
Farel seketika melotot mendengar pertanyaan dari Reza. Beginilah repot nya memiliki adik yang cerdas dan terlalu kritis. Hal-hal yang menurut dia aneh pasti di tanyakan.
"Tapi ngga papa Abang sama Kak Luna, biar abang nggak gangguin Kak Rachel lagi. Biar aku bebas ngapain aja sama Kak Rachel. Iyah kan Rachel?." Reza menoleh pada Rachel dan tersenyum.
"Iyah Reza." Dengan gemas Rachel mengacak rambut Reza.
"Ck apaan sih. Kamu itu masih kecil, bergaul yah dengan seumuran kamu aja. Nggak usah ikut campur orang dewasa."
"Aku bukan anak kecil."
"Emang kamu masih kecil."
"Udah-udah Farel, Reza ngga usah berantem." tegur Sarah.
Reza sama Farel sama-sama melengos kesal. Padahal jika Farel jarang pulang karena kesibukannya kuliah, Reza selalu menanyakan 'Kapan abang pulang?' Tapi ujung-ujungnya ketika bertemu pasti bertengkar.
"Sambal bikinan Yayang Rachel mana nih?." tanya Rendy menyeletuk setelah hening beberapa saat, lalu memutar lapisan kedua dan mencari sambal buatan Rachel. "Ini kan?."
"Iya." Jawab Rachel.
Rendy menyendok sambal itu sendok sambal dan meletakkan di piring.
"Abang aku mau." Rani mengangkat piring.
"Emang kamu bisa makan pedas?."
"Bisa dong."
Sarah menoleh pada putrinya, "Rani makan sambal nya secukupnya nanti sakit perut seperti waktu itu."
"Oke Mamah."
Setelah Rendy meletakkan sambal di piring Rani, yang lain juga ingin mengantri sambal buatan Rachel.
"Hm enak." Puji Sarah.
Rachel tersenyum, "Terima kasih Tante, aku juga masih belajar masak dari Tante."
"Iyah masakan kamu sama enak nya dengan masakan istri saya." Puji Anthony.
"Om bisa saja. Saya terbang nih di puji terus." Canda Rachel.
"Terbang aja Rachel nanti Reza ikut terbang." celetuk Reza membuat semua tertawa.
"Reza setuju sama Ayah, masakan Rachel enak banget." Puji Reza.
Rachel tersenyum dan mengusap rambut Reza.
Semua orang yang tadi sibuk menggoda Farel dan Luna yang baru jadian sekarang beralih membicarakan masakan Rachel. Reza bahkan tidak berhenti memuji masakan Rachel sampai Rachel bingung harus menanggapi seperti apa.
__ADS_1
Luna terdiam dengan perasaan sendu. Pandangan nua tertuju pada Sarah dan Anthony yang sejak tadi mengajak Rachel berbicara. Sesekali Sarah juga mengajak nya berbicara dengan menyuruhnya mengambil makanan lagi, selain itu tak ada obrolan lagi. Apalagi Anthony, Anthony bahkan jarang melirik ke arahnya.
Sarah dan Anthony sangat baik, mereka juga setuju dan mendukung hubungan nya dengan Farel. Tapi Luna merasa mereka lebih menyanyangi Rachel daripada dirinya.
Seandainya dia memiliki waktu luang sebanyak Rachel, Luna juga pasti jago masak seperti Rachel.
Tapi mau bagaimana lagi, Luna jadi tulang punggung keluarga dan harus bekerja dari pagi sampai malam, entah job nyanyi, fhotoshoot, main ftv dan lain-lain.
Mungkin jika dia terlahir dari keluarga kaya, Sarah dan Anthony akan lebih menyanyangi nya.
Ah iya, dia juga dari keturunan Tanoepramudya. Mungkin jika Sarah dan Anthony tahu dia keturunan konglomerat, mereka akan lebih menyanyangi dan lebih mendukung hubungan nya dengan Farel.
Luna ingin segera memberitahu mereka tentang identitasnya yang sebenarnya.
***
Selesai sarapan mereka semua berkumpul di halaman belakang, halaman ini sangat luas, ada gazebo, ada taman bunga, ada playground untuk anak-anak, ada juga lapangan basket yang Anthony buatkan untuk Farel saat SMA.
