Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 66


__ADS_3

"Mama kamu bukan pelakor, Luna." Hendrawan tak tahan lagi. Hatinya begitu sakit mendengar Luna mengatai Dilara seorang pelakor.


"Dilara..." Hendrawan menyentuh lengan Dilara. "Bagaimana kalau saat ini kita jujur pada Luna?."


"Jujur? kamu mau kita jujur dalam kondisi seperti ini. Menurut kamu Luna akan memaafkan kita? Perasaan Luna akan jauh lebih baik selama ini kalau kamu adalah Papa kandungnya? Nggak Mas Luna pasti bertambah sedih."


Dilara tak kuasa menahan tangis dan Hendrawan menariknya dalam pelukan. Sejak tadi sampai sekarang Hendrawan tak berhenti meruntuki kebodohan dan kecerobohannya sendiri. Semua nya menjadi kacau dan tambah runyam.


Hendrawan hanya ingin bahagia dengan perempuan yang ia cintai dan putri yang dia kasih, tapi kenapa begitu sulit? bahkan harus melewati hal-hal yang memalukan seperti ini.


"Aku ingin sendiri, aku tidak ingin bertemu kalian. Aku membenci Om Hendrawan dan juga Mama. Kalian melakukan hal ini atas kesenangan diri kalian sendiri. Bagaimana kalau Rachel tahu selama ini Om Hendrawan selingkuh dengan Mamah, Rachel pasti marah dan membenciku dan dua pasti tidak ingin bertemu denganku lagi.


Terus bagaimana kalau semua orang tahu Mama pelakor dari pernikahan sahabat sendiri. Karirku di dunia ini akan hancur seketika, aku benci Mama, aku benci Om Hendrawan. Pergi! aku ngga mau ketemu kalian."


"Luna, berhenti mengatai Mamah kamu pelakor."


"Memang kenyataan nya begitu kan, Om? Seandainya aku tidak melihat kejadian itu dengan mata kepala sendiri, saat kalian mengatakan hubungan kalian hanya sebatas teman aku akan mempercanyai begitu saja karena aku sangat mempercanyai dan menyanyangi kalian berdua. Tapi aku melihat semuanya dan aku tidak bisa di bohongi lagi. Sekarang aku mengerti kenapa Om sering datang ke rumah ku dan melarang memberitahu Rachel dan Tante Ayuma karena selama ini Om selingkuh dengan Mama."


"Kami nggak selingkuh."


"Terus apa namanya cinta diam-diam? cinta terlarang? cinta tersembunyi atau apa Om? Kenapa sih harus Mamah, dari sekian banyak perempuan kenapa Om selingkuh dengan Mamah. Kenapa Om mengkhianati Tante Ayuma? kenapa Mamah jadi pelakor hikss. Aku nggak mau Rachel membenciku."


"Ibu kamu bukan pelakor justru Ayuma yang pelakor."


Hening beberapa saat, tidak terdengar suara tangisan atau teriakan Luna. Benar-benar hening.


"Mas." Dilara menyentuh lengan Hendrawan dan menggelengkan kepala.


"Luna harus tahu semuanya agar tidak salah paham dan terus mengatai kamu pelakor. Aku sedih mendengar kamu di sebut seperti itu, Dilara. Kamu tidak salah di sini. Kamu korban yang salah keluargaku dan Ayuma."


Dilara terdiam dan pikirannya berkecamuk.


"Jangan takut, aku akan melindungimu. Kejadian masa lalu tidak akan terjadi lagi." Hendrawan menatap teduh Dilara dan mengusap pipinya.


"Om Hendrawan apa maksud kalau Tante Ayuma pelakor?."

__ADS_1


"Cerita nya rumit, Luna. Om janji akan menceritakan semuanya. Tapi tolong buka pintu nya dulu, kita bicarakan baik-baik. Kamu juga belum makan siang kan?, kita makan dulu."


Hening lagi, Hendrawan dan Dilara menunggu dengan gelisah. Was-was dan gugup sembari terus berharap semoga Luna mau keluar dari kamar dan mendengarkan penjelasan mereka.


Dan syukurlah pintu terbuka, perlahan muncul sosok Luna yang tampak berantakan dengan rambut acak-acakan, mata sembab dan wajah sendu.


"Sayang, kenapa menyakiti diri sendiri?." Dilara terkejut melihat beberapa helai rambut di tangan Luna yang terkepal. Tidak salah lagi, selama mengurung diri di kamar tadi, Luna menjambak rambutnya sendiri.


