Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 20


__ADS_3

Rachel : Papa, papah kapan pulang?.


Hendrawan : Papah belum tahu kapan Papah pulang.


Setelah mengetik balasan, lalu Hendrawan menonaktifkan data agar Rachel tidak mengirim pesan lagi. Kemudian meletakkan ponsel di dashboard mobil lalu turun dari mobil.


Hendrawan membenarkan dasi dan kemejanya, tak lupa menata rambut agar terlihat lebih rapih. Hendrawan harus tampil serapih mungkin sebelum bertemu dengan sang pujaan hati.


Setelah menarik nafas dan mengeluarkan perlahan. Hendrawan berjalan ke teras rumah minimalis tapi terlihat rapih dan indah.


Baru saja Hendrawan ingin mengetuk pintu. Tapi tiba-tiba terbuka dan menampilkan sosok cantik yang juga Hendrawan rindukan.


"Om Hendrawan?."


"Sini sayang!" Hendrawan merentangkan tangannya dan menyambut putrinya dalam pelukan.


Luna tersenyum senang, mengeratkan pelukannya. "Luna kangen Om Hendrawan!."


"Om juga kangen Luna!."


Tak lama Dilara muncul dari dalam rumah. Perempuan itu tersenyum dan mengusap rambut putrinya. Dilara senang melihat Luna bahagia seperti ini. Meskipun Luna belum tahu kalau Hendrawan adalah Ayah kandungnya setidaknya Luna mendapatkan kasih sayang dari Hendrawan dan bisa memeluk erat seperti ini.


"Om Hendrawan kapan sampai di jakarta? kok ngga ngasih kabar." tanya Luna setelah melepaskan pelukan.


"Biar surprise," Hendrawan mengulurkan tangan dan mengusap lembut pipi Luna.


"Harusnya Om ngasih kabar kalau mau ke sini. Soalnya kan aku ngga selalu ada di sini. Aku aja sekarang mau pergi. Ada job nyanyi di resepsi pernikahan, Om. Aku cantik nggak,Om?. Luna pakai gaun yang Om belikan, tas, aksesoris dan sepatu ini juga dari Om."


"Putri Om cantik sekali!."


Luna tersenyum, Hendrawan emang selalu memanggil dirinya dengan sebutan Putri. Mungkin karena dia dekat dengan Rachel, Hendrawan menganggap nya anak sendiri.


Saat itu Luna tidak percaya. Mungkin Hendrawan hanya basa-basi saja menganggapnya anak kandung sendiri. Tapi seiring berjalan nya waktu Hendrawan semakin menyanyanginya. Hendrawan membelikan nya barang-barang mewah, bahkan membuatkan rekening pribadi. Hendrawan juga sering datang ke rumah, bertanya kabar dan menghabiskan waktu bersamanya selayaknya Ayah dan anak.


Tapi Om Hendrawan berpesan untuk tidak menceritakan semuanya kepada Rachel agar Rachel tidak iri. Luna pun menginyakan permintaan Om Hendrawan itu.

__ADS_1


"Oh yah. Om kan sudah bilang jangan terlalu mengambil banyak job. Kalau kamu butuh uang kamu bilang saja sama Om. Om khawatir kamu kecapean karena terlalu banyak bekerja."


"Ngga Om. Menyanyi sudah menjadi bagian hidupku. Pekerjaan sekarang sekedar menyalurkan hobi tapi di bayar. Aku sangat menyukai hidupku yang sekarang. Selain itu aku tidak punya Ayah tapi Om Hendrawan selalu ada untukku selayaknya Ayah kandung. Terima kasih Om."


Hendrawan tersenyum senang dengan jawaban Luna. Rasanya Hendrawan ingin jujur saja dan mengatakan kepada Luna kalau dia adalah Ayah kandungnya tapi Dilara terus melarang.


Dilara bilang menunggu waktu yang tepat. Tapi kapan?. Hendrawan sudah menunggu hampir lima tahun lamanya. Tepatnya setelah pertemuan pertamanya dengan Luna saat Luna lulus SMP.


Saat itu Hendrawan dan Ayuma menghadiri kelulusan Rachel SMP. Di sajalah pertama kali Hendrawan bertemu Dilara. Saat itu Hendrawan menyesal karena saat kelulusan SD Rachel dirinya tidak ikut. Padahal Rachel dan Luna satu SD. Seandainya saat itu Hendrawan hadir pasti dia akan lebih awal bertemu dengan Dilara.


