
"Aku beruntung memiliki mereka, meskipun mereka sibuk tapi saat aku membutuhkan mereka, mereka selalu ada untukku. Dan yang membuat ku terharu, aku tidak meminta datang ke sini, tapi entah bagaimana mereka mengerti kesedihanku dan tiba-tiba saja mereka ada di sini. Aku sangat menyanyangi mereka, Ma. Bukan hanya mereka, tapi juga Luna. Semalam dia ada job nyanyi mungkin dia lelah makannya tidak kesini. Tapi selama ini juga Luna selalu ada untukku."
Ayuma menganguk.
"Mamah berdoa semoga persahabatan kalian selalu langgeng dan awet sampai kalian tua nanti. Mamah juga berdoa semoga kamu bahagia selalu."
"Jangan lupa berdoa untuk kebahagiaan mamah sendiri."
"Iyah sayang. Ayo segera masuk dan segera mandi."
"Iya ma."
Ayuma merangkul pundak putrinya dan mengajak nya masuk ke dalam rumah.
***
Selesai sarapan, Dypta langsung balik ke kampus karena ada kuliah pagi. Sedangkan Bastian dan Rendy pulang ke Apasrtement dan melanjutkan tidur mereka. Sementara Farel juga pergi tak lama setelah Dypta pergi.
Sehingga di ruang makan itu hanya ada Rachel. Beberapa menit tadi ada Ayuma tapi pamit ke kamarnya, katanya ingin menemui Papanya.
Rachel pun duduk di meja makan dengan sebuah meja kotak menghadap jendela. Sunyi hidupnya kembali sepi.
Sebenarnya Rachel bisa saja menyibukkan diri dengan mengikuti kegiatan sosial kampus. Tapi hari ini Rachel tidak ingin melakukan apapun. Rachel hanya ingin seperti ini berdiam diri sambil menatap keluar jendela.
"Rachel."
Namun Rachel tak menyangka sosok yang di pikirkan nya, memanggil lembut namanya sembari berjalan ke arahnya.
"Papa."
Hendrawan duduk di kursi tepat di samping Rachel.
"Papa buatkan susu!." Lalu meletakkan segelas susu di meja dekatnya.
__ADS_1
Rachel terkejut, tak menyangka Papa nya membuatkannya susu untuknya. Melihat keterkejutan Rachel, Hendrawan kembali merasa bersalah. Kemarahanya kemarin malam pasti menakutkan Rachel dan membekas di hatinya.
Semalam Hendrawan kecewa karena Dilara terus-terusan menolaknya lalu tanpa sadar Hendrawan melampiaskan kemarahaannya pada Rachel, padahal Rachel tidak salah apa-apa dan tidak tahu apa-apa.
"Papa ingin minta maaf tentang kejadian semalam. Semalam Papa baru pulang kerja dan benar-benar capek. Papa ingin istirahat setidaknya untuk menenangkan pikiran Papa. Tapi tiba-tiba kamu datang dan memeluk Papa seperti itu."
"Iyah Pak, aku juga minta maaf karena aku tidak mengerti keadaan Papa."
Hendrawan menatap wajah putrinya dari samping. Biasanya alamat berdekatan seperti ini, Rachel akan bergelendotan manja di lengan nya dan berbicara banyak hal. Tapi setelah bentakannya tadi malam Rachel seperti menjaga jarak. Bahkan untuk berbicara pun Rachel berhati-hati seolah takut.
Sungguh Hendrawan bukan tipe orang yang tipramental. Hanya kadang saat dia begitu lelah, kemarahaannya begitu memuncak. Contohnya seperti tadi malam Hendrawan sampai membentak Rachel.
Hendrawan benci kehadiran Rachel karena Rachel pengikutnya untuk tetap tinggal bersama Ayuma. Tapi mau bagaimanapun juga Rachel tetap anak kandungnya, darahnya mengalir dalam tubuh Rachel. Meskipun tak menyukainya Handrawan selalu menjadi Ayah yang baik untuk Rachel.
"Hari ini kamu sibuk?."
Rachel menggeleng.
"Mau nggak jalan sama Papa?."
"Jalan?."
"Hm kamu mau kemana hari ini?. Hari ini kita jalan-jalan berdua saja antara Papa dan kamu?."
"Serius Pa?."
"Iyah sayang." Hendrawan tersenyum dan mengusap kepala putrinya. "Sana ganti baju nya!."
"Oke Pah."
Rachel tersenyum senang, lali berdiri dan berlari menuju kamarnya. Tanpa sengaja dia bertemu dengan Mamahnya yang ternyata dari tadi mengawasinya saat berbicara dengan Papahnya.
"Mamah." Rachel menghampiri mamahnya dan menggenggam tangannya. "Mamah tahu Papa mengajakku jalan-jalan."
__ADS_1
Ayuma tersenyum melihat kebahagiaan terpancar di wajah cantik putrinya. Tidak sia-sia pertengkarannya dengan Hendrawan dari malam sampai pagi tadi.
Ayuma berbicara panjang lebar bahkan mengancam akan mengikuti kemanapun Hendrawan pergi jika dia tidak minta maaf pada Rachel. Dan ternyata Hendrawan benar-benar minta maaf bahkan mengajak Rachel jalan-jalan. Baguslah!
"Aku senang banget, Mah."
"Iyah sayang, Mamah juga senang."
"Tapi tadi Papa bilang cuma mau berdua sama aku. Ya udah aku minta Papa mengajak Mamah juga jalan-jalan."
"Ngga usah, sayang. Lain waktu saja sama Mamah. Sekarang waktu kalian menghabiskan waktu bersama-sam dan bersenang-senanglah."
"Iya mah."
Rachel langsung mwnghamburkan diri memeluk mamahnya, mengecup pipinya sekilas lalu berlari menuju kamarnya.
"Hati-hati sayang jangan lari-lari begitu."
Ayuma tak berhenti tersenyum melihat betapa bahagia nya putri nya sekarang.
Harusnya Hendrawan bersyukur memiliki putri seperti Rachel yang tidak pernah neko-neko, tidak pernah menuntut banyak hal, penurut dan begitu baik. Tapi Hendrawan selalu mengabaikan nya. Jika Ayuma tidak mengancam seperti itu mungkin Hendrawan tidak akan mau menghabiskan waktu bersama Rachel.
Ayuma menghembuskan nafas panjang.
"Oke!, aku me time sekarang!."
Meskipun Suaminya selalu mengabaikan nya, lantas tidak membuat Ayuma menjadi terpuruk. Kadang menangis dan kadang marah, tapi tidak ada gunanya berlarut-larut dalam kesedihan. Ayuma memilih menyibukkan diri untuk bersenang-senang daripada memikirkan suami yang tidak pernah peduli padanya.
Satu-satu nya alasan Ayuma bertahan dalam pernikahan ini adalah karena Rachel. Rachel tidak ingin kehilangan sosok Ayah. Ayuma masih bisa bertahan selama suaminya tidak selingkuh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...