
"Bagaimana keadaan Rachel, Tante? Farel memberitahu Rachel kecelakaan."
Sekarang Bastian ada di ruang ICU menemani Ayuma.
"Selain luka gores dan patah tulang, Dokter bilang ada luka di kepala sehingga Dokter belum bisa memastikan kapan Rachel sadar."
Bastian yang berdiri di samping Ayuma tak melepaskan pandangan dari Rachel. Matanya terpejam dan belum ada tanda-tanda akan sadar. Bastian tak menyangka kondisi Rachel akan separah ini. Farel belum menjelaskan detail kecelakaan Rachel seperti apa, tapi melihat kondisi Rachel pasti tabrakannya sangat parah.
"Mama Papa, belum bisa datang ke sini tante. Mereka menemani Oppa ke Jepang untuk berobat. Selain untuk berobat juga untuk refreshing. Tante tau kan Jepang adalah negara terfavorit Opa dan Oma. Karena itu meskipun ada Singapura yang memiliki fasilitas kesehatan yang bagus Oppa memilih ke Jepang."
Ayuma mengangguk, "Tante tahu kamu tidak perlu memberitahu mereka, Tante bisa mengurus ini sendiri, Tante sudah terlalu banyak menyusahkan orang tua kamu."
Bastian menggeleng, "Sama sekali nggak menyusahkan kok Tante, kalau Papa sama Mama dengar tante bicara begitu mereka pasti sedih. Bagi mama dan papa, Tante sudah seperti saudara kandung mereka. Tante dan Rachel terluka, saya, Mama dan papa juga terluka. Meskipun Tante sudah bercerai dengan Om Hendrawan, Tante masih ingat kan ucapan Opa, sampai kapanpun Tante akan menjadi anggota keluarga besar Tanoepramudya."
Ayuma menoleh pada Bastian dan tersenyum. Perasaannya menjadi lebih lega setelah mendengar ucapan Bastian. Pemuda ini, di balik sifat nya yang kadang-kadang tengil, dia juga bisa berubah jadi sosok yang dewasa dan membuat nyaman perasaan orang lain. Bastian tahu kapan dia harus bercanda dan serius.
"Aku keluar sebentar ya, Tante."
Setelah mendapat anggukan kepala dari Ayuma, Bastian pun keluar dari ruangan . Duduk di bangku tunggu yang ada di depan ruang ICU, Bastian merogoh ponsel di dalam saku dan mengirim pesan di grup.
Bastian mengabarkan kondisi terkini Rachel . Mereka tidak bisa datang karena sedang membantu Farel menyelesaikan masalahnya.
Sebenarnya bukan hanya masalah Farel, tapi masalah Rachel juga. Gara-gara berita hoax ini Rachel kecelakaan.
Diam-diam tadi Bastian memfoto Rachel dan mengirim di grup. kenapa diam-diam, karena dari cerita Farel, Ayuma sepertinya marah dengan Farel dan tidak mengizinkan Farel dekat-dekat dengan Rachel. Mungkin Ayuma sempat bertemu dengan Dilara dan terpengaruh ucapannya.
...----------------...
Wa Grup : Calon Sugar Daddy.
Tian : Sekarang kalian ada di mana?.
Farel : Kita mencar. Gue ke rumah Brandon. kemarin waktu gue bangun, tau-tau Brandon ada di samping gue. Gue mau minta dia jadi saksi gue nggak melakukan apa-apa sama Luna. Sebenarnya gue udah chat sama telpon, tapi nomernya nggak aktif. Ya udah gue langsung otw ke rumahnya aja.
Farel : Dypta otw cari Bella.
Tian : Kenapa Dypta yang cari Bella. Lo tau kan Dypta agak anu anaknya. Gue takut Bella jadi sop daging nanti malah.
Farel : Wkwkwk, nggaklah. Dypta tahu apa yang harus dia lakuin, santai.
__ADS_1
Tian : Terus Rendy ke mana?.
Farel : Rendy ke club mau cari CCTV dan keterangan langsung dari bodyguard yang dia percaya buat jaga gue.
Rendy : Yoi nih gue lagi otw. Masih di jalan. Btw, Rel, gue cuma pesenin kamar buat lo. Kenapa lo bisa bangun seranjang sama Brandin. Kalian berdua nggak main burung-burungan kan?.