"Luna." Hendrawan mengulurkan tangan ingin menyentuh rambut Luna tapi Luna justru menghindar. Hendrawan mencelos, hatinya sakit sekali mendapatkan penolakan ini.


"Ayo sayang kita duduk di ruang tengah dulu yah," Dilara merangkul lengan putri nya dan membawanya ke ruang tengah.


Dengan wajah sendu Hendrawan mengikuti dua perempuan yang sangat dia cintai ini. Hendrawan berharap kesalahpahaman Luna segera terselesaikan dan Luna bisa bermanja-manja lagi seperti kemarin-kemarin.


"Kamu duduk di sini ya, Mama ambilkan minum dulu. Apa kamu mau makan juga? kamu sudah makan siang belum?."


Luna menggeleng,"Meskipun sekarang aku haus dan kelaparan pun aku tidak sanggup untuk makan dan minum, Ma. Bagaimana bisa aku tenang setelah melihat kejadian yang nyaris membuat jantungku copot."


Dilara dan Hendrawan kian menyendu mendengar itu.


Hendrawan menggeleng, "Tidak, Luna. Semua yang Om katakan tadi benar. Om tidak bohong. Ayu.a memang pelakor hubungan Om da Mama kamu. Om dan Dilara sudah mengenal sejak kuliah, sedangkan Ayuma baru datang di hidup Om. Saat itu entah bagaimana Om minum obat peransang sehingga Om tidak bisa mengendalikan diri dan melakukan hubungan intim dengan Ayuma. Ayuma hamil dan mau tidak mau Papa menikahnya. Om di jebak, Luna. Om yakin Ayuma menjebak Om. Pernikahan Om dan Ayuma tidak pernah bahagia. Satu-satu nya perempuan yang Om cintai hanya Mama kamu."


"Kalau Om tidak mencintai Tante Ayuma harusnya Om menceraiklan Tante Ayuma bukan malah berselingkuh seperti ini. Aku malu, Om. Malu!."


"Dengarkan penjelasan Om dulu." Hendrawan menggenggam tangan Luna tapi Luna justru menangkis tangannya. Lalu melengos ke arah lain, seolah enggan menatap wajah Hendrawan.


Hati Hendrawab mencelos melihat sikap Luna sedingin ini.


"Sayang, jangan begitu, sikap kamu ini menyakiti Papa kamu."


Seketika Luna menoleh pada Dilara dengan mata memicing.


"Papa? apa maksud Mama? kenapa mama mengatakan Om Hendrawan Papa ku?."


Hendrawan sendiri juga terkejut dengan ucapan Dilara. Namun tidak di pungkiri dia merasa senang Dilara mengatakan itu secara langsung di depan Luna.

__ADS_1


"Ba-bagaimana bisa?."


Dilara baru saja ingin membuka mulut, tapi Hendrawan lebih dulu berbicara.


"Iya, Sayang, kamu putri kandung Papa. Maaf dulu Papa menelantarkan kalian. Maaf dulu Papa tidak bisa melindungi kamu sehingga kamu dan Mama kamu harus menderita seperti ini."


Luna masih terdiam dengan wajah terbengong-bengong saking terkejutnya. Belum usai keterkejutan nya melihat Papa dan Mamah nya berhubungan intim sekarang Luna terkejut dengan fakta yang tidak kalah mengejutkan.


"Ja-jadi maksudnya aku. Aku anak hasil zina?. aku anak di luar nikah?."


Dilara dan Hendrawan sama-sama terkejut atas kesimpulan Luna.


Bukan reaksi seperti ini yang Dilara harapkan. Paling tidak Dilara berharap Luna merasa lega setelah sekian tahun akhirnya bertemu dengan Papa nya tapi Luna justru menyimpulkan kalau dia anak hasil zina. Meskipun kenyataan nya memang benar tapi tetap saja itu sangat menyakitkan bagi Dilara.


"Sayang, bukan begitu?."


Luna langsung berdiri dan mundur dengan mata berkaca-kaca.


"Jadi sejak dulu Mama dan Om Hendrawan berselingkuh? bahkan sudah berhubungan intim sampai aku lahir? Begitu?."


"Nak, dengarkan dulu penjelasan lengkap Mama," Dilara ikut berdiri dan mencoba meraih tangan Luna tapi Luna justru mundur.


"SEANDAINYA AKU BISA MEMITAR WAKTU, AKU HARAP AKU TIDAK PERNAH LAHIR SEBAGAI ANAK SELINGKUHAN DAN HASIL ZINA."


"Luna." Hendrawan ikut berdiri dan menatap tak tega putrinya.


Luna menggelengkan kepala dan lari lagi menaiki tangga, masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu rapat-rapat.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2