
Hendrawan mengusap wajahnya dengan kasar sembari menghembuskan nafas panjang. Semuanya belum pasti. Bodyguard Joni masih terus mencari. Masih ada harapan Ayuma dan Rachel ada di Jakarta tapi tetap saja Hendrawan merasa gelisah. Dia tidak akan tenang sebelum dia memastikan Ayuma dan Rachel ada di kota ini.
"Permisi."
Di tengah obrolan mereka tiba-tiba seorang satpam mengetuk pintu.
"Kenapa?." tanya Hendrawan pada satpamnya itu.
Pak Satpam itu mendekat dan berdiri di samping Hendrawan.
"Maaf mengganggu Pak, saya ingin memberikan surat."
Hendrawan mendongak dan menerima surat yang di ulurkan pak satpam.
"Surat dari siapa?."
"Saya tidak tahu, Pak. Semalam sekitar jam 12.00 malam ada seorang laki-laki mengendarai motor dan memakai pakaian serba hitam menggedor-gedor gerbang. Saya yang tidur di pos satpam langsung bangung dan mengecek. Orang itu menyerahkan surat ini dan menyuruh saya memberikan kepada Pak Hendrawan."
"Ya sudah terima kasih. Kamu kembalilah bekerja!."
"Baik, Pak."
Hendrawan menunduk dan membolak-balikan amplop berwarna hitam. Seumur hidup pertama kalinya Hendrawan mendapat amplop hitam.
Hendrawan mengambil surat itu dan membacanya. Begitu selesai membaca seketika Hendrawan terbangong cukup lama. Tak percaya isi surat itu. Mungkin dia salah membaca, Hendrawan pun membaca ulang dengan pelan-pelan namun isinya tak berubah.
"Edgar pembawa pergi Ayuma dan Rachel?."
"NGGAK. NGGAK MUNGKIN!."
"Semua ini pasti bohong."
Hendrawan menolak percaya dan merobek-robek kertas itu lalu berdiri dan mencengkram kerah Joni. Joni membelalak terkejut namun tidak protes, Dia mengerti kemarahan Hendrawan sekarang, kemarahan yang membuatnya sulit mengendalikan emosi.
"Cari dan temukan mereka aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan, asalkan kamu bisa menemukan mereka!."
Mata Hendrawan memerah-marah dan berkaca-kaca dalam waktu bersamaan.
"Aku mohon. Tolong." Hendrawan menunduk sambil mengeratkan cengkraman di kerah Joni dan perlahan lantai mulai basah dengan tetesan air mata Hendrawan.
__ADS_1
***
Pukul 12.00, Rs Pelita, Vip Room.
"Nak, ayo buka mulut, Mama suapin," Dilara mengarahkan sendok ke mulut Luna namun Luna tetap diam.
Sejak tadi pandangannya tampak kosong dan terus tertuju pada jendela rumah sakit yang terbuat dari kaca. Posisi duduknya tidak berubah bersandar pada Hospital bed sembari menggigit di kuku.
"Sesuap saja ya. Ayo makan. Dari kemarin belum ada makanan yang masuk ke perut kamu. Dokter bilang biar kamu cepat sembuh kamu harus makan.
Luna mengalihkan pandangan pada Dilara.
"Berapa kali aku bilang aku nggak mau hidup lagi, Ma. Aku lelah. Aku merasa tidak punya masa depan lagi. Memangnya siapa yang mau menikahiku dengan masa laluku yang seperti ini."
"Pasti ada" Dilara meraih tangan Luna dan menggenggam erat. "Mama akan mencari keadilan untuk kamu, Mama akan mencari pelakunya. Ternyata malam itu ada Brandon dan Farel, tapi firasat Mama mengatakan kalau Farel yang memperkosa kamu. Kalian sama-sama mabuk."
"Farel."
"Iya, Mama akan minta pertanggungjawaban Farel."
"Apa Mama yakin Farel yang melakukan itu padaku. Mama punya bukti?."
"Cukup, Mah! Aku nggak mau mengulang kesalahan yang sama lagi. Terakhir kali aku melakukan kesalahan karena menuduh Rachel tanpa informasi yang jelas. Aku kehilangan semuanya, aku kehilangan Rachel, aku kehilangan Farel, Dypta, Rendy dan Bastian. Aku sudah hancur sekarang! aku lelah, aku hanya ingin pergi. Pergi jauh dan mencari ketenangan. Ayo pergi Mah!."
