Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Bab 200


__ADS_3

"DASAR ANAK DURHAKA."


Begitu sampai di rumah Ardito langsung berteriak marah-marah melampiaskan kekesalannya. Ardito tidak habis pikir dengan Brandon yang berani membenatak nya demi seorang wanita. Ardito tidak mengenali putranya sendiri saat sedang marah.


"Apa hebatnya Luna sampai Brandon sebegitu membela dia."


"Ada apa sih, Mas. Kenapa marah-marah?."


Ardito menoleh mendengar suara istrinya, "ARRG," Seketika dia menceritakan saat melihat sosok perempuan dengan wajah merah mendekat.


"Ada apa sih, Mas?."


"Kamu siapa?." Ardito mundur saat perempuan itu mendekat.


"Ap-apaan sih, Mas. Aku Amora istri kamu. Kenapa kamu kelihatan ketakutan begitu?."


"Amora?." Ardito berdecak, "Kamu lagi pakai masker baru atau apa sih kenapa wajah kamu merah begitu?."


"Aku nggak pake masker apa-apa."


Amora memutuskan kembali ke kamarnya, sementara Ardito duduk di sofa ruang tengah. Lalu tiba-tiba...


"Aaargh."


Ardito tersentak mendengar teriakan keras dari istrinya.


"Ada apa?." tanya Ardito begitu sampai di kamar Amora.


"Kenapa wajahku jadi seperti ini Mas?." Amora nyaris pingsan melihat wajahnya di cermin. Seluruh wajahnya memerah, ada juga bintik-bintik berwarna gelap. Rasanya gatal mulai terasa lagi. Bercampur dengan rasa panas yang membuat Amora ingin sekali menggaruk wajahnya.


"Ya aku mana tau. Memangnya kamu baru melakukan apa sampai wajah kamu semerah itu?."


"Tadi sepulang dari rumah sakit kan aku melakukan perawatan di klinik kecantikan biasanya, Mas. Biasanya juga nggak pernah merah-merah begini. Duh gimana ini, Mas? Wajahku gatal dan panas sekali. Biasanya setelah perawatan wajahku glowing, tapi entah kenapa kali ini jadi merah-merah."


Amora mendekat pada Ardito tapi tiba-tiba Ardito mundur. Seketika membuat Amora melotot.


"Kamu menghindari aku Mas? Kamu pikir merah-merah di wajahku ini penyakit menular sampai kamu nggak mau dekat-dekat sama aku?."


"Ya, aku cuma jaga-jaga aja. Siapa tahu kan memang penyakit menular."


"Mas!." Amora berkaca-kaca, "Kamu keterlaluan sekali, aku istri kamu. Seharusnya dalam kondisi seperti ini kamu mendukungku bukan malah menjauhiku."


"Kenapa kamu malah marah-marah?." kesal Ardito, lalu mengambil dompet di saku, mengeluarkan kartu kredit dan meletakkan di meja. "Periksa saja ke dokter. Nggak usah banyak drama. Aku sibuk, nggak bisa mengantar kamu. Kamu minta anterin sopir saja."


"Mas tunggu," Amora mengejar Ardito dan menahan lengannya.


"Lepas!." Ardito menangkis tangan Amora, lalu mundur beberapa langkah. "Aku bilang jaga jarak kita belum tahu Apa penyakit Kamu sebenarnya. Bagaimana kalau kamu mengidap penyakit menular. Bisa-bisa aku ketularan. Kalau aku sakit siapa yang akan kerja? siapa yang akan mengurus perusahaanku?."


Air mata Amora mengalir. Tidak menyangka suaminya setega ini.


"Sudah jangan menangis dan merasa tersakiti begitu. Apa sih susahnya pergi ke dokter sendiri. Luna juga bisa mengurus apa-apa sendiri saat Brandon sibuk. Masa kamu yang lebih tua dan lebih berpengalaman apa-apa harus sama aku."


"Kenapa kamu jadi bandingin aku sama Luna, Mas?."


"Aku bukan bandingin aku bicara fakta sudahlah aku malas berdebat, aku sibuk kamu pergi sendiri saja."


Ardito menatap wajah Amora seolah menatap sesuatu yang menjijikan, lalu pergi begitu saja meninggalkan amarah masih diam di tempat dengan air mata tak berhenti mengalir. Sekian puluh tahun berumah tangga. Ini pertama kalinya Ardito bersikap sesuai kini padanya.


Sejak awal Amora tahu Ardito itu menikahinya karena wajah dan bodinya. Tapi tidak menyangka sikap Ardito itu akan berubah sedingin ini saat Amora sudah tidak cantik lagi. Karena itulah Amora tidak ingin hamil meskipun Ardito itu menginginkan anak darinya. Diam-diam Amora memasang IUD agar tidak hamil. Karena saat dia hamil pasti badannya jadi jelek.


"Keterlaluan sekali kamu Mas."


Di tengah-tengah tangisnya, Amora jadi bertanya-tanya. Apa ini yang Luna rasakan saat Brandon mengabaikan nya.


