
"Pa." Ayuma berdiri dan memeluk Papa mertuanya, " Kalau aku tahu Papa ke sini aku pasti masak lebih banyak."
"Gapapa, Papa makan jatah Hendrawan saja biar Hendrawan makan rumput di halaman depan."
Hendrawan berdecih. Tidak berubah sama sekali. Sejak Hendrawan masih kecil sampai sudah menikah seperti ini papanya tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menjahilinya. Apalagi kalau ada abangnya-Ayah Bastian ikut kumpul juga, wah semakin heboh saja mereka mengerjainya.
"Ya udah Ayo makan. Pa." Ajak Ayuma.
Mereka pun duduk mengelilingi meja yang berbentuk persegi panjang. Hendrawan dan Wisnu sama-sama duduk di ujung meja, sementara Ayuma, Rachel dan Bastian duduk di sisi kanan kiri meja.
"Hem, enak sekali." Puji Widnu setelah mencicipi masakan Ayuma. "Cita rasa masakan kamu mirip sekali dengan masakan mendiang mama kamu."
"Iya Pa. Dulu aku sering belajar masak sama mama."
Dulu setaju Ayuma mendiang Papa nya dan Wisnu bersahabat. Ayuma masih ingat pertemuan pertamanya dengan Hendrawan sekitar umur 7 tahun. Tapi karena tempat tinggal mereka yang jauh, keluarga Ayuma di Surabaya sedangkan keluarga Wisnu di Jakarta membuat mereka jarang bertemu.
Setelah lulus SMP Ayuma melanjutkan SMA dan kuliah di luar negeri. Rencananya Ayuma ingin bekerja di luar negeri tapi siapa sangka yang menyangka kedua orang tua nya kecelakaan dan meninggal. Selesai kuliah Ayuma kembali ke Indonesia dan meneruskan bisnis keluarga.
Keluarga besar Tanoepramudya menyambutnya dengan baik. Wisnu mengajari Ayuma cada berbisnis yang profesional. Ayuma menemukan sosok Ayah dalam diri Wisnu dan menemukan sosok Ibu dalam diri Tania, Istri Wisnu.
Hingga suatu hari Wisnu mengatakan bahwa selama ini sebelum meninggal Papa Ayuma menyuruh Ayuma menikah dengan Hendrawan tapi Wisnu sengaja menunda agar Ayuma belajar bisnis dan menjadi wanita mandiri dulu.
Sebagai bakti kepada Ayahnya sekaligus permintaan terakhirnya, Ayuma bersedia menikah dengan Hendrawan.
Awal mula pernikahan, Ayuma tidak mencintai Hendrawan. Tapi semakin ke lama benih-benih cinta mulai tumbuh apalagi setelah Ayums hamil. Saat itu meskipun Hendrawan bersikap dingin, Hendrawan tetap menafkahi nya lahir dan batin. Meskipun kadang kesal, Hendrawan juga bersedia bermain dengan Rachel.
"Kamu harus bersyukur memiliki istri seperti Ayuma. Kapan lagi coba kamu memiliki chef pribadi di rumah dan tidak perlu membayar? kamu juga bisa request makanan apapun dan cita rasanya tidak kalah dengan restaurant bintang lima."
Hendrawan tidak menjawab ucapan Papa nya dan fokus makan.
"Atau mungkin Mas Hendrawan punya chef pribadi lainnya, Pa."
Gerakan tangan Hendrawan yang sedang menyendok nasi tertahan dan menyipitkan mata pada istrinya sembari bertanya-tanya apa maksud kalimat Ayuma tadi. Sementara Ayuma lanjut makan dengan santai.
__ADS_1
"Chef pribadi lain?." tanya Wisnu.
"Iya Pa. Mungkin saja di luar sana Mas Hendrawan memiliki chef pribadi karena dia jarang makan di rumah dan mungkin juga masakanku tidak seenak masakan chef pribadinya. Bukan begitu Mas Hendrawan?." Ayuma melempar senyum pada Hendrawan. Senyum yang membuat Hendrawan mengerutkan alis dalam. Senyum yang menyimpan banyak makna.
"Chef pribadi apa sih?. Aku tidak punya chef pribadi. Kamu lihat sendiri kan aku sibuk mengembangkan perusahaan. Dan untuk urusan makanan aku bisa makan di mana saja, entah di restaurant, gifoof, drive thru atau dimana saja tapi aku tidak punya chef pribadi. Jangan berpikir aneh-aneh sayang. Masakan kamu akan selalu juara di hatiku.,"
Hendrawan tersenyum dan mengusap lengan istrinya sibuk. Ayuma juga membalas senyuman itu meskipun rasanya ingin sekali ia melempar piring ke wajahnya.