Berbeda dengan Farel yang suka basket, Reza lebih suka sepak bola.Dan demi putra kesanyangan nya Anthony membuatkan lapangan sepak bola mini di halaman belakang ini.
Mereka baru saja selesai bertanding sepak bola.
Farel yang duduk di sisi lapangan, tiba-tiba berdiri.
"Mau kemana Babe?." tanya Luna.
"Ke sana sebentar."
"Eh." Rachel terkejut saat pipinya terasa dingin dan ternyata Farel menempelkan air mineral dingin ke pipi nya.
"Thanks." Rachel ingin membuka tutup nya ternyata sudah di buka. "Lo yang buka?."
"Ya siapa lagi kalau bukan gue ?."
"Emang tangan lo ngga sakit?."
"Rachel, demi bisa ketemu lo. Gue nahan luka dan mengendarai motor menuju ke apart lo. Apalagi cuman buat buka tutup botol ini, gue pasti sanggup."
"Aish songong nya persis Om Anthony."
Farel tertawa.
Luna meremas sisi baju nya melihat interaksi antara Farel dan Rachel. Dalam batin, terus mensyugesti diri kalau Farel dan Rachel hanya bersahabat.
Namun semakin Luna menekan rasa cemberut nya, rasa cemburu itu semakin kuat. Luna benar-benar tidak suka dengan kedekatan antara Farel dan Rachel.
Luna teringat ucapan Mama nya yang mengatakan kalau Ayuma itu pelakor. Ayuma bahkan menjebak Hendrawan dengan obat perangsang agar Hendrawan menikahinya begitu licik dan jahat.
'Apa kelicikan Tante Ayuma dan jiwa pelakor Tante Ayuma menurun pada Rachel?.'
__ADS_1
'Apa nanti Rachel akan merebut Farel dariku?.'
'Apa Rachel akan menjebak Farel dengan obat perangsang seperti yang dilakukan Mama nya?.'
Batin Luna, bertanya-tanya dalam kebimbangan.
"Luna."
Mendengar panggilan itu Luna tersenyum.
Rachel berdiri dan menghampirinya, Rachel tak tega melihat Luna sendirian.
"Setelah sesi istirahat selesai nanti akan ada babak pertandingan ke dua. Kamu mau main? kamu bisa menggantikan posisi ku."
Luna menggeleng, "Aku lagi nggak mood buat main bola."
"Ya udah kalau gitu tunggu di sini saja."
Rachel berbalik badan, hendak pergi namun Luna menahan pergelangan tangannya.
"Kenapa? kamu mau sesuatu?."
"Di dapur tadi saat aku memelukmu, kamu tanya apa yang membuatku bahagia kan?."
"Oh iya, gara-gara keasyikan bermain tadi. Aku sampai lupa cerita kamu di dapur tadi. Ya udah ada apa?, apa yang membuatmu sehappy hari ini?."
Luna tersenyum,
"Aku sangat bahagia setelah tahu kalau aku dan kamu ternyata bersaudara, Rachel." ucap Luna sangat kencang membuat semua orang menoleh ke arah mereka.
"Saudara? saudara apa? saudara sesama manusia." tanya Rachel sembari bercanda.
"Saudara kandung Rachel, kamu saudara kandungku."
Perlahan tawa Rachel terhenti saat menatap wajah Luna yang tampak serius. Semua juga tampak penasaran dan mendengarkan baik-baik perbincangan mereka di posisi masing-masing.
"Luna, aku nggak ngerti maksud kamu. Saudara kandung? bagaimana bisa? atau jangan-jangan kamu lagi syuting reality show? kamu lagi nge prank? coba mana kamera nya aku mau melambaikan tangan. Sumpah aku ngga sanggup kayak gini. Nggak lucu Luna."
Luna berdiri, menggenggam tangan Rachel dan tersenyum menatap lekat mata nya.
"Aku nggak ngeprank Rachel, di sini ngga ada kamera. Aku serius. Kita memang saudara kandung. Selama ini Om Hendrawan adalah Ayah kandungku."
Seketika mata semua orang melotot kecuali Reza, Rana dan Rani yang masih anak-anak dan tak mengerti dengan obrolan mereka. Tapi karena mereka hening, jadi mereka juga diam saja.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ....