Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 91


__ADS_3

"Maaf ya, Pak. Itu mobil Mama dan Papa saya."


Tepat setelah Luna turun dari mobil, Dilara langsung memeluknya. Sementara Hendrawan bernafas lega ternyata penumpang mobil itu memang benar-benar putrinya karena tadi Hendrawan sempat kehilangan jejak.


"Ya ampun, Sayang. Akhirnya Mama bisa menemukan kamu, Mama khawatir sekali." Dilara mengeratkan pelukan dan mencium pipi putrinya.


"Maaf Mama sudah berbohong. Mama melakukan itu karena Mama takut kamu insecure dan menjadi tidak percaya diri lagi. Mama benar-benar minta maaf, Sayang. Tolong jangan pergi lagi. Mama nggak bisa hidup tanpa kamu."


Tangis Luna pecah dalam pelukan Dilara, Hendrawan juga ikut berkaca-kaca dan mengusap rambut putrinya.


"Sekarang kita pulang ya. Jangan kabur-kaburan lagi. Papa sangat mengkhawatirkan kamu, Luna."


"Iya, Pa."


Dilara merangkul pundak Luna dan membawanya masuk ke dalam mobil sementara Hendrawan membayar ongkos taksi putrinya. Setelah itu Hendraaan melajukan mobil pulang.


Hendrawan menyetir sementara Dilara dan Luna duduk di belakang. Masih terisak-isak Luna bersandar di bahu Dilara.


"Meskipun kamu anak di luar nikah tapi itu tidak akan mengubah apapun, Sayang. Kamu akan tetap menjadi anak kesayangan Papa dan Mama. Kamu anak buah cinta Mama dan Papa, kami sangat menyanyangimu."


"Aku menyanyangi Mama."


Hendrawan menoleh sekilas belakang, "Sayang mama doang? kamu nggak sayang Papa?."


Luna tersenyum samar mendengar godaan Papa nya.


"Luna juga sayang Papa, Maaf ya, Pa. Papa sedang sakit tapi aku malah merepotkan Papa dengan tingkah kekanakan ku ini."


"Ga papa, Sayang. Papa akan melakukan apapun untuk kamu. Kamu juga nggak kekanakan, wajar kamu kabur, Papa mengerti kok,"


Luna mengeratkan pelukan pada Mama nya.


"Tapi jangan di ulangi lagi ya kabur-kaburannya. Terus kalau kamu kabur, kamu mau tinggal di mana coba? Tempat yang paling nyaman dan aman adalah keluarga, Sayang. Sekarang satu-satunya keluarga yang kamu miliki hanya Mama dan Papa. Kami akan selalu menjaga dan melindungi kamu tanpa pamrih."


"Iya, Ma. Sebenarnya aku juga nggak tahu mau kabur kemana. Tadinya aku mau ketemu Farel mungkin Farel mau memberiku tumpangan di apartement nya, tapi ternyata Farel sedang bersama Rachel. Aku pacar nya dan aku juga membutuhkan Farel tapi Farel malah sedang bersama perempuan lain. Aku sedih Ma, Pa. Hikkss."


Hendrawan berdecak, "Ck. sejak dulu Farel memang kurang ajar, Rachel juga egois. Mereka memang sangat cocok. Sudahlah lebih baik kamu putus saja dengan Farel. Nanti Papa jodohkan kamu dengan anak teman-teman Papa."


"Tapi aku sangat mencintai Farel, Pa."


Tak lama mereka pun sampai di rumah. Ternyata ada mobil lain yang baru tiba juga.

__ADS_1


Dia Brandon.


Hendrawan, Dilara dan Luna pun turun dari mobil sementara Brandon mendekat ke arah mereka sambil membawa buket bunga mawar besar dan sebuah paper bag.


"Om," Brandon bingung melihat Hendrawan turun dari mobil bersama Luna dan seorang perempuan seusia Ayuma. Brandon pikir Hendrawan bersama Rachel dan Ayuma.


"Mau ngapain kamu ke sini?." tanya Hendrawan.


"Saya mau ketemu Rachel, Om."


"Rachel lagi, Rachel lagi. KENAPA SEMUA ORANG CUMA PEDULI SAMA RACHEL."


Luna berkaca-kaca dan langsung lari masuk ke dalam rumah. Luna juga berharap Farel membawakan bunga untuknya sama seperti Brandon membawakan bunga untuk Rachel. Tapi nyatanya, jangankan membawa bunga, Farel bahkan tidak menanyakan kabarnya sekarang. Atau bisa jadi Farel membawakan bunga untuk Rachel.


Semua orang hanya peduli pada Rachel seolah semesta ini tercipta untuk membahagiakan Rachel. Kesal, luna sangat-sangat kesal.


"Luna, tunggu. Nak." Dilara pun mengejar putrinya.


Hendrawan berdecak marah pada Brandon.


