
Itu mobil Wisnu dan Sebastian, Kakak Hendrawan dan Anggun istrinya. Di belakangnya ada mobil Bastian.
"HENDRAWAN." Teriak Wisnu murka.
Dari tempatnya berdiri, sembari menatap Papa dan keluarga yang lain. Hendrawan mengumpat. Kesal karena mereka datang di waktu yang tidak tepat.
Sementara Dilara juga tak kalah terkejut dengan Hendrawan melihat kedatangan Wisnh. Dilara menyangkan kedatangan Wisnu dan yang lainnya di saat saat seperti ini. Situasi sekarang membuat posisinya dan Hendrawan terpojokkan, pasti di mata mereka Dilara terlihat seperti orang yang jahat yang menyebabkan penderitaan Ayuma dan Rachel. Padahal di sini Ayuma dan Rachel yang mulai duluan. Mereka yang memulai peperangan.
Dilara tidak mengerti kenapa seolah sulit sekali baginya dan Hendrawan untuk bersatu. Kenapa juga tiba-tiba hujan yang seolah turun ingin memadamkan kobaran api. Semesta seolah tak rela barang-barang Ayuma dan Rachel terbakar, padahal mereka pantas mendapatkan itu setelah apa yang mereka lakukan
"APA YANG KALIAN LIHAT! PADSMKAN API INI!." Sebastian berteriak marah kepada ART.
Kemudian Sebastian bersama Bastian, Samuel langsung mengambil selang dan beberapa pembantu mengambil alat pemadam kebakaran dari dalam rumah. Sementara Anggun istri Sebastian mengajak Ayuma masuk ke dalam rumah karena hujan semakin deras.
Bastian yang memberitahu Opa dan kedua orang tuanya soal kejadian di rumah Farel tadi. Mereka semua terkejut saat mendengar bahwa Luna adalah putri kandung Hendrawan. Tanpa menunggu lagi mereka langsung bergegas menuju ke rumah Hendrawan. Begitu sampai di sini mereka di kejutkan dengan tindakan biadab Hendrawan yang membakar barang-barang Ayuma.dan Rachel.
"Rachel," Wisnu meraih tangan Rachel.
"Opa," Rachel langsung menghamburkan diri memeluk Wisnu.
"Maafkan Opa datang terlambat."
Rachel memggeleng, "Ga papa, Opa. Ayo kita masuk ke dalam rumah. yah, nanti Opa sakit gara-gara kehujanan.
Rachel memeluk lengan Wisnu dan menariknya msuk ke dalam rumah mengikuti Anggun dan Ayuma sementara yang lain masih mencoba memadamkan api. Meskipun hujan, tapi karena kobaran api sudah terlanjur besar, apalagi bensin yang di tuangkan cukup banyak membuat proses pemadaman api sangat sulit.
Dari sisi lain, Luna menatap sendu Rachel yang memeluk Wisnu.
"Mama, aku mau Opa Wisnu juga menyanyangiku seperti itu."
__ADS_1
Dilara menatap sendu putrinya, "Kamu yang sabar ya, Nak. Mama yakin suatu hari nanti Opa akan menyanyangimu sama seperti Opa menyanyangi Rachel. Kamu juga cucu kandungnya, kamu berhak mendapatkan kasih sayang itu."
Hendrawan menatap Luna dan mengusap rambutnya lembut.
"Kalaupun Opa tidak menyanyangi kamu, tenang aja masih ada Papa. Papa akan memberikan kasih sayang yabg berlimpah. Kamu tidak perlu mencari kasih sayang dari orang lain lagi."
Luna berkaca-kaca tak kuasa menahan haru mendengar kalimat manis Papa nya.
"Terima kasih, Pa. Terima kasih banyak. Aku menyanyangi Papa. Aku juga menyanyangi Mama. Aku harap mama dan Papa bisa bersatu. Aku nggak mau pisah sama papa lagi. Kita bisa membangun keluarga kecil kita lagi."
Hendrawan menganguk, "Iya, Sayang. Papa tidak akan pernah meninggalkan kamu. Papa akan menyatukan keluarga kita lagi. Tidak akan ada lagi yang bisa menentang Papa sekarang. Papa sudah punya power untuk melindungi kamu dan Mama kamu. Kamu bisa mengandalkan Papa."
Hendrawan menarik Dilara dan Luna dalam pelukannya. Meresapi momen bahagia ini di bawah rintik hujan. Beberapa hari tidak hujan, lalu sekarang tiba-tiba hujan ini sebagai tanda semesta ikut merayakan kebahagiaan mereka.
