Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 109


__ADS_3

"I-itu karena Rachel nampar gue duluan. Siapa yang nggak marah ditampar, gue jambak Rachel juga reflek. Terus ya teman-teman gue ikut bantu gue."


"Oh reflek ya," Bastian mengangguk-angguk mengeluarkan ponsel dari saku dan menunjukkan sebuah video pada Bella.


Video yang seketika membuat Bella melotot lebar, bahkan bola matanya nyaris keluar.


"Gimana kalau gue juga reflek pencet tombol ini. Dan Booommm, lo pasti viral. Tawaran lo buat jadi artis plus-plus pasti banjir."


Bella menggelengkan kepala , tubuhnya bergerak heboh, berusaha melepaskan ikatan di tangannya, dan menatap Bastian dengan sorot mata penuh permohonan.


"Jangan, jangan sebarkan video itu. Gue mohon. Sekarang hidup gue juga sudah hancur. Gue sudah di DO dan orang-orang jauhin gue. Gue salah. Gue akan minta maaf sama Rachel. Tapi tolong jangan sebarin video itu."


"Emangnya waktu Rachel minta lo berhenti buat gangguin dia, berhenti ngebully dia, lo berhenti ? Enggak.Lo justru semakin menjadi-jadi dan merasa Superior karena Rachel diam aja . Lobakan ajak temen-temen lo buat ikut nge-bully Rachel. Tapi sepertinya lo lupa, Rachel punya kita yang gak akan diam saja."


Bella terus menggelengkan kepala, menatap memohon pada Bastian agar Bastian mengurungkan niatnya untuk menyebarkan video itu.


"Lo jago juga ternyata, Rendy terkekeh melihat video threesome Bella, "Lo nuduh Rachel digilir sama kita-kita, tapi nyatanya ... Cih. Emangnya orang yang suka nuduh tuh biasanya dia sendiri yang suka ngelakuin."


"Nggak, nggak jangan sebarin video itu gue mohon!."


"Eh, ups refleks kepencet," Bastian benar-benar memencet vidio itu.


"AAARRRGGG,"


"Berisik najis!."


Byur.


Rendy mengambil air dari kolam ikan dan mengguyur Bella. Bella gelagapan dan meraung-raung, terus memohon pada Bastian untuk menarik ulang video itu sebelum viral.


"Gini aja lu mohon-mohon. Kemarin ke mana aja waktu lo nge-bully adik gue ! Gue cuma ngelakuin apa yang lo lakuin dan sedikit tambahan boncabe!" Bastian terkekeh, "Jadiin ini pelajaran buat lo. Itu datangnya di akhir dan kalau lo cari musuh, cari musuh yang sepadan, Berani-beraninya lo nge-bully Rachel."


Bastian mendapat informasi pembullyan Rachel dari teman dekat Rachel yang bernama Wulan. Ternyata setelah mencari tahu, laki-laki yang mem-pilok mobil Rachel adalah orang suruhan Bella juga, tapi bukan mahasiswa. Sekarang laki-laki itu ada di rumah sakit , kritis.


"KALIAN SEMUA JAHAT, KALIAN IBLIS!!!."


Dypta yang sejak tadi diam sambil menghisap rokok dalam-dalam perlahan mendekati Bella. satu tangan memegang rokok , satu tangannya terkepal kuat .


"Kalau gitu gue tunjukin the real devil itu seperti apa."

__ADS_1


Dypta menjentikkan jari pada batang rokok, lalu....


"AARRG." Bella menjerit saat pipi kirinya di sudut rokok. "SAKIT BERHENTI, STOP. AARGG."


"Sssst, jangan teriak, semakin lo teriak semakin gue senang dan nggak akan berhenti. Tutup mata dan bayangkan kesakitan Rachel saat lo mencakar wajah, leher dan lengannya."


Bella gemetar dan tak kuasa menahan tangis, apalagi saat matanya bertatapan dengan mata Dypta yang sangat mengerikan.


Bella tidak menyangka Dypta akan sekejam ini, padahal di antara mereka berempat termasuk Farel. Dypta yang terlihat paling baik dan kalem. Tapi ternyata di balik wajah manis dan kalem itu menyimpan sisi iblis.


"AAARRGGG," Bella menjerit lagi saat leher nya di sudut rokok lagi, "AMPUN TOLONG!."