***

__ADS_1


Pagi hari, 08.00


"Suster, saya titip istri dan anak saya sebentar yah. Saya harus pergi ke kantor. Ada rapat penting yang tidak bisa saya handle dari sini. Saya sudah meminta orang tua saya ke sini tapi mereka tidak bisa di hubungi."


Brandon tidak tahu Amora sakit apa. Amora hanya mengatakan sedang sakit dan tidak bisa menjenguk Luna. Sementara papa nya, setelah pertengkaran mereka kemarin, Brandon tidak bisa menghubungi nya. Sepertinya papa nya sedang marah.


Brandon tahu pertengkaran kemarin bukan sepenuhnya salahnya tapi Brandon akan tetap minta maaf pada Papanya saat ada waktu luang nanti. Brandon tidak ingin punya masalah dengan papanya apalagi beliau adalah orang tuanya.


"Ya saya akan menjaga istri dan anak kamu."


"Terima kasih."


Brandon mengalihkan pandangannya pada putranya.


"Sayang, Papa pergi sebentar ya. Kevin jangan nakal jangan keluar dari ruangan ini sampai jumpa datang. Kalau Kevin mau pipis jangan pipis sembarangan, pipis di kamar mandi minta bantuan suster."


"Kevin bisa pipis sendiri." Kevin mengerucutkan bibir. "Kevin juga bukan anak kecil yang suka pipis sembarangan."


"Tapi kamu memang masih kecil, sayang. Astaga lucu banget sih, jadi nggak mau pisah," Brandon menunduk dan mencium pipi putranya.


"Pokonya Kevin nggak boleh kemana-mana. Kevin harus hati-hati."


"Iya Papa. Papa semangat kerja ya yah. Semoga kerjaan papa di kantor cepat selesai, terus papa cepat ke sini lagi."


"Pintar nya anak papa," Brandon tersenyum dan mengusap rambut putranya. Senang sekali dengan sifat putranya sangat pengertian. Dari kemarin Kevin tidak rewel. Hanya sesekali menangis saat berharap mama nya cepat sembuh. Selebihnya Kevin penurut.


Setelah kepergian Brandon, Di ruangan itu hanya ada Kevin, Luna dan suster. Dalam ruangan itu Kevin diam saja dengan pandangan mata tertuju pada Luna. Tangan kecilnya terus mengusap tangan Luna sementara hatinya tak henti memanjatkan doa untuk kesembuhan mamanya.


"Suster."


"Iya?."


"Gimana caranya biar mama cepat sembuh?; Kevin akan melakukan apapun biar mama buka mata lagi. Kevin kangen mau main sama mama. Kangen makan masakan mama," Kevin berkaca-kaca.


"Mama pasti akan segera sadar, Kevin berdoa saja ya."


"Kevin selalu berdoa setiap saat untuk Mama."


Suster itu menggangguk lalu menatap Luna lagi, air mata mulai membayang di pelupuk matanya. Seandainya di sini hanya ada mereka berdua Dilara akan menangisi jadi-jadinya sambil memeluk Luna.


'Sayang, anak kamu pintar sekali. Mama bangga sekali dengan kamu yang sudah membesarkan cucu Mama sehebat ini.'


Dilara sangat menyesal sekarang, seandainya dia datang lebih awal menjemput putrinya dan membawanya pergi semua ini pasti tidak akan terjadi, Luna pasti masih sehat dan bisa tersenyum. Tapi sekarang Luna terbaring lemah dan tidak tahu kapan akan sadar.


'Kamu tenang saja, sayang. Mama akan membalaskan dendam kamu pada semua orang yang sudah menyakiti kamu sampai tak tersisa.'


***


Tiga hari kemudian.


"Kenapa lukaku semakin parah?." Amora menatap wajahnya di pantulan cermin sudah 3 hari ini dia hanya diam di rumah saat keluar rumah pun dia hanya pergi ke dokter.


Terhitung sudah 5 dokter yang dia datangi. Sudah puluhan obat yang masuk ke dalam tubuhnya puluhan juga kering dari dokter yang dia oleskan ke wajah namun bukannya sembuh justru semakin parah bahkan wajahnya seperti terbakar.


"Gimana ini aku harus melakukan apalagi supaya wajahku bisa kembali seperti dulu."


Amora tak kuasa menahan tangis, sekarang dia benar-benar terpuruk dan membutuhkan dukungan tapi suaminya justru tidak pulang selama 3 hari ini. Ardito bilang hanya akan pulang setelah Amora sembuh sementara Brandon hanya menjawabnya sekali selebihnya dia sibuk menjaga Luna di rumah sakit karena belum sadar sampai sekarang.


Teman-teman dekat Amora juga menjauhinya setelah Amora memberitahu kondisinya. Amora benar-benar sendiri sekarang Dia tidak punya siapa-siapa lagi.


