
"Ngga Ma. Jangan ngomong begitu. Aku nggak merasa terbebani kok." Rachel menggenggam tangan Mamah nya. "Tadi nya aku tidak ingin menjadi pengusaha. Aku berencana bekerja di kedinasan sosial. Tapi demi Mamah aku belajar bisnis dengan serius."
"Excusme Ladies." Suara sapaan seseorang menjeda obrolan mereka.
"Maaf telat, tadi ada sesuatu." Farel nyengir dan duduk di samping Rachel.
Mereka pun lanjut mengobrol sambil berbicara seputar bisnis. Ayuma ingin menyarankan untuk Rachel belajar bisnis kepada Farel. Tapi mengingat putrinya mencintai Farel dan Farel mencintai wanita lain. Berdekatan dengan Farel maka akan membuat putrinya sakit hati. Sebenarnya Ayuma merasa tenang jika Rachel bersama Farel, meskipun Farel terkadang menyebalkan. Farel tahu bagaimana cara melindungi Rachel.
Ah entahlah kisah anak muda ini terlalu rumit.
Mungkin nanti Ayuma akan menyuruh Rachel belajar bisnis bersama Bastian, salah satu orang yang Ayuma yakini tidak akan menyakiti Rachel.
"Mamah habis ini mau ngapain?." tanya Rachel setelah menelan sepotong waffle.
"Ya mau kemana lagi selain kerja. Mamah bosan di rumah. Papah kamu juga di luar negeri."
"Kenapa Tante tidak merger saja perusahaan tante dan perusahaan om Hendrawan. Sama-sama di bidang properti kan? Dengan begitu jika ada pekerjaan di luar kota atau di luar negeri Tante bisa ikut sekalian liburan." usul Farel di balas anggukan oleh Rachel.
"Saya juga pernah mengusulkan seperti itu tetapi dia menolak. Ya sudah saja, saya juga mampu mengurus perusahaan sendiri." Ayuma tersenyum lamun di balik senyuman itu Rachel bisa melihat kesedihan di dalam sana.
Rachel tahu mamahnya itu sangat kesepian. Maka dari itu mamahnya mencari kesibukan. Inilah yang menjadi alasan terbesarnya tidak ingin kuliah di luar negeri. Masih di dalam kota yang sama pun masih suka sibuk dan kadang-karang menginap di Apartement.
***
Sekitar pukul 12.00 mereka selesai lunch. Ayuma masih ada pekerjaan lain. Rachel meminta ikut tapi Ayuma menyuruh nya untuk pulang saja. Dan Farel pun mengajak Rachel pulang ke rumahnya.
Sekarang mereka ada di mobil yang sedang berjalan menuju rumah Farel. Berulang kali Farel melirik ke arah Rachel yang tampak melamun dan melempar pandangan ke luar jendela.
"Kenapa? kok sedih." Farel menyentuh punggung tangan Rachel dan meremas nya pelan.
"Papah." lirih Rachel. "Kenapa Papah ngga bisa kayak Papah yang lain. Kenapa ga seperti Papah lo. Lo juga kaya, bisnis keluarga lo juga ada di mana-mana. Tapi gue liat Om Angga sering di rumah. Om Angga seolah punya waktu tak terbatas bersama keluarga. Tapi Papah... kenapa Papah sibuk banget?."
Rachel menoleh dan menatap Farel dengan tanda tanya. Rachel pernah menanyakan itu pada Papah nya dan Papah nya menjawab demi keluarga. Rachel ingin mendengar jawaban lain.
"Mungkin Om Hendrawan merupakan tipe orang Workaholic dan ambisius. Orang-orang seperti itu cenderung memiliki tujuan besar dan akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya. Mungkin sekarang juga Om Hendrawan ingin memperluas jaringan bisnis nya."
Rachel masih terdiam dengan sorot mata yang kian menyendu. Farel benar-benar tidak suka melihat Rachel bersedih seperti itu. Lebih baik Rachel marah-marah dan memukul dan menendangnya yang penting Rachel ceria.
Farel pun mempercepat laju mobil nya ke rumah. Rachel akan ceria lagi jika bertemu dengan adik-adiknya.
__ADS_1
"Udah jangan sedih lagi! atau kita balik ke hotel terus senang-senang." Farel mengedipkan mata nya jahil lalu di hadiahi pukulan Rachel.
