
"Karena kita tidak seharusnya melakukan ini. Dan ada apa dengan kamu? kenapa tiba-tiba seagresif ini setelah pulang dari luar negeri."
"Hampir sebulan aku di luar negeri dan tidak bertemu dengan kamu. Aku pikir kamu akan merindukan ku. Lalu saat pulang kemu menyambutku dengan pelukan mesra. Tapi yang terjadi justru kamu menamparku. Apa kamu tidak mencintai ku lagi, Dilara?."
"Aku mencintai ku Mas Hendrawan. Aku sangat mencintai mu. Tapi berapa kali ku katakan kita tidak bisa bersama!."
"Kenapa tidak bisa? Kalau kamu ingin aku menceraikan Ayuma . Aku ceraikan saat ini juga! Aku tinggalkan semuanya demi kamu. Katakan apa yabg kamu inginkan, Dilara? jangan menyiksaku seperti ini. Aku merindukanmu. Tolong aku ingin memelukmu."
"Jangan pernah coba-coba untuk menceraikan Ayuma!."
"Kenapa kamu melarang aku menceraikan Ayuma sedangkan aku tidak mencintainya. Kamu juga bilang mencintaiku tapi kenapa kita tidak bisa bersama?. Ada apa Dilara? Apa yang kamu sembunyikan dariku?. Katakan yang sebenernya terjadi di masa lalu!. Kenapa kamu sampai meninggalkanku saat mengandung Luna?."
"Dilara tolong kamu ceritakan sebenarnya apa yang terjadi? Mari kita lewati bersama-sama. Apapun masalah nya kita ketika kita bersama semua akan baik-baik saja.!"
Dilara tak kuasa menahan tangis. Lalu satu persatu bayangan masa lalu muncul di benaknya.
Saat itu Dilara dan Hendrawan berpacaran, tapi Hendrawan di jodohkan dengan Ayuma. Hendrawan menolak tapi karena ancaman papahnya, akhirnya Hendrawan menikah dengan Ayuma. Hendrawan sudah cara agar Ayuma meninggalkannya lebih dulu, sehingga Hendrawan tidak kena ajukan Papahnya.
Namun suatu malam, Mamah nya Hendrawan yang saat itu juga mendukung pernikahan Hendrawan dan Ayuma. Diam-diam tanpa sepengetahuan orang memberikan obat perangsang kepada Hendrawan. Sehingga Hendrawan tak kuasa menahan diri dan berhubungan int*m dengan Ayuma sampai Ayuma hamil.
Kehamilan Ayuma tidak mengubah perasaan HendrawanDiam-diam tanpa sepengetahuan semua orang. Hendrawan menemui Dilara, Dilara terus menolak tapi Hendrawan terus datang.
Hingga suatu hari Dilara berada di titik down. Dan Hendrawan selalu ada untuknya, lalu mereka berpelukan, berci*man saling merapatkan tubuh dan akhirnya melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan.
Mereka melakukan itu tepat saat Ayuma melahirkan Rachel. Hendrawan tidak ada di rumah sakit dan bergumal bersama Dilara.
Hubungan Hendrawan dan Dilara terhendus Wisnu Byantara Tanoepramudya. Tara langsung menyuruh Dilara untuk menjauhi Hendrawan atau dia akan membunuh Dilara. Dilara rela mati hari itu karena Dilara tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Hendrawan. Tapi karena saat itu Dilara sedang hamil, memilih pergi demi mempertahankan Anaknya. Dilara pun pergi tanpa berpamitan dengan Hendrawan dan tanpa memberitahukan kalau dirinya hamil.
Dilara nyaris pingsan di tengah jalan, tapi syukurlah dia bertemu dengan seseorang yang baik hati. Setelah melahirkan dan menitipkan Luna ke Panti asuhan, Dilara pergi untuk bekerja, mengumpulkan banyak uang untuk membiayai hidupnya dan putrinya.
Tapi Dilara belum mencitakan masa lalu itu kepada Hendrawan karena takut Hendrawan akan marah pada Tara. Lebih tepatnya Dilara takut Tara mengetahui semua ini dan akan membunuhnya dan Luna karena menganggap menjadi pengganggu hubungan Ayuma dan Rachel. Tara sangat menyanyangi menantu dan cucu nya itu.
"Dilara!," Hendrawan mendekat dan menggenggam tangan Dilara. " Tolong jelaskan apa yang terjadi!."
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu di jelaskan Mas Hendrawan. Semua sudah jelas. Aku hanya masa lalu kamu dan Ayuma adalah Istri sah kamu. Sekarang pulanglah!, selama satu bulan ini Rachel dan Ayuma pasti merindukan kamu."
