
Rachel tersentak membeku dan beberapa saat saking terkejut nya bentakkan Papanya.
"Bisa nggak! kamu berhenti mengganggu Papa. Kamu itu bukan anak kecil lagi yang bisa mengganggu Papa. Papa baru pulang kerja dan capek. Tapi kamu malah manja-manja, merengek dan peluk-peluk seperti anak kecil."
"Maaf Pa aku cuman merindukan Papa. Aku hanya ingin melepas rindu. Aku tidak bermaksud mengganggu Papa." Rachel meremas sisi baju nya untuk menahan sakit.
Chat ngga di balas, telepon tidak di angkat, di abaikan, di cuekin itu sudah hal biasa bagi Rachel. Tapi Papa membentaknya seperti ini. Di tatap dengan sorot mata kemarahan dan berbicara dengan nada melengking, membuat hati Rachel berkali-kali lipat lebih sakit seperti biasa.
Rachel bingung dengan sikap Papa nya sampai ingin menangis pun Rachel takut. Takut Papanya semakin tidak nyaman berada di dekatnya.
"MAS HENDRAWAN!".
Hendrawan dan Rachel menoleh ke sumber suara itu. Ayuma berjalan dengan sorot mata marah.
"Apa-apaan kamu. Kenapa kamu membentak Rachel?."
"Kalau kamu tidak ingin aku membentak Rachel, kalau gitu bilang sama anak kamu jangan mengganggu orang yang sedang lelah."
"Rachel putri kandung kamu, Mas. Putri kandung kamu. Kenapa kamu bicara seolah Rachel bukan anak kandung kamu! Dan yabg tadi.... Rachel hanya ingin memeluk Papa nya sebentar. Selama sebulan ini Rachel sangat merindukan Papa nya. Setiap hari menunggu kepulangan kamu. Begitu melihat kamu pulang, tentu saja Rachel bahagia. Dia hanya ingin melepas rindu, melepas rindu. Mas Hendrawan. Dia tidak meminta apapun selain ingin memelukmu, tapi kamu justru malah membentaknya. Apa kamu tidak merindukan putri kamu?."
Hendrawan mencelos, perlahan pandangan pada putrinya yang terdiam meremas sisi baju nya. Hendrawan tidak bermaksud membentak Rachel , pikiran yang kacau membuatnya tidak bisa mengendalikan emosi.
"Mas Hendrawan kenapa jadi kayak gini, Mas?. Kamu..."
"Aku ingin sendiri." ia berjalan masuk ke dalam rumah.
"Mas, tunggu! Aku belum selesai bicara!."
Ayuma mengejar Hendrawan sementara Rachel masih terdiam di halaman rumah dengan kelopak mata berair.
Pa.an Sam yang sejak tadi memperhatikan pun mendekati Rachel.
"Rachel!." Paman Sam menyentuh pundak Rachel "Masuk Nak, dingin!."
Rachel menoleh pada Paman Sam.
"Paman , Rachel mau nanya sesuatu!."
"Tanya apa?."
"Apa anak usia 20 tahun tidak boleh memeluk Papa nya lagi?.". tanya Rachel.
Paman Sam mencelos mendengar pertanyaan dari Rachel langsung menariknya dalam pelukan.
"Tidak Nak, bukan begitu. Kamu bebas memeluk Papa kamu. Mungkin Papa kamu sedang lelah untuk menerima pelukan kamu. Tapi besok Paman yakin Papa kamu yang akan mendatangi kamu dan memeluk kamu. Sudah jangan sedih yah."
"Enggak Paman, aku nggak sedih. A-aku mengerti kok. A-aku..." Rachel tidak bisa melanjutkan kalimat nya dan menangis alam pelukan Paman Sam.
Paman Sam mendongak agar matanya tidak menetes mendengar tangisan Rachel yang begitu menyayat hati. Rasanya seperti Paman Sam mendengar tangisan Putri kandungnya sendiri.
__ADS_1
"Sudah yah Nak. Sekarang masuk ke dalam dan tidur. Di luar sangat dingin."
Paman Sam melepas pelukannya dan mengusap air mata Rachel.
"Iyah Paman" Rachel berusaha tersenyum. "Paman juga jangan di luar terus nanti Paman masuk angin. Nanti kalau angin nya masuk, perut Paman jadi menggelembung besar."
Paman Sam tertawa pelan. " Iyah nanti Paman masuk ke ruangan Paman."
Rachel tersenyum sekilas pada Paman Sam lalu masuk ke dalam, samar-samar Rachel mendengar pertengkaran Mama dan Papahnya di dalam kamar lantai 1. Rachel berhenti menimang ingin ke sana atau tidak.
"Aku tidak peduli jika kamu mengabaikanku, Mas.