Bella terus memohon tapi tidak ada tanda-tanda Dypta akan berhenti.


"Sudah cukup," Bastian menahan lengan, Dypta pun mundur.


Rendy mengalihkan pandangan pada teman-temannya. "Enaknya diapain lagi?."


"Gimana biar dia ngerasain gimana rasanya di gilir sama Bodyguard nya Farel?."


Mereka terkekeh, tapi setelah di pikir-pikir sepertinya cukup sampai di sini. Bella juga sudah pingsan dan wajahnya sangat pucat.


***


Keheningan ini terasa kian mencekam, membuat tidak nyaman. Namun bingung juga ingin memulai dengan obrolan apa. Rachel hanya bisa diam menunggu Farel berbicara.


"Soal IG story Luna."


Sepersekian detik Rachel langsung menoleh, "Itu bohong. Semua yang Luna katakan bohong."


"Buku diary, perasaan lo itu juga bohong?."


Rachel meremas jari-jarinta mendengar pertanyaan Farel yang tak terduga. Menelan ludah susah payah untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering. Kemudian menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan perlahan.


"Benar."


Tidak ada gunanya berbohong lagi . Tidak perlu ada yang ditutupi lagi . Menyangkal sebagaimanapun apa ada akhirnya Farel akan tahu atau bahkan mungkin sudah tahu . Namun hanya ingin mendengar langsung dari mulutnya .


"Kapan?."

__ADS_1


"Bilangnya sudah baca kok masih tanya kapan ?"


"Diary itu tertulis dari kecil. Kecil nya itu sekecil apa? Maksudnya sejak umur berapa?."


Rachel menghela nafas panjang, "Lo pasti ketawa kalau gue bilang udah suka sama li sejak kelas satu SD."


"Apa muka gue kelihatan ketawa sekarang?." Farel menoleh dan wajahnya terlihat sangat-sangat serius.


Rachel tersenyum samar, "Muka lo garang banget dari tadi."


Farel kembali menatap ke depan sambil mencengkram setir agak lebih kuat.


"Apa yang membuat lo suka sama gue ? Maksudnya kenapa gue? Ada Dypta dan Rendy? Terus dari kecil kota juga sering berantem, kayak nggak pernah akur. Lo juga sering bilang lo benci sama gue. Lo bahkan pernah bilang lo lebih suka main sama Dypta, Rendy dan Bastian daripada gue. Sampai terlintas dalam pikiran, lo suka sama gue pun nggak pernah saking anti nya lo sama gue. Kita deket waktu mau buat onar doang. bahkan semua orang di sekolah juga tahu kita musuhan."


"Karena gue deg-degan deket sama lo, Rel. Jantung gue rasanya mau meledak. Issh gitu aja nggak tahu!."


Rachel melengos menatap keluar jendela, sementara Farel tersenyum samar.


"Sekarang masih deg-degan ?."


"Nggak."


Kalimat jutek itu entsg kenapa terdengar manis di telinga Farel.


"Nggak apa?."


"Apa sih?."


"Nggak salah lagi kan?."


"Bisa diem nggak?"


Rachel semakin mengarahkan kepalanya menatap jendela agar pipinya mungkin merona merah tak diingin dilihat oleh Farel.


"Rachel gue nggak bisa membayangkan sesakit dan secemburu apa setiap lo melihat gue sama Luna. Gue juga nggak bisa menjaga perasaanmu Karena gue sama sekali nggak menyadari perasaan lo, bodoh kan?.


Ya cowok yang lo cintai memang sebodoh itu . Gue bahkan sering curhat dan meminta saran lo cara mendekati Luna . Bukan itu saja kebodohan gue menyakiti lo, hari itu setelah Luna pulang ke rumah Luna dan meminta kamu menjadi saksi gue menyatakan cinta pada Luna."


Farel tersenyum muram,

__ADS_1


"Lalu setelah gue kembali ke mobil, gue lihat mata lo sembab . Bodohnya saat Lo bilang lo nangis gara-gara lo nonton drakor yang sad ending, gue percaya aja. Dan masih banyak lagi tangisan lo gara-gara gue.


"Gue selalu mencari lo saat Luna hadir gue fokus pada Luna. Lo selalu ada buat gue tapi orang-orang yang gue ucapkan terima kasih justru Luna. Bodoh banget kan gue?"


__ADS_2