
"Farel," Rachel mendorong dada Farel menjauh untuk melepas ciuman mereka Namun Farel tetap menekan bibirnya hingga...
Plak...
Farel terkejut saat tiba-tiba satu tamparan keras melayang di pipinya.
"Lo bau, Rel. Hoek!." Rachel benar-benar ingin muntah.
"Eh," Farel mengerjab beberapa kali, tersadar dari lamunannya yang mengira tamparannya itu sebab yang dia lakukan terlalu kurang ajar. Tapi sepertinya memang kurang ajar . Bagaimanapun juga jadi di depannya itu berstatus pacar orang , tidak seharusnya Farah mencium paksa seperti tadi . Tapi baru pacar kan
Bau alkohol lo nempel di bibir gue. Pengen muntah, hoek."
"Ayo ke apart gue."
Farel segera memasukkan password, baru saja ingin membuka pintu, Rachel lebih dulu mendorongnya ke samping dan berlari masuk ke dalam kamar mandi.
"Separah itu ya?." Farel meringus lalu memghembuskan nafas melalui mulut ke telapak tangan dan menghirup aromanya.
"Hoek," Mendadak Farel jadi pengen muntah lagi.
"Pantas saja Rachel muntah."
Semoga saja Rachel tidak trauma ciuman dengannya.
Farel teringat, Ayah nya pernah bilang, "Jangan minum alkohol. Ayah pernah melakukan kesalahan fatal pada mamah kamu, kesalahan yang masih Ayah sesali sampai sekarang. Malam pertama mama kamu... Ayah melakukan ya saat mabuk tanpa pemanasan."
Tapi jiwa anak muda dalam diri Farel yang menggebu-gebu dan selalu ingin mencoba hal-hal baru, tetap membawanya pada minuman mengandung candu itu. Sejauh ini aman-aman saja. Hanya semalam yang parah sampai Farel tepar.
"Sorry," Farel buru-buru minta maaf begitu Rachel keluar dari kamar mandi.
"Sorry untuk apa? untuk mencium gue dengan mulut bau lo itu atau untuk tindakan kurang ajar lo mencium pacar orang?."
"Dua-dua nya," Farel meringis.
Rachel berdecih.
"Ya udah gue mandi dulu, terus nanti lanjut ciuman."
Rachel ternganga, baru saja melayangkan pukulan, tapi si jail itu sudah masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya. Tak lama terdengar suara kekehan.
"Tunggu di situ, nggak lama kok mandinya."
"OGAH, GUE MAU PERGI!."
"Rachel.:
Rachel menoleh dan melotot melihat Farel keluar dari kamar mandi hanya memakai boxer.
"REL!."
"Bentar doang kok mandi nya. Tunggu di tepi kasur. Bentar doang serius."
Farel kembali masuk ke dalam kamar mandi dan terdengar suara gemericik air.
"MANDI BENTAR MANDI APA. YANG BERSIH SAMPAI MULUT LO WANGI DAN BAU ALKOHOL ITU HILANG."
"SIAP, UDAH NGGAK SABAR YA."
__ADS_1
"Ngga sabar apaan sih, ya biar lo nggak bunuh gue aja dengan bau naga mulut lo itu pas kita bicara."
"ATAU PAS KITA CIUMAN," Sahut Far dari kamar mandi.
Sambil menunggu, mata Rachel risih melihat pemandangan kamar Farel yang agak berantakan. Dari pada duduk di kursi seperti permintaan Farel tadi, Rachel bergerak ke sana kemari dengan cekatan untuk menaruh barang-barang Farel ke tempat semula . Sudah lama tidak datang ke sini , tapi Rachel masih hafal letak barang-barang Farel .
Nah gini kan enak dilihat , Rachel tersenyum lebar melihat kamar Farel terlihat lebih mendingan dari yang tadi
Namun begitu menyadari dirinya tersenyum aneh , Rachel langsung mengubah ekspresinya menjadi datar . Senyumnya tadi seperti senyum seorang istri bangga melihat pekerjaan rumahnya selesai dengan baik dan tidak sabar menunggu pujian dari suami.
"Aiish mikir apa sih aku?."
Rachel keluar dari kamar Farel.
Dua puluh menit kemudian, Farel keluar dari kamar mandi.
"Eh, eh lo kemana?."
Saking paniknyq melihat pujaan hati tidak ada di dalam kamar, Farel sampai tidak menyadari kamar yang selalu dia tunda-tunda untuk membersihkan, sekarang sudah rapih.
"Rachel."
Farel membuka kamar dan seketika lega melihat gadis yang di cari-cari ada di ruang tamu.