Tapi Rachel?, bisakah kamu bersikap lembut kepadanya!, tidak bisakah kamu meluangkan waktu untuknya, apa sulit meluangkan waktu 15 menit saja untuk menemani putrimu?. Nggak perlu 15 menit, 5 menit saja sudah membuat Rachel bahagia."
"Aku sudah bilang kan, aku lelah. Aku ingin istirahat dulu. Besok masih ada hari kan?."
"Aku tidak bicara tentang hari ini saja, Mas. Tapi hari-hari sebelumnya juga. Selama ini kamu selalu mengabaikan Rachel. Sebenarnya apa yang kamu cari sampai kamu kerja siang dan malam dan melupakan keluarga kamu sendiri. Ada aku dan anak kamu yang selalu menunggu kepulangan kamu. Tapi kamu menganggap kami seolah tidak ada. Atau jangan-jangan kamu punya simpanan yah?."
"Jaga bicara kamu! aku tidak punya simpanan. Kamu tanya kenapa aku kerja siang dan malam kan?, karena aku ingin menjadi orang yang paling kaya di dunia ini. Sudah puas kan? kalau begitu diam!, aku begitu lelah dan ingin istirahat."
Dan perdebatan mereka masih berlanjut.
Akhirnya Rachel memutuskan untuk melangkahkan kaki menuju tangga kamarnya.
Merebahkan tubuh di kasur, tiduran terelentang dan menatap langit-langit kamarnya. Rachel akan menganggap malam menyesakkan ini tidak pernah terjadi dan besok akan kembali seperti biasa nya.
Namun semakin menenangkan air mata nya semakin deras.
"Farel."
Nama itu yahg pertama muncul dalam kepala Rachel. Rachel membutuhkan Farel untuk menemani malam yang sulit ini. Tidak perlu bertemu, telepon saja sudah cukup.
Rachel pun meraih ponsel di atas nakas dan langsung menelpon Farel. Tiga kali berdering lalu panggilan di angkat.
"Farel."
"Halo Rachel."
Saat itu juga Rachel terdiam saat mendengar suara perempuan yang tidak asing lagi.
"Luna?."
"Iyah Baby, aku Luna."
"Kamu di mana ? kok berisik gitu?."
"Aku ada job di resepsi pernikahan gitu, makannya ramai. Farel menemaniku. Tapi ini Farel lagi di toilet, terus aku angkat telepon dari kamu. Ada apa Rachel?, Bilang aja, nanti aku bilang pada Farel."
"Eng-enggak kok, ngga ada apa-apa."
__ADS_1
"Serius?."
"Iyah tadi ke pencet aja."
"Oh Oke. Tapi beneran tidak apa-apa? kalau ada apa-apa kami bisa cerita sama aku."
"Nggak ada apa-apa serius. Tadi tuh beneran kepencet. Udah dulu yah aku mau tidur. Kamu semangat yah nyanyi nya jangan terlalu malam pulangnya. Terus nanti kalau Farel coba melirik-lirik cewek-cewek lain. Tabok aja kepalanya."
Luna tertawa.
"Iyah nanti aku pukul kalau dia nakal. Ya sudah kalau ngantuk tidur aja. Met bobo, good night Rachel."
"Good night Luna ku."
"Tunggu dulu. Muaaacchhh itu kecupan sayang dariku. Aku mau kecupan juga!." Manja Luna yang selalu Rachel sukai.
Rachel tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Muachh." Lalu memberikan kecupan jauh untuk Luna dan terdengar tawa tiang dari Luna.
"Udah dulu yah."
"Iyah Rachel."
Rachel mengakhiri panggilan dan saat itu tangis nya pecah. Meraih bantal dan menutup wajahnya. Rachel menutup dengan kuat untuk meredam tangis.
"Ga papa Rachel udah ga papa. Jangan nangis terus"
Di saat seperti ini, memang Rachel membutuhkan Farel. Tapi Farel tidak ada di sisinya. Mau marah pun tidak bisa karena Farel bukan miliknya. Dan Farel juga tidak mencintainya dan tidak akan pernah memprioritaskan.
Butuh lima menit Rachel meredakan tangisnya, tapi isakannya masih ada.
Rachel melepaskan bantal dari wajahnya lalu menarik nafas perlahan dan mengeluarkan nya.
"Lebih baik aku tidur saja."
Rachel pun memejamkan mata lalu mencoba untuk tidur tapi tidak bisa. Namun bayang-bayanv bentakan Papa dan pertengkaran orang tuanya terus muncul dalam benaknya dan berujung Rachel menangis lagi.
"Aku ngga bisa tidur."
Rachel pun meraih ponsel dan menelpon Bastian.
"Halo Beb!, kangen yah malam-malam gini nelpon?."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1