Selama ini jika Aya mengeluh Hendrawan terlalu sibuk, lalu Hendrawan menjelaskan ini itu dan terlihat sangat menyakinkan. Ayuma percaya saja. Tapi setelah kejadian di rumah sakit ini, Ayuma tidak akan pernah percaya semua kalimat yang keluar dari mulut suaminya.
Tunggu saja sampai Ayuma berhasil mengumpulkan bukti dan membuat Hendrawan tidak bisa berkutik lagi.
***
Selesai makan, Ayuma membuka hadiah dari Wisnu bersama Rachel dan Bastian. Sementara Wisnu mengajak Hendrawan berbicara.
"Ada apa Pa?. Tumben Papa mengajakku berbicara, biasanya Pap selalu ingin bersama Rachel. Kalau urusan bisnis Papa bisa membicarakan di kantor saja.
"Begini apa sih Pa?." Jawab Hendrawan tidak mengerti.
"Lebih memprioritaskan pekerjaan daripada anak dan istri kamu sendiri."
Hendrawan pikir Papa nya ingin berbicara tentang bisnis ternyata soal Ayuma. Ck. Menyebalkan. Pasti nanti Papa nya menasehati nya panjang lebar dan mengancam akan menarik seluruh aset nya jika Hendrawan tidak mai bersikap baik pada Ayuma.
"Aku bekerja juga untuk mereka, Pa."
Wisnu berdecih.
"Papa bukan anak kemarin sore yang bisa kamu bodohi dengan alasan seperti itu, Hendrawan. Jabatan kamu itu seorang Ceo. Kamu tidak perlu datang setiap hari di kantor apalagi sampai sebulan ke luar negeri hanya untuk mengurus pekerjaan. Cukup perintahkan bawahan kamu."
"Iya, Pa. Tapi ngga semua pekerjaan bisa di handle oleh bawahan atau sekretaris. Aku ingin....."
"Kamu punya selingkuhan?."
__ADS_1
Hendrawan tersentak. Pertanyaan itu seperti peluru yang menghujam tepat di jantungnya. Bahkan dada Hendrawan terasa sesak sesaat. Tidak, Hendrawan tidak boleh terlihat gugup atau Papa nya akan semakin curiga.
"Selingkuh apa sih, Pa. Setelah Arumi meninggal tidak ada lagi perempuan yang aku cintai. Maksud ku kecuali Ayuma dan Rachel."
Mendengar nama Arumi, ingatan Wisnu terlempar pada kisah masa lalu.
Seorang gadis cantik yang membuat putranya tergila-gila, tapi latar belakang keluarga dan pendidikan nya tidak selevel dengan keluarga Tanoepramudya. Namun bukan itu yang melatarbelakangi Wisnu menolah Arumi menjadi istri Hendrawan. Melainkan janjinya pada Ayah Ayuma untuk menikahkan Hendrawan dengan Ayuma.
Dengan ancaman akhirnya Hendrawan bersedia menikah dengan Ayuma. Saat itu Wisnu pikir Hendrawan meninggalkan Arumi tapi ternyata diam-dia mereka masih menjalin hubungan.
Dan yang paling membuat Wisnu kurma Hendrawan berhubungan intim dengan Arumi tepat di hari Ayuma melahirkan.
Wisnu langsung mendatangi Arumi dan mengancam akan membunuhnya jika Arumi tidak meninggalkan Hendrawan. Akhirnya Arumi benar-benar meninggalkan Hendrawan.
Selang sebulan setelah kepergian Arumi, Wisnu mendapat kabar dari bodyguardnya Arumi bunuh diri terjun ke laut dan sampai sekarang mayatnya belum di temukan. Wisnu berharap perempuan itu benar-benar meninggal.
"Gara-gara tadi Ayuma bilang aku punya chef pribadi, Papa menyimpulkan aku punya selingkuhan?." Hendrawan tertawa.
"Ayuma mengatakan itu karena kesal sama aku, Pa.Karrna aku sibuk kerja. aku nggak mungkin selingkuh. Aku sibuk karena aku benar-benaf bekerja. Setelah proyek ini selesai aku akan fokus dengan keluargaku."
Wisnu menoleh dengan mata memicing, tepat menatap bola mata putranya.
"Papa sudah menganggap Ayuma sebagai putri Papa sendiri dan kalau sampai kamu menyelingkuhinya Papa tidak akan pernah memaafkan kamu."
"Iya, Pa. Iya santai dong nggak usah melotot gitu," Hendrawan tertawa, namun tidak di pungkiri Hendrawan merasa gencar dengan ancaman Papa nya.
Sekarang Hendrawan harus lebih berhati-hati dan jangan sampai Papa nya tahu kalau Arumi masih hidup dan berganti nama menjadi Dilara.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1