Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 137


__ADS_3

Hendrawan berteriak, tubuhnya lunglai berlutut dan menunduk. Air matanya kembali mengalir.


"Rachel dan Ayuma pergi, istri dan anaknya pergi."


Hendrawan menangis lagi, tangisan yang kesekian lagi sejak dia menerima surat dari Edgar. Hendrawan pikir selama ini Ayuma selingkuh dengan Samuel, tapi ternyata tidak Samuel menganggap Ayuma sebagai adik. Sementara Edgar, laki-laki yang baru datang dalam hidupnya mengambil kesempatan itu dan membawa Ayuma dan Rachel pergi.


"Mereka pergi, Ayuma dan Rachel pergi. Putri kandung ku juga pergi."


"Mas," Dilara mendekat dan ingin menyentuh pundak Hendrawan, tapi Hendrawan langsung berdiri. Lalu mencengkram pergelangan tangannya.


"Aku ingin sekali memberimu hadiah manis, sesuatu yang tidak kamu bayangkan."


Dilara menggeleng, "A-apa yang ingin kamu lakukan padaku, Mas?. Tidak, aku tidak ingin ikut kamu. Lepas!."


Hendrawan menyeret Dilara. Dilara menoleh pada Luna yang masih membeku di tempat. Luna belum bangkit dari keterkejutannya mendengar fakta demi fakta yang Hendrawan ucapkan tadi. Kenyataan bahwa dia bukan putri kandung Hendrawan membuat Luna terpukul.


"Luna tolong mamah Nak, Luna."


Luna mengerjab, "Mama...mama."


Hendrawan menarik kuat Dilara hingga keluar dari ruangan.


"MAMA, MAMA, MAMA MAU KEMANA? MAMA."


Luna melepas infus dari tangannya dan turun dari hospital bed. Namun...


Bruk,


Karena kakinya yang masih lemas dan tubuhnya sangat lemah, tubuh Luna ambruk.


"Mama,"


Luna berusaha berdiri tapi tidak mampu, air matanya tak terbendung lagi. Membayangkan kalau Hendrawan akan melakukan hal yang jahat pada Mama nya. Membuat Luna menangis histeris.


"Jangan ambil Mama, jangan, aku takut. Bunuh aku hiks. Tolong!."


Pintu yang tertutup tiba-tiba terbuka.


Brandon meletakkan parcel buah di meja dan berjongkok mendekat ke arah Luna. Brandon baru saja menjenguk senior nya yang memberinya obat perangsang waktu itu. Katanya di begal sampai tangan dan kaki nya patah. Tapi firasat Brandon mengatakan papa nya yang melakukan itu.


"Mama, tolong mama."


"Mama? Tante Dilara? Iya aku tadi melihatnya bersama papa kamu. Apa yang terjadi?."

__ADS_1


Belum sempat Luna menjawab, Dokter dan perawat datang, mereka terkejut melihat Luna jatuh di lantai.


"Aku harus pergi, aku harus mencari mama."


Luna mencoba berdiri, tapi dokter dan perawat justru mengangkat tubuhnya dan membaringkan nya di hospital bed. Lalu mengikat tangan dan kakinya di sisi bed.


"Tolong lepaskan aku. Aku harus mencari Mama."


Luna terus histeris dan membuat dokter harus menunyuntikan obat penenang.


"Jangan, ja-jangan suntik aku. A-aku harus menolong mama. Ja-jangan.... A-aku...Mama." Perlahan obat bius itu mulai bekerja membuat tubuh Luna mulai melemas.


Brandon mendekat ke sisi Luna, mencondongkan tubuhnya ke sisi Luna, dan mengusap pipinya berharap bisa memberinya sedikit ketenangan.


"Mama," Luna menatap Brandon dengan mata sayu dan sisa-sisa kesadaran.


"Istirahatlah, aku di sini!." Brandon meraih tangan Luna dan menggenggam nya. Pandangan mata Brandon teralih pada pergelangan tangan Luna yang di perban, Brandon tidak bisa membayangkan betapa sakitnya luka itu.


"Mama..."


"Tenanglah, tidurlah. Semuanya akan baik-baik saja."


Lalu perlahan kesadaran Luna benar-benar hilang dan matanya terpejam.