Tapi ya sudahlah semua itu sudah berlalu, yang penting Hendrawan sudah bertemu dengan Luna. Selama lima tahun ini, diam-diam Hendrawan menebus kesalahan ya pada Dilara dan Luna. Meskipun Dilara terus menolak, Hendrawan tetap memberikannya uang dan barang-barang mewah.


Hendrawan juga mengenalkan Luna pada agensi besar sehingga Luna mendapatkan promosi yang lebih di agensinya. Tanpa sepengetahuan Luna, Hendrawan turut ikut campur dalam karir nya bermusik, tapi karena pada dasarnya Luna berbakat bernyanyi perjalanannya karir nya lebih mulus. Selain itu didukung wajah cantik dan body goals semakin mendulang karirnya.


"Oh yah kamu malam ini di temenin siapa?." tanya Hendrawan.


"Sama manajer Om, nah itu dia mobilnya." ucap Luna sambil menunjuk mobil yang baru masuk ke halaman rumahnya.


"Sama manajer doang? manajer kamu perempuan kan? Ngga ada laki-laki yang mengawal?." tanya Hendrawan lagi.


Hendrawan menganguk-anguk, "Farel laki-laki bertanggung jawab. Kamu memang cocok sama Farel. Sekitar hubungan kamu dan Farel langgeng yah."


"Iyah Om makasih. Luna pamit dulu yah, Om, Mah!."


Luna memeluk bergantian Dilara dan Hendrawan lalu berlari kecil menuju mobil menajer nya. Manajer Luna membuka kaca mobil dan melambaikan tangan dari mobil untuk menyapa Hendrawan dan Dilara.


"By Mamah, By Om Hendrawan!." Luna melambaikan tangan heboh seperti anak kecil yang akan pergi pariwisata.


"Ya ampun, kayak anak kecil aja." gemas Dilara sambil tersenyum.


"Ngga papa, Aku justru suka tingkah manja Luna itu membuatku semakin menyanyanginya."


Hendrawan menoleh pada Dilara begitu juga Dilara yang menoleh kepadanya, mereka melempar senyuman.


"Aku senang jika Luna ada di rumah sehingga aku bisa menghabiskan waktu bersamanya. Tapi terkadang aku suka Luna sibuk di luar rumah sehingga aku bisa berduaan bersama kamu."

__ADS_1


"Bisa saja kamu, Mas. Eh-."


Dikara terkejut saat tiba-tiba Hendrawan mendorong pelan bahu nya dan masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu dan menguncinya. Dengan gerakan cepat Hendrwana membalik tubuh Dilara sehingga punggung nya bersandar di pintu lalu membungkam mulutnya dengan ciuman rindu.


Selama sebulan penuh di Luar negeri, Hendrawan rindu sekali dengan bibir yang sering ia curi kecupan ini. Karena Dilara selalu menolak, Hendrawan selalu mencuri-curi ciuman saat hanya berduaan.


"Mas? apa-apaan sih kamu, lepas!." Dilara mendorong dan menolak tegas ciumannya. Tapi seperti biasa Hendrawan selalu memaksa.


"Aku tahu kamu juga merindukan aku. Mau sampai kapan kamu menolakku, Dilara?."


"Lepas Mas Hendra, aku bilang lepas. Kamu kenapa sih berubah jadi agresif gini?."


Biasanya saat Hendrawan mencuri ciuman, Dilara memarahinya. Hendrawan langsung diam. Tapi sekarang semakin dia marah semakin menjadi-jadi.


"Mas Hendra cukup!."


"Aku ngga bisa sayang. Aku terlalu merindukanmu."


Dilara menutup rapat bibir nya. Lalu mendorong keras sekuat tenaga hingga Hendrawan bisa menjauh darinya. Tapi Hendrawan selangkah lebih maju dan ingin memeluknya. Hingga Dilara menganyunkan tangan dan....


Plak


Satu tamparan keras mendarat di pipinya. Saat itu juga Hendrawan membeku di tempat. Begitu juga dengan Dilara yang terkejut dengan tindakannya menampar laki-laki yang dia cintai.


"Mas Hendra!." lirih Dilara.


"Kenapa, kenapa kamu terus menolakku Dilara?."


"Karena kita tidak seharusnya melakukan ini. Dan ada apa dengan kamu? kenapa tiba-tiba seagresif ini setelah pulang dari luar negeri."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2