"Apaan sih?."
"Lo tahu istilah friend with benefit?."
"Awalnya gue ngga tahu tapi si mesum Rendy itu dengan detail apa itu fwb sekalian dia ngajakin gue. Ya gue ngga mau lah. Ya kali."
"Kalau sama gue mau ngga?."
Rachel terdiam sesaat, lalu mengambil ponsel di dalam tas nya.
"Mau ngapain?."
"Mau telponin Mamah Sarah, biar dia tahu anak kesanyangan nya mau anu-anu. Biar di jewer telinga nya sampai putus."
"Eh eh bercanda Rachel. Gue cuman bercanda."
"Ya udah gue aja yang jewer," Rachel benar-benar menjewers telinga Farel sambil menceramahinya panjang lebar. Sementara Farel tak hentinya tertawa.
Meskipun telinga nya sakit, tapi Farel senang setidaknya Rachel tidak sedih lagi. Untuk sahabat tersayangnya ini Farel akan melakukan apapun untuk kebahagiaannya.
***
Sesampainya di rumah, Farel turun dari mobil begitu juga Rachel yang berjalan di samping nya menuju ke dalam.
"REZA, RANA, RANI ADA KAKAK RACHEL NIH."
Tak lama setelah teriakan itu justru Sarah yang muncul.
"Mereka lagi tidur siang."
Farel langsung merapatkan bibir merasa bersalah karena sudah teriak-teriak. Untung saja adik-adik nya tidak bangun.
"Tante."
"Halo sayang sini!." Sqrah merentangkan tangannya dan Rachel masuk ke dalam pelukannya.
"Kamu udah berapa lama ngga ke sini?, ngga kangen sama Tante?, sama Om, sama adik-adik kamu?."
__ADS_1
Sarah memang sudah menganggap Rachel seperti anak kandung sendiri sehingga dia memanggil Reza, Rana Dan Rani dengan panggilan adik-adik Rachel.
"Kangen juga. Tapi belakangan ini aku lagi sibuk Tante. Maaf!."
Sarah melepaskan pelukan, menangkup pipi Rachel dan menatapnya lekat.
"Kamu tahu ngga? kemarin itu Farel galau gara-gara kamu marah sama dia."
"Ma." Farel langsung memberi kode Mamah nya untuk diam. Namun Sarah justru menanggapi nya dengan tawa.
"Oh yah Tante?, galau gimana?."
"Farel menyesal karena meninggalkan kamu. Padahal kamu mendukungnya dari awal pertandingan. Matanya sampai berkaca-kaca nyaris nangis."
"Mah itu sangat berlebihan." Farel benar-benar malu di ledek begini.
"Bukan berlebihan, tapi kenyataan memang begitu. Seharusnya kemarin Mamah rekam betapa frustasi nya kamu karena kamu takut di jauhi teman dekat kamu."
Farel ingin menyangkal tapi kenyataan emang begitu. Saat itu Farel benar-benar takut jika Rachel menjauhinya dan tidak mau berteman dengannya lagi.
"Rachel." Sarah meraih tangan Rachel dan menggenggamnya erat. "Sebagai Ibu. Tante minta maaf karena anak Tante sudah menyakiti hati kamu. Kejadian waktu itu pasti sangat membekas di hati kamu, Tante tidak akan melarang jika kamu akan menjauhi Farel. Lakukan apapun sesuai kata hati kamu. Meskipun Farel anak Tante, Tante akan selalu mendukung kamu, Rachel."
"Ya ampun, ngga usah minta maaf. Tapi aku sangat berterima kasih Tante lebih mendukungku daripada Farel." Rachel langsung menjulurkan lidah pada Farel.
Farel langsung mencapit hidung Rachel gemas.
"Tante, lihat tuh. Farel suka gituin aku."
"Farel kamu ini!."
Rachel bersorak senang karena Sarah lebih membela nya dari pada Farel. Sedangkan Farel berdecak padahal dia anaknya, tapi Mamah nya terlihat lebih sayang dengan Rachel.
"Ya udah, sambil menunggu Reza, Rana dan Rani bangun tidur siang. Gimana kalau kamu ikut Tante ke dapur bikin kue. Ada Om Angga juga."
"Om Angga bikin kue? Wah Om Angga pasti cute pake celemek." Rachel terkekeh membanyangkan wajah garang Angga yang memakai celemek.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...