***


Anggun tak kuasa menahan tangis, begitu juga Sebastian yang juga ikut berkaca-kaca. sementara Wisnu hanya menatap kertas itu dengan pandangan mata kosong.


"Sebelum kedua orang tua Ayuma meninggal papa berjanji padanya akan melindungi dan menjaga Ayuma seperti anak kandhng papa sendiri. Tapi nyatanya Papa justru yang memberikan penderitaan dengan menjodohkan ayuma dengan Hendrawan


"Sudah, Pa." Sebastian mengusap punggung papa nya, "Sudah cukup papa menyalahkan diri papa. Anggap saja memang takdir mereka seperti itu."


Wisnu meraup wajah dengan kasar, terus sekarang di mana keberadaan mereka dan siapa ini Edgar kenapa dia yang bertanggung jawab atas hidup Ayuma dan Rachel. Apa dia kekasih baru Ayuma?."


"Bukan Opa, Om Edgar adalah orang kepercayaan Papa mertua Eh maksudku Om Anthoni sekaligus adik angkat Tante Sarah yang sekarang memegang perusahaan kakek Matthew. Om Edgar juga yang membantu Tante Ayuma mengurus dokumen yang dibakar Om Hendrawan."


Wisnu menganguk-angguk, "Apa dia orang baik?."


"Sepertinya begitu Opa aku sudah bertanya dengan Farel dan Farel juga tidak tahu dimana keberadaan mereka sepertinya Tante Ayuma tidak ingin keberadaannya diketahui oleh siapapun dan akan lebih baik jika kita menghargai keputusan mereka selama itu membuat mereka bahagia, keadaan mereka di sini membuat mereka menderita." ucap Bastian.


Wisnu menghela napas berat, "Iya."


Di tengah-tengah Obrolan mereka, tiba-tiba seorang pembantu datang.

__ADS_1


"Maaf, Tuan, permisi. Di luar ada tamu mencari Tuan, beliau bernama William."


"William?."


"Iya, Pak. Beliau menunggu di ruang tamu."


Wisnu mengangguk William langsung ke ruang tamu sementara Anggun dan Sebastian masuk ke kamar untuk beristirahat sedangkan Bastian izin pergi ke rumah Farel.


"William." Sapa Wisnu begitu melihat mantan sekretarisnya itu.


"Lama tidak bertemu."


William menganguk dan mereka saling berjabat tangab.


"Aku baru pulang dari Rusia dan begitu tahu kamu mengirim email ingin bicara denganku aku langsung ke sini."


"Terima kasih sudah datang. Silahkan duduk."


William pun duduk di sofa single sementara Wisnu duduk di sofa panjang. Setelah William berhenti menjadi sekretaris Wisnu mereka tetap menjalin hubungan yang dengan baik. Namun karena kesibukan masing-masing, mereka jarang bertemu apalagi sekarang William juga memiliki perusahaan sendiri.


Mereka mengobrol dan menanyakan kabar masing-masing lalu bercerita tentang perkembangan perusahaan. Cukup lama hingga Wisnu berdehem ingin membicarakan masalah yang bersifat lebih pribadi.


"Saya ingin bertanya sesuatu dengan masa lalu," ucap Wisnu.


"Masa lalu apa?."


"Dulu saya pernah memberi kamu uang sekoper dan saya meminta kamu untuk menyerahkan uang itu kepada Arumi, agar Arumi pergi dari kehidupan Putra saya apa kamu memberikan uang itu? saya ingin mendengar kejujuran kamu."


Sebelum nya William tampak tenang William berubah gusar, Wisnu menyadari itu artinya memang ada sesuatu yang William sembunyikan darinya.


"Saya tidak akan marah, toh itu sudah menjadi masa lalu. Saya hanya ingin tahu kebenaran yang terjadi hari itu."


William menghela nafas berat.


"Hari itu saat anda memberikan uang sekoper pada saya untuk saya berikan kepada Arumi. Benar saya tidak memberikan pada Arumi saya mengambilnya untuk diri saya sendiri."


Kecewa, itulah yang bisa Wisnu rasakan sekarang, tapi mau marah juga bagaimana terasa percuma saja semua itu sudah masa lalu dan tak bisa diubah kembali.


"Kenapa?." hanya kata itu yang keluar dari mulut Wisnu.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2