Hari ini juga saya membatalkan perjodohan kamu dengan Rachel. Kamu juga tidak perlu menemui Rachel lagi. Nggak usah peduli sampai membawakan bunga kayak gini. Kalau perlu jauhi Rachel."


Brandon mengerutkan alis. "Nggak bisa gitu dong Om. Kenapa tiba-tiba Om membatalkan perjodohan saya dengan Rachel?."


Brandon terkejut dengan kalimat demi kalimat yang Hendrawan ucapkan sampai dia bingung mencerna satu persatu makna ucapan Hendrawan. Kenapa juga dia harus dekat dengan Luna? Apa hubungan Hendrawan dengan Luna sampai Hendrawan sepeduli itu.


"Saya tidak mengerti kenapa Om tiba-tiba mengambil keputusan sepihak seperti ini. Tapi satu hal yang harus Om tahu saya tidak akan pernah menjauhi Rachel. Saya sudah terlanjur mencintai putri Om. Dan meskipun Rachel menentang perjodohan ini dan tidak mencintai saya, saya yang akan berjuang mendapatkan cinta Rachel."


"Cinta? kamu mencintai Rachel? Hanya dalam waktu beberapa hari? kamu bahkan belum mengenal Rachel dengan baik? Apa kamu tahu sifat asli Rachel seperti apa? Dia sangat keras kepala, kekanakan, dan manja. Dan tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan Luna."


"Kenapa tiba,tiba Om jadi membandingkan Rachel dengan Luna? Mereka bersahabat, tidak perlu di bandingkan Om."


Hendrawan mendengus keras, "Terserah saya tidak peduli. pokoknya saya tidak akan merestui kamu dengan Rachel."


Hendrawan menghentakkan kaki menuju ke teras rumah, Brandon segera menghadang jalannya.


"Terus sekarang Rachel di mana, Om? Saya ingin bertemu dengan Rachel."


"Anak itu bukan urusan saya lagi. Saya dan Ayuma akan bercerai. Dan mereka tidak tinggal di rumah ini lagi."


"Cerai?."

__ADS_1


"Iya!."


Meredam keterkejutan nya, Brandon bertanya lagi, "Terus Rachel dimana, Om?."


"Kamu budeg? Saya bilang saya tidak tahu dan saya tidak peduli. Pergi kamu dari rumah saya! kalau kamu tidak mau pergi, saya akan menyuruh satpam menyeret kamu pergi."


Tanpa menunggu jawaban Brandon, Hendrawan masuk ke dalam rumah dan membanting pintu dengan keras.


Brandon mengepalkan tangan kesal dan masuk ke dalam mobil lagi. Meletakkan paperbag dan buket bunga di kursi sampingnya. Brandon mengambil ponsel di dashboard mobil dan mengirim pesan pada Rachel.


Hari ini malam minggu Brandon berencana memberikan surprise dengan membawakan bunga dan coklat tapi ternyata Rachel tidak ada di rumah. Harusnya sebelum datang ke sini Brandon bertanya duku pada Rachel.


Brandon : Rachel, aku ada di depan rumah kamu tapi Papa kamu bilang kamu dan Mama kamu pergi. Boleh aku yahu kamu di mana?.


Sepuluh menit berlalu tapi Rachel belum membalas pesannya. Brandon menunggu dengan khawatir, takut terjadi sesuatu dengan Rachel apalagi tadi Hendrawan mengatakan dia akan bercerai dengan Ayuma. Perceraian orang tua hal yang paling menyakitkan untuk anak-anak.


Lima belas menit kemudian Rachel online.


Seketika mata Brandon berbinar melihat chatroom Rachel sedang mengetik.


Rachel : Iya, aku dan Mama sudah pergi dari rumah itu. Kami ada perlu apa ingin bertemu denganku?.


Brandon : Aku mengkhawatirkanmu.


Rachel : Papa pasti sudah cerita kan? Aku nggak tahu apa yang Papa ceritakan dan aku ngga tahu apa yang kamu dengar sampai kamu memgkhawatirkanku tapi yang jelas aku baik-baik saja sekarang.


Tidak ada anak yang baik-baik saja, setelah mendengar orang tua bercerai. Tapi Rachel berusaha terlihat baik-baik saja dan tidak ingin terlihat menyedihkan di depan orang lain. Gadis ini ingin terlihat kuat dan tidak ingin di kasihan.


Brandon : Boleh kah aku bertemu dengan kamu malam ini? Sebentar saja, lima menit, dua menit juga ga papa. Tapi jangan lima detik. Lima detik cukup buat kedip doang.


Rachel : Boleh.


Seketika senyum Brandon mengembang, senyumnya semakin berbinar lebar saat Rachel mengirim alamat rumah barunya.


Brandon : Terima kasih. Aku ke sana sekarang.


Brandon pun segera melajukan mobil menuju ke alamat yang sudah Rachel kirim.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2