Byurtt...
"Eh." Hendrawan? Dilara, dan Luna tersentak saat tiba-tiba mendapat semprotan air. Begitu menyadari siapa yang menyemprot air, seketika mereka melototkan mata pada Bastian.
Hendrawan mendengus kesal lalu mengajak Dilara dan Luna masuk ke dalam rumah. Setelah api padam, Bastian dan Sebastian masuk ke dalam rumah, sementara Samuel dan Para Art lain mengambil barang-barang yang masih bisa terselematkan.
Begitu sampai di ruang tengah Hendrawan di sambut tatapan tajam Papa nya.
Hendrawan menahan diri untuk tidak mendengus melihat reaksi Papa nya sekarang. Kebencian, kemarahan dan kekecewaan, Hendrawan bisa melihat itu dari sorot mata Papa nya.
Namun asal Papa nya tahu itulah yang Hendrawan rasakan sekarang. Hendrawan begitu kecewa Papa nya sangat peduli pada Rachel sedangkan pada Luna beliau sangat acuh padahal Luna juga cucu kandungnya.
Di ruang keluarga inu ada empat sofa panjang saling berhadapan.
Wisnu duduk di samping Ayuma dan Rachel, tepat di depan mereka ada Hendrawan, Dilara dan Luna. Sementara Bastian, Sebastian dan Anggun duduk di sisi kanan.
__ADS_1
Udara di luar cukup dingin tapi tensi udara di ruang tengah ini sangat panas.
"Papa tidak akan bisa menentang keputusanku. Aku bukan anak kecil lagi yang bisa Papa atur sesuka hati Papa tanpa memikirkan perasaanku dulu Sudah cukup aku mengikuti keinginan Papa. Aku sudah dewasa, independen dan aku berhak memutuskan apapun yang aku inginkan. Aku akan me cari kebahagiaanku."
Hendrawan menggenggam tangan Luna dan Dilara yang duduk di samping kanan dan kirinya.
"Dilara dan Luna adalah segalanya untukku, aku sangat menyanyangi mereka."
Dilara dan Luna berkaca-kaca, begitu terharu dengan pembelaan Hendrawan.
Dilara merasq beruntung di cintai dan di perjuangkan sebesar ini di depan semua orang. Tidak slah Dilara menaruh hati pada laki-laki gagah dan tampan ini. Hendrawan begitu gentelment dan hebat.
Begitu juga Luna yang sangat bersyukur memiliki sosok Papa seperti Hendrawan yang bertanggung jawab menjadi pahlawan untuknya. Tak tergambar betapa bahagianya dia sekarang bisa bertemu dengan Papa nya.
Namun tanpa Dilara dan Luna sadari, di balik kebahagiaan mereka ada tangis seorang Ibu dan anak juga yang kehilangan suami dan sosok Ayah.
Ayuma dan Rachel. Kedua perempuan ini bungkam. Dengan pandangan mata tak lepas menatap mata Hendrawn.
Kekecewaan Ayima sudah tak tergambarkan lagi. Bahkan mereka belum resmi bercerai tapi Hendrawan dengan begitu lantang mengatakan mencintai perempuan lain di depan Ayuma dan seluruh keluarganya. Di mata Ayuma, Hendrawan adalah sosok laki-laki paling pengecut dan paling jahat di muka bumi ini.
Rachel, gadis itu bahkan tidak bisa menangis lagi saking lelahnya menangis. Papa cinta pertamanya telah mengajarkan arti sebuah luka. Luka yang rasanya sampai membuat Rachel tidak ingin mengenal laki-laki lagi.
"Sekali lagi aku katakan pada Papa dan kalian semua. Perempuan yang aku cintai adalah Dilara dan satu-satunya putri yang aku sayangi hanyalah Luna." tegas Hendrawan sambil menatap semua orang yang ada di sana.
"Oh ya satu lagi, Pa. Aku hampir lupa. Apa yang akan aku sampaikan ini pasti membuat Papa terkejut tapi aku harap Papa sudah menyiapkan hati dan tidak marah kepada Dilara dan Luna, apalagi sampai mengancamnya seperti masa lalu. Di masa lalu itu, perempuan yang aku cintai sedang mengandung anakku tapi Papa justru mengusirnya tanpa bekal apapun, bahkan Papa mengancam akan membunuhnya. Inilah Arumi dan putri kandungku Luna."
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...