
"Maaf."
Hendrawan akhirnya minta maaf agar Ayuma tenang.
"Aku tidak bermaksud menjelek-jelekkan Rachel. Sungguh. Aku mengatakan itu karena aku merasa bersalah pada Luna. Luna sudah menolong Rachel tapi Rachel tidak ada di sisinya."
Permintaan maaf Hendrawan justru membuat Ayuma merasa aneh.
"Rachel bukan tipe orang yang akan meninggalkan sahabatnya begitu saja. Aku tahu sekali betapa sayangnya Rachel pada Luna. Kalau sampai dia pergi pasti ada sesuatu yang menyakiti hatinya. Dan itu pasti tak jauh dari perbuatan kamu. Sekarang aku tanya apa yang kamu lakukan pada Rachel sampai Rachel pergi?."
"Aku tidak melakukan apapun. Aku hanya menegurnya agar lebih berhati-hati saat menyebrang itu saja."
"Aku yakin bukan teguran biasa atau jangan-jangan kamu membentaknya di depan semua orang sampai Rachel pergi. Kenapa kamu tidak belajar dari kesalahan sih, Ma. Semalam kamu baru saja membentak Rachel sampai dia menangis. Harusnya kamu sadar bentakan kamu itu menyakiti putri kamu tapi kamu justru mengulangi dan melakukannya di depan semua orang."
Hendrawan menggosok wajahnya dengan frustasi.
"Oke, fine aku salah. Tapi bisa ngga kita nggak usah bertengkar dulu. Kita ada di rumah sakit dan aku tidak ingin mengganggu kenyamanan pasien lain."
Ayuma menghembuskan nafas kasar.
"Kamu pikir aku ingin bertengkar? Aku juga tidak ingin bertengkar tapi tingkah kamu itu membuatku kesal. Terserahlah daripada berdebat dengan kamu dan tidak ada ujungnya lebih baik aku menemui Rachel."
Ayuma berbalik badan dan langsung pergi.
Ayuma terus berjalan meninggalkan balkon, berbalik menuju ke lorong yang melewati ruang rawat Luna, melirik sekilas ke ruangan itu, dan lanjut berjalan lagi menuju ke lift.
Ayuma sempat berpikir untuk berpamita dengan Luna dan Dilara tapi perasaan jengkel di hatinya membuatnya terus berjalan hingga masuk ke dalam lift.
Ayuma jengkel dengan Luna.
Setiap Hendrawan dan Rachel pergi berdua pasti Luna selalu ikut. Katanya sih kebetulan. Tapi jika terjadi berkali-kali apa itu wajar di sebut kebetulan? Dan setelah mereka bertiga pergi, pasti ujung-ujungnya Rachel sedih dan di abaikan.
"Ya ampun kenapa aku malah berpasangan buruk begini sama Luna, bisa jadi cuma kebetulan kan?."
Ayuma memijat pangkal hidungnya untuk mengurangi rasa sakit kepalanya. Tidak seharusnya Ayuma membenci Luna. Harusnya sekarang dia mengucapkan terima kasih pada Luna karena Luna sudah rela mengorbankan nyawanya demi melindungi putrinya.
"Sebaiknya aku berpamitan dengan Luna dan Dilara dulu." putus Ayuma pada akhirnya.
Ayu.a keluar dari lift dan tanpa sengaja dia melihat Dilara berbalik ke arah balkon tempat dia dan suaminya bertemu tadi.
Ada dorongan besar dalam diri Ayuma untuk mengikuti Dilara.
__ADS_1
Ayuma pun benar-benar melangkahkan kaki mendekat ke sana semakin dekat dan ..
Ayuma tersentak melihat Dilara dan suaminya berpelukan. Begitu syok sampai membeku beberapa saat, lalu buru-buru bersembunyi di balik tembok.
"Mereka ...."
Ayuma mencoba berpikir jernih dan diam-diam memfoto.
Selesai memfoto, Ayuma langsung berbalik badan berjalan cepat menuju lift. Dengan tangan bergetar Ayuma menekan tombol lantai dasar. Begitu tombol berhasil di tekan, tubuh Ayuma terhuyung ke belakang hingga punggungnya membentuk sisi tembok.
"Mas Hendrawan, Dilara, mereka..."
"Ya Tuhan..."
"Tidak, tidak mungkin."
Ayuma menggeleng. Selama ini tidak ada hal yang mencurigakan antara Hendrawan dan Dilara. Dilara juga terlihat menjaga jarak dengan Hendrawan maupun suami dari geng arisan. Karena tidak pernah berpikir macam-macam.
Namun ternyata...