Semakin ke sini Amora merasa hidupnya semakin mirip dengan Luna. Dibenci dan diabaikan suami, tidak punya orang tua, tidak punya teman. Hanya satu perbedaan antara mereka Luna masih memiliki Kevin yang tidak akan pernah meninggalkannya sedangkan Amora tidak punya anak.


"Seandainya dulu aku program hamil pasti sekarang aku memiliki seorang anak kandung."


Sepi semuanya. Sendiri itulah hidup Amora rasakan sekarang.

__ADS_1


Mungkin jika wajahnya sembuh semua orang mau dekat dengannya lagi tapi kapan-kapan wajahnya akan sembuh?.


Di tengah kegalauan Amora tiba-tiba ponselnya berdering Amora mengusap air matanya dan mengambil ponsel ternyata ada chat dari salah satu temannya.


[Lihat nih kelakuan suaminya yang lu bangga-banggakan selama ini. Dia selingkuh di belakang lo, gue dengar pembicaraan mereka. Mereka akan menginap di apartemen suamimu. Makanya jangan jadi orang sombong dan belagu. Dulu kamu sering menghina aku, kamu bilang nggak cocok bergaul sama geng kamu lah, dan masih banyak hinaan lain. Sekarang kamu bisa merasakan sendiri gimana rasanya hidup di bawah dan dihina orang lain. Selamat menikmati karmamu Amora.]


Amora mengepalka tangan setelah membaca pesan itu.


Tanpa menunggu lama, Amora langsung memakai masker dan keluar rumah masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil meninggalkan rumah dengan kecepatan tinggi. Tujuannya adalah apartement suaminya yang tak jauh dari alamat bar yang dikirimkan teman Amora tadi.


"Kalau kamu sampai selingkuh di belakangku. Aku tidak akan pernah memaafkan kamu, Mas."


Amora mencengkeram kuat setir mobil, jika sampai Amora diselingkuhi hidup Amora akan lebih mengenaskan daripada Luna. Meskipun selama ini Brandon mengabaikannya, Brandon tetap setia dan hanya berhubungan intim dengan Luna.


"Aarrrgg, kenapa hidupku lebih sial daripada Luna!."


Sesampainya di gedung apartemen. Amora langsung naik ke lift dan menekan lantai 30, lantai keberadaa unit apartemen suaminya.


Setelah sampai di depan apartemen. Amora langsung memasukkan kode. Begitu pintu terbuka Amora langsung di suguhkan dengan pemandangan yang membuat hati Amora hancur.


"Aarrgg," Seketika perempuan telanjang yang duduk di pangkuan Ardito menjerit kaget.


Ardito menoleh dan mengumpat pada Amora.


"Keluar kamu!." perintah Amora pada perempuan itu.


"Tetap di sini. Aku membayar kamu untuk semalaman." perintah Ardito.


Perempuan sewaan itu tampak bingung.


"AKU BILANG KELUAR!." Amora melepas masker nya agar perempuan itu takut. Benar saja perempuan itu menjerit, memakai baju dengan terburu-buru dan segera keluar dari apartemen.


Ardito mengumpat lagi dan memakai celana nya. Padahal dia sedang tegang-tegang tapi Amora mengganggunya.


"Istri kamu sedang sakit dan ini yang kamu lakukan di luar? Kamu keterlaluan Mas. Kamu tidak menghargaiku sebagai istri."


"Kalau kamu becus melakukan tugas kamu sebagai seorang istri. Aku juga tidak akan mencari di luar."


"Kau masih bisa melayani kamu."


"Dengan wajah kamu itu. Aku sudah enek duluan."


Ardito ingin pergi, Amora buru-buru menahan lengannya.


"Aku belum selesai bicara, Mas."


"Jangan sentuh aku." Ardito menangkis tangan Amora dengan kuat, Amora terhuyung ke samping. Untung saja Amora masih bisa menyeimbangkan bobot tubuhnya sehingga dia tidak jatuh.


Ardito menatap tajam Amora, "Aku sudah tidak membutuhkan kamu lagi. Aku bisa mencari perempuan yang lebih cantik daripada kamu. Aku hanya minta kamu untuk menjaga wajah dan tubuh kamu maka aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan, tetapi kamu gagal dan tidak ada yang lagi yang bisa aku manfaatkan dari kamu. Kamu juga tidak bisa punya anak."


Ardito berdecih, "Kamu sudah tidak berharga lagi. Aku tidak membutuhkan kamu lagi, Amora. Aku akan mencari perempuan yang lebih cantik dan seksi daripada kamu. Kembali sana! ke tempat asal kamu. Dasar pelacur. Kita cerai saja. Aku akan mengurus perceraian kita."


Ardito berbalik badan dan berjalan melangkah menuju ke pintu. Amora mengepalkan tangan dengan kemarahan membara di dada. Amora sudah dikuasai kemarahan dan tidak bisa mengendalikan diri. Dia mengambil vas bunga besar di dekat kursi lalu ...


Bruuk...


Amora menganyunkan vas bunga itu ke kepala Ardito.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2