
Bruak,
Pyaar.
Ayuma membuang dan melempar apapun untuk melampiaskan amarahnya. Namun bukannya mereda kemarahannya justru menjadi-jadi. Sekujur tubuhnya seperti mengalir lelehan larva yang siap meledak.
Tubuh Ayuma ambruk dan tanpa sengaja mengenai pecahan kaca vas foto sampai telapak tangannya berdarah.
Ayuma mengambil foto itu dan memandangi foto keluarga dirinya, Hendrawan dan Rachel. Pandangan mata nya mengabur sebab air mata nya yang tak henti mengalir.
"Sampai beberapa menit yang lalu, aku masih berharap perselingkuhan kamu dan Dilara tidak pernah terjadi, Mas Hendrawan."
"Meskipun kamu sibuk dan tidak ada waktu untuk ku dan juga Rachel. Aku masih bisa memaafkanmu. Aku begitu sabar menunggu kepulanganmu dan menyambut kamu dengan hangat. Aku berusaha menjadi istri yang baik. Tapi kenapa balasan nya sesakit ini?."
"Setelah Arumi meninggal, aku dengan sabar menemani kamu. Aku tidak pernah meninggalkanmu, aku terlalu hanyut dalam dongeng-dongeng sebelum tidur bahwa aku bisa membuatmu jatuh cinta dengan perhatian dan ketulusan cinta ku."
"Tapi nyatanya bertahun-tahun aku tetap tidak bisa membuatmu jatuh cinta kepada ku. Sedangkan Dilara... kamu bahkan bertemu dengannya belum lama ini, tapi kenapa kamu bisa bertingkah semanis itu? bahkan kamu rela meninggalkanku dan Rachel demi wanita itu."
AARRRGGG...
Ayuma menjerit dan menutup telinga nya.
"Mas Hendrawan, buka baju ku!, cium aku!."
"Iya, Sayang. Aku akan menciummu, memelukmu. Kamu perempuan terhebat di dunia ini. Aku sangat mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu."
Ayuma menggelengkan kepala sambil berusaha mengenyahkan banyang-banyangan itu.
.
.
.
Tok...tok...
"Ayuma, aku izin masuk."
Karna tidak mendapatkan jawaban, Samuel pun langsung masuk. Betapa terkejutnya saat ia melihat ruang kerja Ayuma berantakan, banyak barang-baranh pecah dan berserakan. Ayuma bersimpuh sambil menutup telinganya.
"Ayuma." Samuel menghampiri Ayuma dan berlutut di sampingnya. "Ada apa?. Kenapa kamu seperti ini?."
Ayuma membuka mata dan mencengkram kuat kedua lengan Samuel.
__ADS_1
"Mereka... mereka mengkhianatiku. Mereka menusukku dari belakang. Sam. Mereka penjahat."
Ayuma menangis semakin kencang sambil terus mencengkram lengan Samuel untuk berpegangan. Samuel membeku di tempat dengan pandangan mata sendu menatap Ayuma.
Perempuan tangguh, berhati baja yang tidak pernah menunjukkan kesedihan nya sekarang terlihat rapuh.
Samuel tetap pada posisinya, berlutut di samping Ayuma. Tidak mengatakan apa-apa dan hanya mendengarkan tangisan Ayuma. Tangisan yang begitu menyesakkan hati sama seperti saat Rachel di abaikan Papa nya.
Beberapa menit kemudian tangisan Ayuma mulai mereda.
"Ayo kita duduk di sofa dulu."
Samuel merangkul lengan Ayuma dan membawa nya duduk di sofa.
Semenjak Rachel sudah dewasa dan tidak membutuhkan bodyguard lagi. Samuel undur diri, tapi karena kinerja nya bagus, Ayuma akhirnya memperkejakan Samuel sebagai pegawai kantor. Terhitung sudah 3 tahun Samuel membantu mengurus perusahaan. Di luar dugaan ternyata Samuel cukup cerdas dan piawai dalam mengurus bisnis. Terkadang Samuel juga menjadi supir pribadi Rachel dan dirinya, Samuel seperti mengabadikan hidupnya untuk dirinya dan Rachel.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu."
Ayuma bangkit dan mengambil laptop yang dia lempar ke lantai tadi. Untung saja laptop kokoh dan tidak rusak.
Duduk di sofa dan memutar ulang rekaman Dilara dan Hendrawan tadi.
"Lihat ini!." Ayuma menunjukkan rekaman itu pada Samuel. Selama Ayuma menyimpan rapat-rapat dan menyembunyikan dari semua orang.
Namun Ayuma merasa tidak sanggup menanggung semuanya sendiri. Dia membutuhkan seorang Pendengar. Pilihannya tertuju pada Samuel, orang yang sudah mengabdi kepada dirinya selama 15 tahun.
"Aku ingin membongkar perselingkuhan Dilara dan Hendrawan, aku benar-benar tidak sanggup. Aku ingin menuntut cerai."
"Tenang dulu, tenang." Samuel berdiri dan mengambil sebotol air dingin dari mesin pendingin di ruang kerja Ayuma lalu duduk kembali di samping Ayuma kemudian mengulurkan air itu.
"Minum dulu, biar pikiran kamu lebih tenang."