Ayuma menutup mulut dengan kedua tangan dan mencoba menenangkan diri dari keterkejutan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Bukan tanpa alasan Ayuma memilih pergi daripada menegur langsung pun tidak ada gunanya. Hendrawan akan menyangkal dan mengatakan pelukan itu hanya untuk memenangkan Dilara. Tapi fisasat Ayuma mengatakan ada sesuatu antara suami dan sahabatnya.
Dan semakin menatap foto itu, air mata Ayuma semakin tak tertahankan. Perasaannya campur aduk sekarang, kaget, syok, bingung dan gelisah. Lalu salah satu persatu ingatan Ayuma tentang sikap Hendrawan selama ini muncul dalam kepalanya.
Apa selama ini Hendrawan keluar kota bukan urusan pekerjaan tapi diam-diam juga bertemu Dilara?.
Seandainya Hendrawan dan Dilara benar-benar selingkuh tidak heran lagi jika Hendrawan memperlakukan Luna dengan begitu baik. Tapi yang membuat Ayuma heran, kenapa kasih sayang Hendrawan pada Luna yang hanya anak selingkuhannta lebih besar di bandingkan dengan kasih sayangnya pada Rachel yang anak kandung sendiri.
"Apa karena sejak awal Mas Hendrawan tidak mencintaiku karena itu Mas Hendrawan tidak bisa menyanyangi Rachel sepenuhnya meskipun Rachel anak kandungnya?."
Ayuma menjambak rambutnya sendiri. Kepalanya sudah pusing tambah pusing sekarang.
"Aku ngga boleh gegabah. Aku harus mencari bukti dulu. mempertanyakan hubungan Mas Hendrawan dan Dilara sekarang hanya akan membuat mereka semakin waspada."
Ayuma memejamkan mata sejenak, menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Ayuma tidak bisa menebak bagaimana hasilnya nanti. Tapi jauh di dalam hatinya Ayuma berharap Hendrawan dan Dilara tidak benar-benar selingkuh.
Satu yang Ayuma pikirkan.... Rachel.
Ayuma tidak bisa membanyangkan betapa kecewanya Rachel begitu tahu Ayah yang dia sayangi ternyata selingkuh dengan Ibu dari sahabat nya sendiri.
__ADS_1
***
"Eh ya ampun. Jam berapa sekarang?."
Rachel menyingkap selimut dan segera memposisikan diri duduk. Mengusap-ngusap wajah nya dengan kasar untuk menghilangkan rasa kantuk.
"Luna pasti menungguku." Rachel meruntuk pada dirinya sendiri karena tertidur terlalu lama. Niatnya hanya tidur 10 sampai 15 menit tapi kebablasan sampai... entah jam berapa sekarang. Tapi Rachel merasa tidur terlalu lama.
"Jam berapa sekarang?." Rachel mengendarkan pandangan mencari ponsel.
Dan Rachel di buat kaget karena posisi nya sekarang yang ternyata ada di kamar Farel. Seingatnya ia tadi tidur di sofa. Rachel tidak punya kebiasaan tidur sambil berjalan, jadi kemungkinan Farel yang memindahkannya.
"Farel." panggil Rachel.
"YAAA?." teriak Farel dari dalam kamar mandi. "Ini lagi mandi bentar lagi selesai sayang, eh maksudnya Rachel."
"Cih kata sayang sama Rachel beda jauh kali."
"Mirip."
"Apaan sih Rel ngga jelas banget."
Rachel meraba-rasa kasur tapi tidak ada. Mungkin ada di ruang depan. Rachel justru menemukan ponsel Farel.
Rachel pun menyalakan ponsel Farel untuk mengecek jam. Ternyata pukul 14.00. Rachel tiba di apartement sekitar jam 12.00 berarti kurang lebih 2 jam dia tidur siang.
Saat fokus menatap layar ponsel, Rachel justru di buat fokus dengan walpaper ponsel Farel.
"Foto ini?."
Rachel ingat foto ini di ambil saat karaoke an di tempat Farel. Ada Om Angga, Tante Sarah, Rana, Rani dan Reza.
"Aku merasa seperti bagian dari keluarga mereka." Rachel tersenyum sembari mengusap jari ke layar ponsel Farel seolah sedang mengusap wajah mereka satu persatu.
"Lagi ngapain?."
Rachel tersentak dan refleks mendongakkan kepala. Seketika dia menjerit saat melihat Farel hanya memakai handuk dan bertelanjang dada. Rambutnya yang basah membuat beberapa tetes membasahi dada bidangnya dan beberapa tetes lain mengalir membasahi pipinya sixpack nya.
"FAREL!."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...