Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 140


__ADS_3

Sebastian memegang siku Hendrawan saat dia merasakan tubuh adiknya goyah. Perlahan Hendrawan mengangkat kepala dan bertatapan tepat dengan mata Abangnya.


"Aku kehilangan Ayuma dan Rachel. Aku kehilangan istri yang begitu mencintaiku dan Putri kandungku Rachel, Bang. Aku sudah terlalu banyak menyakiti dia selama ini, aku selalu memprioritaskan Luna dan mengutamakan kebahagiaannya tapi ternyata Luna bukan Putri kandungku, aku mengabaikan kebahagiaan Putri kandungku demi membahagiakan Putri orang lain. Aku menyesal Bang. Tolong kembalikan Rachel padaku. Aku harus gimana sekarang, aku ingin bertemu dengan mereka."


Sebastian masih mencoba mencerna kalimat demi kalimat yang adiknya katakan. Intinya Dilara berbohong soal Luna dan Hendrawan mengetahui kebohongan itu sampai dia semenyesal ini.


"Kamu pasti tau di mana keberadaan mereka kan, Bang? Tolong beritahu aku sebut nama negaranya saja. Alu akan ke sana dan mencari mereka dengan caraku sendiri. Aku sudah tidak peduli lagi dengan Dilara dan Luna. Aku bahkan tidak peduli jika saat ini Dilara mati di kolam renang."


Seketika Sebastian terbelalak. "Apa maksud kamu Dilara mati di kolam renang," Sebastian mencengkram balik lengan adiknya dan menatapnya tajam. "Jangan bilang kamu membunuh Dilara. Aku nggak mau kamu jadi pembunuh, kesalahan Dilara akan melayang dan ujung-ujungnya juga Hendrawan yang akan di salahkan.


Sebenci apapun Sebastian pada Hendrawan, dia tetap adiknya. Sebastian tidak akan pernah benar-benar benci pada Hendrawan.


"Ikut aku!." Sebastian mencengkram lengan Hendrawan dan mengajaknya ke kolam renang.


"Aku nggak mau Bang, aku malas bertemu dengan Dilara."


"Kalau dia mati gimana?, bodoh!." Sebastian tidak tahan untuk tidak membentak Hendrawan, berharap dia bisa memberi Hendrawan kesadaran.


"Ayo!." Sebastian menyeret paksa Hendrawan menuju ke kolam renang. Hendrawan mendengkus kesal, tapi tetap mengikuti langkah kaki abangnya.


Sesampainya di kolam renang, jantung Sebastian nyaris lompat dari tempatnya melihat tubuh Dilara terendam di kolam renang dengan wajah pucat.


"Gila kamu!."


"Iya aku gila dan aku ingin sekali membunuh dia."


"CUKUP!, kamu nggak denger apa yang gue bilang tadi ? aku nggak mau kamu jadi pembunuh. Dan kamu sudah banyak mengecewakan papa. Sekarang kamu mau membuat Papa kecewa dengan menjadi seorang pembunuh? Mikir dong Hendrawan! punya otak tuh di pake!." gemas Sebastaian rasanya ingin menonjok adiknya.


Hendrawan terdiam, dan melirik ke kolam renang. Di sana Dilara sudah tidak sadarkan diri.


"Cepat angkat dan baw ke rumah sakit! Semoga Dilara belum meninggal."


Hendrawan tidak punya pilihan dan akhirnya memanggil satpam untuk membantu nya mengangkat Dilara. Dingin, itulah yang Hendrawan rasakan saat menyentuh kulit Dilara. Wajahnya begitu pucat, Tidak di pungkiri Hendrawan merasa takut sekarang. Jika Dilara benar-benar mati, di akan jadi pembunuh. Papa nya akan semakin kecewa padanya.


"Dia masih hidup?." Sebastian berjongkok di samping Dilara dan meletakkan jari telunjuk hidungnya, masih ada hembusan nafas. Lalu menyentuh denyut nadi di pergelangan tangan dan ternyata masih terasa denyut nadi. Syukurlah Dilara masih hidup.


"Sekarang kita bawa dia ke rumah sakit."


Hendrawan menyuruh pak Satpam menggendong Dilara dan membawa nya ke mobil, sementara dia masuk ke dalam kamar untuk mengganti baju nya yang basah. Setelah itu dia ikut bersama abangnya ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan Sebastian tidak berhenti mengomel, sementara Hendrawan hanya sedikit mendebat selebihnya diam dan menginyakan semua perkataan abangnya.

__ADS_1


***


Sesampainya di rumah sakit, Dokter dan perawat langsung membawanya ke UGD, Hendrawan duduk di bangku tunggu depan UGD. Sedangkan Sebastian menelpon istrinya dan menelpon mengatakan kalau dirinya akan pulang terlambat. Sebastian hanya cerita singkat soal Dilara. Untung saja Anggun pengertian dan tidak menuntut banyak cerita lebih lengkap.


"Sekali lagi aku minta maaf yah, pulang telat!. Love you."


[Love you too. Take care.]


Sebastian mengakhiri panggilan, memasukkan ponsel ke dalam saku. Lalu duduk di samping Hendrawan.


