
Sekarang dia bisa saja melawan. Cukup menentang tongkat kruk Hendrawan dan Hendrawan akan jatuh dengan sendirinya. Tapi Edgar tidak sepengecut itu melawan orang lemah.
"Apa-apaan kamu ini. Lepaskan!." Wisnu menarik tangan Hendrawan dari kerah Edgar.
"Ck, kamu tuh yah," Sebastian menjewer kuping Hendrawan. "Udah lemah gini aja masih aja berulah. Kamu di sentil sedikit saja sama Edgar bisa langsung jatuh Hendrawan."
Hendrawan melepas cengkraman tangannya dari kerah Edgar lalu menangkis tangan Sebastian yang masih menjewer kupingnya Hendrawan kesal, karena Sebastian sering memperlakukannya seperti anak kecil. Iya Hendrawan juga sadar sekarang kondisinya sedang lemah jelas tidak akan mampu melawan Edgar. Tapi demi Ayuma Hendrawan akan melawan siapapun yang bahkan jauh lebih kuat darinya.
Hendrawan memicingkan mata pada Edgar.
"Saya tidak akan menyerah saya akan memperjuangkan Ayuma sampai Ayuma mau kembali pada saya."
Tanpa menunggu jawaban Edgar, Hendrawan langsung masuk ke dalam rumah berniat mencari Ayuma dan berbicara empat mata. Hendrawan adalah cinta pertama Ayuma Hendrawan yakin Ayuma masih mencintainya, cukup mengingatkan Ayuma pada kenangan masa lalu Hendrawan yakin Ayuma akan luluh padanya.
Tapi di ingat-ingat lagi, Hendrawan tidak memiliki kenangan indah bersama Ayuma, satu-satunya kenangan yang Hendrawan torehkan adalah kenangan pahit. Terserah intinya Hendrawan akan terus berjuang untuk Ayuma.
***
"Yakin mau pindah?."
Rachel terkekeh. Sepanjang pagi tadi, saat Rachel mengemasi barang-barang sampai selesai memasukkan ke dalam koper, tak terhitung berapa kali Farel menanyakan kalimat itu.
Farel juga merengek dan bergelanyut manja di lengannya. Lucu sekali melihat Farel yang setinggi dan segagah itu bermanja-manja di lengan kecil Rachel.
"Iya, Farel. Mama sama Papa sudah kembali. Tentu saja aku ingin tinggal bersama mereka."
"Tapi nanti kita akan menikah. Kamu akan pindah lagi bersamaku. Kenapa nggak sekalian aja kita pindah ke rumah baru kita."
"Memangnya udah ada?."
"Belum sih, kamu tinggal pilih aja mau tinggal di mana. Aku sudah memiliki tabungan, tapi aku sengaja menunggu kamu pulang dan memilih rumah sesuai dengan selera kamu."
"Serius?."
"Iya, Rachel. Aku sudah mapan. Siap menikahi kamu lahir dan batin."
Rachel tertawa.
"Jangan tertawa, aku serius, Sayang." Farel mengecup rambut Rachel dengan lembut.
Perlahan tawa Rachel berhenti dan menatap lekat Farel.
"Tapi gimana kalau ingatanku belum pulih?."
"Tidak masalah. Sudah aku katakan kan, aku akan membuat kamu jatuh cinta lagi."
__ADS_1
Rachel tersenyum, memutus kontak mata dan lanjut mengemasi sisa barang yang belum selesai.
"Terus gimana sekarang? Apa kamu sudah mulai jatuh cinta padaku? Bukan sebagai Farel yang dulu, tapi sebagai Farel yang sekarang yang baru pertama kali bertemu dengan Farel," Farel yang duduk di tepi kasur terus memperhatikan Rachel yang masih lanjut mengemasi beberapa barang.
Rachel tidak menjawab, karena dia sendiri juga bingung harus menjawab apa.
"Rachel..."
"Apa?."
"Do you love me?."
"Kita baru sekitar tiga hari bertemu Farel, please beri aku waktu."
"Oke, sorry kalau terlalu memaksa."
"Nggak kok."
Selesai berkemas-kemas mereka turun ke lantai satu. Kebetulan rumah ini berlantai 3 dan ada lift, mereka memutuskan untuk naik lift saja karena membawa koper juga.
"Sini aku saja," Rachel ingin mengambil koper dari tangan Farel, merasa tak enak Farel harus membawa dua koper bersamaan.
"Nggak usah, sudah seharusnya kan suami yang membawakan barang-barang istrinya," Farel mengedipkan mata, "Rachel, istriku nggak boleh merasa kerepotan selama ada aku suaminya di sampingnya."
