Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 95


__ADS_3

Rachel menoleh pada Brandon sembari tersenyum, begitu juga Brandon yang tersenyum kepadanya.


"Oh, gitu yah." Anthony menganguk-anguk dan memperhatikan dengan sorot mata tajam dari atas sampai bawah seolah sedang menscan tubuhnya sampai ke dalam-dalam.


"Kamu tinggal di mana? umur kamu berapa? Masih kuliah? jurusan apa? nama orang tua kamu siapa? kenapa kamu pacaran sama Rachel? Tujuan kamu pacaran ap-?."


"Mas," Sarah menyenggol lengan suaminya, "Kenapa kamu malah jadi wawancara Brandon?."


"Aku ingin tahu aja pacar Rachel seperti apa? Rachel kan sudah seperti anak kita. Jadi aku harus tahu laki-laki yang dekat dengan Rachel, aku tidak ingin Rachel dekat dengan laki-laki yang salah. Tadi siapa nama kamu?."


"Brandon, Om."


"Saya ingin mengobrol banyak dengan kamu. Kamu suka kopi nggak? kita ngopi sebentar." tiba-tiba Anthony merangkul pundak Brandon dan mengajak nya ke samping rumah.


"Om pacar aku mau di bawa kemana?." teriak Rachel.


"Mas! Ya ampun kamu ini."


"Sebentar doang, Rachrl naik aja ke lantai atas ketemu Farel. Nggak aku apa-apaan kok pacar kamu. Om ngajak ngobrol doang."


Anthony dan Brandon tak terlihat lagi, sementara Sarah dan Rachel masih diam di tempat. Sarah sampai menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan suaminya.


Sejak Rachel kecil memang Anthony sangat menyanyangi nya, katanya Rachel imut dan lucu. Tapi ya nggak gini juga. Tingkat keprotektifan Anthony sudah melebihi Ayah kandung Rachel.


"Maaf ya, suami Tante emang kadang-kadang suka gitu kalau gila nya lagi kambuh."


Rachel tertawa, "Santai saja, Tante. Sekalian biar Brandon di ospek sama Om Anthony."


"Ya sudah kalau gitu kita langsung ketemu Farel aja ya


Nanti kalau Mas Anthony sudah selesai dengan Brandon, dia pasti mengajak Brandon naik ke lantai atas ketemu Farel. Brandon kenal Farel nggak?, biar sekalian nanti Brandon jenguk Farel?."


"Kayaknya kenal Tante, mereka sama-sama suka basket. Brandon dan Farel juga pernah bertemu di satu pertandingan."


"Oh rival ternyata. Tante kira mereka satu tim."


Sarah dan Rachel menaiki tangga sambil mengobrol ringan seputar kapan Rachel jadian dengan Brandon.


"Tante kaget banget waktu kamu bilang kamu jadian sama Brandon. Selama ini kamu nggak pernah terlihat dekat sama Brandon atau laki-laki manapun selain teman-teman kamu yang biasa ke sini. Tante malah mengira kamu jadian sama Dypta atau Rendy."


"Aku sama Brandon di jodohkan papa, Tante. Dan ya... Seiring berjalan nya waktu kaki saling menyukai."


"Saling menyukai?."Sarah menghentikan langkah dan menatap Rachel. "Kamu mencintai Brandon?."

__ADS_1


Rachel juga menghentikan langkah dan menatap sekilas Sarah lalu mengalihkan pandangan ke mana saja asal tidak menatap Sarah. Takut, Sarah bisa membaca ekspresinya.


"Tentu saja, aku mencintai Brandon, Tante."


Meskipun sampai sekarang, Rachel belum mencintai Brandon, bukan berarti dia mengatakan itu kepada semua orang. Biarlah semua orang tahu dia dan Brandon saling mencintai dan saling berbagi kasih dalam hubungan ini.


Siapa tau juga kan omongan yang selalu mengatakan dia dan Brandon saling mencintai bisa benar-benar terjadi? karena kata orang ucapan adalah doa. Rachel juga berharap bisa jatuh cinta pada Brandon sebagaimana Brandon mencintainya.


"Ya sudah, Tante hanya ingin bertanya itu. Selamat ya atas hubungan kamu dan Brandon. Akhirnya putri Tante yang satu ini nggak jomblo lagi."


