
"Sudah, sudah." Hendrawan menengahi. "Ya udah kamu temui Ayuma, tapi dia nggak curiga kan aku di sini?."
"Nggak Mas. Ya udah aku keluar dulu."
"Iya."
Ayuma diam-diam mengikuti Dilara langsung berlari cepat menuju ke ruang tamu lagi. Agar langkah kaki nya tidak terdengar Ayuma melepas high heels nya.
Menahan air mata yang mendobrak ingin keluar, Ayuma mengeluarkan kamera kecil dari dalam tas lalu menempelkan di bawah meja.
"Aku akan mengumpulkan bukti lebih banyak, semoga tidak ada yang curiga ia aku menaruh kamera di sini."
Ayuma tak kuasa menahan tangis dan air matanya benar-benar menetes.
"Ya Tuhan kenapa harus sesakit ini." Ayuma menghapus air mata ya di pipi sebelum Dilara memergoki nya menangis. Tapi Ayuma tidak bisa mengendalikan diri nya, air matanya mengalir tanpa bisa di cegah. Ayuma bahkan tidak bisa terlihat baik-baik saja.
"Ayuma ini aku Bawakan minuman."
"Oh halo." Ayuma mengambil ponselnya di dalam tas, mendekatkan ponsel ke telinga lalu berbalik badan membelakangi Dilara. Kembali Ayuma mengusap air mata nya.
"Eh kok bisa? ya udah. Aku ke sana sekarang."
Ayuma menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan lalu berbalik badan dan tersenyum pada Dilara. Di dalam jiwa, kemarahan begitu membaw, tetapi bibirnya harus tetap tersenyum. Ini sangat menyakitkan.
"Ada apa?." tanya Dilara yang melihat Ayuma tampak sedih.
"Rekan kerja ku kecelakaan, aku khawatir sekali dengan kondisi nya sampai aku tidak bisa menahan tangis. Dia bukan rekan kerja ku biasa tapi sudah aku anggap seperti saudara kandung."
"Ya ampun, terus bagaimana keadaannya?."
"Teman ku yang mengantarnya ke rumah sakit bilang dia kritis. Aku ingin ke rumah sakit sekarang, aku benar-benar khawatir kondisi temanku. Maaf Dilara aku tidak bisa berlama-lama di sini."
"Iya."
Dilara meletakkan nampan yang berisi minuman dan cemilan di meja, Refleks tangan Ayuma terangkat ingin membalas pelukan Dilara seperti biasanya, namun kali ini tangan Ayuma tertahan di udara, rasanya enggan sekali menyentuh pelakor ini.
Namun demikian sandiwara, Ayuma menahan jijik dan membalas pelukan Dilara.
"Aku pergi sekarang."
"Iya."
Dilara mengantar Ayuma sampai ke halaman depan. Setelah mobil keluar dari gerbang. Dilara masuk ke dalam rumah, mengunci pintu rapat-rapat dan akhirnya bisa bernafas lega.
"Ya ampun, jantungku seakan berhenti berdetak. Syukurlah Ayuma segera pergi."
Sorot mata Dilara perlahan menyendu.
__ADS_1
"Maaf, Ayuma. Aku terpaksa berbohong. aku sama sekali tidak berniat ingin merebut suami kamu. Tapi asal kamu tahu kamulah yang merebut Mas Hendrawan dari ku."
"Seandainya saat itu kamu menolak perjodohan dengan Mas Hendrawan. Sekarang aku dan Mas Hendrawan pasti hidup bahagia. Tapi kami tenang saja aku tidak akan menjadi pelakor di pernikahan kalian. Aku mengerti hubungan ku dan Mas Hendrawan sudah menjadi masa lalu dan kamu lah masa depan Mas Hendrawan."
Namun tidak di pungkiri, Filara menyukai perhatian-perhatian yang Hendrawan berikan saat ini. Rasanya seperti kembali ke masa muda saat dulu mereka berpacaran.
Hubungan mereka terjalin di bangku kuliah. Hendrawan begitu menawan dan Dilara langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Siapa yang menyangka jika Hendrawan juga merasakan perasaan yang sama padanya.
Masa itu adalah masa terindah dalam hidup Dilara. Hendrawan adalah anugerah terindah yang Tuhan hadirkan dalam hidupnya.
Tapi Dilara tahu, sekarang semua sudah berbeda Hendrawan bukan milik nya lagi.
"Mana."
Dilara mengerjab mendengar panggilan itu. Di sana Luna berjalan mendekat bersama Hendrawan di belakang nya.
"Iya, Sayang."
"Tante Ayuma sudah pulang?." tanya Luna.
"Iya, Ayuma sudah pulang."
Luna menganguk dan mengalihkan pandangan pada Hendrawan.
"Ya sudah kalau gitu Om Hendrawan juga pulang ya. Maaf, Om aku ngga bermaksud mengusir Om Hendrawan tapi sekarang sudah sore Rachel pasti juga sudah pulang dari kampus. Rachel pasti sedih saat pulang nanti, Om tidak ada di rumah. Aku mohon Om Hendrawan lebih perhatian pada Rachel."
