
"Lo suka sama gue?," tanya Farel.
Deg,!
Jantung Rachel serasa berhenti mendengar pertanyaan itu. Ini bukan pertama kali nya Farel menanyakan pertanyaan ini, tapi di situasi dan kondisi seperti ini rasanya seperti sebuah tembakan peluru tepat mengenai jantungnya.
'Apa aku jujur saja sekarang?,' batin Rachel di lema.
Rachel menggigit bibir bawahnya, menatap lekat mata Farel sambil menimbang-nimbang ingin mengutarakan perasaannya atau tidak.
"Farel,...gu-gue...selama ini Gue..."
"Gue harap lo menjawab tidak, lo hanya tersakiti kalau lo mengubah dari sahabat menjadi cinta. Karena sampai kapan pun gue gak akan pernah jatuh cinta sama lo. Gue mau yang seperti Mamah, dan gue menemukan itu ada di dalam diri Luna. Perempuan yang gue cintai itu namanya Luna bukan Rachel. Tapi Rachel bakalan selalu jadi sahabat gue. Lo, lo akan selalu menjadi bagian yang terpenting dalam hidup gue, Rachel!."
Bahkan dalam detik-detik akan kepergiannya pun, Farel masih bisa menyakiti perasaannya. Rachel tahu Farel tidak bermaksud menyakitinya karena Farel tidak tahu perasaannya, tapi sungguh ini sangat sakit.
Kenapa bisa sesakit ini?, padahal fisik ku tidak terluka, batin Rachel perih. Kenyataan bahwa dirinya sudah di tolak sebelum ia menyatakan perasaannya, sungguh sakit sekali.
Rachel harus mati-matian menahan diri agar air mata nya tidak menetes sekarang.
"Ya udah biarin gue pergi!,"
"Ngga bisa, lo ngga denger yang gue bilang tadi. Lo bagian terpenting dalam hidup gue. Gue gak mau jauh dari lo."
"BERARTI LO EGOIS FAREL"
"Lo gak bisa giniin gue, gu-gue ..." Ucapannya tertahan menahan rasa sesak di dada. Rasanya begitu sakit, Rachel begitu berusaha menguatkan batinnya tapi yang ada malah air mata nya semakin mengalir deras.
"Rachel lo nangis?,"
Farel tergugu membisu dengan pandangan mata tertuju pada punggung Rachel. Punggung gadis itu bergetar menandakan gadis itu sedang meluapkan kesedihan di hati sedangkan Farel sendiri bingung kenapa Rachel menangis.
Beberapa menit kemudian Farel hanya diam dan Rachel masih memunggunginya dengan bahu bergetar.
Tangan Farel terulur ingin menyentuhnya namun takut membuat Rachel bertambah sedih. Farel menarik kembali tangannya dan mengepalkan kuat.
Rachel menarik nafas dalam-dalam san mengeluarkan perlahan. Bisa-bisa nya dirinya menangis dihadapan Farel. Setelah merasa tenang dia berbalik badan.
"Ya udah kalau lo mau pindah, gue gak akan larang, tapi lo jangan nangis!, Lo mau pindah kemana? Tapi gue ikut yah!"
"Ikut?, apa maksud lo ikut?"
__ADS_1
"Gue mau ikut kemanapun lo pergi!" ucap Farel dengan penuh tekad dan ekspresi polosnya.
"Farel... lo tuch Arggg...." teriak Rachel membuat sangat gemas dengan Farel ingin mencakar-cakar wajahnya itu.
"Sepertinya kita harus fokus dengan kehidupan kita masing-masing. Lo harus terbiasa tanpa gue. Seperti yang gue bilang tadi lo ajak aja Luna tinggal di Apartement ini. Hitung-hitung kalian belajar membangun rumah tangga dari sekarang. Bukan malah ngikutin gue yang lo anggap sebagai adik!" ucap Rachel kembali memasukkan pakaian nya ke dalam koper. Kali ini Farel hanya diam saja karena mau bagaimanapun Farel membujuk Rachel, Rachel tidak akan bisa berubah pikiran. Yang bisa Farel lakukan adalah pergi mengikuti kemanapun Rachel pergi.
"Sini gue aja!".