Sarah tersenyum dan mengusap rambut Rachel. Tidak di pungkiri Sarah merasa sedih dan kehilangan. Mungkin ini terdengar egois dan sangat jahat, tapi Sarah berharap Farel putus dengan Luna lalu jadian dengan Rachel. Tapi sebagai orang tua Sarah hanya bisa mengarahkan dan mendukung keputusan Farel tanpa ikut campur lebih jauh.


"Iya, Tante."


Kedua orang tua Brandon sangat baik, namun seandainya bisa memilih Rachel juga ingin memiliki mertua seperti Sarah dan Anthony. Selain sudah akrab dari kecil mereka juga sangat perhatian dan menganggapnya sebagai anak sendiri. Namun mau bagaimana lagi jika takdirnya seperti ini. Rachel hanya bisa berdoa semoga silaturahmi mereka tetap terjalin dengan baik.


Sesampainya nya di kamar Farel, Sarah langsung membuka pintu.


"Farel."


"Iya, Mama." gumam Farel yang sedang tiduran miring, memeluk gulung sambil berselimutan sampai sebatas leher.


Sarah berjalan mendekat, mengulurkan tangan dan menyentuh dahi Farel yang ternyata masih panas.


"Iya, Sayang. Kenapa? Mau sesuatu?."


"Mau Rachel, Mama."


Sarah tersenyum dan menoleh ke arah Rachel yang juga ikut tersenyum. Rasanya Rachel ingin menggaplok punggung Farel dan mengatakan dia di sini.


"Hadap sini, liat siapa yang datang?."


Perlahan Farel berbalik badan sambil menahan sakit luka-luka di lengan bagian kanan.


"Hati-hati," Rachel duduk di tepi kasur dan membantu Farel berbaring dengan nyaman.


Mendengar suara itu, mata Farel yang terpejam langsung membuka.


"RACHEL."


Farel langsung duduk dan menatap Rachel dengan mata berbinar, seolah baru melihat Putri kerajaan mendatanginya.


Sarah tersenyum geli melihat ekspresi putranya, "Ya udah kalian bicara dulu ya, Mama keluar sebentar mau siapin makan malam. Nanti Rachel sama Brandon makan di sini ya?."

__ADS_1


"Iya, Tante."


Setelah Sarah pergi dan pintu tertutup, Rachel mengalihkan perhatian pada Farel.


"Kemarin kan gue udah bilang istirahat aja, tapi tetap maksa datang ke rumah gue. Lihat kan akibat nya. Jadi drop gini."


"Sebenarnya gue juga nggak selamat ini. Dulu waktu SMA, gue pernah kecelakaan dan lukanya mirip seperti sekarang, gue langsung main basket dan malah jadi sembuh. Mungkin gue main basket sekarang, gue juga sembuh."


"Baru juga di bilangin suruh istirahat malah mau main basket, jadi orang pinter banget sih!." Rachel menjewer kuping Farel dengan gemas.


Farel tertawa.


"Ketawa? bisa ketawa sekarang? Tadi aja tepar kayak orang nggak makan tujuh hari tujuh malam."


Farel tertawa semakin kencang.


"Aneh banget lo, Rel. Di jewer malah ketawa-tawa."


Rachel melepas tangannya dari kuping Farel yang agak memerah. Tapi anehnya Farel sama sekali tidak merasa kesakitan justru terlihat sangat senang. Rachel jadi curiga ada yang nggak beres dengan otak Farel.


"Tadi kalau nggak salah Mama bilang lo dateng sama Brandon?."


"Eh...I-iya, gue sama Brandon." Rachel menjeda kalimatnya, lalu menarik nafas dalam-dalam, "Lo belum tahu kan? gue sama Brandin... Kita sudah jadian."


Farel sudah mendengar itu kemarin malam di rumah Rachel, tapi mendengar langsung dari bibir Rachel rasanya berkali-kali lipat lebih sakit.


"Kapan?." tanyanya pura-pura tidak tahu.


"Kemarin."


Hening sesaat.


"Lo cinta sama Brandon?." Farel diam-diam mencengkram selimut untuk menyalurkan kegundahan hatinya sekarang. Rasanya Farel tidak sanggup menanyakan ini, tapi Farel juga penasaran dengan jawaban Rachel.


"Hm, gue cinta sama dia."


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2