"Pergi kemana? kita sudah tidak punya apa-apa lagi. Kamu juga baru bertemu dengan papa kandung kamu kan. Papa kamu pasti sedih tiba-tiba kita pergi. Kita harus bertahan di sini ya, Nak."
"Nggak Ma, aku nggak mau. Aku takut, aku mau pergi saja. Bawa aku pergi, kemana saja. Asal hanya kita berdua Mah, tolong!."
Luna menjambak rambutnya, "AKU MAU PERGI, AKU LELAH, AKU INGIN TENANG."
"Luna apa yang kamu lakukan, berhenti menyakiti diri kamu sendiri."
Saat Dilara berusaha menenangkan Luna, tiba-tiba pintu ruangan terbuka.
"Mas Hendrawan."
Dilara tersenyum lega melihat kedatangan Hendrawan.
"Mas bantu aku menenangkan Putri kita, Mas." Dilara menggenggam tangan Hendrawan, hendak menariknya mendekat tapi tiba-tiba Hendrawan menangkis tangannya.
__ADS_1
"Ada apa Mas?."
"Ada apa kamu bilang? Lihat baca ini!." Hendrawan melempar sebuah kertas pada Dilara dan jatuh di dekat kakinya.
Dilara mengambil dan membaca kertas itu, yang ternyata hasil tes DNA Hendrawan dan Luna.
"Di sini terlihat jelas, DNA ku dan DNA Luna tidak cocok. Itu artinya Luna bukan putri kandungku."
Hendrawan mencengkram kuat lengan Dilara. Mau tidak mau membuat Dilara mendongak, menatap mata Hendrawan. Tubuhnya gemetar dan menahan kesakitan merasakan cengkraman Hendrawan yang begitu kuat.
"Lepas, Mas. Sakit!."
"Sakit? Lebih sakit mana aku yang sudah kamu bohongi selama ini? kamu yang mengatakan padaku kalau Luna adalah putri kandung kita, ternyata dia bukan darah dagingku. Kamu mengatakan setia hanya tidur denganku. Tapi kehadiran Luna itu artinya kamu sudah tidur dengan laki-laki lain, siapa?. Siapa Ayah kandung Luna? Dengan siapa kamu tidur?."
Hendrawan begitu marah, matanya begitu memerah tapi juga berkaca-kaca dalam waktu bersamaan. Kecewa, sedih, marah, benci, kesal semua bercampur aduk membuat Hendrawan nyaris gila rasanya.
"Kenapa kamu tega melakukan ini kepadaku, Dilara? Aku begitu mempercayai kamu, aku bahkan lebih mempercayai kamu di bandingkan dengan Ayah kandungku sendiri. Aku bahkan lebih memilih kamu meskipun Papaku mengancam untuk memutus hubungan keluarga, meninggalkan istri dan anak kandungku. Ternyata selama ini kamu membohongiku, Dilara? kenapa?."
Dilara menggeleng dan lelehan air mata membasahi pipinya.
"Aku juga nggak tahu Mas, Aku pikir Luna adalah putri kandungmu. Jujur aku pernah melakukan itu sekali dengan laki-laki lain. Tapi aku nggak sengaja, malam itu aku pergi ke Club. Melampiaskan kesedihan karena kamu putusin aku, aku mabuk dan tidur dengan seseorang."
"Aku nggak tahu siapa laki-laki itu, aku hanya menganggap nya angin lalu dan kesalahan semalam. Lalu seminggu kemudian kamu datang padaku, kamu bilang kamu menyesal putusin aku. Aku masih ingat dengan jelas malam itu, kamu menciumku dan tidak akan meninggalkan aku."
"Kamu juga mengatakan akan bercerai dan meninggalkan Ayuma. Karena itu aku percaya dan bersedia untuk tidur dengan kamu, Mas. Setelah beberapa minggu percintaan kita, aku hamil. Saat itu aku mengira Luna putri kandung kamu, Mas. Aku juga sama-sama terkejut saat Dokter bilang kalau golongan darah Luna berbeda dengan golongan darah kita, Mas."
Hendrawan melepas cengkraman tangannya dan mendorong Dilara dengan keras sehingga tubuh Dilara terhuyung ke belakang dan menabrak sisi sofa.
"Aku juga tidak tahu, Mas. Aku juga sama terkejutnya sama kamu. Aku-."
"AARRRGGGHH."
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1