"Apa? teriak-teriak kayak anak kecil di tinggal emak nya ke pasar."
"Gue pikir lo udah pergi."
"Gue di sini, udah sana ganti baju."
Bergerak secepat kilat Farel masuk ke dalam kamar untuk ganti baju.
Rachel membuka roomchat Luna dan membaca ulang riwayat chat mereka.
[Luna: Rachel, aku udah sampai Bangkok. Nanti aku bawain oleh-oleh, Rachel mau apa?.]
[Rachel : Nggak mau apa-apa, mau Luna pulang dengan selamat aja.]
[Luna : Rachel, aku takut banget, di sini banyak senior. Aku merasa di pelototin.]
[Rachel : Pelototin balik. Kalau di apa-apain bilang sama aku nanti aku botakin mereka.]
.
[Luna : Rachel nginep rumah aku yuk, mau tidur sekamar sama Rachel.]
[Rachel : Kamu ke apart ku aja.]
[Luna : Okay.]
.
[Luna : Rachel sayang aku nggak?.]
[Rachel ; Sayaaaang banget.]
Tanpa sadar air mata Rachel mengalir begitu saja membaca chat random mereka. Sekarang mereka tidak bisa chattingan seperti ini lagi. Persahabatan mereka sudah hancur.
__ADS_1
[Kakak Rachel.]
Dalam tangisnya, Rachel tersenyum saat teringat Luna memanggilnya dengan panggilan kakak yang sangat lucu dan imut.
Rachel mengusap foto profil Luna. Di foto ini Luna memakai topi kelinci yang di telinganya bisa digerak-gerakkan berwarna pink. Imut sekali seimut wajahnya.
Kadang Rachel merasa Luna begitu polos dan Naif. Jiwa mudanya membuatnya sulit mengendalikan perasaan. Perasaan iri, ingin diperhatikan dan ingin terlihat bersinar. Luna hanya membutuhkan seseorang untuk membimbingnya menuju jalan yang benar.
[Rachel, menurut kamu sekarang aku baik nggak?.]
[Baik.]
[Suatu hari nanti kalau aku melakukan kesalahan, tolong tampar dan pukul aku, tapi jangan tinggalkan aku ya, temen yang tulus. Aku cuma Rachel.]
Rachel mengetik pesan pada Luna. Setelah konflik mereka. Ini pertama kalinya Rachel mengirim pesan lagi.
[Rachel : Luna kamu sudah berangkat ke LA?.]
Centang dua, tapi tidak di balas.
[Rachel : Sekarang Luna ada di mana?.]
Masih belum ada balasan.
[Rachel : Aku telepon ya?.]
Tidak ada balasan.
[Rachel : Luna, kamu baik-baik saja kan?.]
***
Saat usianya 6 tahun. Saat itu impiannya adalah bertemu dengan Ibunya. Tujuh tahun, tuhan mengabulkan, perempuan yang selama ini menjadi donasi panti dan sering membelikan barang-barang adalah Ibu kandungnya.
"Tuhan, maaf ya, Luna suka minta-minta. Soalnya Luna nggak tau mau minta sama siapa?. Jadi Luna minta sama Tuhan. Luna mau bertemu mama kandung Luna."
Umur delapan tahun, impiannya adalah menjadi penyanyi terkenal.
"Tuhan, aku pengen jadi penyanyi. Biar aku bisa menghibur hati orang-orang yang sedih. Terus biar aku juga bisa terkenal dan banyak yang memperhatikan dan banyak yang peduli padaku. Aku kesepian Tuhan, aku takut sendiri."
Delapan belas tahun, setelah lulus SMA, berkat ajang pencarian bakat Luna berhasil menjadi juara dua. Berkat usaha dan kegigihannya, dia berhasil mendapat AWARD menjadi artis muda pendatang baru terfavorit.
"Tuhan, apa papaku masih hidup? bolehkah aku bertemu dengan papa?."
Umur sembilan belas tahun, Luna berharap bertemu dengan papa nya. Tuhan mengabulkan, papa Hendrawan ternyata Papa kandungnya. Di umur itu juga Luna jatuh cinta pada Farel dan Tuhan mengizinkan menjalin hubungan bersama Farel.
Tuhan selalu baik padanya, memberikan apapun yang dia inginkan. Tapi karena tak puas hati, Luna selalu ingin lebih dan Tuhan bisa mengambil kapan saja dalam sekejap mata...
"Tuhan, maaf..."
Di atas ranjang apartement, Luna menatap langit-langit kamar, Luna terus menggumamkan kata maaf.
"Maaf."
.
.
__ADS_1
.
bersambung...