Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 115


__ADS_3

"Semua dokumen kamu sudah selesai."


Ayuma membuka amplop coklat berisi semua dokumentasi mulai dari Ktp, passport, dan lain-lain. Ada juga beberapa surat milik Rachel, tapi untung saja Rachel lebih banyak menyimpan dokumen-dokumennya di Apartement misalnya ijazah, KTM Kampus dan lain-lain sehingga tidak perlu membuat ulang.


"Terima kasih saya tidak menyangka kamu bisa menyelesaikan berkas-berkas yang di dalam waktu secepat ini kamu bener-bener hebat."


"Orang yang sering meremehkan saya juga bilang begitu setelah saya berhasil menyelesaikan pekerjaan dalam waktu yang cepat."


Ayuma membulatkan mata, "Saya tidak pernah meremehkan anda."


"Oh ya ?."


Ayuma berdehem, "Bukan meremehkan tapi saya terkejut saja laki-laki semuda kamu sudah memiliki jaringan yang luas. Kamu bahkan bisa menyelesaikan berkas-berkas penting ide yang berkaitan dengan pemerintah. Maaf jika kamu merasa diremehkan Demi Tuhan saya tidak pernah meremehkan kamu. Apalagi kamu teman Sarah dan saya sangat mempercayai Sarah."


Edgar masih diam dan menatapnya dengan sorot mata dingin, Ditambah lagi dengan ekspresi datangnya membuat Ayuma menerka-nerka apa yang kira-kira Edgar pikirkan sekarang. Apa dia marah atau ekspresinya memang seperti itu?.


Oh astaga , Ayuma benar-benar tidak paham dengan laki-laki ini. Tapi sepertinya Edgar memang sedang kesal.


"Ehem begini, Bagaimana kalau siang ini saya traktir makan. Saya tahu ada restoran yang bagus dan makanannya juga sangat enak. Dulu saya sering ke sana tapi belakangan ini karena sibuk, saya belum sempat ke sana lagi, bagaimana? Mau kan?."


Ayuma merasa tak enak dengan Sarah jika dia sampai meninggalkan kesan yang buruk setelah bekerja dengan Edgar.


"Satu jam. Saya hanya punya waktu luang satu jam."


Ayuma tersenyum lebar.


"Oke, kamu tidak akan kecewa dengan pilihanku. Ayo!."


Mereka pun keluar dari gedung perusahaan. Perusahaan ini milik Matthew, tapi karena sudah berumur dan tidak bisa mengurus perusahaan lagi, Matthew mengangkat Edgar menjadi Ceo. Di luar dugaan, perusahaan berkembang pesat di bawah kendali Edgar. Dulu gedung ini hanya terdiri 10 lantai sekarang 20 lantai.


"Pakai mobil saya saja."


Edgar berbelok menuju ke mobilnya, Ayuma buru-buru mengikuti dari belakang.


"Astaga ini orang jalannya cepet banget sih!."


Dan tiba-tiba Edgar berhenti berjalan.


Dug,


"Eh," Ayuma tersentak saat tanpa sengaja darinya menabrak punggung Edgar.


Edgar langsung berbalik badan sehingga jarak mereka begitu dekat, Ayuma melotot dan reflek mundur namun langkahnya goyah. Hampir saja terjerembak ke belakang, namun sebuah tangan kekar menahan pinggangnya. Edgar menarik Ayuma agar tegak kembali, namun tarikannya terlalu kuat sehingga tubuh Ayuma menabrak dada bidangnya.

__ADS_1


"Eh," Ayuma melotot untuk kedua kalinya. Begitu juga Edgar tampak terkejut.


Sepersekian detik mata mereka saling bertemu, dalam. Kemudian Edgar melepaskan pelukannya di pinggang Ayuma. Ayuma pun langsung mundur mengambil jarak.


"Maaf."


"Sorry."


Ucap mereka bersamaan dengan pandangan mata kembali bertemu. Ayuma mengerjab mata dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Edgar berdehem, "Ini mobil saya, silahkan masuk. Untuk lokasi restaurant, arahkan saja saya, biar saya yang menyetir."


"Iya,"


Edgar masuk ke dalam mobil diikuti Ayuma. Setelah memasang seatbelt, Edgar pun melajukan mobil meninggalkan bassment parkiran.


***


Pukul 12.30 siang, Rachel sampai di kampus. Pelatihan Brandon belum selesai tapi karena Rachel ada kuliah. Rachel harus ke kampus. Apalagi mata kuliah ini 4 SKS ditambah lagi dosennya dosen killer dan Rachel harus presentasi. Jika tidak bisa-bisa nilainya D.