"Ck, harusnya sekarang aku pulang di rumah bersama istriku," Sebastian menatap jengkel Hendrawan. "Kenapa juga aku harus sepeduli ini sama kamu. Semua jadi seperti ini karena ulah kamu sendiri. Kamu yang memilih Dilara, kamu yang menderita. Kamu yang menyuruh Ayuma pergi, kamu juga yang menangis. Kamu yang lebih menyanyangi Luna dan kamu yang mengabaikan Rachel. Kamu juga yang merasa menyesal."


"Makan nya sebelum berbuat itu di pikir baik-baik dulu. Kalau sudah begini juga siapa yang repot. Aku, Aku juga yang repot! Mau nya sih nggak peduli tapi lihat muka kamu merasa kayak tikus kecebur got gitu. Aku mana tega."


Hendrawan lagi-lagi hanya diam mendengar omelan abangnya. Tenaga nya udah habis untuk marah-marah, dan kenapa juga harus marah. Semua yang Abangnya katakan emang benar.


Respon Hendrawan yang hanya diam justru membuat Sebastian merasa bersalah.


Kemudian hening cukup lama, tiba-tiba pintu UGD terbuka.


"Bagaimana kondisi pasien Dok?." tanya Sebastian sementara Hendrawan masih duduk di kursi.


"Untung kalian membawa nya cepat ke rumah sakit sehingga bisa mendapatkan pertolongan."


Hendrawan menghela nafas panjang dan menyandarkan punggungnya di bangku.


"Terus sekarang kamu mau nya gimana?." tanya Sebastian.


"Aku ingin mencari Ayuma dan Rachel."


"Tadi siang aku ke kantor, sekaligus bertemu dengan Samuel. Aku bertanya keberadaan mereka, tapi Samuel mengatakan dia tidak tahu keberadaan Ayuma. Laki-laki yang bernama Edgar itu benar-benar menyembunyikan Ayuma dan Rachel sampai tak terjangkau. Samuel bilang Ayuma menitipkan beberapa hal padanya, menitipkan perusahaan dan mengurus gugatan cerai. Samuel bilang pengacara Victor sedang mengurus perceraian kalian. Meskipun Ayuma tidak datang, sudah ada pengacara yang mewakilinya. Kamu dan Ayuma akan tetap bercerai.


Hendrawan langsung membuka mata dan menoleh pada abangnya.


"Aku nggak mau!."


"Mau nggak mau kenyataan nya memang begitu. Sudahlah lebih baik kamu urus Dilara saja."


Hendrawan mengacak rambutnya frustasi. "Aku nggak peduli lagi dengan perempuan itu. Kamu tahu Bang, rasanya aku ingin sekali membunuhnya sekarang. Aku benar-benar sangat membencinya, aku ingin Dilara hilang dalam hidupku."

__ADS_1


Sebastian berkerut, dahi nya berkerut tampak sedang berpikir serius.


"Jika aku tidak bisa membunuh Dilara setidaknya aku ingin Dilara hilang dalam hidupku, Bang. Aku benar-benar muak dengan perempuan itu. Hidupku hancur gara-gara dia."


"Sebenarnya hidup kamu hancur juga gara-gara ulah kamu sendiri. Kamu harus intropeksi diri dan berhenti menyalahkan orang lain. Orang lain bisa memengaruhi kamu tapi kalau kamu teguh pada pendirian kamu, kamu juga tidak akan terpengaruh. Tapi kalau kamu ingin Dilara menghilang dari hidup kamu. Aku bisa membantu."


"Membantu bagaimana, Bang?."


Sebastian merangkul pundak Hendrawan, "Tapi janji berubah?."


Hendrawan menganguk patuh.


"Aku akan menyuruh orang untuk membawa Dilara pergi ke luar negeri dan memastikan Dilara tidak akan pernah kembali ke negeri ini."


Hendrawan mengangkat sebelah alis.


"Bersama Luna?."


"Berpisah saja. Sepertinya Dilara sangat menyanyangi Luna. Berpisah dengan Luna menjadi hukuman terberat untuk Dilara. Anggap saja biar Dilara merasakan apa yang kamu rasakan, kalian sama-sama Berpisah dengan Putri kandung kalian. Gimana?."


"Iya, Bang. Aku setuju."


"Ya udah kamu tunggui saja. Aku mau pulang sekarang."


Sebastian berdiri, mengacak rambut adiknya dengan sedikit tampolan di belakang kepala nya, lalu bergegas pergi. Hendrawan berdecih dan merapihkan rambutnya.


"Dikira gue masih anak kecil, selalu aja acak-acak rambut gue."


Setelah kepergian Sebastian, Hendrawan termenung sesaat lalu berdiri dan melangkah menuju ke samping teras rumah sakit. Menghembuskan nafas panjang, dan Hendrawan mendongakkan kepala menatap langit malam.


"Rachel," gumamnya sembari tersenyum sendu, "Kamu dimana, Nak? Bagaimana kondisi kamu sekarang? Kamu baik-baik saja kan? kapan kamu akan pulang? papa di sini menunggu kepulangan kamu. Papa akan selalu menunggu."


"Ayuma..." tanpa terasa air mata Hendrawan mengalir begitu saja dari sudut mata saat menyebut nama istrinya. "Maaf untuk semua yang terjadi. Pulanglah. Aku juga akan menunggu kamu, Ayuma. Aku akan menunggu kamu, Ayuma. Aku akan menunggu kapanpun sampai kamu pulang.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


***


__ADS_2