"Aku tidak mau pulang Dilara. Aku ingin bersama kamu dan Luna."
"Mas tolong mengertilah, Ayuma istri sah kamu dan Rachel anak kandung kamu. Mereka juga membutuhkan kamu."
"Tapi aku membutuhkan kamu, Dilara. Hanya kamu yang aku inginkan."
"Mas tolong!, jangan keras kepala. Pulang sekarang ! atau kamu tidak akan aku izinkan untuk bertemu dengan Luna." ancam Dilara dengan sorot mata penuh peringatan.
Hendrawan mencelos, jantungnya seakan berhenti berdetak saat mendengar ancaman Dilara yang melarang bertemu dengan Luna.
"Tolong pulang lah Mas."
"Aku pulang sekarang! Tapi besok lusa atau sampai kapanpun aku pasti akan kembali!. Karen kalian adalah keluarga yang paling aku inginkan."
Tanpa mendengar jawaban Dilara, Hendrawan meninggalkan rumah. Saat itu juga tubuh Dilara merosot dan menangis tersedu-sedu. Menangisi kehidupannya yang tragis dan menyedihkan.
Dilara juga mencintai Hendrawan dari dulu sampai sekarang cinta nya tak akan berubah. Tapi dia sadar diri ini tak bisa memiliki Hendrawan sekarang. Hendrawan sekarang sudah menjadi suami orang lain dan memiliki putri lain.
Di sisi lain Hendrawan sudah masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya Hendrawan memukul stir dan berteriak penuh kemarahan.
Sekarang dia sudah menemukan perempuan yang dia cintai dan buah hati terkasihnya tapi Hendrawan tidak bisa bersama mereka. Hendrawan benar-benar merasa tersiksa sekali.
"Kenapa selalu begini? Kenapa aku tidak bisa bersama pilihan ku?. Ini sungguh sangat menyakitkan!."
Mungkin orang lain akan mengatakan kalau dia lelaki egois, pengecut dan pengkhianat, itu karena mereka tidak bisa berada dalam posisi Hendrawan yang begitu tersiksa. Kehilangan perempuan dan anak terkasih. Dipaksa menikah dengan perempuan yang tidak dia cintai, lalu sekarang setelah dia menemukan perempuan yang dia cintai tapi dia tidak bisa bersamanya.
"AAARGGG!." Hendrawan memukul setir dengan keras. Bukan hanya setir tapi rasanya dia ingin meluluhlantahkan apapun yang ada di depannya untuk melampirkan kemarahan nya sekarang.
***
Pukul 22.00, Hendrawan sudah sampai di rumah.
__ADS_1
Hendrawan tidak langsung turun tapi berdiam diri sambil mencengkram rambut. Kepalanya pusing sampai rasanya berdenyut-denyut sakit.
Dari jam delapan tadi, Hendrawan berkeliling jalanan untuk meredakan kemarahannya, tapi begitu melihat rumah yang terasa seperti neraka untuknya, kemarahannya justru semakin menjadi-jadi.
"Dilara, Luna." gumamnya penuh rindu.
Lalu dengan langkah gontai Hendrawan turun dari mobil, dan berjalan menuju ke teras rumah.
"PAPA!."
Hendrawan mendongak dan melihat Rachel berada di ambang pintu.
Rachel tersenyum riang berlari ke arah Papahnya dan menghambur diri memeluknya.
"Papa, Rachel kangen Papa."
Rachel mengeratkan pelukannya.
"Rachel ngga nyangka Papa pulang sekarang. Rachel pikir Papa pulangnya masih lama. Kenapa ngga bilang dulu kalau Papa mau pulang. Oh yah aku tahu Papa pasti mau surprisin aku yah?, atau Papa pulang saat aku mengirimkan pesan aku merindukan Papa? Papa So sweet banget. Aku sayang Papa!."
"Papa cape Rachel, Papa pengen istirahat."
"Kalau Papa cape, Rachel peluk biar Papa ngga cape."
"Lepas Rachel!."
Rachel mengeratkan pelukannya dan berharap Papa nya merasa lebih tenang dan rileks. Sama seperti Mamah nya rasakan saat Rachel memeluknya. Ayuma bilang pelukan Rachel adalah pelukan ternyaman dan terhangat di dunia ini. Dan Rachel berharap Papa nya juga merasakan hal itu.
Namun yang terjadi justru.....
"PAPA BILANG LEPAS YAH LEPAS! KUPING KAMU MASIH BERFUNGSI DENGAN BAIK KAN?." Sentak Hendrawan sambil mendorong Rachel menjauh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...