan tangis, menggenggam erat tangan papa nya, sembari terus berusaha menjelaskan.


"Bukan aku yang mengupload vidio papa dan mama. Ada orang yang membajak IG-ku. Aku log out sendiri sampai sekarang aku belum bisa log in lagi, Pa. Bukan aku. Aku berani bersumpah. Kalau Papa nggak percaya aku akan menunjukkan buktinya."


Dengan gugup dan tangan gemetar, Luna mencari ponselnya. Namun naas, ponselnya retak setelah dia banting kuat-kuat di lantai tadi. Seketika bahu nya merosot semakin ketakutan. Entah masih bisa berfungsi atau tidak.


"I-ini ponselku, aku aktifkan dulu, Pa."


"Kamu banting?."


"I-iya Pa. Soalnya tadi aku sangat marah dan nggak bisa mengendalikan emosi. Aku kaget dan benar-benar terkejut melihat vidio papa dan mama di upload si pembajak itu di IG-ku sendiri. A-aku..."


"Tapi bukan berarti kamu bisa membanting barang seenaknya, kan? Kamu pikir beli barang nggak pakai uang ! Papa orang kaya, orang tua Papa juga kaya. Tapi mereka selalu mengajarkan Papa untuk menjaga barang-barang. Kamu bisa-bisa punya kebiasaan buruk seperti ini! Saat marah Papa tidak pernah membanting-banting barang. Selama 20 tahun tinggal bersama Rachel, Papa juga tidak pernah melihat Rachel membanting barang. Tabiat kamu jelek sekali Luna!."


Dilara langsung menoleh dan memicingkan mata pada Hendrawan.


"Kenapa tiba-tiba kamu bawa orang lain dalam pembicaraan keluarga kita, Mas."


"Orang lain? Rachel putriku! Putri kandungku! aku hanya ingin Luna mencontoh Rachel. Memang apa salahnya mencontoh hal positif dari saudara kandungnya sendiri. Luna harus belajar banyak dari Rachel cara mengontrol emosi. Ck. Papa pikir kamu lebih dewasa, tapi ternyata Papa salah besar. Kamu jauh lebih kekanakan dan sumbu pendek. Sebelum bertindak itu mikir dulu apa akibatnya, Luna!"


Luna semakin tak kuasa menahan tangis. Sakit hatinya dengan kejadian bertubi-tubi yang menghancurkan karirnya tadi belum usai, sekarang ditambah lagi sakit hati omongan papanya yang sangat menusuk hati.


Tega sekali Papanya bandingkan dia dengan Rachel !


Sejak dulu Hendrawan memang suka membanding-bandingkannya dengan Rachel tapi dulu posisinya selalu di atas sedangkan Rachel di bawah. Tapi sekarang. Hendrawan seolah mengunggul-unggulkan Rachel dan menjelek-jelekkan dirinya.


Luna ingin membela diri, tapi air matanya tak mau berhenti sampai terisak-isak. Luna hanya bisa menangis dalam pelukan Dilara.


"Mas udah dong, cukup!. Luna lagi down, jangan kamu tambah-tambahi dengan sikap kamu ini. Sebagai ayah Seharusnya kamu menenangkan Putri kamu dulu, memeluknya dan mengatakan semua akan baik-baik saja meskipun sekarang kondisi kita sangat sulit."


Dilara sangat marah sekarang. Kesal sekesal-kesalnya karena Hendrawan membandingkan Luna dengan Rachel. Namun tidak ada gunanya marah.


Dilara mengenal sifat Hendrawan sejak kuliah. Semakin di bantah. Hendrawan akan semakin menjadi-jadi. Jadi hal terbaik untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan sabar dan tenang.

__ADS_1


"Mas Hendrawan," panggil Dilara dengan selembut mungkin.


"Luna sudah menjelaskan IG-nya di bajak, artinya memang ada orang iseng yang mencoba memfitnah Luna. Bukan hanya memfitnah tapi juga berusaha mengadu domba keluarga kita. Siapapun Di balik semua kekacauan itu, orang itu pasti punya tujuan jahat pada keluarga kita. Mereka ingin keluarga kita hancur."


Dilara melepaskan pelukannya dari Luna dan berdiri menghampiri Hendrawan.


"Mas," Dilara menggenggam tangan Hendrawan dan menatap lekat matanya.


"Jangan biarkan tujuan orang itu berhasil menghancurkan keluarga kita. Kita harus tetap bersatu apapun yang terjadi. Luna salah dan mengakui kesalahannya. Luna juga sudah minta maaf."