Farel : Di, mulut lo belum pernah di tabok pake bulu landak ya, sembarangan banget kalau ngomong. Ya mana gue tahu, tiba-tiba gue bangun Brandon udah ada di samping gue. Lo beneran nggak nyawa room buat Brandon juga?.
Rendy : Nggaklah ngapain juga gue sepeduli itu sama Brandon. Teman bukan, saudara apalagi.
Tian : Ya elah gitu aja ribet. Paling huga li berdua sama-sama mabok, terus sama-sama ke kamar deh. Jangan lupa ya, Rel. Habis ini cek keperjakaan lo.
Rendy : Jangan lupa juga cek keperawanan lubang belakang lo, Rel.
Farel : GUE SUMPAHIN PANTAT KALIAN BERUBAH JADI IJO.
Tian : Oke? semuanya beres kan, tapi gue masih ragu sama Dypta. Takutnya Bella beneran di jadiin Sop. Mana tadi dia nggak baca chat lagi. Ya udah gue nyusul Dypta aja.
Farel : Terus siapa yang jagain Tante Ayuma dan Rachel?.
Tian : Ada Dokter sama perawat. Rachel juga belum sadar. Jadi gue mau otw sekarang nyusul Dypta. Dypta sudah angkat telepon gue dan share loc Apart Bella.
Rendy : Nggak mau tau ya, Rel. Gue minta bayaran. Harusnya gue rebahan di rumah, tapi harus ribet gini cari bukti buat lo. Nggak usah mahal-mahal Bugatti lo aja buat gue. Soalnya Bugatti gue di sita sama papa.
Farel : Oke.
Rendy : DEMI APA?.
Tian : Mau dong.
Dypta : Mau juga.
Farel : Oke, tapi minta langsung sama Ayah gue.
Rendy : Liat muka Om Anthony aja udah deg deg an duluan. Ih kok bisa sih Tante Sarah yang lemah lembut gitu mau sama Ayah lo. Dukun Ayah lo hebat juga, Rel.
Rendy terkekeh membaca chatingannya dengan teman-temannya beginilah mereka saat sedang mode absurd, mereka selalu bisa membuat harinya berwarna.
Rendy memasukkan ponsel ke dalam dashboard mobil setelah memarkirkan mobil di depan Melati Bar.
__ADS_1
"Eh."
Rendy yang baru saja turun dari mobil terkejut melihat perkelahian dua orang berkaus abu-abu dan 4 orang berkaus hitam. Bertubuh kekar dua orang baju abu-abu tuh tumbang lalu 4 body gard itu menghajar seorang laki-laki berkemeja abu-abu hingga babak belur.
"WOI, WOI TAK BOTAK ! MAIN HAKIM SENDIRI!." Rendy mendekat dan menolong pria itu.
"Pergi kalian semua dan jangan pernah kembali ke sini," Sentak salah satu empat orang berwajah sangar itu.
Keempat bodyguard itu masuk ke dalam Club.
"Anda Pak Johny sekretaris Om Hendrawan kan?." Tanya Rendy sambil membantu laki-laki itu berdiri dengan benar. Saat datang ke rumah Rachel beberapa kali Rendy melihat Hendrawan berbicara dengan Johny. Rendy tidak tahu pasti ada hubungan Hendrawan dan Johny, Rendy hanya mengira-ngira.
"Rendy?." Johny berdiri sambil mengusap sudut bibir yang berdarah.
"Iya, saya Rendy, Om. Kenapa Om ada di sini dan berurusan dengan mereka?."
"Kamu pasti sudah tahu soal kejadian yang menimpa Luna kan? karena itu kamu ada di sini."
Rendy menganguk,
"Iya Om, saya ingin berbicara dengan bodyguard di sini dan mencari CCTV."
"Percuma! kamu tidak akan bisa mendapatkan informasi apa-apa." Johny terbatuk-batuk sambil menekan perutnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya bertumpu pada pundak Rendy.
"Mereka tidak akan .au berbicara apapun, apalagi menyerahkan CCTV."
"Om tahu apa alasannya?."
"Kamu tahu siapa pemilik Klub ini?." Johny justru berbalik tanya.
Rendy menggeleng dan begitu Johny menyebutkan nama pemilik Klub, seketika Rendy membelalakan mata.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1