"Farel," begitu turun dari taksi, tanpa sengaja Rachel melihat orang berjalan tak jauh darinya.


Rachel buru-buru membayar ongkos pada sopir taksi. Dan bergegas berlari secepat mungkin.


"Eh, Kenapa aku lari ? Ah nggak tau lah. Lari aja pokoknya," Heran Rachel pada diri nya sendiri.


Wulan melambaikan tangan dari kejauhan Namun Rachel Abai dan tetap berlari.


"Kenapa sih itu anak?." heran Wulan.


Rachel terus berlari hingga sampai di gedung fakultasnya. Kelasnya ada di lantai 3. Tapi Rachel tak langsung naik, melainkan duduk sebentar di bangku yang ada di pinggir tembok gedung fakultas untuk mengatur nafasnya yang terengah.


"Ya ampun, aneh. Kenapa aku lari?."


Rachel mengibas-ngisbaskan wajahnya yang berkeringat.


"Minum dulu biar capeknya hilang."


"Makasih," Rachel menerima air mineral itu, namun begitu menyadari pemilik suara itu Rachel mengangkat pandangan dan melotot lebar.


"FAREL!."


Farel terkekeh, "Nggak usah lari-lari gitu. Mau lo lari sejauh apapun dan sekencang apa. Kalau kita jodoh, kita pasti bertemu lagi. Lo tau Hel... Hati tau dimana tempatnya berpulang."

__ADS_1


Farel berdiri di depan Rachel, agak menunduk sehingga wajahnya sejajar dengan wajah Rachel. Sontak saja Rachel membulatkan mata terkejut.


"Lo ada kuliah kan? Gue juga. Sekarang gue tambah semangat kuliah. Biar cepat lulus, biar cepat nikahin lo."


Farel tersenyum dan mengacak rambut Rachel, lalu menegakkan badan berjalan termundur sembari mengedipkan mata. Kemudian berbalik dan berlari.


"Aaishhh anak itu benar-benar..." Rachel merapihkan rambutnya yang acak-acakan gara-gara Farel tadinya "Nyebelin banget sih, kok aku bisa suka sama cowok modelan kayak Farel. Udah jail, nggak peka, suka rusuh, iissh."


Rachel mendengkus kesal, tapi perlahan seulas senyum terbit di wajah cantiknya.


"Aneh dasar cowok aneh!."


Masih dengan senyum menghiasi wajah nya, Rachel bergegas menuju ke kelas.


"Rachel,"


Baru tiga langkah berjalan, Rachel kembali menghentikan langkah saat mendengar suara yang terdengar tidak asing di telingannya.


Rachel berbalik badan dan terkejut melihat sosok perempuan memakai baju serba tertutup, memakai masker wajah dan topi. Begitu masker di buka, ternyata ..


"Ta..tante Dilara?."


"Bisa bicara sebentar, Rachel!."


"Bicara apa Tante. Maaf, saya tidak bisa lama-lama. Lima belas menit lagi saya ada kelas."


"Lima belas menit sudah cukup."


Dilara merogoh ke dalam tas dan mengeluarkan sebuah amplop kecil. Rachel menerima amplop berwarna pink itu. Apa isinya tapi terlihat sangat tipis.


"Luna memberikan itu untuk kamu Katanya itu surat perpisahan sebelum dia pergi besok. Luna akan pergi ke luar negeri, tepatnya ke LA."


Seketika Rachel membulatkan mata.


"Surat perpisahan? keluar negeri? kenapa tiba-tiba?."


Dilara tersenyum kecut, "Papa kamu yang mengirim Luna ke luar negeri. Kamu tahu kan apa yang baru saja terjadi sekarang. Vidio saya dan Papa kamu, serta artikel-artikel jahat yang terus menyudutkan Luna membuat mental Luna down. Bahkan sampai sekarang mereka belum berhenti menghujat Luna. Di IG, tik tok, Twitter dan di mana-mana. Bahkan untuk keluar rumah saja Luna ketakutan. Akhirnya Papa kamu memutuskan agar Luna keluar negeri saja dan fokus pendidikan. Mungkin sekaligus mengembangkan karir di sana. Di negeri ini, seperti nya Luna sulit di terima lagi."


"Tapi meskipun Luna takut keluar rumah dan malu bertemu kamu, hari ini Luna memberanikan diri menemui kamu. Sekarang dia ada di mobil. Tapi saya menyuruhnya menunggu di mobil saja karena di sini terlalu ramai dan takut ada yang mengenali Luna. Jadi saya yang mengantarkan surat itu untuk kamu."


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2