"Luna masih muda dan sedang dalam proses mendewasakan diri. Aku pastikan Luna tidak akan membuang-buang barang seperti itu lagi. Mulai sekarang aku akan membantu Luna melampiaskan kemarahannya dengan melakukan hal-hal positif."


Dilara mengusap lengan Hendrawan. Wajah Hendrawan sudah tak setegang tadi, urat-urat lehernya pun sudah tak menonjol lagi. Sepertinya Hendrawan sudah mulai tenang.


Dilara menarik Hendrawan dalam pelukan. Beginilah cara Dilara menaklukkan seorang laki-laki, meredam emosi nya dengan kelembutan.


"Sekarang yang harus Mas Hendrawan lakukan adalah mencari orang terpercaya untuk mentake down berita-berita itu. Terus cari pelakunya, firasatku mengatakan kalau Ayuma yang merekam video itu dan menyebarkannya. Aku nggak menuduh, tapi satu-satunya orang yang sering keluar masuk rumah kita adalah Ayuma dan Rachel."


Hendrawan mengacak rambutnya dengan kasar. Sial, untuk membangun portal-portal berita itu pasti membutuhkan yang tak sedikit, mungkin kurang lebih 1 M.


"Meskipun harus mengeluarkan banyak uang, tapi masa depan putri kita dan kamu juga, Mas."


"Ck, menyusahkan sekali!." Hendrawan mendengkus, lalu menatap pada Luna yang menunduk dan terisak-isak.


"Tapi papa sudah terlanjur kecewa sama kamu Luna. Papa ingin kamu pindah ke luar negeri."


Seketika itu Luna mendongak dengan mata melotot terkejut.


"Keluar negeri?. Aku nggak mau, pa. Aku ke luar negeri sama siapa? Aku nggak mau sendiri."


"Ini demi kebaikan kamu juga, Luna. Kamu berhenti saja di dunia hiburan dan fokus kuliah di kampus terbuka. Papa akan carikan kampus terbaik di luar negeri."


"Tapi Pa..."


"Tidak ada tapi-tapian. Keputusan Papa sudah bulat."

__ADS_1


Hendrawan menatap tajam Luna dan meninggalkan Apartement dengan tangan terkepal kuat. Tangis Luna kembali pecah dan memghamburkan diri memeluk mama nya.


***


"IIHHH YA AMPUN SYUKURIN," Siwi jingkrak-jingkrak melihat Breaking News di TV nasional yang memberitakan vidio syur mama artis muda pendatang baru Luna Rawnie dan konglomerat keturunan Tanoepramudya.


"Karma dibayar kontan, rasain kalian semua! Oh aku senang sekali. Berita ini juga pasti berimbas ke perusahaannya Pak Hendrawan. Semoga aja habis ini Pak Hendrawan meninggalkan Dilara dan Luna, terus kembali pada Bu Ayuma dan mengemis-ngemis cinta Bu Ayuma, tapi Bu Ayuma jangan mau, mending nikah sama laki-laki yang lebih kaya tampan dan mapan. Terus Pak Hendrawan semakin terpuruk perusahaannya bangkrut dan hidup sendiri sampai meninggal hahaha."


Ayuma yang duduk di sofa senyum-senyum sendiri melihat tingkah Siwi. Ayuma juga tidak menyangka hari ini akan tiba, hari semua orang tahu perselingkuhan Hendrawan dan Dilara. Meskipun Ayuma berharap mereka hancur, Ayuma tidak pernah berdoa agar mereka hancur, dia hanya berdoa untuk kebahagiaannya sendiri dan kebahagiaan putrinya.


Tapi Tuhan, punya cara sendiri untuk membalas mereka tanpa Ayuma perlu mengotori tangannya.


"Biar ini bisa jadi pelajaran buat wanita-wanita di luar sana yang berniat menjadi pelakor dan juga pelajaran buat suami model Pak Hendrawan yang mengkhianati istrinya demi pelakor. Hidup mereka tidak akan bahagia di atas penderitaan orang lain. Aku berdoa semoga Bu Ayuma dan Nona Rachel bahagia selalu."


"Amin Terima kasih doanya."


"Sama-sama Bu Ayuma."


Di tengah pembicaraan mereka tiba-tiba ponsel Ayuma berdering. Ternyata ada panggilan dari nomer baru.


"Halo, siapa?."


"Kenapa kamu blokir nomerku?."


Ayuma mengenyitkan alis, kemudian tersenyum miring saat mengenali suara itu.


"Mas Hendrawan, ada apa Mas?."


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2