"Gue bisa sendiri, dan lo ga usah ngikutin gue!". Rachel melotot ke arah Farel menyeret kopernya keluar dari kamar. Semua barang-barang yang lain sudah di antar ke Apartement baru. Rachel hanya perlu membawa koper yang terakhir.
Di belakang Farel masih saja mengikuti Rachel.
Sesampainya di lobi Apartemen, Paman Sam orang suruhan orang tuanya membantu pindahan Rachel meletakkan koper di mobil box bersama barang-barang yang lain.
"Sudah semua Paman?," tanya Rachel.
"Sudah, Ayo masuk!" Paman Sam membukakan pintu mobil untuk Rachel.
"Ya ampun Paman, Rachel bisa sendiri."
Paman Sam hanya menganguk dan tersenyum simpul. Rachel masuk ke dalam mobil namun terkejut karena melihat Farel sudah ada di mobil.
"Farel? Ngapain di sini?, keluar!".
"Terserah!" Rachel melengos tak peduli dengan tingkah laku Farel.
Selama perjalanan mereka tidak ada yang berbicara, mereka sibuk dengan ponselnya masing-masing. Di balik kaca spion Paman Sam melihat kelakuan anak muda ini hanya menggelengkan kepala gemas sekali, dia diam - diam ikut tersenyum.
***
Tidak butuh waktu lama mereka sampai di depan Apartemen baru Rachel. Paman Sam, Rachel dan Farel keluar dari mobil.
Degh!,
"I-ini kan?," Farel membulatkan mata begitu menyadari gedung ini adalah gedung tempat tinggal Dipta.
"Iya ini Apartemen Dipta, sama seperti apartement kita. Setiap lantai hanya ada dua unit. Kebetulan di lantai 9, di depan Apart Dipta pemiliknya sudah pindah. Jadi gue bisa pindah di sana."
Farel ternganga, lalu perlahan wajahnya memerah mendadak tak suka.
"NGGA BISA!" teriaknya.
__ADS_1
"Apaan sih!" Rachel melengos meninggalkan Farel yang mematung.
Farel lalu tersadar dan berlari mencengkal lengan Rachel. "Tunggu!."
"Ada apa lagi sih Farel, gue sibuk!."
"Kenapa harus pindah ke Apart Dipta?."
"Emang kenapa? gue udah sewa untuk satu semester ke depan di sana."
"Dipta suka sama lo."
"Yah terus?,"
"Gue ngga suka lo deket-deket sama Dipta."
Rachel speechlees, tidak mengerti dengan jalan pikiran Farel. Farel selalu melarang Rachel dekat-dekat dengan pria lain sementara Farel selalu dekat dengan Luna.
"Sumpah, Rel. lo aneh banget!."
Rachel berjalan ke lobi ingin mengambil kunci Apartement nya tapi Farel menahan lengannya.
"Rachel, please jangan pindah ke sini. Kita pindah yuk ke apartement kita, gue gak suka li deket sama Dipta. Ayo balik!."
Rachel menangkis tangannya dan menatap laki-laki di depannya dengan sorot mata tajam.
"Terus kalau lo ngga suka gue deketin Dipta, gue harus nurutin lo gitu?, Oh tidak bisa. Gue akan ngelakuin apapun yang gue inginkan. Gue akan memperlakukan Dipta seperti gue memperlakukan lo. Setiap wekeend kita hangout bareng, kalau lagi gabut liburan bareng, Gue akan bangunin Dipta setiap pagi,
gue siapin sarapan, gue siapin baju kalau perlu gue mandiin Dipta juga."
"Tapi lo ngga pernah mandiin gue!. eh ma-maksud
lo ngga segitu nya ke gue." kesal Farel.
"Itu khusus buat Dipta biar beda sama lo. Sekalian gue having **** sama Dipta."
"Jangan coba-coba!." Farel mencengkram lembut pergelangan tangan Rachel. "Lo milik gue. Ngga ada yang berhak nyentuh lo selain gue."
Rachel menyipitkan mata tak habis pikir, "Lo gila Rel, sumpah!."
Rachel lelah bicara dengan Farel, mengambil kunci dari resepsionis hendak menuju lift. Tiba-tiba....
__ADS_1
...*** MOHON BANTU LIKE DAN KOMENT YAH ***...