"Aku akan terus mengatakan aku dan kamu adalah suami istri kenapa? karena ucapan adalah doa, Rachel. Aamiinin dong!."
Rachel tersenyum, "Aammiinin nggak ya?."
Farel berdecih dan mendorong gemas bahu Rachel.
Pintu lift terbuka, mereka bersamaan keluar dari lift. Begitu sampai di ruang tengah, Anthony, Sarah, Rani, Rana dan Reza sedang duduk di sofa menunggu mereka.
"Rachel," Reza langsung berdiri dan menghampiri Rachel, "Rachel mau pulang sekarang?."
"Iya, Reza."
Rachel tersenyum dan memandang remaja berusia 17 tahun yang tinggi sekali ini. Selain karena gen tinggi Anthony, Reza bisa setinggi ini berkat susu dan vitamin yang dia konsumsi. Rana dan Rani juga mengkonsumsi susu dan vitamin juga, tapi tetap saja mereka tidak setinggi Reza. Rani lumayan tinggi, tapi Rana lebih pendek dan mungil seperti Sarah. Meskipun mungil, Rana yang paling hiperaktif diantara kedua saudara kembarnya.
"Yah aku baru saja mulai PDKT, kita udah LDR lagi." Reza mengerucutkan bibir dengan dramatis.
"Apaan sih lebay banget kamu," cibir Farel. Padahal beberapa menit yang lalu Farel lebih lebat saat menahan kepergian Rachel dari rumah ini.
"Reza, kayaknya kata LDR nggak cocok deh. Aku masih stay di jakarta. Cuma pindah rumah mamah aja. Kalau mau main, boleh-boleh aja kok."
"Ya tetap jauh Rachel. Aku mau nya kita dekat," Reza merentangkan tangan ingin memeluk Rachel. Farel tidak membiarkan itu dan langsung memeluk adiknya.
__ADS_1
"Sini pelukan sama Abang aja."
"Apaan sih Bang!."
Sarah dan Rani terkekeh melihat kelakuan Reza dan Farel, terlihat lucu di mata mereka. Sementara Anthony dan Rana menatap mereka dengan tatapan mencibir, sungguh tingkah yang menyebalkan.
Rachel menghampiri mereka dan berpamitan pulang.."Terima kasih Om, Tante. Sudah mengizinkan saya menginap di sini. Saya senang sekali menghabiskan waktu bersama kalian. Rani, Rana dan Reza kalau kalian punya waktu luang di sela sekolah. Kita harus main bareng."
"Siap kakak." Jawab Rani dan Rana bersamaan.
Sarah berdiri dan memeluk Rachel.
"Kita yang harusnya bilang terima kasih. Terima kasih sudah mau menginap di sini dan membawa keceriaan untuk kamu. Dari dulu sampai sekarang kamu tidak pernah berubah, kamu selalu membawa kebahagiaan untuk orang lain. Tapi... jangan lupa kebahagiaan diri kamu sendiri."
"Mama dulu juga gitu kok, mama selalu memikirkan kebahagiaan orang lain, terutama kebahagiaan Ayah." ucap Farel sambil melirik Anthony. Anthony berdecih tapi terkekeh juga.
Anthony beranjak dari kursi dan berdiri di depan Rachel.
"Ingat rumah ini akan selalu jadi rumah kamu. Kapanpun kamu ingin datang ke sini, datang saja."
Demi apapun, rasanya Farel ingin mencium Ayahnya sekarang. Meskipun sering bertengkar dan berselisih paham, untuk yang kali ini Farel sangat bangga pada Ayah Anthony.
"Iya, Om terima kasih," ucapan Rachel singkat karena tidak tahu lagi harus mengatakan apa saking terharunya sekarang.
Setelah berpamitan pada semua orang, Rachel masuk ke dalam mobil bersama Farel. Farel akan mengantarkan Rachel pulang. Kebetulan hari ini hari minggu jadi Farel bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama Rachel.
"Oh yah Rel, mama bilang hari ini mama pergi ke rumah Oppa. Aku mau ke sana dong. Tapi sama kamu yah."
"Kenapa sama aku?."
"Ya pokoknya sama kamu."
Farel tersenyum, "Udah terlanjur nyaman ya, makanya nggak mau jauh-jauh."
"Ya soalnya Bastian, Rendy sama Dypta sibuk."
Malam tadi Bastian memasukkan nya ke grup Wa mereka berempat. Semalaman Rachel chattingan dengan mereka, mereka mengatakan pagi ini ada kegiatan masing-masing . Bastian sibuk dengan urusan kantor, Dypta ada proyek baru desain rumah karena sekarang Dypta menjadi seorang arsitek, sedangkan Rendy katanya mau ke luar kota. Sementara Farel mengatakan dia tidak sibuk apa-apa.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1