Atas bujukan Samuel, Ayuma mengambil botol air minum itu dan meneguk tiga teguk. Kesegaran air itu mengalir membasahi tenggorokan sampai ke organ-organ dalam dan sedikit melegakan. Lalu perlahan perasaannya lebih tenang dengan sendirinya.
"Ketenangan adalah kunci pikiran yang jernih. Dengan pikiran jernih kamu akan bisa mengambil keputusan yang tidak akan kamu sesali di kemudian hari."
"Aku ingin bercerai dan aku tidak akan menyesali keputusanku itu. Justru itu adalah keputusan terbaik. Aku juga akan memberitahu Papa dan Abang Sebastian. Kalau perlu semuanya tahu kalau Mas Hendrawan telah mengkhianatiku."
"Bukannya Pak Wisnu sedang sakit? Menurut mu apa yang akan terjadi jika Pak Wisnu mendengar perceraian kamu dan Hendrawan.
Ayuma mencelos, benar tiga hari yang lalu kondisi nya sempat drop dan di larikan ke rumah sakit. Sekarang Papa nya sudah pulang dan kondisi nya mulai membaik. Kondisi Wisnu memburuk pun gara-gara masalahnya dengan Hendrawan lalu sekarang jika Ayuma menambah kabar ini, Papa nya akan semakin drop.
"Ya Tuhan." Ayuma menuntut tangannya di lutut dan menunduk lalu menjambak rambutnya sendiri. "Bagaimana aku seceroboh ini? Terima kasih Samuel sudah mengingatkan."
Samuel menganguk.
__ADS_1
"Tentu, aku setuju kamu bercerai. Kumpulkan saja bukti perselingkuhan mereka sebanyak mungkin untuk sidang di pengadilan nanti."
"Aku sudah punya, aku sudah punya banyak bukti tentang perselingkuhan mereka. Pengadilan Agama pasti mengabulkan gugatan ceraiku. Tapi bagaimana dengan Papa, bagaimana kalau Papa tahu kalau aku menggugat cerai Mas Hendrawan? Papa pasti syok. Aku sudah kehilangan Papa kandungku, aku tidak mau kehilangan Papa mertuaku. Aku sudah menganggap beliau sebagai Papa kandungku, Samuel. Aku ingin beliau berumur panjang dan aku bisa terus menemani nya di masa tua nya."
Samuel menganguk-angguk.
"Jika di bicarakan dengan baik-baik, dalam kondisi tenang kamu dan Hendrawan juga sama-sama menyetujui perceraian ini. Mungkin Pak Wisnu lebih mengerti dan keterkejutannya tidak terlalu besar."
Ayuma menghela nafas panjang.
"Benar mungkin dengan solusi seperti itu, semua menjadi lebih terkendali."
Ayuma tidak hidup sendiri, ada keluarga yang mendampingi. Meskipun Hendrawan sangat jahat, tapi keluarga Hendrawan sangat baik padanya. Ayuma tidak boleh egois dan mementingkan hatinya sendiri. Jangan sampai demi membalaskan sakit hatinya. Ayuma menyakiti orang-orang yang dia sayangi juga.
Hening cukup lama, Ayuma sibuk dengan pikirannya sendiri. Sementara Samuel memutar ulang vidio Hendrawan dan Dilara.
"Aku menemukan kejanggalan."
"Kejanggalan apa?." tanya Ayuma.
Samuel memutar lagu vidio itu.
"*Sampai kapan pun aku tidak akan menerima kamu, Mas Hendrawan. Hubungan kita sudah menjadi masa lalu dan sekarang Ayuma masa depan kamu."
"Aku tidak mencintai Ayuma. Hanya kamu yang aku cintai. Sebenarnya apa yang kami takutkan sampai kamu terus menolakku seperti ini? Kamu takut sama Papa? takut Papa menyuruh kami pergi lagi? kamu juga belum menceritakan masa lalu sampai kamu meninggalkanku. Jujurlah dan kita lewati sama-sama. Kita sudah lama seperti ini Dilara. Aku tahu kamu juga tersiksa*."
Ayuma menggigit bibir bawahnya.
"Dari ucapan Hendrawan seolah mereka pernah menjalin hubungan dan Pak Wisnu tahu hubungan mereka. Apa mereka mantan kekasih?."
"Aku tidak tahu, Mas Hendrawan hanya punya satu mantan namanya Arumi. Saat itu Papa bilang mereka sudah putus karena itu aku menikah dengan Mas Hendrawan. Tapi sekarang Arumi sudah meninggal, butuh bertahun-tahun Mas Hendrawan hidup tanpa Arumi."
Tiba-tiba Ayuma teringat ucapan Hendrawan yang sangat membekas di hatinya di masa lalu.
"Aku tidak pernah mencintai perempuan lain selain Arumi. Aku tidak akan pernah percaya Arumi sudah meninggal sebelum aku melihat jasad nya dengan kepalaku sendiri. Aku yakin suatu hari nanti aku akan bertemu dengan Arumi. Jika aku jatuh cinta maka aku akan tetap jatuh cinta pada Arumi."
Ayuma mencelos,
"Menurut mu apa mungkin Arumi masih hidup dan sekarang menjadi Dilara?."
"Apa kamu pernah melihat wajah Arumi?."
Ayuma menggeleng, "Belum."
Ayuma menggigit bibir bawahnya. "Aku akan mencari tahu."
__ADS_1
***