"Hati kamu baik sekali Luna. Kamu juga dewasa, tidak kekanakan seperti Rachel. Meskipun mungkin nanti kita akan jarangbertemu tapi tolong tetap angkat telpon dan balas pesan Om."
"Iya, Om."
"Oh yah untuk hubungan kamu dan Farel. Sekali lagu Om mengucapkan selamat. Semoga hubungan kalian langgeng dankl kalau bisa pertahankan sampai menikah. Meskipun kadang-kadanv sifatnya menyebalkan, Om tahu Farel anak yang baik dan bertanggung jawab. Dia pasti bisa menjadi kekasih yang baik untuk kamu."
Luna menganguk.
Hendrawan tersenyum sekilas pada Luna dan Dilara lalu pamit pulang. Seandainya tadi Ayuma tidak datang, Hendrawan pasti bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama Dilara dan Luna.
Mobil Hendrawan sudah keluar dari gerbang, tapi Dilara dan Luna masih berdiri di teras rumah. Luna memeluk Dilara dari samping dan menyandarakan kepala di bahu mamanya.
"Hei, kenapa menangis?" Dilara terkejut melihat Luna putrinya yang tiba-tiba menangis.
"Aku sedih harus berjauhan dengan Om Hendrawan, Ma. Tapi aku juga ngga mau Rachel merasa kekurangan kasih sayang. Aku ngga mau Rachel membenciku gara-gara ini. Aku sangat menyanyangi Rachel, Ma."
"Iya, Sayang."
Dilara menarik putrinya dalam pelukan, menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkan agar tidak menangis, padahal Dilara sendiri sudah meneteskan air maya.
Dilara benar-benar tak tega pada Luna, ingin sekali mengatakan siapa Papa kandungnya. Tapi Dilara juga takut keadaan semakin rumit. Entah sampai kapan rahasia ini di tutup, tapi bagaimana pun akhirnyq nanti Dilara berharap tidak akan ada yang tersakiti.
__ADS_1
***
Sekitar pukul 18.30, Hendrawan sampai di rumah. Baru saja turun dari mobil sebuah mobil memasuki halaman rumah. Hendrawan pikir itu mobil istrinya tapi ternyata...
"Selamat malam, Om Hendrawan."
Hendrawan menyipitkan mata melihat Farel.
"Ngapain kamu ke sini?."
"Yang pasti ngga ketemu sama Om."
Hendrawan berdecak.
"Terus mau ketemu siapa? jangan bilang mau ketemu sama Rachel?."
"Betul sekali. Kedatangan saya ke sini ingin menemui putri Om. Rachel ada di rumah kan, Om? Soalnya di apart kayaknya ngga ada."
"Ck, mau apa kamu malam-malam begini menemui Rachel?."
"Oh ya jelas saya harus tahu. Rachel anak saya, saya harus tahu bagaimana pergaulannya. Terutama dengan kamu. Bukannya hari ini kamu juga sudah resmi jadian dengan Luna. Kamu pikir gimana perasaan Luna kalau tahu malam-malam begini kamu datang ke rumah Rachel."
Farel menyipitkan mata, "Dari mana Om tahu aku jadian sama Luna?."
"Saya lihat di IG Luna. Selain itu, berita hubungan juga di muat di berita-berita gosip. Salah satu judulnya Penyanyi muda berbakat Luna resmi berpacaran dengan Farel Gammaland, yang ternyata putra konglomerat, ini lima fakta tentang Farel. Baca sana beritanya!."
Setelah membacaberita tentang Luna yang seolah menonjolkan Farel sebagai anak orang kaya dan Luna kalangan menengah membuat Hendrawan geram sekali. Mereka tidak tahu saja bahwa Luna juga keturunan konglomerat.
Semakin hari Hendrwan semakin tidak tahan untuk menyembunyikan fakta itu. Rasanya Hendrawan ingin mengatakanpada seluruh dunia bahwa Luna adalah putri kandung nya. Putri berharga yang paling dia cintai.
Tapi sampai sekarang Dilara menyuruhnya untuk menahan diri. Dilara masih mencari waktu yang tepat. Karena itu permintaan pujaan hatinya, Hendrawan akan dengan senang hati menuruti.
"Berita?."
"Iya! semua orang sudah tahu, kamu dan Luna sudah resmi berpacaran. Jangan macam-macam karena semua pasang mata tertuju pada kamu. Jadi jangan coba-coba berselingkuh atau menyakiti Luna. Apalagi kalau kamu sampai berselingkuh dengan Rachel yang menjadi teman dekat Luna."
"Saya bahkan tidak kepikiran ingin berselingkuh dengan Rachel!."
"Ya kalau begitu. Ngapain kamu ke sini, sana pulang!."
.
.
.
Bersambung
__ADS_1